Sabtu, 22 Oktober 2016

Berdzikir dengan Alat Tasbih [Serial Hadits Palsu dan Lemah (no. 2)]


Berdzikir dengan Alat Tasbih
[Serial Hadits Palsu dan Lemah (no. 2)]

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

Berdzikir adalah ibadah yang harus didasari dengan keikhlasan dan mutaba'ah (keteladanan) kepada Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- .

Karenanya, seorang tidak dianjurkan menggunakan alat tasbih, ketika ia berdzikir. Sebab, tidak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- tentang berdzikir dengannya. Beliau hanya berdzikir dengan jari-jemarinya.

Adapun hadits berikut yang menganjurkan berdzikir dengan rosario (alat tasbih), maka ia adalah hadits maudhu'  (palsu), tidak boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sunnahnya berdzikir dengan alat tasbih.

Bunyi hadits palsu itu begini :
نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ وَإِنَّ أَفْضَلَ مَا يُسْجَدُ عَلَيْهِ الْأَرْضُ وَمَا أَنْبَتَتْهُ الْأَرْضُ
"Sebaik-baik pengingat adalah alat tasbih. Sesungguhnya sesuatu yang paling afdhol untuk ditempati bersujud adalah tanah dan sesuatu yang ditumbuhkan oleh tanah". [HR. Ad-Dailamiy dalam Al-Firdaus (no. 6765)]


Hadits ini adalah hadits yang maudhu'  (palsu) sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho'ifah (83), karena  adanya rawi-rawi yang majhul.

Selain itu, hadits ini secara makna adalah batil, sebab alat tasbih tidak ada di zaman Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dan tidak diguanakan oleh beliau dan para sahabat -radhiyallahu anhum- saat mereka berdzikir.

Mana mungkin Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya akan memakai alat tasbih dalam berdzikir, sementara kebiasaan berdzikir dengan rosario (alat tasbih) merupakan kebiasaan para biksu, pendeta, dan brahmana dari kalangan kaum kafir!!

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang kita menyerupai kebiasaan dan syi'ar kaum kafir dalam sabdanya,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut". [(HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4031), Ahmad dalam Musnad-nya (5114), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8327), Ibnu Manshur dalam As-Sunan (2370). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)]

Al-Imam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- berkata,
"Hadits ini serendah-rendahnya mengharuskan pengharaman tasyabbuh (menyerupai orang kafir atau fasiq)". [Lihat Iqtidho' Ash-Shiroth Al-Mustaqim (83)]

         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar