Mengisi 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah dengan Berbagai Amalan Sholih
Mengisi 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah
dengan Berbagai Amalan Sholih
oleh :
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Hari
merupakan salah satu nikmat besar yang Allah -Tabaroka wa Ta'ala-
siapkan bagi para hamba-Nya dalam mengejar fadhilah (keutamaan) besar di
sisi-Nya.
Hari-hari
dunia yang mencakup 360-an hari tidaklah memiliki martabat dan kedudukan yang
sama di depan Allah -Azza wa Jalla-.
Diantara hari-hari itu, ada hari-hari utama yang tidak tertandingi keutamaannya
dibandingkan hari-hari lain.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
إِنَّ
عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ
يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا
الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ
اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [التوبة/36]
"Sesungguhnya bilangan bulan
pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia
menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam
bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana
merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa". (QS.
At-Taubah : 36)
Itulah
syariat mulia yang telah diturunkan oleh Allah -Tabaroka wa Ta'ala- kepada
seluruh nabi bahwa empat bulan tersebut adalah bulan haram (mulia),
seseorang dilarang melanggar kemuliaan hari-hari dari bulan-bulan haram itu!! Kemuliaan
hari-hari ini telah masyhur dan terwarisi dari zaman ke zaman, sampai pun
kaum kafir Quraisy yang mengklaim dirinya sebagai pengikut Nabi Ibrahim –alaihissalam-
juga tetap menjaga kemuliaan empat tersebut. Mereka tak berani berperang di
dalamnya. Jika ada diantara kaum Arab jahiliah dahulu yang melanggar hari ini,
maka mereka adalah kaum yang paling buruk diantara mereka. Mereka amat takut
dengan siksa Allah jika melanggar kemuliaan dari bulan-bulan itu.
Seorang
ulama yang bernama Zainuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Abdil Qodir Ar-Roziy -rahimahullah-
berkata,
ومن
الشهور أربعة حرم أيضا، وهي : ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب، ثلاثة سرد
وواحد فرد وكانت العرب لا تستحل فيها القتال إلا حيان خثعم وطيئ
"Diantara bulan-bulan itu,
terdapat empat bulan haram (mulia), yaitu bulan
Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab; tiga berturut-turut dan
satunya terpisah (yakni, bulan Rajab). Dahulu orang-orang Arab tidak
membolehkan berperang di dalamnya, kecuali dua kampung (suku), yaitu Khosy'am
dan Thoyyi'". [Lihat Mukhtar Ash-Shihhah
(hal. 167), cet. Maktabah Lubnan, 1415 H]
Jadi,
hari-hari utama di sisi Allah adalah empat bulan haram itu. Diantara empat
bulan itu, ada yang paling mulia, yaitu Bulan Dzulhijjah. Di dalamnya
terdapat berbagai macam jenis ibadah dan ketaatan yang dilakukan oleh kaum
mukminin.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda saat Haji Wada',
أَلاَ
إِنَّ أَحْرَمَ الأَيَّامِ يَوْمُكُمْ هَذَا , ألا وَإِنَّ أَحْرَمَ الشُّهُورِ
شَهْرُكُمْ هَذَا , ألا وَإِنَّ أَحْرَمَ الْبِلاَدِ بَلَدُكُمْ هَذَا , أَلاَ
وَإِنّ َدِمَاءَكُمْ وأَمْوَالَكُمْ , عَلَيْكُمْ حَرَامٌ , كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ
هَذَا , فِى شَهْرِكُمْ هذا في بَلَدِكُمْ هَذَا , أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ؟ قَالُوا
نَعَمْ , قَالَ : اللَّهُمَّ اشْهَدْ
"Ingatlah, sesungguhnya hari
yang paling mulia adalah hari kalian ini. Ingatlah, sesungguhnya bulan yang
paling mulia adalah bulan kalian ini (yakni, Dzulhijjah). Ingatlah,
sesungguhnya negeri yang paling mulia adalah negeri kalian ini (yakni, Makkah).
Ingatlah, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah haram (untuk
dilanggar) atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini,
di negeri kalian ini. Ingatlah, apakah aku telah menyampaikan?" Mereka
(para sahabat) menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Ya Allah,
persaksikanlah". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad
(3/80) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3931). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Ibnu Majah (3931) dan Syu'aib
Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 11762)]
Hadits
ini amat gamblang menyatakan bahwa bulan yang paling afdhol (utama) adalah
bulan Dzulhijjah. Seorang muslim amat dilarang keras melakukan perbuatan
maksiat di dalamnya, karena saking mulianya hari-hari di sisi Allah.
Al-Imam Al-Hafizh Abul Faroj Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,
وهذا
كله يدل على أن شهر ذي الحجة أفضل الأشهر الحرم ؛ حيث كانَ أعظمها حرمة .
"Semua ini menunjukkan bahwa
Bulan Dzulhijjah adalah seutama-utamanya bulan haram, sebab ia merupakan bulan
yang paling besar kehormatannya".
[Lihat Fathul Bari
(6/122) karya Ibnu Rajab]
Para
pembaca yang budiman, setelah kita mengetahui keutamaan Bulan Dzulhijjah bahwa
ia adalah Bulan yang paling mulia dan utama diantara bulan-bulan lainnya, maka
disini perlu jelaskan lagi bahwa diantara hari-hari dari Bulan Dzulhijjah,
ada hari-hari yang paling utama. Itulah 10 hari pertama
dari Bulan Dzulhijjah!!
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أَفْضَلُ
أَيَّامِ الدُّنْيَا أيَّامُ العَشْرِ
"Hari-hari dunia yang paling
utama adalah 10 hari pertama (dari Bulan Dzulhijjah)". [HR. Al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Astar
(no. 1128). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih
Al-Jami' Ash-Shogier (1133)]
Al-Hafizh Zainuddin Abdur Rahman bin Syihabiddin
Al-Baghdadiy -rahimahullah- berkata,
وَهَذَا
يَدُلُّ عَلَى أَنَّ عَشْرَ ذِيْ الْحِجَّةِ أَفْضَلُ مِنْ عَشْرِ رَمَضَانَ ، لَيَالِيْهِ
وَأَيَّامِهِ .
"Ini menunjukkan bahwa 10 hari
pertama dari Bulan Dzulhijjah lebih afdhol dibandingkan 10 hari terakhir dari
Bulan Ramadhan, baik malam maupun siangnya". [Lihat Fathul Bari
(6/121) karya Ibnu Rajab, dengan tahqiq Abu Mu'adz Thoriq
bin Awadhullah bin Muhammad, cet. Dar
Ibnil Jawziy, 1422 H]
Keutamaan
yang amat besar ini Allah berikan kepada 10 hari itu, karena di dalamnya
terjadi berbagai macam warna ibadah dan ketaatan yang amat dicintai oleh Allah
-Subhanahu wa Ta'ala-.
Al-Imam Abdur Rauf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan sisi
pengutamaan 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah,
لإجتماع
أمهات العبادة فيه وهي الأيام التي أقسم الله بها في التنزيل بقوله {وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ
عَشْرٍ}، ولهذا سُنَّ الإكثارُ من التهليل والتكبير والتجميد فيه ونسبتها إلى
الأيام كنسبة مواضع النسك إلى سائر البقاع، ولهذا ذهب جمع إلى أنه أفضل من العشر
الأخير من رمضان
"Karena berkumpulnya
pokok-pokok ibadah di dalamnya. Dia adalah hari-hari yang digunakan bersumpah
oleh Allah dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya (yang artinya: ) "Demi Fajar
dan 10 hari)."
