Tiga Sumber Kerusakan: Cinta Dunia, Syahwat, dan Khamar

 


Tiga Sumber Kerusakan: Cinta Dunia, Syahwat, dan Khamar

 

Penulis:

Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

 

Di antara penyakit hati yang paling halus namun paling berbahaya adalah ketika cinta dunia mulai menguasai jiwa. Ia tidak datang dengan suara yang keras, tetapi merayap perlahan hingga memenuhi hati, menggeser kecintaan kepada akhirat.

 

Mencari dunia tidaklah tercela, kecuali jika dunia itu menjauhkan hamba dari Allah dan ketaatan kepada-Nya. Carilah dunia untuk akhiratmu. Ambillah dari dunia untuk membantu dirimu di atas ketaatan dan amal sholih, dan tetap waspada jangan sampai dia menyeretmu untuk jauh dari Allah dan keutamaan negeri akhirat.

 

Banyak manusia tidak menyadari bahwa akar dari berbagai kesalahan dan penyimpangan sering kali bermula dari satu hal yang sama: kecenderungan hati yang berlebihan terhadap dunia dan kenikmatannya sampai membuatnya lalai dan lupa daratan. Lupa bahwa bahwa kesenangan dunia bukanlah sarana untuk lalai dan menjauh dari Allah, justru ia adalah sarana yang seyogianya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah -Azza wa jalla-.

 

Keadaan ini dapat diibaratkan seperti akar pohon yang tersembunyi di dalam tanah. Dari luar, yang terlihat hanyalah batang dan daun, namun hakikat kehidupan pohon itu bergantung pada akarnya. Jika akarnya rusak, maka seluruh pohon akan ikut rusak.

 

Demikian pula hati manusia; jika akarnya dipenuhi cinta dunia, maka cabang-cabang perbuatannya pun akan condong kepada kesalahan, sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjerumuskan dirinya dalam lumpur kebinasaan dan kehancuran tanpa ia sadari.

 

Dari Malik ibn Dinar رحمه الله; ia berkata,

"حب الدنيا رأس كل خطيئة، والنساء حبالة الشيطان، والخمر داعية كل شر."

أخرجه ابن ابي الدنيا في كتاب الزهد (رقم: ٤٩٧)

“Cinta dunia adalah pangkal dari setiap dosa. Wanita adalah perangkap setan, dan khamar (sesuatu yang memabukkan) adalah pintu yang mengajak kepada setiap keburukan.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Kitab Az-Zuhd, no. 497)]

 

Cinta dunia adalah penyakit yang halus namun mematikan. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk harta yang banyak, tetapi dalam hati yang bergantung dan condong kepadanya secara berlebihan.

 

Ketika dunia telah menguasai hati dan menjadi tujuan hidup, seseorang akan mudah tergelincir kepada maksiat demi mempertahankan kenikmatannya.

 

Allah Ta‘ala telah mengingatkan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ...

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling berbangga di antara kalian…” (Suroh Al-Hadid: 20).

 

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, dan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (Hadits Riwayat Muslim dalam Shohih-nya (no. 2822).

 

Ini menunjukkan bahwa mengikuti hawa nafsu -yang sering didorong oleh cinta dunia - akan menyeret seseorang menuju kebinasaan.

 

Adapun godaan wanita, maka ia merupakan ujian terbesar bagi kaum laki-laki jika tidak disikapi dengan iman dan penjagaan diri. Banyak manusia tergelincir bukan karena kebodohan, tetapi karena tidak mampu menahan syahwat dan godaan wanita.

 

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Lantaran itu, seorang muslim hendaknya menjaga pandangan, hati, dan pergaulannya, karena api besar sering kali bermula dari percikan kecil yang diremehkan.

 

Sedangkan khamar (sesuatu yang memabukkan, termasuk narkoba) adalah pintu yang mengantarkan kepada berbagai keburukan. Karena, ia merusak akal yang menjadi penjaga utama manusia. Ketika akal hilang, batas antara halal dan haram pun menjadi kabur sehingga sering kali ia menyeret manusia kepada dosa yang lain, seperti zina, pembunuhan, pencurian, dan lain sebagainya.

 

Allah -Ta‘ala- berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ} [المائدة: 90]

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar dan judi (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan itu).” (Suroh Al-Ma’idah: 90).

 

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda,

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap khamar itu haram.” (HR. Muslim).

 

Oleh karena itu, menjaga diri dari khamar bukan hanya menjaga satu dosa, tetapi menjaga diri dari pintu besar yang akan membuka banyak dosa lainnya.

 

Faedah dari Nasihat ini:

 

Berikut beberapa petikan faedah dari nasihat Malik ibn Dinar -rahimahullah-:

1/ Cinta dunia adalah akar keburukan. Banyak dosa bermula dari hati yang terlalu mencintai dunia dan menjadikannya sebagai tujuan sehingga apapun ia lakukan -walaupun melanggar- demi meraih dunia.

 

2/ Bahaya penyakit hati yang tersembunyi. Cinta dunia sering tidak disadari, tetapi dampaknya sangat besar dalam merusak amal dan perbuatan manusia, bahkan ada di antara manusia menghambakan diri kepada harta. Rela meninggalkan ibadah kepada Allah -Ta’ala- demi mengejar dunia!

 

3/ Wanita sebagai ujian bagi laki-laki. Maksudnya adalah fitnah (ujian) syahwat yang bisa menjerumuskan jika tidak dijaga dengan iman dan takwa. Terkadang juga dengan rayuan Wanita (termasuk istri) seorang laki-laki rela melakukan korupsi, sogok-menyogok, menipu dan lain sebagainya demi memuaskan keinginan Wanita yang ia cintai.

 

4/ Khamar adalah pintu segala kejahatan. Karena, ia merusak akal, sehingga seseorang mudah melakukan berbagai dosa tanpa kontrol. Khamar di sini bukan hanya berupa minuman; semua yang memabukkan dan membuat kita tidak sadarkan diri saat mengonsumsinya, seperti narkoba (narkotika dengan berbagai jenisnya, dan obat-obatan terlarang), bahkan naroba ini lebih haram daripada minuman keras yang hanya menghilangkan akal dan pikiran manusia dalam waktu sebentar dan sementara. Adapun narkoba, maka sering kali merusak akal manusia dan membuatnya gila, bahkan meninggal dunia!

 

5/ Pentingnya menjaga hati sebelum amal. Jika hati rusak, maka perbuatan juga akan ikut rusak.

 

6/ Menjaga diri dari sebab-sebab maksiat. Seorang muslim tidak hanya menjauhi dosa, tetapi juga dituntut untuk menjauhi pintu-pintu dan sarana yang mengantarkan kepada dosa.

 

7/ Zuhud sebagai solusi dari jerat-jerat cinta dunia. Zuhud adalah seorang hamba menjadikan dunianya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keutamaan dan pahala di negeri akhirat. Adapun jika dunia membuatnya jauh dari Allah -Azza wa jalla-, dan lalai dari mempersiapkan bekal berupa amal sholih dan menjauhi maksiat, maka dunia akan menjadi penyesalan dan kebinasaan atas dirinya!

 

8/ Iman yang kuat menjadi benteng dari fitnah (ujian), baik itu fitnah dunia, syahwat, maupun minuman yang memabukkan.

 

9/ Menyadari bahwa dunia hanyalah sementara. Dengan memahami hakikat dunia, seseorang tidak akan berlebihan mencintainya dan memperbudak diri kepadanya.

 

10/ Akal adalah penjaga utama manusia. Lantaran itu, segala sesuatu yang merusaknya -seperti khamar - harus dijauhi.

 

11/ Pentingnya mengendalikan syahwat. Karena, banyak dosa terjadi akibat tidak mampu menahan diri dari syahwat. Lantaran itu, syariat datang menutup semua pintu yang menyeret kepada, seperti berpacaran, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, bersentuhan, dan lain sebagainya.

 

12/ Keburukan memiliki sebab yang saling terkait. Cinta dunia, syahwat, dan khamar saling menguatkan dalam menjerumuskan manusia kubang kehancuran dan kebinasaan.

 

13/ Wajib menutup pintu-pintu yang mengantarkan kepada dos. Seorang muslim tidak hanya menjauhi dosa yang nyata, tetapi juga menjauhi segala sebab, sarana dan pintu yang dapat menjerumuskannya kepada dosa, seperti berlebihan mencintai dunia, membuka pintu fitnah (berupa syubhat dan hawa nafsu), atau mendekati hal-hal yang memabukkan. Karena, keburukan besar sering bermula dari hal-hal kecil yang diremehkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama