Sejarah Gelar "Ash-Shiddiq" bagi Abu Bakr dan Pembelaan bagi A'isyah dari Cercaan Kaum Syi'ah-Rofidhoh

Hasil gambar untuk ‫حديث الإفك‬‎

Sejarah Gelar "Ash-Shiddiq" bagi Abu Bakr 
dan Pembelaan bagi A'isyah 
dari Cercaan Kaum Syi'ah-Rofidhoh
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-


"Ash-Shiddiq", artinya adalah orang yang amat membenarkan atau orang yang amat jujur. Kalau wanita, biasanya disebut dengan "shiddiqoh". Ia merupakan sifat yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki derajat iman yang tinggi.

Orang yang pertama kali membenarkan kenabian dan kerasulan bagi Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah Abu Bakr. Setiap langkah dan ucapan beliau senantiasa diiringi oleh ash-shidqu (kejujuran), sehingga ia pun dikenal sebagai seorang yang amat menjaga kejujuran. Pembenarannya kepada wahyu juga dikenal di kalangan kaum muslimin, bahkan di tengah orang-orang kafir sekalipun!!

Dari A'isyah -radhiyallahu anha-,
لَمَّا أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى أَصْبَحَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ بِذَلِكَ ، فَارْتَدَّ نَاسٌ مَمَنْ كَانَ آمَنُوا بِهِ وَصَدَّقُوهُ ، وَسََعَوْا بِذَلِكَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَقَالُوا : هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ يَزْعُمُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ ، قَالَ : أَوَ قَالَ ذَلِكَ ؟ قَالُوا : نَعَمْ ، قَالَ : لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ ، قَالُوا : أَوَ تُصَدِّقُهُ أَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَجَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، إِنِّي لاَصُدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ ، فَلِذَلِكَ سُمَيَّ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقَ


"Tatkala Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di-isra'-kan ke Masjidil Aqsho, maka manusia pun memperbincangkan hal itu. Akibatnya, murtadlah beberapa orang dari kalangan orang-orang yang telah beriman kepada beliau dan membenarkannya.
Dengan sebab itu, mereka datang kepada Abu Bakr -radhiyallahu anhu- seraya mereka berkata, "Apakah kamu punya (pandangan) tentang temanmu (yakni, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-). Dia menyatakan bahwa ia telah di-isra'-kan (diperjalankan) semalam ke Baitul Maqdis".
Dia (Abu Bakr) berkata, "Apakah ia mengucapkan hal itu?" "Ya", jawab mereka.
Abu Bakr berkata, "Jika beliau mengatakan hal itu, maka sungguh ia telah jujur (benar)". Mereka berkata, "Apakah kamu akan membenarkannya bahwa ia pergi semalam ke Baitul Maqdis dan ia datang sebelum pagi?"
Kata Abu Bakr, "Ya, sungguh aku akan membenarkannya dalam perkara yang lebih dari itu. Aku membenarkannya berdasarkan berita langit (wahyu) di waktu pagi dan petang".
Oleh karena itu, Abu Bakr dinamai (digelari) dengan "Ash-Shiddiq" (orang yang amat membenarkan)". [HR. Abdur Razzaq Ash-Shon'aniy dalam Al-Mushonnaf (no. 9719), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 4407 & 4458), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (30/55), Adh-Dhiya' Al-Maqdisiy dalam Fadho'il Baitil Maqdis (no. 53), dan lainnya]

Hadits ini adalah hadits yang shohih sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (no. 306). Ini merupakan mutiara ilmu bagi para sejarawan yang menunjukkan bahwa gelar Ash-Shiddiq bagi sahabat termulia,  Abu Bakr adalah gelar kemuliaan yang disematkan dan dikenal oleh para sahabat sejak zaman kenabian.

Ia bukanlah tazkiyah yang terlarang, sebab gelar ini ditaqrir oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan semua sahabat -radhiyallahu anhum ajma'in-.

Demikian pula gelar "Ash-Shiddiqoh" (wanita yang amat jujur) bagi A'isyah telah disematkan bagi A'isyah, karena kejujurannya dalam berucap dan bersikap dalam peristiwa yang dikenal dengan "Haditsul Ifki" 'berita kebohongan' yang menimpa diri beliau akibat propokasi dan gosip yang disebarkan kaum munafiq bahwa A'isyah telah berselingkuh dengan Shofwan bin Mu'aththol -radhiyallahu anhum-.

Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-  'Aisyah -radhiyallahu anhu-, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq pada bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,  berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, Kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah 'Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya.

Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat nabi, Shafwan ibnu Mu'aththal. Diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, isteri Rasul!!"

'Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilakan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan dan diam sambil menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah.

Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Sejak itu, mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, sehingga fitnahan atas 'Aisyah -radhiyallahu anha- itupun bertambah luas dan  menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Kemudian turunlah ayat yang membersihkan A'isyah dari tuduhan dan gosip kotor lagi bohong itu!!

