Keyakinan dan Kebiasaan Jahiliah yang Wajib Anda Jauhi dalam Kehidupan Anda
Keyakinan dan Kebiasaan Jahiliah
yang Wajib Anda Jauhi dalam Kehidupan Anda
=====================================
oleh :
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah
-hafizhahullah-
=====================================
Nabi
Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- diutus oleh Allah -Azza wa
Jalla- kepada umat manusia untuk menjelaskan yang haq dan batil.
Perkara
haq (kebenaran) adalah semua perkara yang dibenarkan oleh Allah -Azza wa
Jalla- dalam kitab-kitab-Nya atau melalui penjelasan para rasul-Nya.
Sebaliknya,
perkara kebatilan adalah semua perkara yang dingkari dan dilarang oleh syariat,
walaupun dianggap "baik" oleh kaum jahiliah!!! Inilah yang kita kenal
dengan "perkara jahiliah" yang dahulu dilakoni oleh kaum jahiliah
Quraisy dan lainnya dari kalangan kaum kafir.
Kebiasaan
jahiliah ini dilarang oleh Allah untuk diikuti oleh kaum muslimin, sebab ia
adalah kebatilan yang menyebabkan kerugian di dunia dan akhirat.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى
أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ [آل
عمران : 149]
"Hai
orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang yang kafir itu,
niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu
jadilah kalian orang-orang yang rugi".
(QS. Ali Imraan : 149)
Al-Imam Abul Fida' Muhammad bin Isma'il Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, "Allah -Ta'ala-
mengingatkan para hamba-Nya yang beriman dari bahaya taat kepada orang-orang
kafir dan munafiq. Sebab, taat kepada mereka akan mewariskan kerendahan di
dunia dan akhirat". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/131),
cet. Dar Thoybah, 1421 H]
Di
dalam banyak hadits, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- men-tahdzir
(mengingatkan) agar umatnya tidak mengikuti mereka dengan menyebutkan beberapa
kebiasaan jahiliah.
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
أَرْبَعٌ
فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِى
الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ
وَالنِّيَاحَةُ
"Empat
perkara di kalangan umatku diantara urusan jahiliah yang mereka tak tinggalkan:
berbangga pada kedudukan, mencela nasab (keturunan), menyandarkan hujan kepada
bintang dan meratap". [HR. Muslim dalam Shohih-nya
(no. 934)]
Di
dalam hadits ini ada empat perkara jahiliah yang diharamkan dalam syariat,
walaupun dianggap "baik" oleh kaum jahiliah.
Empat
kebiasaan ini amat menjamur dan berakar kuat di masyarakat jahiliah sehingga
memberikan pengaruh kepada mereka. Saking
kuatnya, sebagian kaum muslimin pun akhirnya mengikuti
kebiasaan-kebiasaan buruk ini!!
Empat
kebiasaan buruk ala jahiliah ini adalah:
&
Berbangga
pada Kedudukan
Pertama: Berbangga pada Kedudukan (الفخر في الأحساب). Kebiasaan ini tergambar pada kebiasaan mereka saat
menyebutkan kedudukan mereka, maka mereka merasa mulia dan bangga dengan
kemuliaan dan kedudukan nenek moyangnya, walaupun mereka (si anak-cucu) jauh
dari kemuliaan dan keutamaan. Bahkan mereka bergelimang dengan segala macam
kehinaan dan dosa-dosa. Mereka pun menghinakan orang lain dan merendahkannya.
[Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamid (hal. 377) oleh Syaikh Sulaiman
bin Abdillah An-Najdiy, dengan tahqiq Muhammad Aiman Asy-Syabrowiy, cet.
Alam Al-Kutub, 1419 H]
Kebiasaan
ini tampak pada orang-orang yang berasal dari kalangan bangsawan, pejabat, dan
ningrat. Mereka memandang orang lain dengan sebelah mata, seakan-akan orang
lain adalah budak dan binatang hina.
Orang
seperti ini tak mau bergaul dengan rakyat jelata. Makan dan minum harus di
tempat tertentu dan jauh dari orang-orang miskin. Baginya, lebih mulia untuk
melajang dan menua, dibandingkan harus menikahi selain bangsawan.
Walaupun
para bangsawan sudah berkurang di zaman ini, kebiasaan jahiliah ini masih saja
tetap ada dan menjangkiti kaum borjuis, hartawan, dan pejabat yang bergaya
hidup glamor.
Orang-orang
miskin dan kaum marginal rendahan tersingkir dalam kehidupan mereka. Ini
terlihat dalam kegiatan-kegiatan yang mereka adakan.
Lihat
saja saat mereka adakan resepsi pernikahan. Yang hadir hanyalah yang selevel
dengan mereka dari kalangan hartawan dan pejabat. Orang miskin dan rendahan tak
ada kursi baginya!!
Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- berkata,
بئسَ
الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الأغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِيْنُ
"Seburuk-buruk
makanan adalah makanan resepsi yang diundang kepadanya orang-orang kaya dan
ditinggalkan (yakni, tidak diundang) orang-orang miskin". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1432)]
Kemuliaan
yang hakiki hanyalah diukur pada ketaqwaan seseorang, bukan pada
kemuliaan dan kedudukan orang tua.
&
Mencela
Nasab (keturunan)
Sebuah
kebiasaan buruk yang menyebar di masyarakat muslim di zaman ini, kebiasaan
jelek dalam mencela nasab (الطَّعْنُ فِي اْلأَنْسَابِ).
Mereka melakukan hal itu dengan menuduh orang lain sebagai sundala' (anak
zina), anak kotor, dan menuduh orang lain berzina. Tergolong juga dalam hal ini
mencela orang dengan menyebutnya sebagai anak monyet, sapi dan lain
sebagainya!!
Abu Dzarr -radhiyallahu anhu- berkata,
إِنِّي
سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ
فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ
"Sungguh
aku telah mencaci maki seseorang, lalu aku pun mencelanya dengan ibunya.
Akhirnya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, "Wahai
Abu Dzarr, apakah engkau mencelanya karena ibunya. Sesungguhnya pada dirimu ada
kebiasaan kaum jahiliah". [HR. Al-Bukhoriy
(30) dan Muslim (1661)]
Di dalam
hadits ini terdapat sebuah isyarat bahwa kebiasaan mencela orang dengan
mengaitkan kerendahan dan kekurangan yang ada pada orang tuanya adalah
kebiasaan yang dilakukan kaum jahiliah, misalnya : seseorang mencela orang lain
dengan berkata, "Anak zina", "anak budak", "anak
orang jelek" dan lainnya.
Itulah
sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menegur sahabat Abu Dzarr
dengan keras agar beliau tahu bahwa perkara itu terlarang.
Al-Imam Badruddin Al-Ainiy
-rahimahullah- berkata, "Mencela
orang karena ibunya adalah masalah besar di sisi mereka (yakni, kaum jahiliah).
Karena, mereka dulu berbangga-bangga dengan nasab mereka. Ini (sikap mencela)
adalah pelanggaran maksiat yang besar. Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- mengingkari dengan memakai lafazh yang menunjukkan kerasnya
pengingkaran". [Lihat Umdah Al-Qori (2/49)]
&
Menyandarkan
Hujan kepada Bintang
Menurunkan
hujan adalah salah satu diantara tugas khusus bagi Allah sebagaimana dalam
firman-Nya,
إِنَّ
اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي
الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [لقمان : 34]
"Sesungguhnya Allah, hanya pada
sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang
menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal". (QS. Luqman : 34)
Tak boleh bagi seseorang menyandarkan hujan kepada selain
Allah dengan meyakini –misalnya- bahwa bintang tertentu yang menurunkan hujan
atau bintang itu adalah sebab turunnya hujan.
Jelas ini adalah keyakinan batil, sebab bintang itu bukanlah pencipta dan pengatur alam
semesta. Itu hanyalah tugas Allah.
Muncul atau hilangnya bintang, bukanlah sebab turunnya
hujan, sebab tak ada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya yang menjelaskan bahwa
bintang adalah sebab bagi turunnya hujan!!
Sangkaan batil seperti ini adalah kebiasaan kaum jahiliah
dari kalangan Bangsa Arab Jahiliah, Yunani Kuno, Romawi, Babilonia dan lainnya.
&
Meratapi
Mayat (النِّيَاحَةُ)
Kebiasaan
ini muncul saat terjadinya musibah kematian. Dahulu kaum jahiliah Quraisy bila
kematian, maka mereka meraung-raung atas musibah itu, menyebut-nyebut kebaikan
dan jasanya dimana-mana demi menunjukkan penyesalan atas kematian keluarga
mereka, mendatangi pintu-pintu rumah sambil mengeluh dan menyebutkan keutamaan
mayat seakan tak ridho dengan kepergiannya.
Diantara
mereka ada yang menyiksa diri, merobek kerah baju, merusak barang-barang dan
sebagainya. Biasa juga mereka kumpul bersama tetangga atau keluarga dalam melakukan
acara duka cita dengan menyembelih hewan dan membuat makanan. Semua perkara ini
adalah bentuk niyahah (ratapan) atas mayat.
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda dalam mengecam perbuatan ini,
وَقَالَ
: النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
"Orang
yang meratap jika tidak bertobat sebelum matinya, maka akan dibangkitkan pada
hari kiamat, sedang pada dirinya ada pakaian yang terbuat dari ter (aspal) dan
pakaian dalam yang terbuat dari kudis".
[HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 934)]
Al-Imam
Zainuddin Al-Iroqiy -rahimahullah- berkata saat
menjelaskan hikmah dan rahasia adanya siksaan keras lagi menghinakan ini, "Rahasia
hal itu bahwa penyakit kudis adalah penyakit yang rasa sakitnya cepat, karena
terlukanya kulit. Sedang ter (aspal) membuat nyala api semakin kuat".
[Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami' Ash-Shoghir (2/894) karya
Al-Munawiy]
Tentu
adanya siksaan seperti ini menunjukkan bahwa dosa ini besar di sisi Allah. Tak
heran jika para ulama kita sepakat menyatakan haramnya niyahah (merapati
mayat).
Al-Imam
An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, "Di
dalam hadits ini terdapat dalil tentang haramnya niyahah dan itu disepakati
atasnya". [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim (6/236),
cet. Dar Ihya' At-Turots Al-Arobiy, 1392 H]
Ini
sebagian kebiasaan jahiliah yang harus kita jauhi, walaupun disana masih banyak
diantara kebiasaan-kebiasaan buruk. Namun kami tak sempat menyebutkan semuanya,
semoga nanti dalam pembahasan lain kami akan mengangkat hal itu, insya Allah.
Kita berharap semoga kita dijauhkan dari kebiasaan buruk mereka.

Komentar
Posting Komentar