Dentingan Cinta dan Kerinduan kepada Negeri Mekkah & Baitullah

Dentingan Cinta dan
Kerinduan
kepada Negeri Mekkah & Baitullah
kepada Negeri Mekkah & Baitullah
oleh :
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah
-hafizhahullah-
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah
-hafizhahullah-
Sepuluh
tahun telah berlalu bagiku dari kenangan masa lalu di Baitullah.
Kini kerinduan itu semakin menguat dalam kalbu di hari-hari menjelang hari pertama dari Bulan Dzulhijjah.
Kerinduan untuk menjadi tamu-tamu kemuliaan di sisi Allah -Tabaroka wa Ta'ala- semakin kuat.
Kini kerinduan itu semakin menguat dalam kalbu di hari-hari menjelang hari pertama dari Bulan Dzulhijjah.
Kerinduan untuk menjadi tamu-tamu kemuliaan di sisi Allah -Tabaroka wa Ta'ala- semakin kuat.
Hati
ini merasakan ghibthoh (kecemburuan) saat melihat saudara-saudaraku
berangkat dari berbagai pelosok dunia menuju Baitullah untuk berhaji di tahun 1438 H.
Semoga Allah menganugerahkan kami kesempatan berkunjung ke rumah Allah yang mulia, Ka'bah 'Baitullah' Al-Musyarrofah.
Tidak terasa air mata menetes saat menyaksikan kafilah para perindu Baitullah telah berangkat menuju Baitullah yang berhias selangit pahala, dan kenikmatan surga yang menanti mereka. Itulah karunia Allah kepada mereka yang dikehendaki-Nya.
Semoga Allah menganugerahkan kami kesempatan berkunjung ke rumah Allah yang mulia, Ka'bah 'Baitullah' Al-Musyarrofah.
Tidak terasa air mata menetes saat menyaksikan kafilah para perindu Baitullah telah berangkat menuju Baitullah yang berhias selangit pahala, dan kenikmatan surga yang menanti mereka. Itulah karunia Allah kepada mereka yang dikehendaki-Nya.
Dentingan cinta dan dorongan kerinduan untuk bertamu ke Baitullah, pasti dirasakan oleh
setiap jiwa yang mengharapkan curahan kebaikan dan berkah dari Allah -Azza wa
Jalla-.
Di
zaman dahulu, apapun rintangannya, orang-orang beriman meninggalkan kampung
halaman menuju Baitullah. Ada
yang berkendaraan, dan banyak juga yang berjalan kaki.
Saat itu, manusia amat mudah menembus negeri-negeri melalui daratan dan lautan luas menuju Mekkah, tanpa melalui proses dan administrasi rumit di tapal batas.[1]
Saat itu, manusia amat mudah menembus negeri-negeri melalui daratan dan lautan luas menuju Mekkah, tanpa melalui proses dan administrasi rumit di tapal batas.[1]
Mereka
terkadang menempuh puluhan ribu kilometer demi meluapkan kerinduannya kepada
Baitullah.
Tentunya di depan mereka berbagai rintangan berupa cuaca ekstrim, habisnya perbekalan, perompak dan begal, hewan buas, dan lainnya.
Tapi semua itu tidaklah membuat kerinduan mereka surut.
Tentunya di depan mereka berbagai rintangan berupa cuaca ekstrim, habisnya perbekalan, perompak dan begal, hewan buas, dan lainnya.
Tapi semua itu tidaklah membuat kerinduan mereka surut.
Inilah
yang pernah dilakukan oleh seorang yang bernama Syaikh
Utsman Dabu -rahimahullah- sebagaimana yang disebutkan dalam
kisah mengharukan di bawah ini, kisah yang kami nukilkan situs resmi Saudara
kami, Ustadz Dzulqarnain -hafizhahullah- :
Mana Pengorbananmu!?
[Kisah Motivatif, Ditulis dengan Tinta Air Mata]
Adalah
Syaikh Utsman Dabu –semoga Allah merahmati beliau- berasal dari Republik Gambia , ujung
Barat Afrika. Beliau tinggal di rumah sederhana pada suatu desa kecil dekat
ibukota Banjul .
Syaikh
Utsman menceritakan perjalanannya bersama empat kawannya lima
puluh tahun yang lalu ketika menuju Baitullah dengan berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah.