Turunlah ayat berikut:
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ [النور/11]
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab (siksa) yang besar". (QS. An-Nuur : 11)

Al-Imam Al-Mufassir abul Fidaa' Isma'il bin Umar Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata usai membawakan ayat 11-22 dari Surah An-Nuur, beliau berkata,
هذه العشر الآيات كلها نزلت في شأن عائشة أم المؤمنين، رضي الله عنها، حين رماها أهل الإفك والبهتان من المنافقين بما قالوه من الكذب البحت والفرية التي غار الله تعالى لها ولنبيه، صلوات الله وسلامه عليه، فأنزل الله عز وجل براءتها صيانة لعرض الرسول، عليه أفضل الصلاة والسلام
"Inilah sepuluh ayat semuanya turun tentang urusan A'isyah, Ummul Mukminin -radhiyallahu anha-, ketika ia dituduh berzina oleh orang-orang pembohong lagi pendusta dari kalangan munafiqin dengan sesuatu yang mereka nyatakan berupa kedustaan murni yang Allah cemburu demi A'isyah dan Nabi-Nya –sholawatullahi wa salamuhu alaihi-. Lalu Allah -Azza wa Jalla- pun menurunkan (ayat) penyucian bagi A'isyah sebagai penjagaan bagi kehormatan Rasul –alaihi afdholush sholatu was salam-". [Lihat Tafsir Ibni Katsir (6/19), cet. Dar Thoybah.]

Ini merupakan keutamaan terbesar bagi A'isyah. Ia telah disucikan dan dimuliakan oleh Allah -Azza wa Jalla-. Lain halnya dengan kaum munafik dan kaum Syi'ah yang menentang Allah -Azza wa Jalla- dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan tuduhan buruk bagi istri dan kekasih Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, yakni A'isyah -radhiyallahu anhu-.

Mereka menuduh A'isyah telah berzina. Padahal Allah telah menyatakan bersihnya A'isyah dari tuduhan keji itu.

Demikianlah kaum munafiq dan kaum Syi'ah sampai hari ini terus-menerus menyebarkan tuduhan kotor ini atas A'isyah -radhiyallahu anha-, sebagaimana yang anda dapat lihat pada komunitas Syi'ah di Iran, maupun Indonesia atau tempat lainnya. Semoga Allah melaknat mereka yang telah menyebarkan tuduhan dusta ini!!

Para pembaca yang budiman, dengan bukti kejujuran dan kebenaran sikap dan pengakuan A'isyah -radhiyallahu anha-, maka sejumlah ulama dari zaman ke zaman terus menggelari A'isyah dengan "Ash-Shiddiqoh bintu Ash-Shiddiq" (Si Wanita Jujur Putri si Lelaki Jujur), sebab beliau dan bapaknya telah terbukti kejujuran dan pembenarannya kepada Islam di saat manusia banyak diantara mereka yang mendustakannya.

Kita simak ucapan Masruq bin Al-Ajda' -rahimahullah-, seorang ulama tabi'in di zamannya. Ia pernah berkata,
حَدَّثَتْنِي الصِّدِّيقَةُ بِنْتُ الصِّدِّيقِ، حَبِيبَةُ حَبِيبِ اللهِ الْمُبَرَّأَةُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ " يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ " فَلَمْ أُكَذِّبْهَا
"Telah menceritakan kepadaku Ash-Shiddiqoh bintu Ash-Shiddiq, kekasihnya kekasih Allah yang telah tersucikan, bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu sholat dua raka'at usai sholat Ashar. Aku tidaklah mendustakannya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/241), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no. 7354), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/458). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syu'aib Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 26044)]

Maksud dari ucapan Masruq, "…kekasihnya kekasih Allah…" bahwa A'isyah adalah istri Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Di dalam hadits itu juga dinyatakan oleh Masruq bahwa A'isyah adalah wanita tersucikan (الْمُبَرَّأَةُ) dari segala macam tuduhan dusta.

Para ulama telah menggelari A'isyah dengan "Ash-Shiddiqoh bintu Ash-Shiddiq", diantaranya:
1.    Ibnu Khuzaimah (wft 311 H) dalam At-Tauhid (1/69)
2.    Ibnu Hibban (wft 354 H) dalam Ats-Tsiqot (3/323/no. 1056).
3.    Abu Abdillah Al-Hakim (wft 405 H) dalam Al-Mustadrok (4/3)
4.    Abu Nu'aim Al-Ashbahaniy (wft 430 H) dalam Hilyah Al-Awliyah' (2/43).
5.    Al-Baihaqiy (wft 458 H) dalam As-Sunan Al-Kubro (2/171).
6.    Ibnu Katsir (wft 774 H) dalam Tafsir-nya (6/404) dan (6/415).
7.    Al-Hafizh Ibnu Hajar (wft  H) dalam Fathul Bari (7/107).
8.    Burhanuddin Ibrahim bin Umar Al-Biqo'iy dalam Nazhm Ad-Duror fi Tanasubil Ayat was Suwar (5/428)
9.    Ibnul Imad (wft 1089 H) dalam Syadzrot Adz-Dzahab (1/55)
10.                      Asy-Syarbiniy dalam Tafsir As-Siroj Al-Munir (2/479)
11.                      As-Safariniy dalam Ghidza' Al-Albab (1/248) & (2/205).
12.                      Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 563)
13.                      Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah di bawah nomor hadits (2494).
14.                      Guru kami, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad. Kami telah mendengar beliau berulang kali menyebutkan gelar A'isyah tersebut, setiap kali beliau menyebutkan biografi A'isyah dalam Syarh Sunan Abi Dawud.


Inilah sejumlah nama ulama yang menggelari A'isyah -radhiyallahu anha- dari masa ke masa sampai ini, berkat turunnya ayat dalam menyucikan A'isyah dari tuduhan dusta kaum munafiq serta pengekornya, seperti Syi'ah!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama