Cinta Kekuasaan dan Ketenaran telah Menjangkiti Jiwamu
Cinta Kekuasaan dan
Ketenaran telah Menjangkiti Jiwamu
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
Kekuasaan
dan ketenaran adalah dua perkara yang banyak mencelakakan manusia. Kekuasaan
akan mendorong manusia untuk memperbanyak dan memperkuat pengikut.
Sedangkan ketenaran akan menyeret seseorang untuk menjilat dan mencari-cari perhatian manusia
dalam beramal.
Akibatnya,
dua penyakit ini membuat para pencintanya akan melakukan segala hal dalam
meraih keduanya. Orang-orang yang haus kekuasaan dan ketenaran akan memuaskan
hawa nafsu dan tendensi hinanya dengan melakukan segala cara demi meraih hal
itu!! Hanya saja caranya kadang halus sekali sehingga tak ada yang tahu,
kecuali dia dan Allah -Azza wa Jalla-.
Penyakit
cinta kekuasaan dan ketenaran ini, bukan hanya menyerang orang-orang jahil
diantara manusia, bahkan ia juga menyerang orang-orang berilmu.
Lantaran
itu, setiap orang berilmu dari kalangan ulama, ustadz, dan penuntut ilmu agama,
harus waspada dan selalu memeriksa segala perbuatan hatinya. Sebab, penyakit
cinta kekuasaan dan ketenaran ini adalah golongan penyakit yang merasuki hati.
Ketahuilah
bahwa penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran ini merupakan penyakit yang sangat
sulit disembuhkan dan diusir dari hati orang yang berilmu, apalagi orang jahil
tentang agama!!
Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibiy -rahimahullah- berkata,
آخر
الأشياء
نزولاً من قلوب الصَّالحين: حبُّ السُّلطة والتَّصدر
"Perkara yang paling terakhir
turun (yakni, keluar) dari hati orang-orang sholih adalah cinta kekuasaan dan
ketenaran". [Lihat
Ma'alim fi Thoriq Tholab Al-Ilm (hal. 20), karya Syaikh Abdul
Aziz As-Sadhan –hafizhahullah-, cet. Dar Ibnil Haitsam]
Di
dalam ucapan Asy-Syathibiy -rahimahullah- ini terdapat isyarat bahwa
penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran adalah dua penyakit yang amat susah
hilang dan keluar dari hati orang-orang sholih, apalagi orang-orang yang bejat
dan buruk.
Ishaq bin Kholaf Az-Zahid -rahimahullah-
berkata,
والله
الذي لا إله إلا هو لإزالة الجبال الرواسي أيسر من إزالة الرياسة.
"Demi Allah Yang tak ada ilah
(sembahan) yang haqq, kecuali Dia, sungguh menghilangkan gunung-gunung yang
kokoh lebih mudah dibandingkan menghilangkan (cinta kepada) kekuasaan". [Atsar Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Al-Ilm
wa Fadhlih (no. 976), dengan tahqiq Abul Asybal Az-Zuhairiy,
cet. Dar Ibnil Jauzi]
Bayangkan
saja gambaran Az-Zahid di atas, bagaimana susahnya mengatasi dan mengobati
penyakit cinta kekuasaan.
Saking
susahnya hilang sampai sebagian ulama salaf menganggap bahwa penyakit cinta
kekuasaan bagaikan penyakit yang tak ada obatnya.
Seorang
diantara mereka berkata,
حبُّ
الرِيَاسَةِ داءٌ لاَ دَوَاءَ لَهُ وَقَلَّ مَا تَجِدُ الرَّاضِيْنَ بِالقَسْمِ
"Cinta kekuasaan adalah
penyakit yang tak ada obatnya. Jarang anda menemukan orang-orang yang ridho
(rela) dengan pembagian (dari Allah)".
[Lihat
kedua atsar ini dalam Jami' Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (1/286-287)
karya Ibnu Abdil Barr Al-Qurthubiy, cet. Mu'assasah Ar-Royyan dan Dar Ibni
Hazm, 1424 H]
Ini
disebabkan karena ia tidaklah mencari ilmu demi mengamalkannya, tapi ia cari
agar dijadikan hiasan dan kebanggaan di depan manusia.
Seorang
ulama tabi'in di zamannya, Abu Yahya
Malik bin Dinar Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,
مَنْ
تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ كَسَرَهُ، مَنْ تَعَلَّمَهُ لِغَيْرِ الْعَمَلِ زَادَهُ
فَخْرًا
"Barangsiapa yang mempelajari
ilmu agama untuk diamalkan, maka ilmu itu akan meredakannya. Barangsiapa yang
mempelajarinya bukan untuk diamalkan, maka ilmu akan memberinya tambahan keangkuhan".
[HR. Ibnu Abdil Barr dalam Jami'
Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (1/288)]
Disinilah
sisi keterkaitan antara cinta kekuasaan dan cinta ketenaran. Keduanya menyeret
seseorang untuk beramal demi selain Allah.
Cinta
ketenaran akan membuat pelakunya susah menghadirkan keikhlasan dalam hatinya. Dalam
beramal, ia tak jujur kepada Allah. Sebab, ia mau beramal jika ada sesuatu
yang dapat mengangkat namanya demi mencapai ketenaran.
Jika
suatu amalan tak bisa membuat dirinya masyhur dan dikenal oleh orang, maka ia
malas melangkah dalam melakukan amalan itu.
Sebuah
contoh, seorang ulama atau dai –misalnya-, ia tak mau bersabar tinggal di rumah
atau pesantrennya untuk mengajari para santrinya tentang ilmu agama.
Sementara
itu, ia lebih senang berkeliling kampung, kota
dan propinsi dalam "berdakwah" menurutnya, dibandingkan berdakwah di
kampungnya. Semua ini ia gemar lakukan demi mencapai popularitas.
Sebagian
penuntut ilmu ada yang terkena cinta ketenaran ini dari arah dunia
tulis-menulis. Ia rajin menulis di majalah, koran, buletin, situs, dan berbagai
media lainnya demi mencapai popularitas. Rajin sih rajin. Hanya
saja ia tak menjauhkan hatinya dari penyakit ini.
Kelompok
dai lain, ada yang lebih lihai dalam mencari popularitas dan ketenaran dengan
mengumpulkan manusia sebanyak-banyaknya dalam majelis, lalu ia pun tampakkan
dirinya sebagai manusia yang paling berilmu.
Dia
pun mengondisikan masyarakat agar mereka mengakui bahwa dirinyalah yang paling
berilmu. Adapun dai-dai selainnya, maka mereka lebih rendah dibandingkan
dirinya.
Ia tak
ingin ada orang yang berbicara tentang ilmu, kecuali dirinya. Orang-orang pun
berdecak kagum dalam hati sambil bergumam, "Inilah dai dan ustadz yang
paling top dan hebat!!"
Orang
seperti ini tak sadar bahwa dirinya telah terjangkiti oleh penyakit cinta
ketenaran. Sungguh ia tak jujur kepada Allah dalam beramal; bukan pahala yang
ia inginkan, bahkan pujian dan sanjungan manusia.
Abu Ishaq Ibrahim bin Adham Al-Ijliy -rahimahullah- berkata,
مَا
صَدق َاللهَ عَبدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ
"Seorang hamba yang mencintai
ketenaran tak akan berlaku jujur kepada Allah". [HR. Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (9/35),
Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (6/317-318) dan Ibnu Abid
Dun-ya dalam Al-Uzlah wa Al-Infirod (no. 132 & 137)]
Apalagi
jika ia pandai bersilat lidah sehingga semua hujjah yang ditujukan kepada
dirinya, maka ia mentahkan dengan silat lidahnya dan ia tampakkan dirinya tak
salah. Padahal ia sudah tahu bahwa dirinya bersalah dan hujjah telah tegak
baginya.
Sekali lagi, penyakit cinta kekuasaan dan ketenaran bukan hanya
mengenai orang jahil. Bahkan biasanya juga mengenai kaum berilmu.
Walaupun
seorang yang berilmu merasa dirinya ikhlash dalam berdakwah, ia harus tetap
mewaspadai hal ini!!!
Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -rahimahullah- berkata,
((عَلاَمَة
ُالمُخلِصِ الذي قد يُحِبُّ شُهرَةً، ولا يشعرُ بها، أنّه
إذا عُوتب في ذلك لا يَحْرَدُ ولا يُبَرِّئُ نفسَهُ، بل يعترف
ويقول:
رحمَ الله من أهدى إليَّ عُيوبي، ولا يَكُنْ مُعْجباً بنفسِه؛ لا يشعرُ
بعيوبها،
بل لا يشعر أنّه لا يشعر، فإنّ هذا داءٌ مزمنٌ))
"Tanda orang ikhlash yang
terkadang mencintai ketenaran –sedang ia tak merasakannya- bahwa jika ia dicela
dalam hal itu, maka ia tak marah dan tidak pula membersihkan dirinya. Bahkan ia
mengakui (hal itu) seraya berkata, "Semoga Allah merahmati orang
menunjukkan kepadaku aib-aibku".
