Arsy Ar-Rohman, Makhluk Terbesar di Dunia
Arsy Ar-Rohman, Makhluk Terbesar di Dunia
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Salah
satu diantara aqidah (keyakinan) Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa makhluk
terbesar adalah Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla-.
Mungkin
selama ini ada diantara kita yang menyangka bahwa bahwa makhluk terbesar di
dunia adalah langit dan bumi. Padahal masih ada yang lebih besar daripada itu
semua, yaitu Al-Kursiy (Kursi) milik Allah -Azza wa Jalla-.
Kursi
Allah meliputi langit dan bumi. Artinya, ia lebih besar dibandingkan langit dan
bumi.
Inilah
yang dijelaskan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,
اللَّهُ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ
عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ
السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ
الْعَظِيمُ [البقرة : 255]
"Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at
di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka
dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah,
melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi.
dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi
Maha besar". (QS. Al-Baqoroh : 255)
Kursi
adalah tempat kedua kaki Allah diletakkan. Penafsir Ulung, Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,
الْكُرْسِيُّ
مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ
"Kursi
adalah tempat kedua kaki (yakni, kaki Allah). Sedangkan Arsy tak ada seorang
pun yang mampu menentukan besarnya". [HR. Ad-Darimiy dalam Naqdh Al-Imam
Abi Sa'id Utsman bin Sa'id ala Bisy Al-Marisiy Al-Jahmiy Al-Anid
(1/423), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab At-Tauhid (no. 185), Abdullah bin Ahmad
dalam As-Sunnah (586 & 1020), Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab
Al-Arsy (no. 61), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (no.
12404), Ath-Thobariy dalam Al-Jami' (3/10), Ad-Daruquthniy Ash-Shifat
(hal. 30), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2/283), Al-Khothib dalam Tarikh
Baghdad (9/251-252) dan Al-Harowiy dalam Al-Arba'in (hal.
125). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Mukhtashor
Al-Uluw (hal. 102/no. 36)]
Kursi Allah adalah
makhluk terbesar setelah Arsy (singgasana) Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang
shohih dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,
ما
السماواتُ السبعُ في الكرسيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بأرضِ فَلاَةٍ، وفضلُ
العرشِ على الكرسيِّ كفضلِ تلكَ الفلاةِ على تلكَ الحلقةِ
"Tidaklah
langit-langit yang tujuh dibandingkan Kursi, kecuali seperti sebuah mata rantai
yang dibuang di tanah yang tandus. Sedang kelebihan Arsy dibandingkan Kursi,
seperti kelebihan tanah tandus itu dibandingkan sebuah mata rantai
tersebut". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab
Al-Arsy (no. 58) dan Abusy Syaikh dalam Al-Azhomah (no.
70), Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (no. 136) dan lainnya. Hadits
ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam As-Silsilah
(1/224/109)]
Ulama
Negeri Syam, Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata usai men-takhrij
hadits ini,
"Hadits
ini keluar sebagai tafsir bagi firman Allah -Ta'ala-,
وَسِعَ
كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
"Kursi
Allah meliputi langit dan bumi…".
Hadits
ini gamblang dalam menjelaskan kedudukan Kursi sebagai makhluk terbesar setelah
Arsy dan bahwa Kursi itu adalah benda yang berdiri sendiri, bukan sesuatu yang
yang tak memiliki wujud.
Di
dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang mentakwil Kursi dengan makna
"kerajaan dan luasnya kekuasaan" sebagaimana yang tertera pada
sebagian kitab-kitab tafsir. Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa
Kursi adalah "ilmu", maka atsar itu tak shohih sanadnya kepada
beliau. Karena, ia termasuk riwayat Ja'far bin Abil Mugiroh dari Sa'id bin
Jubair dari Ibnu Abbas. Atsar itu diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Ibnu Mandah
berkata, "Ibnu Abil Mughiroh bukan orang yang kuat pada Ibnu Jubair".
[Lihat Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shohihah (1/226)]
Keyakinan
Ahlus sunnah wal Jama'ah bahwa Kursi adalah makhluk terbesar setelah Arsy.
Inilah pendapat yang benar, bukanlah Kursi itu kekuasaan atau ilmu. Bahkan ia
adalah makhluk besar yang memiliki wujud.
Al-Imam Ibnu Abi Zamanain -rahimahullah-
berkata,
ومن
قول أهل السنة أن الكرسي بين يدي العرش وأنه موضع القدمين
"Diantara
pernyataan Ahlus Sunnah, bahwa Kursi berada di depan Arsy dan bahwa ia adalah
ia adalah tempat kedua kaki (Allah)". [Lihat
Ushulus Sunnah (hal. 96) karya Ibnu Abi Zamanain, dengan tahqiq
Abdullah bin Muhammad Al-Bukhoriy, cet. Maktabah Al-Ghuroba' Al-Atsariyyah,
1415 H ]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
-rahimahullah- berkata,
الكرسي
ثابت بالكتاب والسنة وإجماع السلف
"Kursi
adalah tsabit (benar) berdasarkan Al-Kitab, Sunnah dan ijma' (kesepakatan) para
salaf". [Lihat Majmu' Al-Fatawa (6/584)]
Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy
-rahimahullah- berkata,
وإنما
هو -الكرسي- كما قال غير واحد من السلف بين يدي العرش كالمرقاة إليه
"Kursi
hanyalah –sebagaimana yang dinyatakan oleh para salaf- berada di depan Arsy,
laksana tangga menuju Arsy". [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah
(hal. 277), oleh Ibnu Abil Izz, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1391 H]
Al-Imam Abu Muhammad Abdul Haqq Ibnu Athiyyah Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
والذي
تقتضيه الأحاديث أن الكرسي مخلوق بين يدي العرش، والعرش أعظم منه
"Yang
dituntut (ditetapkan) oleh hadits-hadits bahwa Kursi adalah makhluk yang ada di
depan Arsy. Sedang Arsy lebih besar dibandingkan Kursi". [Lihat Al-Muharror Al-Wajiz (1/336)]
Jadi, Kursi itu termasuk makhluk terbesar. Namun masih ada
lagi makhluk yang lebih besar dibandingkan Kursi, yaitu Arsy (singgasana) Allah
-Azza wa Jalla-.
Saking
besarnya ukuran Arsy, ia dipikul oleh para malaikat yang memiliki postur
tubuh yang besar.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
وَالْمَلَكُ
عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ
ثَمَانِيَةٌ [الحاقة : 17]
"Dan
pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung (memikul) 'Arsy Tuhan-mu di
atas (kepala) mereka". (QS.
Al-Haaqqoh : 17)
Malaikat
pemikul Arsy digambarkan kebesarannya oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- di dalam sebuah hadits.
Beliau
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أُذِنَ
لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ
إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِ مِائَةِ
عَامٍ
"Telah
diizinkan bagiku untuk menceritakan tentang seorang malaikat diantara
malaikat-malaikat pemikul Arsy. Sesungguhnya apa yang ada diantara dua cuping
telinganya sampai ke pundaknya adalah sejauh perjalanan 700 tahun". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4727).
Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij
Misykah Al-Mashobih (no. 5728)]
Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy
-rahimahullah- berkata,
"Yang
dimaksudkan dengan "700 tahun" disini adalah menggambarkan
banyaknya, bukan untuk pembatasan. Karena, bilangan itu lebih cocok dengan
pembicaraan dan lebih memberikan dorongan kepada keadaan. Beliau bersabda,
"Telah diizinkan bagiku…", untuk memberikan faedah bahwa pengetahuan
tentang perkara gaib adalah perkara yang khusus bagi Allah -Ta'ala-. Akan
tetapi (terkadang) Allah memperlihatkan sebagiannya kepada orang-orang yang Dia
kehendaki. Namun orang yang Allah perlihatkan perkara gaib itu tak berhak
menceritakannya, kecuali dengan izin-Nya". [Lihat Faidhul Qodir (1/458) karya
Al-Munawiy]
Dijelaskan
dalam sebagian hadits-hadits bahwa di bawah Arsy (singgasana) Allah -Azza wa
Jalla- terdapat air.
Inilah
yang dikatakan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam
sabdanya,
كَتَبَ
اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
"Allah
telah menulis takdir-taqdir para makhluk 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan
langit dan bumi". Beliau bersabda, "Sedang Arsy-Nya di atas
air". [HR. Muslim dalam Shohih-nya
(2653) dari Abdullah bin Amer bin Al-Ash -radhiyallahu anhuma-]
Komentar
Posting Komentar