Lantaran
ini, disunnahkan memperbanyak tahlil (ucapan laa ilaaha illallah), takbir, dan
tahmid di dalamnya. Penyandarannya kepada hari-hari seperti penyandaran
tempat-tempat ibadah hubungannya dengan seluruh tempat. Sebab inilah,
sekelompok ulama berpendapat bahwa 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah adalah
lebih afdhol (utama) dibandingkan 10 hari terakhir dari Bulan Ramadhan". [Lihat Faidhul Qodir (2/51), cet.
Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubro, 1356 H]
Terakhir,
kami juga perlu jelaskan bahwa diantara 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah, ada
satu hari yang paling utama dan mulia!! Hari apakah itu? Jawabnya, Hari Raya Idul Adh-ha yang kita kenal dengan "Hari
Raya Idul Qurban" atau "Yaumun Nahr" (Hari Penyembelihan)
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ
أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ
يَوْمُ الْقَرِّ . قَالَ عِيسَى قَالَ ثَوْرٌ وَهُوَ الْيَوْمُ الثَّانِى.
"Sesungguhnya hari yang paling
agung di sisi Allah -Tabaroka wa Ta'ala- adalah Yaumun Nahr (Hari Penyembelihan),
kemudian Hari Tinggal".
Isa
(rawi hadits) berkata, "Tsaur berkata, "Dia (Hari Tinggal) adalah
hari kedua". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1765) dan
Ahmad dalam Al-Musnad (4/350). Hadits ini dinilai shohih
oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Takhrij Al-Misykah (no.
2643)]
Bayangkan
saja keutamaan hari-hari tersebut ternyata amal-amal sholih di dalamnya amat
afdhol, bahkan lebih afdhol dibandingkan amalan-amalan yang dikerjakan pada
hari-hari lainnya.
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
مَا
مِنَ الأَيَّامِ أَيَّامٌ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ قِيلَ :
وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ مِنْهُ.
"Tidak ada hari-hari yang
beramal padanya lebih utama dibandingkan hari-hari ini (yakni, 10 hari pertama
Dzulhijjah). Ditanyakan, "Tidak pula jihad di jalan Allah (bisa
mengalahkannya)?
Beliau
(Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) menjawab,
"Tidak
pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar membawa jiwa dan
hartanya, lalu ia pun tidak lagi kembali dengan membawa sedikit pun dari hal
itu." [HR. Ahmad dalam Al-Musnad
(1/346) dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu-]
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata setelah membawakan
sejumlah hadits-hadits tentang keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka
beliau berkata,
وهذه
النصوص : تدل على أن كل عمل في العشر فإنه أفضل من العمل في غيره ،
"Nash-nash ini menunjukkan
bahwa setiap amalan pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah lebih utama
dibandingkan amalan pada selainnya." [Lihat
Fathul Bari
(6/120) oleh Ibnu Rajab]
Inilah
hari-hari utama yang ada di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Karenanya,
manfaatkanlah hari-hari itu dalam memperbanyak amal-amal sholih. Di hari-hari
itu Allah lipat gandakan pahala dan keutamaannya. Apalagi Hari Idul Qurban,
kita kejar keutamaannya dengan merayakannya dan menghiasinya dengan sholat ied,
menyembelih hewan qurban. Bagi yang berhaji, melakukan berbagai macam manasik
dan ibadah yang disyariatkan bagi mereka pada hari itu. Keutamaan ini harus
kita hadirkan dalam hati, agar kita menghargai keutamaan beramal di
dalamnya, sehingga kita bersemangat, tidak bermalas-malasan dalam meraih
keutamaannya!!
Hendaknya
kita perbanyak amal-amal sholih di 10 hari pertama dari Dzulhijjah, seperti
berpuasa sunnah dari awal bulan sampai tanggal 9 Dzulhijjah yang kita kenal
dengan "Puasa Arofah".
Demikian
pula kita perbanyak sedekah kepada fakir-miskin, anak-anak yatim, dan
janda-janda yang mengalami kesusahan hidup akibat ditinggal suami, demi
meringankan hidup mereka.
Di
hari-hari itu sebaiknya kita memperbanyak doa, dzikir, membaca atau menghafal
Al-Qur'an, bersholawat untuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, membantu
orang lain, menyebarkan ilmu dan kebaikan, serta menahan diri dari berbagai
maksiat.
Jangan lupa memperbanyak sholat-sholat sunnah dan qiyamullail di 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah
Jangan lupa memperbanyak sholat-sholat sunnah dan qiyamullail di 10 hari pertama dari Bulan Dzulhijjah
Para
pembaca yang budiman, sebuah pertanyaan muncul ke permukaan, "Setelah kita
tahu keutamaan 10 hari dari Bulan Dzulhijjah itu, nah manakah yang lebih utama
antara hari-hari itu dengan 10 hari terakhir dari Bulan Romadhon?"
Pertanyaan
ini dijawab tuntas oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah
-rahimahullah-,
فَالصّوَابُ
فِيهِ أَنْ يُقَالُ لَيَالِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ
لَيَالِي عَشْرِ ذِي الْحِجّةِ وَأَيّامُ عَشْرِ ذِي الْحِجّةِ أَفْضَلُ مِنْ
أَيّامِ عَشْرِ رَمَضَانَ وَبِهَذَا التّفْصِيلِ يَزُولُ الِاشْتِبَاهُ وَيَدُلّ
عَلَيْهِ أَنّ لَيَالِيَ الْعَشْرِ مِنْ رَمَضَانَ إنّمَا فُضّلَتْ بِاعْتِبَارِ
لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَهِيَ مِنْ اللّيَالِي وَعَشْرُ ذِي الْحِجّةِ إنّمَا فُضّلَ
بِاعْتِبَارِ أَيّامِهِ إذْ فِيهِ يَوْمُ النّحْرِ وَيَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ
التّرْوِيَةِ .
"Yang benar tentang hal ini,
dikatakan, "Sepuluh malam terakhir Romadhon lebih utama
dibandingkan 10 malam pertama dari Bulan Dzulhijjah. Sedangkan 10 hari pertama
(yakni, siang hari pertama) dari Bulan Dzulhijjah lebih utama dibandingkan 10
hari terakhir (yakni, siang hari) dari Bulan Romadhon. Dengan rincian
ini, hilanglah kerancuan. Hal ini ditunjukkan atasnya bahwa 10 malam terakhir
Romadhon hanyalah diutamakan dengan meninjau adanya Malam Lailatul Qodr, dan ia
termasuk waktu malam, sedangkan 10 hari pertama Dzulhijjah hanyalah
diutamakan karena meninjau siang harinya. Sebab di dalamnya terdapat
Hari Nahr (Hari Raya Qurban), Hari Arafah dan Hari Tarwiyah (yakni, tanggal 8
Dzulhijjah)". [Lihat Zaadul Ma'ad (1/57)
karya Ibnu Qoyyim, dengan tahqiq Abdul Qodir Al-Arna'uth dan Syu'aib
Al-Arna'uth, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, 1421 H]
Kesimpulan
dari Ibnul Qoyyim akan menempatkan semua dalil pada tempatnya, tanpa ada
penolakan terhadap sebagian dalil[1].
Ini adalah metode pengombinasian yang amat tepat sekali.
Di
dalam hadits lain dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- bahwa Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
خَيْرُ
يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ
"Sebaik-baik hari yang matahari
terbit atasnya adalah Hari Jumat". [HR.
Muslim dalam Shohih-nya (no. 854) dan Ahmad dalam Al-Musnad
(2/512)]
Adapun
hadits ini, maka yang dimaksud bahwa Hari Jumat adalah hari yang paling
afdhol dalam sepekan, sedang Hari Iedul Adh-ha
adalah hari yang paling afdhol dalam setahun. [Lihat Tahdzib
As-Sunan (5/143) oleh Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah]
[1] Kesimpulan
yang beliau sampaikan sebenarnya adalah pernyataan guru yang mulia, Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahumallah- sebagaimana anda bisa lihat dalam Tahdzib
As-Sunan (6/315).
Komentar
Posting Komentar