Matikan Kebatilan dengan Meninggalkannya!
🔰
Matikan Kebatilan dengan Meninggalkannya!
✍️ Penulis: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy
-hafizhahullah-
Manusia dalam hidupnya
tidak pernah lepas dari dua hal yang saling bertentangan: kebenaran dan
kebatilan. Keduanya selalu hadir dan saling berebut tempat di dalam hati
manusia.
Seorang muslim
dituntut untuk mampu membedakan di antara keduanya, lalu berdiri teguh bersama
kebenaran, serta menjauhi kebatilan.
Karena itulah, para
sahabat memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang bagaimana sikap seorang
mukmin dalam menghadapi keduanya.
Keadaan ini dapat
diibaratkan seperti cahaya dan kegelapan dalam sebuah ruangan. Jika seseorang
ingin menghilangkan kegelapan, ia tidak perlu melawannya secara langsung, tetapi
cukup dengan menyalakan cahaya. Yakin kegelapan itu akan hilang dengan
sendirinya.
Demikian pula
kebatilan; ia akan melemah ketika ditinggalkan, dan kebenaran akan hidup ketika
terus disebutkan, diajarkan, diterangkan, dan disebarkan.
🟩
Umar
bin al-Khaththab -radhiyallahu 'anhu- berkata,
"أَمِيْتُوْا الْبَاطِلَ بِهَجْرِهِ، وَأَحْيُوا الْحَقَّ بِذِكْرِهِ." حلية الاولياء لابي نعيم (١/ ٥٥)
“Matikanlah kebatilan dengan
meninggalkannya, dan hidupkanlah kebenaran dengan menyebutkannya.”
~ Diriwayatkan dalam “Hilyatul
Auliya'” (1/ 55), karya Abu Nu‘aim.
Nasihat yang mulia ini
mengajarkan bahwa seorang muslim tidak cukup hanya membenci kebatilan di dalam
hati, tetapi harus benar-benar meninggalkannya dalam perbuatan.
Di saat yang sama, ia
juga dituntut untuk menghidupkan kebenaran dengan cara menyebutkannya,
menyebarkannya, mengajarkannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Allah -Ta‘ala-
berfirman,
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ
فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
“Bahkan Kami lemparkan yang haq (benar)
kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka seketika yang batil
itu lenyap.” (Suroh Al-Anbiya: 18)
Rasulullah -shallallahu
‘alaihi wa sallam- juga bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ
بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat
kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu,
maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah
selemah-lemahnya iman.” [Hadits Riwayat Imam Muslim di
dalam "Shohih"-nya (no. 49)]
Hendaknya setiap
muslim berusaha mematikan kebatilan dengan menjauhinya dan menghidupkan
kebenaran dengan menyebarkannya dan mengamalkannya.
Karena dengan itulah
agama ini akan tetap tegak, dan kebaikan akan terus hidup di tengah manusia.
📌
Faedah
dari Nasihat ini:
Berikut beberapa
petikan faedah dari nasihat Umar ibn al-Khaththab -radhiyallahu anhu-:
1/ Kebatilan akan melemah jika ditinggalkan. Tidak semua
kebatilan harus dilawan dengan perdebatan; terkadang dengan menjauhinya saja
sudah cukup untuk mematikannya.
2/ Kebenaran harus
dihidupkan dengan penyebaran. Kebenaran tidak akan dikenal jika tidak disebutkan,
diajarkan, dan disebarkan kepada manusia.
3/ Pentingnya sikap
selektif dalam kehidupan. Seorang muslim harus mampu memilih mana yang haq
(benar), dan mana yang batil, lalu mengambil yang benar dan meninggalkan yang
salah.
4/ Dakwah bukan hanya melawan kebatilan,
tetapi juga menegakkan kebenaran. Fokus utama seorang muslim bukan hanya membantah yang
salah, tetapi juga memperjelas yang benar.
5/ Diam dari kebatilan adalah bentuk
penolakan.
Menjauhi kebatilan
merupakan salah satu bentuk sikap tegas terhadapnya, meskipun tanpa banyak kata.
6/ Menyebut kebenaran adalah bagian dari
ibadah. Mengingatkan,
mengajarkan, dan menyebarkan kebenaran termasuk amal saleh yang mendatangkan
pahala.
7/ Keseimbangan antara meninggalkan dan
mengamalkan. Islam mengajarkan
untuk tidak hanya meninggalkan keburukan, tetapi juga menggantinya dengan
kebaikan.
Gowa, 16 Syawwal 1447
H

Komentar
Posting Komentar