Kisah Inspiratif: Asis Daeng Lipung, Penjual Ikan Keliling Naik Haji
🔰 Kisah Inspiratif: Asis Daeng Lipung, Penjual Ikan
Keliling Naik Haji
✍ Penyadur: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy
-hafizhahullah-
Fajar baru saja
mengusap langit Gowa dengan warna keemasan yang lembut ketika Asis Daeng Lipung
mendorong sepeda tuanya keluar dari teras rumah menuju jantung kota Makassar
sejauh 30 km.
Udara pagi
masih dingin, embun menggantung di ujung daun, dan jalanan kampung belum
sepenuhnya terbangun.
Dari kejauhan
terdengar ayam berkokok bersahutan, seolah menjadi alarm alam bagi orang-orang
yang menggantungkan hidup pada kerja keras sejak subuh.
Di boncengan
belakang, keranjang berisi ikan segar telah tersusun rapi. Bau laut yang khas
menyelinap bersama angin pagi, membawa cerita tentang nelayan, ombak, dan
perjuangan. Ia menjajakan jualan ikannya, dari mengayuh sepeda sampai
menggunakan motor yang sudah setia menemaninya bertahun-tahun.
Kendaraan itu
mungkin sederhana, tetapi baginya, itulah perahu kecil yang mengantarnya
menyeberangi lautan rezeki setiap hari.
Dengan suara
lantang namun ramah, ia mulai menyapa lorong demi lorong, rumah demi rumah.
“Ikan… ikan…” suaranya melayang di antara pagar-pagar rumah, mengetuk telinga
para ibu yang sedang menyiapkan sarapan.
Suaranya bukan
sekadar panggilan dagang, melainkan seperti doa yang dilempar ke langit pagi,
berharap ada pintu rezeki yang terbuka hari itu.
Matahari
perlahan naik, dan peluh mulai membasahi pelipisnya. Jalanan yang tadi lengang
kini ramai, debu beterbangan, dan panas mulai menekan kulit. Namun, Asis tetap
melaju.
Ia paham betul,
rezeki bukan datang kepada orang yang menunggu, tetapi kepada mereka yang mau
menjemputnya dengan sabar, sebagaimana petani menunggu panen setelah
berbulan-bulan menanam.
Penghasilannya
tak besar, sekitar seratus ribu rupiah sehari. Jumlah yang bagi sebagian orang
mungkin hanya cukup untuk sekali makan di kota. Namun bagi Asis, uang itu
adalah tiang penyangga rumah tangga.
Dari sana ia
membeli beras, membayar listrik, memenuhi kebutuhan dapur, dan membiayai
sekolah dua anaknya yang sedang meniti masa depan.
Ia tidak pernah
malu dengan pekerjaannya tersebut yang telah ia jalani sejak tahun 1995.
Menjual ikan keliling bukanlah aib, melainkan kemuliaan selama dilakukan dengan
halal. Baginya, tangan yang bau ikan, jauh lebih harum daripada tangan yang
bersih tetapi mengambil hak orang lain. Ia percaya, Allah melihat perjuangan,
bukan penampilan.
Di sela-sela
kesibukan itu, ada satu impian besar yang diam-diam ia rawat dalam dada:
berhaji ke Tanah Suci.
Niat itu sudah
lama tumbuh, seperti benih kecil yang terus disiram dengan harapan dan
kesabaran. Setiap hari, dari hasil jualannya, ia menyisihkan tiga puluh hingga
lima puluh ribu rupiah untuk ditabung.
Tabungan itu
tidak besar, tetapi ia tekun menjaganya. Lima tahun lamanya ia menabung sedikit
demi sedikit. Seperti semut yang mengangkut gula, butir demi butir; tampak
kecil, tetapi jika dilakukan terus-menerus, akhirnya menjadi bukit. Begitulah
Asis membangun jalannya menuju Baitullah.
Tahun 2010
menjadi saksi penting dalam hidupnya. Dari uang yang terkumpul, ia berhasil
mendaftarkan dirinya, sang istri, dan juga mertuanya untuk berhaji.
Saat itu,
hatinya dipenuhi syukur yang sulit digambarkan. Ia tahu, ini bukan semata hasil
kerja keras, tetapi juga pertolongan Allah yang datang lewat jalan-jalan yang
tak selalu terlihat.
“Niat untuk
berhaji sudah lama saya tanamkan. Walaupun kondisi ekonomi sering jadi
tantangan, saya tetap berusaha,” begitu katanya suatu hari.
Kalimat itu
sederhana, tetapi mengandung kekuatan yang besar. Sebab, mimpi yang dijaga
dengan niat tulus sering kali lebih kuat daripada kenyataan yang penuh
keterbatasan.
Perjalanan
menuju Tanah Suci ternyata tidak sepenuhnya mulus. Ketika namanya dinyatakan
masuk dalam daftar calon jemaah haji tahun ini, ia justru sempat terkejut.
Biaya pelunasan belum sepenuhnya siap. Ia juga harus menghadapi tunggakan saat
proses pendaftaran. Jalan itu seperti tanjakan panjang yang membuat napas
sesak.
Namun, Asis
tidak menyerah. Ia terus berusaha, mencari jalan keluar satu demi satu.
Baginya, ujian hanyalah batu di jalan, bukan tembok penghalang.
Jika hati tetap
berjalan, maka kaki akan menemukan arah. Sedikit demi sedikit, rintangan itu
akhirnya berhasil ia lewati.
Hari yang
ditunggu itu pun datang. Sabtu pagi, 25 April 2026, pukul delapan tepat, Asis
tiba di Asrama Haji Embarkasi Makassar.
Wajahnya tampak
tenang, tetapi matanya menyimpan lautan haru. Lelaki yang biasa berkeliling
menjual ikan itu kini berdiri di gerbang perjalanan paling suci dalam hidupnya.
Mungkin tak
banyak yang tahu, betapa banyak peluh yang mengiringi langkahnya sampai ke
titik itu. Dari panas siang, hujan sore, ban bocor di tengah jalan, hingga
dagangan yang kadang tak habis terjual; semuanya menjadi saksi bisu. Setiap
tetes keringat seolah berubah menjadi undangan menuju rumah Allah.
Ia dijadwalkan
berangkat ke Arab Saudi pada pukul 20.20 Wita. Menunggu waktu keberangkatan, ia
duduk sambil memandangi sekitar, mungkin mengingat kembali jalan panjang yang
telah ia tempuh. Dari lorong-lorong kampung hingga panggilan menuju Ka’bah;
semuanya terasa seperti mimpi yang akhirnya disentuh kenyataan.
Kepala
Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gowa, Alim Bahri, menjelaskan bahwa
sebanyak 387 calon jemaah haji dari Gowa yang tergabung dalam kloter 7 telah
memasuki asrama haji. Rata-rata mereka menunggu sekitar 15 tahun sebelum
akhirnya diberangkatkan pada 2026.
Penantian itu
panjang, tetapi bukankah buah yang manis memang tumbuh dari pohon kesabaran?
Sementara itu,
Kepala Kanwil Kementerian Haji Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, menyebutkan
bahwa jamaah haji yang telah diberangkatkan dari Embarkasi Makassar mencapai
2.354 orang, berasal dari enam kelompok terbang dari total 43 kloter.
Di antara
ribuan orang itu, ada satu kisah sederhana yang begitu kuat: kisah seorang
penjual ikan keliling bernama Asis Daeng Lipung.
Sore hari,
ketika matahari mulai condong ke barat, biasanya Asis pulang dengan tubuh lelah
dan tangan yang masih berbau ikan.
Jalan pulang
sering terasa lebih panjang, tetapi ia selalu membawa satu keyakinan bahwa
lelah hari ini adalah bekal untuk kebahagiaan esok. Ibarat nelayan yang tetap
melaut meski ombak tinggi, sebab ia tahu di balik gelombang ada harapan.
Kini, kisahnya
menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk
menyerah.
Rezeki yang
sedikit bukan berarti mimpi harus dikubur. Selama ada niat yang kuat, kerja
keras yang jujur, dan keyakinan kepada Allah, jalan akan selalu terbuka, meski
kadang hanya selebar celah cahaya.
Asis Daeng
Lipung telah membuktikannya. Dari sepeda tua, keranjang ikan, dan tabungan
kecil harian, ia melangkah menuju Tanah Suci. Dari kisah itu, kita belajar
bahwa kadang Allah menulis takdir terindah justru dari kehidupan yang paling
sederhana.
Kisah ini kami
sadur dari berita dalam sebuah Koran Portal Tribun Timur.
https://makassar.tribunnews.com/haji/1835884/kisah-asis-deng-lipung-penjual-ikan-keliling-di-gowa-naik-haji-setiap-hari-sisihkan-uang-rp30-ribu

Komentar
Posting Komentar