Mereka
berlima meretas benua Afrika dari Barat hingga Timur tanpa berkendaraan,
kecuali pada waktu-waktu singkat yang mereka mengendarai hewan hingga mereka
tiba di Laut Merah guna menyeberang menuju Jeddah.
Suatu
perjalanan penuh keajaiban yang berlangsung selama dua tahun. Kadang mereka
singgah di sebagian kota
untuk istirahat, bekerja, dan berbekal, kemudian melanjutkan perjalanan.
Beliau
ditanya, “Bukankah haji ke Baitullah diwajibkan atas orang yang mampu,
sedangkan Kalian dalam keadaan tidak memiliki kemampuan?”
Beliau menjawab, “Benar. Namun, pada suatu hari, Kami saling berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm ketika beliau berangkat membawa keluarganya ke lembah yang tidak bertanaman di sisi Baitullah yang terhormat. Salah seorang di antara Kami berkata, ‘Kita sekarang adalah para pemuda yang kuat lagi sehat. Oleh karena itu, apakah udzur Kami di sisi Allah jika Kami kurang dalam menempuh perjalanan ke Baitullah. Apalagi Kami merasa bahwa hari-hari yang bergulir hanya menambah kelemahan. Maka, untuk apa diakhirkan?’ Kawan itu pun memicu dan memotivasi Kami untuk menempuh perjalanan dengan mengharapkan pertolongan dari Allah.”
Keluarlah
mereka berlima meninggalkan rumah-rumah mereka dengan perbekalan yang tidak
mencukupi lebih dari satu pekan. Di perjalanan mereka, ada berbagai kesulitan,
kesempitan, dan kesesakan yang hanya diketahui oleh Allah.
Betapa
banyak malam yang mereka lalui dengan lapar yang hampir membinasakan mereka.
Tak terbilang malam yang mereka harus meninggalkan kenikmatan tidur lantaran
kejaran binatang buas. Sering berulang malam yang berliput ketakutan akan para
penyamun yang menghadang di berbagai lembah.
رُبَّ
لَيْلٍ بَكَيْتُ مِنْهُ فَمَا
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ
"Betapa
banyak malam yang telah kutangisi.
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya."
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya."
Syaikh
Utsman berkata,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,
وَإِنِّي
لَأَرْعَى النَّجْمَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ
Sungguh
Saya terus mencermati bintang-bintang itu, hingga seakan …
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit
Kawan-kawanku
pergi bekerja, sementara saya hanya berteduh di bawah pohon hingga mereka
kembali di penghujung siang. Syaithan terus memberi was-was ke dalam hatiku, “Bukankah
seharusnya Engkau tetap tinggal di negerimu? Mengapa Engkau membebani dirimu
dengan hal yang Engkau tak mampu saja?”
Jiwaku
menjadi berat dan hampir Saya melemah hingga kawan-kawanku datang. Salah
seorang di antara mereka melihat ke wajahku dan bertanya akan keadaanku.
Saya
pun menoleh kepadanya dan mengusap setetes air mata yang telah mengalahkanku.
Seakan, dia merasakan penderitaanku. Dia berkata, “Bangunlah. Berwudhulah,
kemudian shalatlah. Engkau takkan mendapatkan, kecuali kebaikan –dengan izin
Allah-.
وَاسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]
Dadaku
pun menjadi lapang, dan Allah menghilangkan kesedihan dariku, alhamdulillah.
Kerinduan
mereka pada dua tanah Haram terus berdendang mengiringi mereka pada segala
keadaan. Pedih perjalanan serta bahaya dan prahara laluan telah menjadi ringan.
Tiga
orang di antara mereka telah meninggal. Yang terakhir wafat berada di hamparan
lautan. Hal menakjubkan dari orang ketiga yang wafat adalah, dia berpesan
kepada kedua kawannya,
“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, beritahukanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”
“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, beritahukanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”
Syaikh
Utsman bertutur,
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) itu adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) itu adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.
إِذَا
بَرَقْتَ نَحْوَ الْحِجَازِ سِحَابَةٌ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ
"Jika
awan bergelegar di arah Hijaz
Kerinduan yang damai memanggil petirnya."
Kerinduan yang damai memanggil petirnya."
Begitu
Kami tiba di Jeddah, Saya sakit luar biasa. Saya pun khawatir meninggal sebelum
sempat mencapai Makkah. Saya berwasiat kepada kawanku, ‘Jika Saya meninggal,
kafanilah Saya dalam ihramku dan dekatkanlah Saya sesuai kemampuan ke kota Makkah. Barangkali
Allah melipatgandakan pahala untukku dan menerimaku sebagai orang-orang
shalih.’
Kami pun tinggal di Jeddah beberapa hari, kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Makkah. Nafasku berhembus cepat dan kegembiraan memenuhi wajah. Rasa rindu terus menggoyang dan mendorongku hingga kami tiba di Masjidil Haram.”
Syaikh
Utsman terdiam sesaat. Beliau menyeka linangan-linangan air matanya yang
berderai, kemudian bersumpah dengan nama Allah bahwa dia belum pernah melihat
kelezatan dalam hidupnya sebagaimana kelezatan yang memenuhi seluruh lapisan
hatinya tatkala beliau melihat Ka’bah yang mulia.
Beliau
berkisah,
“Tatkala
melihat Ka’bah, Saya bersujud syukur kepada Allah. Saya terus menangis, seperti
anak-anak kecil yang menangis, karena dahsyatnya keagungan dan kharisma
(Ka’bah). Betapa mulianya Baitullah itu dan sungguh penuh keagungan.
Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahuuntuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”
Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahuuntuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”
[Disadur
dengan sedikit meringkas dari Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal.
107-109]
Demikian
kisah pengorbanan dari seorang yang memiliki cinta yang suci dan kerinduan
kepada Baitullah. Adakah pengorbanan yang telah kita lakukan dalam membuktikan
cinta kita kepada Baitullah, ataukah kita bermalas-malasan dan tidak lagi butuh kepada
segala kebaikan dan curahan berkah dari Allah -Tabaroka wa Ta'ala- di hari-hari
haji yang indah?!
Sebagai
penutup dan renungan, kami nukilkan ketukan-ketukan jiwa dari seorang ulama
kepada mereka yang lamban dan malas berhaji.
Al-Imam Jamaluddin bin Muhibbiddin Ath-Thobariy (wafat 694 H) -rahimahullah- berkata,
" ولعل بعض
الكسلانين ممن قد حج يتوهم أن هذا الخطاب مقصور على من لم يأت بالفرض ( يعني قوله
تعالى : ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ) ، ولا أهمه الوصول له ،
ويقول : لم يكلفني الله تعالى بذلك غير مرة ، وقد أسقطت الفرض .
فنقول
له : هب أن الله تعالى لم يكلفك حج بيته غير مرة في العمر تخفيفا عليك ، وجعل ما
عداها مندوبا باختيارك وراجعا إليك .
أما
يشوقك ما فهمته من معنى كون البيت بيت الله ، وأنه وضع على مثال حضرة الملوك لأداء
خدمته ؟!
أما
تنبعث همتك للوفود على ساحة الله والورود على حياض نعمته ؟!
أما
لك ذنوب تحتاج إلى العفو عنها بقصد جنابه الكريم ؟!
أما
لك حاجة تهتم بسؤالها منه عند بابه العظيم ؟!
أما
لك غرض أن تخالط زمر المترددين إلى فنائه ؟!
أما
بك فاقة إلى نيل ما أعده من نعمائه ؟!
أما
علمت أن الزهد فيما عند الله تعالى وصف مذموم ؟!
أما
بلغك قول النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ يقول الله عز وجل : إن من أصححت بدنه ووسعت
في رزقه ثم لم يزرني في كل خمسة أعوام عاما لمحروم "
(التشويق
إلى بيت العتيق، ص 58_59)
"Barangkali sebagian orang
malas dari kalangan orang yang sudah berhaji, menyangka bahwa perintah ini
(yakni, perintah berhaji yang terdapat Al-Qur'an, pen.) hanya terbatas pada
orang yang belum menunaikan kewajiban haji, yakni firman firman-Nya -Ta'ala-,
((وَلِلَّهِ عَلَى
النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران : 97]))
"Mengerjakan
haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah."
Orang
malas ini tidak punya kepedulian untuk sampai ke Baitullah, seraya berdalih,
'Aku tidaklah dibebani oleh Allah -Ta'ala- untuk hal itu (yakni, berhaji)
melainkan sekali saja. Sementara aku sungguh telah menggugurkan kewajiban haji
itu!!"
Kita
katakan kepadanya, "Anggaplah Allah -Ta'ala- tidak membebani anda untuk
berhaji ke Baitullah melainkan sekali saja dalam seumur hidup sebagaimana
bentuk keringan bagi anda, dan Allah jadikan haji yang lainnya adalah mandub
(dianjurkan dan hukumnya sunnah) menurut pilihanmu dan kembali kepadamu.
Tidakkah
membuatmu rindu, apa yang kamu telah pahami bahwa Rumah itu (Ka'bah) adalah
Rumah Allah dan bahwa rumah itu dibuat sebagai perumpamaan di sisi raja untuk
menunaikan khidmat kepadanya?!
Tidakkah
semangatmu bangkit untuk bertamu ke negeri Allah dan berkunjung ke telaga
nikmat-Nya?!
Bukankah
kamu memiliki dosa-dosa yang kamu butuh ampunan darinya dengan menghadap kepada
Allah Yang Maha Pemurah?!
Bukankah
kamu memiliki hajat yang kamu amat serius untuk memintanya dari Allah pada
pintu-Nya yang agung?!
Tidakkah
kamu memiliki tujuan untuk bergabung bersama orang-orang yang berbolak-balik ke
halaman-Nya?!
Tidakkah
kamu memiliki kebutuhan yang besar untuk meraih apa yang dijanjikan oleh Allah
berupa nikmat-nikmat-Nya (di dalam surga)
Tidakkah
kamu tahu bahwa zuhud (cuek) terhadap sesuatu yang ada di sisi Allah adalah
sifat yang tercela?!
Belumkah
sampai kepadamu sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, "Allah -Azza wa
Jalla- berfirman,
إِنَّ
مَنْ أَصْحَحْتُ بَدَنَهُ وَوَسَّعْتُ فِيْ رِزْقِهِ، ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِيْ فِيْ
كُلِّ خَمْسَةِ أَعْوَامٍ عَامًا لَمَحْرُوْمٌ "
'Sesungguhnya barangsiapa yang aku
sehatkan badannya, dan aku luaskan rezkinya, lalu ia tidak mengunjungi-Ku pada
setiap lima
tahun satu tahun (yakni, satu kali, pen.), (maka orang itu) benar-benar
diharamkan (yakni, terhalang dari banyak kebaikan dan pahala, pen.)."[2]
[Lihat
kitab At-Tasywiq ila Baitil Atiq (hal. 58-59) karya Al-Imam
Jamaluddin bin Muhibbiddin Ath-Thobariy, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1419 H,
Beirut, Lebanon]
Al-Imam Ali bin Sulthon Al-Qori
-rahimahullah- berkata,
يُنْدَبُ
لِلْقَادِرِ أَنْ لَا يَتْرُكَ الْحَجَّ فِي كُلِّ خَمْسِ سِنِينَ
"Dianjurkan bagi orang yang
mampu agar tidak meninggalkan haji pada setiap lima tahun." [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (5/1748)]
Terakhir, aku memohon kepada Allah dengan segala kebesaran dan kemurahan-Nya, "Ya Allah, anugerahilah kami kemampuan untuk mengunjungi rumah-Mu, dan memasukinya agar dapat meraih pahala dan surga-Mu, aamiin..."
Terakhir, aku memohon kepada Allah dengan segala kebesaran dan kemurahan-Nya, "Ya Allah, anugerahilah kami kemampuan untuk mengunjungi rumah-Mu, dan memasukinya agar dapat meraih pahala dan surga-Mu, aamiin..."
[1]
Adapun
sekarang, harus melalui
[2]
Riwayat yang kami temukan, lafazhnya begini :
عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:
(قَالَ اللَّهُ:
إِنَّ عَبْدًا صحَّحتُ لَهُ جِسْمَهُ ووسَّعت عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ يَمْضِي
عَلَيْهِ خمسة أعوام لا يَفِدُ إليَّ لَمَحْرُومٌ)
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy bahwa Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
"Allah berfirman,
'Sesungguhnya seorang hamba yang Aku sehatkan badannya,
dan Aku lapangkan kehidupannya, sementara telah berlalu baginya lima tahun,
sedang ia tidak datang kepada-Ku, maka (hamba) itu benar-benar diharamkan
(yakni, terhalang dari banyak kebaikan dan pahala, pen.)." [HR. Abu
Ya'la dalam Al-Musnad (1031), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya
(3703), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (5/262), dan
Ad-Dailamiy dalam Al-Firdaus (8102), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu'afa'
(737). Hadits ini dinilai shohih li ghoirih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1662)]
Komentar
Posting Komentar