Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid dari Kotoran dan Sampah-sampah yang Menodainya
Anjuran Membersihkan Halaman Rumah dan Masjid dari Kotoran dan Sampah-sampah yang
Menodainya
....................................
Penulis :
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah
-hafizhahullah-
Membersihkan rumah, baik pada bagian dalam rumah, ataukah
luarnya, merupakan adab islami yang kini banyak disepelekan oleh sebagian besar
kaum muslimin, sehingga tidak heran apabila kita akan menemukan sampah-sampah,
dedaunan bertebaran dan rerumputan yang menjalar dan berkeliaran di halaman
rumahnya. Bahkan ada diantara mereka yang membiarkan rerumputan itu memasuki
rumah mereka dan jadilah pekarangan rumah mereka laksana hutan belantara, dan
rumah mereka ibarat kandang hewan yang berantakan.
Sebuah pemandangan yang amat menjijikkan, sebagian muslim
mengumpulkan dan membiarkan berbagai macam barang-barang rongsokan menumpuk di dalam atau di luar rumahnya, sehingga menciptakan pemandangan yang jorok.
Belum lagi, anak-anak mereka sembarang membuang sampah di halaman rumah, tanpa
menyiapkan tempat khusus pembuangan sampah, seperti tong sampah dan lainnya
yang dapat mencegah sampah berserakan kemana-mana.
Ajaran membuang sampah ini telah dicanangkan oleh
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya sejak 14 abad yang
lalu, sebelum orang-orang barat mengenal peradaban.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
طَهِّرُوْا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُوْدَ لاَ تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا
"Bersihkanlah halaman-halaman kalian.
Karena, kaum Yahudi tidak membersihkan halaman-halaman mereka." [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Ausath
(4/231). Hadits ini hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy
dalam Ash-Shohihah (no. 236)]
Seorang yang memiliki keimanan yang bersih, maka
keimanannya akan memberikan pengaruh kepada anggota-anggota tubuhnya, sehingga
anggota-anggota tubuh itu akan selalu bersih dan mencintai kebersihan.
Akan tetapi apabila raga seseorang kotor, maka itu adalah
cerminan akan kotornya kalbu dan jiwa orang itu.
Al-Imam Abdur
Rouf Al-Munawiy -rahimahullah-
berkata dalam menjelaskan hadits di atas,
ونبه بالأمر بطهارة الأفنية الظاهرة على
طهارة الأفنية الباطنة وهي القلوب والأرواح
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
memberi peringatan melalui perintah membersihkan halaman-halaman rumah yang
tampak tentang halaman-halaman yang bathin (tersembunyi), yakni hati dan
ruh." [Lihat Faidhul Qodir
(4/271)]
Perintah membersihkan pekarangan rumah ini semakin kuat,
dengan adanya perintah menyelisihi Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Sebab,
hidup jorok adalah kebiasaan dan jalan hidup mereka yang sudah dikenal pada zaman
kenabian. Sementara kebiasaan hidup kaum muslimin (yakni, Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- dan para sahabatnya) saat itu adalah HIDUP BERSIH di atas
bimbingan wahyu.
Al-Imam Al-Amir
Muhammad bin Isma'il Al-Kahlaniy Al-Hasani Ash-Shon'aniy -rahimahullah- berkata saat
memetik ibrah dari hadits ini,
ومخالفتهم مراده في مثل هذا أو ليكون
تفرقة بين دوركم ودورهم للناظر.
"Menyelisihi mereka (kaum Yahudi),
itulah maksud beliau dalam perkara seperti ini, atau agar hal itu menjadi
pembeda antara rumah-rumah kalian dengan rumah-rumah mereka bagi orang yang
melihatnya. [Lihat At-Tanwir Syarhul Jami'
Ash-Shoghir (7/139)]
Syariat kita adalah syariat yang membangun kehidupan nazhofah
(bersih). Lantaran itu, di dalam syariat kita, diterangkan tata cara
membersihkan kotoran, najis berupa darah, tahi, kencing, jilatan anjing, atau
tata cara mandi junub, membuang najis dari air dan makanan, membersihkan gigi
dengan siwak, berwudhu', dan masih banyak lagi syiar-syiar nazhofah (kebersihan)
dalam agama Islam yang tidak ada pada umat-umat kafir.
Oleh karena itu, suatu aib dan celaan
besar apabila seorang muslim "BERGAYA HIDUP
JOROK" (Makassar : rantasa').
Seorang muslim hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan
kebersihan diri dan lingkungannya, mulai dari
anggota-anggota badannya, pakaian, kendaraan, rumah (baik dalam, maupun
luarnya), kantor, dan lainnya.
Kebersihan adalah sesuatu yang indah, sedang sesuatu yang
indah adalah perkara yang dicintai oleh Allah -Azza wa Jalla-.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ
الْجَمَالَ
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Indah,
mencintai keindahan." [HR. Muslim dalam Shohih-nya
(no. 91)]
"Allah memiliki keindahn muthlaq : keindahan pada
dzat-Nya, sifat-sifatnya, dan perbuatan-perbuatannya." [Lihat At-Taisir
bi Syarh Al-Jami' Ash-Shoghir (1/504)
Ketika Allah menyifati dirinya dengan keindahan, maka Dia
juga mengabarkan bahwa dirinya mencintai keindahan lahiriah dan batin pada diri
hamba-hamba-Nya.
Al-Allamah Abdur
Rohman Ibnu Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
فإنه تعالى جميل في ذاته وأسمائه وصفاته
وأفعاله ،
يحب الجمال الظاهري والجمال الباطني .
فالجمال الظاهر : كالنظافة في الجسد ،
والملبس ، والمسكن ، وتوابع ذلك .
والجمال الباطن : التجمل بمعاني الأخلاق
ومحاسنها .
"Sesungguhnya Dia (Allah) -Ta'ala-
adalah Maha Indah pada dzat (diri)-Nya, nama-nama, sifat-sifat dan
perbuatan-perbuatan-Nya.
Dia mencintai keindahan lahiriah dan
keindahan batin.
Keindahan lahiriah : seperti,
kebersihan pada jasad, pakaian, tempat tinggal, dan pelengkap-pelengkapnya.
Sedang keindahan batin : memperindah
diri dengan makna-makna akhlak serta akhlak-akhlak yang indah." [Lihat Bahjah Qulub Al-Abror wa Qurroh Uyun
Al-Akhyar fi Syarh Jawami' Al-Akhbar (1/233) karya As-Sa'diy]
Jadikanlah keindahan lahiriah dan batin kita sebagai
prinsip yang selalu mewarnai kehidupan kita, dimanapun kita berada.
Prinsip itu harus berada di tangan kaum muslimin, jangan
sampai direbut oleh kaum kafir, sehingga merekalah yang dikenal sebagai pelopor
kebersihan dan sebagai "manusia bersih", walaupun
hakikatnya mereka tetap saja kotor!![1].
Tugas menjaga kebersihan masjid, bukanlah kerendahan dan
kehinaan. Tugas menjaga kebersihan masjid merupakan tugas para nabi dan rasul
yang mulia.
Inilah yang Allah -Tabaroka wa Ta'ala- sinyalir
dalam sebuah firman-Nya,
وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ
وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ [البقرة : 125]
"Dan Telah kami perintahkan kepada
Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf,
yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. Al-Baqoroh : 125)
Al-Allamah Ibnu
Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,
وَالْمُرَادُ مِنْ
تَطْهِيرِ الْبَيْتِ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ لَفْظُ التَّطْهِيرِ
- مِنْ مَحْسُوسٍ :
بِأَنْ يُحْفَظَ مِنَ الْقَاذُورَاتِ وَالْأَوْسَاخِ لِيَكُونَ الْمُتَعَبِّدُ
فِيهِ مُقْبِلًا عَلَى الْعِبَادَةِ دُونَ تَكْدِيرٍ،
- وَمِنْ تَطْهِيرٍ
مَعْنَوِيٍّ : وَهُوَ أَنْ يُبْعَدَ عَنْهُ مَا لَا يَلِيقُ بِالْقَصْدِ مِنْ
بِنَائِهِ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَفْعَالِ الْمُنَافِيَةِ لِلْحَقِّ كَالْعُدْوَانِ
وَالْفُسُوقِ، وَالْمُنَافِيَةِ لِلْمُرُوءَةِ كَالطَّوَافِ عُرْيًا دُونَ ثِيَابِ
الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.
وَفِي هَذَا
تَعْرِيضٌ بِأَنَّ الْمُشْرِكِينَ لَيْسُوا أَهْلًا لِعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ لِأَنَّهُمْ لَمْ يُطَهِّرُوهُ مِمَّا يَجِبُ تَطْهِيرُهُ مِنْهُ
"Yang dimaksud dengan 'MEMBERSIHKAN
BAITULLAH' adalah perkara yang
ditunjukkan oleh lafazh "that-hir" (membersihkan), yakni
(membersihkannya) dari:
- sesuatu yang bersifat kongkrit,
misalnya : menjaganya dari tahi dan kotoran, agar orang beribadah di dalamnya
dapat fokus di atas ibadahnya, tanpa ternodai.
