Wanita Rajin Ibadah, Namun Sial karena Keburukan ِAkhlaknya
Wanita Rajin Ibadah,
Namun Sial karena
Keburukan Akhlaknya
oleh Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah,
Lc. -hafizhahullah-
Sebuah
musibah yang didapatkan oleh seorang suami, ia mendapatkan wanita sial. Sang
Istri rajin mengerjakan perkara-perkara sunnah yang dianjurkan oleh agama,
berupa sholat tahajjud, puasa sunnah, bersedekah kepada orang-orang yang butuh
dan melakukan amalan-amalan sunnah lainnya. Cuma sialnya, si istri ini suka
melakukan perkara haram berupa menyakiti orang dengan lisannya, misalnya
mencela orang lain, meng-ghibah-nya, mengadu domba, menyebarkan kedustaan dan
gosip serta merendahkan orang lain dengan lisannya.
Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- berkata,
قِيلَ
لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ فُلَانَةَ تَقُومُ
اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا
بِلِسَانِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا
خَيْرَ فِيهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ " قِيلَ: وَفُلَانَةُ تُصَلِّي
الْمَكْتُوبَةَ، وَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا، فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " هِيَ مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ "
"Pernah
dikatakan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, "Wahai Rasulullah,
sungguh seorang wanita bangkit di waktu malam (untuk melakukan sholat malam),
berpuasa di siang hari, melakukan (hal-hal yang baik) dan bersedekah. Namun ia
menyakiti para tetangga dengan lisannya". Rasulullah -Shallallahu alaihi
wa sallam- bersabda, "Tak ada kebaikan padanya; ia termasuk penghuni neraka".
Mereka
(para sahabat) berkata lagi, "Wanita lain hanya mengerjakan sholat wajib
dan bersedekah dengan sekerat keju. Namun ia tak pernah menyakiti seorang
pun". Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, "Ia
termasuk penghuni surga". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 119), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok
(4/166), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (2054) dan Ahmad dalam
Al-Musnad (2/440). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(190)]
Wanita
sial ini menyangka bahwa dengan melakukan amalan-amalan yang banyak, maka hal
itu akan menyelamatkan dirinya. Ia berbangga dengan amalan-amalan sunnah, namun
ia melalaikan kewajiban lain yang jauh lebih besar ganjarannya dibandingkan
amalan-amalan sunnah yang ia lazimi.
Kewajiban
apakah itu? Kewajiban menjaga lisan dari merusak
kehormatan kaum muslimin. Apalah gunanya amalan-amalan yang banyak. Namun
dihancurkan oleh pelakunya dengan dosa-dosa yang seharusnya ia tinggalkan.
Kebiasaan
buruk seperti ini banyak menjangkiti kaum wanita dan kaum lelaki di zaman ini.
Mereka tidak lagi memperhatikan kehormatan saudara-saudaranya, bahkan guru dan
ustadznya, tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Tiada hari baginya, kecuali
ia kotori dengan menghina, meng-ghibah, merendahkan orang lain atau mengadu
domba saudara-saudaranya yang muslim. Ia lebih tertipu lagi dengan amalan
dan ketaatan yang ia kerjakan dengan berbagai macamnya sehingga ia
menyangka dirinya akan menjadi penduduk surga atau kadang hal-hal itu
membuatnya lupa terhadap kebiasaan-kebiasaan buruknya.
Saat
mengomentari sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berbunyi, "Ia
(wanita itu) termasuk penghuni neraka", Al-Imam
Ali bin Sulthon Al-Qoriy -rahimahullah-
berkata menjelaskan sebabnya wanita itu masuk neraka, "Karena ia
(wanita itu) melakukan perkara-perkara sunnah yang boleh ditinggalkan dan
memberikan gangguan yang diharamkan dalam syariat. Dalam perkara semisal ini,
banyak dari kalangan manusia yang terjerumus ke dalamnya sampai pun ketika
mereka masuk ke Baitullah yang mulia dan menyentuh rukun yang mulia (yakni,
Hajar Aswad). Termasuk dalam perkara ini, sepak terjang para pemerintah yang
zhalim berupa mengumpulkan harta haram, lalu menyalurkannya dalam pembangunan
masjid-masjid, sekolah-sekolah dan memberi makan (kepada orang lain)". [Lihat
Mirqoh Al-Mafaatih Syarh Misykah Al-Mashobih (14/284)]
Golongan
manusia semacam ini banyak bertebaran di muka bumi. Lihatlah para pemusik yang
rajin mengumpulkan dana-dana sosial lewat aksi panggung dan konser mereka dalam
rangka kegiatan sosial, untuk membantu masyarakat yang mengalami masalah atau
musibah, seperti rakyat kelaparan, orang yang terjangkiti AIDS dan penyakit kelamin lainnya, para
yatim di panti-panti asuhan atau para orang tua jompo di panti-panti mereka,
atau yang lainnya. Kadang juga mereka kumpulkan untuk membantu pemerintah
dengan dana-dana itu demi menyukseskan gerakan reboisasi dan Go Green.
Mereka
menyibukkan diri dengan amalan sunnah, namun di sisi lain ia melakukan dosa
yang wajib ditinggalkan. Akhirnya, ibarat "gali
lubang, tutup lubang".
Wanita
yang kedua yang disebutkan di dalam hadits ini adalah wanita yang tidak terlalu
banyak memiliki amalan-amalan sunnah. Kalaupun ada, yah tidak sebanyak dan
tidak sesering yang dilakukan oleh wanita sial sebelumnya. Yang terpenting
baginya, ia melakukan kewajiban-kewajiban agamanya dan menjauhi hal-hal yang
dinilai buruk oleh agamanya. Sambil berusaha melakukan hal-hal sunnah yang
dianjurkan dalam agama, sesuai dengan kemampuannya. Ia tidak bangga dan tertipu
dengan banyaknya amalan.
Syaikh
Athiyyah Shokhr Al-Mishriy -rahimahullah-
berkata, "Sholat yang sempurna lagi khusyu' akan menjauhkan manusia
(pelakunya) dari melakukan perkara yang mungkar dan perbuatan-perbuatan yang
keji, sama saja apakah hal itu antara dia dengan dirinya atau antara ia dengan
manusia". [Lihat Fataawa Al-Azhar (9/175)]
Berbeda
dengan wanita sial dalam hadits itu, ia bangga dengan amalannya yang banyak,
sehingga "boleh jadi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengancamnya
demikian karena beliau mengetahui bahwa si wanita itu menyakiti
tetangga-tetanganya, karena ia berbangga dengan amalannya berupa puasa di siang
hari dan bangun sholat malam. Ia hanya menyakiti para tetangganya, karena
merendahkan mereka dan menganggapnya hina serta menganggap mereka secara
sepele, akibat melihat kelebihan dirinya atas mereka. Akhirnya, hal itu pun
menyebabkan ia berhak mendapatkan neraka". [Lihat Bahr Al-Fawa'id
(1/157) oleh Abu Bakr Al-Kalabadziy]
Ibnu
Abbas -radhiyallahu 'anhuma- berkata,
أَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مََّر بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ:
إِنَّهُمَا يُعّذَّبَانِ وَمَا يَعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ, بَلَى إِنَّهُ
كَبِيْرٌ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ, وَأَمَّا الآخَرُ
فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِه
"Rasulullah
-Shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah melewati dua kubur seraya bersabda,
"Sesungguhnya kedua (penghuni)nya disiksa, sedang ia tak disiksa karena
perkara besar (menurut sangkaanya, pen). Bahkan itu (sebenarnya) adalah perkara
besar. Adapun salah satu diantaranya, ia melakukan adu domba.
Adapun yang kedua, ia tidak berlindung dari (percikan) kencingnya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (216),
dan Muslim dalam Shohih-nya (111), Abu Dawud dalam As-Sunan
(20), An-Nasa'iy As-Sunan (2069), dan Ibnu Majah As-Sunan (347)]
Komentar
Posting Komentar