Jangan Lupa Adab ini, Saat Bermajelis!
Jangan Lupa Adab ini, Saat
Bermajelis!
==============================================
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
==============================================
Setiap
orang pasti biasa melakukan kumpul-kumpul dan duduk bersama dengan beberapa
orang untuk mendengarkan ceramah, atau rapat dan lainnya. Ini yang kita kenal
dengan majelis.
Sebagian
orang melakukan perkumpulan dan majelis bersama dengan kelompok, teman kerja,
atau bersama kaum muslimin. Namun disana ada sebuah hal yang sering dilalaikan
oleh banyak orang diantara mereka bahwa bermajelis dan berkumpul memiliki
adab-adab yang perlu dijaga saat berada di majelis.
Salah
satu diantara adab yang sering dilalaikan oleh mereka di majelis-majelis, "adab berdzikir dan bersholawat" kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Inilah
yang pernah diingatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam
sebuah sabdanya,
مَا
جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ
، إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ
لَهُمْ
"Tidaklah
suatu kaum duduk pada suatu majelis sedang mereka tidak berdzikir kepada Allah
di dalamnya dan tidak pula bersholawat kepada Nabi mereka, kecuali kekurangan
akan menimpa mereka. Jika Allah hendak menyiksa mereka, maka Dia akan
menyiksanya; jika Dia hendak mengampuninya, maka Dia akan mengampuninya". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3380).
Hadits ini di-shohih-kan oleh Syu'aib Al-Arna'uth dalam Takhrij
Al-Musnad (no. 9764)]
Di
dalam riwayat yang lain, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
وَمَنْ
قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِ
تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Tidaklah
suatu kaum duduk pada suatu majelis, sedang mereka tidak berdzikir kepada Allah
-Azza wa Jalla-, kecuali kekurangan akan menimpa mereka pada hari kiamat".
[Abu Dawud dalam Sunan-nya
(4856 & 5059) dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (403-404).
Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(78)]
Disebutkan
di dalam hadits ini bahwa orang yang tidak berdzikir dalam majelis, ia akan
mendapatkan (تِرَةً).
Dijelaskan
oleh para ulama hadits dan bahasa bahwa makna kata (تِرَةً) ada dua: (1) kekurangan (نَقْصٌ) dan (2) pertanggungjawaban (تَبِعَةٌ). (3) Ada
juga yang menafsirkannya dengan "neraka" atau "siksaan".
[Lihat Taajul Arus min Jawahir Al-Qomus (14/238) oleh Murtadho
Az-Zubaidiy, cet. Dar Al-Hidayah]
Ini
mengisyaratkan kepada kita bahwa berdzikir dan bersholawat kepada Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam suatu majelis yang kita hadiri
adalah hukumnya wajib!!
Kemudian
sebaik-baik majelis adalah majelis ilmu, karena di dalamnya seorang penceramah
dan hadirin akan selalu memuji dan berdzikir Allah -Azza wa Jalla- saat
menyebut nama-nama Allah -Azza wa Jalla- dan senantiasa bersholawat kepada Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- ketika mendengarkan nama atau gelar
beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Al-Imam Abu Ibrahim Al-Amir Ash-Shon'aniy -rahimahullah- berkata,
وَالْحَدِيثُ
دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ الذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي الْمَجْلِسِ سِيَّمَا مَعَ تَفْسِيرِ التِّرَةِ
بِالنَّارِ أَوْ الْعَذَابِ فَقَدْ فُسِّرَتْ بِهِمَا فَإِنَّ التَّعْذِيبَ لَا
يَكُونُ إلَّا لِتَرْكِ وَاجِبٍ أَوْ فِعْلِ مَحْظُورٍ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ
الْوَاجِبَ هُوَ الذِّكْرُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ - مَعًا
"Hadits
ini adalah dalil tentang wajibnya berdzikir dan bersholawat kepada Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam majelis. Apalagi kata (تِرَةً) ditafsirkan dengan neraka atau
siksaan. Sungguh kata tersebut telah ditafsirkan dengan keduanya. Karena,
penyiksaan tidak terjadi, kecuali karena meninggalkan perkara wajib atau
mengerjakan perkara yang terlarang. Lahiriah hadits ini bahwa yang wajib adalah
berdzikir dan bersholawat kepada beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- sekaligus".
[Lihat Subul As-Salam
(8/297) karya Ash-Shon'aniy, cet. Dar Ibnil Jawziy, 1421 H]
Inilah
akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang lalai berdzikir dan bersholawat
di majelis-majelis. Jadi, seorang muslim harus selalu mengingat hal ini.
Walaupun orang-orang yang hadir lalai darinya, namun jangan sampai ia lalai
darinya. Bayangkan saja bila hari kiamat kita menemui kekurangan yang banyak
akibat lalainya kita dari kewajiban itu. Ini persis sama dengan orang-orang
yang luput dari sholat Ashar.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
الَّذِي
تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ
"Orang
yang luput dari sholat Ashar ibarat orang yang berkurang keluarga dan harta
bendanya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(552) dan Muslim dalam Shohih-nya (626)]
Al-Imam
Abu Sulaiman Al-Khoththobiy -rahimahullah-
berkata,
نقص
أو سلب فبقي وتراً فرداً بلا أهل ولا مال يريد فليكن حذره من فوتها كحذره من ذهاب
أهله وماله . (معالم السنن للخطابي 288 - (1 / 131))
"Dia
telah mengurangi keluarga dan harta bendanya dan diambil darinya sehingga ia
tinggal (hidup) sendiri, tanpa keluarga dan harta benda. Karena itulah,
hendaknya seorang yang luput dari sholat Ashar takut, seperti halnya ia takut
kehilangan keluarga dan harta benda". [Lihat
Ma'alim As-Sunan (1/131) oleh karya Al-Khoththobiy, cet. Al-Mathba'ah
Al-Ilmiyyah, Halab, 1351 H]
Seorang
yang meninggalkan dzikir di dalam majelis-majelis akan luput dari banyak
kebaikan dan pahala yang mestinya ia raih berupa ampunan, sholawat dari Allah
-Azza wa Jalla-, pengangkatan derajat dan lainnya.
Wajarlah
bila nanti di hari kiamat, orang-orang yang lalai di majelisnya (sehingga tidak
berdzikir kepada Allah dan tidak pula bersholawat) akan tertimpa penyesalan.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا
قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَا يَذْكُرُونَ فِيهِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً
يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ
"Tidaklah
suatu kaum duduk pada suatu majelis sedang mereka tidak berdzikir kepada Allah
-Azza wa Jalla- dan tidak pula bersholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-, kecuali penyesalan akan menimpa mereka pada hari kiamat,
walaupun mereka akan memasuki surga, karena pahala". [Ahmad dalam Al-Musnad (2/463), Ibnu
Hibban dalam Shohih-nya (591) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok
(1/492). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Arna'uth dalam Takhrij
Al-Musnad (9965)]
Di
saat menafsirkan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam, yang
berbunyi, "…kecuali penyesalan akan menimpa mereka pada hari
kiamat…", Syaikh Ubaidullah
Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,
أي
: ندامة يوم القيامة بسبب تفريطهم في ذكر الله في ذلك المجلس وذلك لما يظهر لهم في
موقف الحساب من أجور العامرين لمجالسهم بذكر الله تعالى، فيتحسرون على كل لحظة من
أعمارهم لم يذكروا الله فيها. ((مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - (7 / 407))
"Maksudnya,
penyesalan pada hari kimat, akibat keteledoran mereka dalam berdzikir kepada
Allah di majelis itu. Penyesalan itu akan terjadi saat tampaknya bagi mereka
pahala orang-orang yang meramaikan majelis mereka dengan dzikir kepada Allah
-Ta'ala-. Akhirnya, mereka menyesali setiap kesempatan dari umur mereka, yang
mereka tidak berdzikir di dalamnya". [Lihat
Mir'aah Al-Mafaatih (7/816)]
Al-Imam Muhammad bin Abi Bakr Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah-
berkata,
فأي
لحظة خلا فيها العبد عن ذكر الله عز و جل كانت عليه لا له وكان خسرانه فيها أعظم
مما ربح في غفلته عن الله. ((الوابل الصيب - (ص/ 56))
"Kesempatan
apapun di dalamnya seorang hamba kosong dari dzikrullah -Azza wa Jalla-, maka
hal itu akan menjadi petaka baginya, bukan kebahagiaan baginya. Penyesalannya
akan lebih besar dibandingkan sesuatu yang ia dapatkan di saat ia lalai dari
Allah". [Lihat Al-Wabil Ash-Shoyyib
min Al-Kalim Ath-Thoyyib (hal. 56), karya Ibnul Qoyyim, cet. Dar
Al-Kitab Al-Arobiy, 1405 H]
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah
-rahimahullah- berkata,
وَكَرِهَ
صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِأَهْلِ الْمَجْلِسِ أَنْ يُخْلُوا مَجْلِسَهُمْ
مِنْ ذِكْرِ اللّهِ عَزّ وَجَلّ. ((زاد المعاد في هدي خير العباد ـ (2 / 426))
"Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- membenci bagi orang-orang di majelis bila mereka
mengosongkan majelisnya dari dzikir kepada Allah -Azza wa Jalla-". [Lihat Zaadul Ma'ad fi Hadyi Khoiril Ibaad (2/426),
karya Ibnul Qoyyim, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, dengan tahqiq Abdul Qodir
Al-Arna'uth dan Syu'aib Al-Arna'uth, 1421 H]
Kenapa
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membenci suatu majelis yang kosong
dzikrullah?! Sebab, majelis yang demikian halnya menunjukkan bahwa orang-orang
yang hadir di majelis adalah golongan orang-orang yang lalai. Disinilah
rahasianya beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- amat menganjurkan umatnya
memperbanyak dzikir, apalagi di majelis. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-
juga mengajari para sahabatnya agar menutup majelis dengan dzikrullah.
Syaikh Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarok -rahimahullah- berkata saat membawakan hadits
yang semakna dengan hadits di atas,
في
هذا الحديث: كراهة الغفلة واستحباب الذكر في كل حالة. ((تطريز رياض الصالحين - (ص/
503))
"Di
dalam hadits ini terdapat celaan lalai dari dzikir dan dianjurkannya berdzikir
di dalam semua keadaan".
[Lihat Tathriz Riyadh
Ash-Sholihin (2/2)]

Komentar
Posting Komentar