- Juga berupa pembersihan yang
bersifat abstrak, yaitu dijauhkan dari Baitullah sesuatu yang tidak sejalan
dengan tujuan pembangunannya berupa berhala-berhala, dan perbuatan-perbuatan yang
yang menyalahi kebenaran (seperti : permusuhan, dan kefasikan),
perbuatan-perbuatan yang yang menyalahi harga diri (seperti : telanjang tanpa
pakaian pria dan wanita).
Di dalam hal ini, terdapat sindirian
bahwa kaum musyrikin bukanlah orang yang berhak memakmurkan Masjidil Haram,
karena mereka tidaklah membersihkan Baitullah dari perkara-perkara yang wajib
dibersihkan darinya." [Lihat At-Tahrir
wa At-Tanwir (1/712)]
Ayat ini menunjukkan bahwa kaum muslimin (sebagai
pelanjut ajaran Islam yang sejak dahulu telah diajarkan oleh para nabi dan
rasul) dianjurkan untuk senantiasa mengemban dan melanjutkan tugas mulia ini. Kaum muslimin harus lebih memperhatikan kebersihan
masjid-masjid dan pesantren-pesantren mereka, melebihi perhatian para petugas
kebersihan pada toilet-toilet di pusat perbelanjaan, dan pompa-pompa bensin.
Hendaknya kita malu kepada Allah -Azza wa Jalla- sebelum
kita malu kepada manusia saat kita membiarkan WC dan toilet masjid atau
pekarangan masjid diwarnai dengan kotoran dan sampah-sampah!!
Di dalam agama kita ada syariat KEBERSIHAN pada
tempat-tempat ibadah dan ilmu. Jangan sia-siakan syariat mulia itu. Jika kalian
menjaga kebersihan dimanapun dan kapan pun, baik di rumah, di jalan, apalagi di
masjid, maka yakin –insya Allah- Allah membalas niat baik dan perbuatan mulia
kalian itu.
Al-Imam Shiddiq
Hasan Khan Al-Qinnaujiy
-rahimahullah- berkata,
وفي الآية مشروعية
طهارة المكان للطواف والصلاة
"Di dalam ayat ini terdapat
pengsyariatan membersihkan tempat tawaf dan sholat." [Lihat Fathul Bayan fi Maqoshidil Qur'an
(1/278)]
Kebersihan adalah cerminan kepribadian seorang hamba.
Kapan lahiriahnya bersih, maka itu adalah tanda bahwa hatinya bersih. Sebab,
kebersihan batin adalah tugas utama sebelum kebersihan lahiriah. Disinilah
perlunya mempelajari ilmu wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah) agar kita berbuat di
atas ilmu dan niat yang lurus. Nah, orang yang menjaga kebersihannya karena
tahu ilmu dan keutamaannya, maka ia akan mendapat pahala dari kebersihannya.
Dengannya, ia terpuji di sisi manusia, bahkan di sisi Allah.[2]
Sebaliknya, Kapan saja lahiriah seseorang kotor dan
jorok, maka ini adalah isyarat bahwa batin orang itu adalah kotor. Sebab, tidak
mungkin batinnya yang bersih dan terbimbing dengan ilmu wahyu, akan membiarkan
jasad dan lahiriah serta lingkungan sekitarnya akan kotor dan jorok.
……………………………………………………………..
Selesai, Kamis 1 Dzul Qo'dah 1437 H
…………………………………………….
……………………………
[1] Perlu
diketahui bahwa orang kafir bagaimana pun bersihnya, maka mereka tetap kotor
(lahir dan batin). Secara batin, tentunya batin mereka terkotori dengan
kekafiran, kesyirikan, dosa-dosa. Lahiriah dan jasad mereka juga kotor dan
jorok. Bukankah kalian melihat mereka tidak menjaga diri dari najis berupa
tahi, kencing, liur anjing dan hewan lainnya?!
[2] Adapun
orang yang bersih karena kebiasaan dan tabiat pembawaannya yang suka bersih,
tanpa didasari dengan bimbingan ilmu wahyu, maka ia hanya terpuji di sisi
manusia, dan tidak mendapatkan pahala, wallahu a'lam.

Komentar
Posting Komentar