Orang
ini tak bangga diri. Cuma dia tak menyadari aib (kekurangan) dirinya, bahkan ia
tak merasa bahwa dirinya tak merasa (bersalah). Sesungguh hal ini adalah
penyakit yang kronis". [Lihat
Siyar A'lam An-Nubalaa' (7/393)]
Orang
seperti ini jika ada yang menasihati dan mengeritiknya, maka lisannya berterima
kasih, namun hatinya tak menerima, bahkan kadang kesal. Wallahul musta'an.
Ini
penyakit cinta ketenaran!! Adapun penyakit cinta kekuasaan, maka penyakit ini
pun tak kalah bahayanya. Ia juga menyerang berbagai kalangan, tanpa terkecuali
ulama dan ustadz.
Realita
nyata telah membuktikan hal itu di lapangan, sehingga mudah saja bila kita
ingin membawakan sebagian bukti dan fakta nyata di lapangan!!
Di
sebagian daerah, ada sebagian dai yang merasa dirinya paling senior, sehingga
menganggap dirinya yang patut didengar dan mengatur semua urusan dakwah. Semua
dai yang baru datang dalam medan
dakwah, maka ia anggap junior dan tak ada nilainya.
Si dai
senior ini yang ingin menentukan semua urusan dakwah. Karena itu, tak boleh ada
yang berceramah di "daerah kekuasaannya", tanpa ada izin darinya.
Jika tidak, maka dai pendatang dari luar, ia anggap dai sempalan, atau minimal
kurang ajar dan kurang beradab.
Subhanallah,
padahal si "dai senior" ini bukanlah seorang pemerintah yang berhak
mengatur dakwah disana-sini.
Lebih
para lagi, jika si dai senior ini memiliki jaringan berupa dai-dai baru
(junior) yang siap menjilat dan tunduk di depannya demi menjaga harga diri dan
kedudukannya dari cercaan si dai senior. Sungguh ini adalah penyakit cinta
kekuasaan.
Warna
lain dari dunia dai, ada diantara mereka memperjuangkan Islam dan
mendakwahkannya melalui ajang politik dan demokrasi, sehingga ia pun
menghinakan diri masuk dalam parlemen dengan dalih "dakwah".
Begini
hinakah Islam sampai anda harus memperjuangkannya melalui cara yang tak
dibenarkan agama?! Sungguh semua ini adalah kehancuran.
Jika
mereka berdalih bahwa mereka terpaksa dan darurat ikut dalam hal itu. Kita
katakan bahwa bukankah telah ada yang mewakili anda dalam urusan itu dari
kalangan kaum muslimin?!
Al-Imam Abu Nu'aim Ashbahaniy
-rahimahullah- berkata,
“والله ما هلك
مَنْ هلكَ إلاَّ بحبِّ الرِّئاسة” (جامع بيان العلم) (1 / ص 286)
"Demi Allah, tidaklah binasa
orang yang binasa, kecuali karena sebab kekuasaan". [Baca Jami' Bayan Al-Ilm (1/286)]
Banyak
orang yang mengetahui hakikat kebenaran. Namun ia enggan meninggalkan kesesatan
dan kebatilan yang selama ini ia lakukan dan perjuangkan.
Ia
susah rujuk kepada kebenaran, akibat cinta dan haus kekuasaan. Ia rela hancur dalam kebatilan dan kesesatan bersama
dengan pengikut atau kelompoknya, karena takut kehilangan kekuasaan dan
kedudukan di mata pengikut atau kelompoknya.
Inilah
yang dialami oleh seorang Kaisar Romawi dan Raja Kostantinopel yang bernama Heraklius. Ia rela di atas kekafiran setelah
nyatanya kebenaran baginya, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(no. 7) dan Muslim dalam Shohih-nya (1773)]
Terakhir
kita memohon kepada Allah -Tabaroka wa Ta'ala- agar kita dibersihkan dan
dijauhkan dari sebab-sebab yang menumbuhkan cinta dunia dan ketenaran dalam
jiwa kita. Amiin.

Komentar
Posting Komentar