Hari-harimu di Dunia adalah Gudang Amalmu

 


🔰 Hari-harimu di Dunia adalah Gudang Amalmu

 

Penulis: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

 

Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah -Azza wa jalla- berikan kepada manusia, tetapi sering kali tidak disadari nilainya. Setiap hari yang berlalu bukan sekadar pergantian siang dan malam, melainkan kesempatan untuk mengumpulkan kebaikan atau justru menumpuk keburukan.

 

Seorang muslim yang bijak akan memandang hari-harinya sebagai ladang amal yang harus diisi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.

 

Keadaan ini dapat diibaratkan seperti seorang pedagang yang memiliki banyak gudang. Setiap hari ia mengisi gudang-gudangnya dengan barang dagangan; ada yang bernilai tinggi, ada pula yang tidak berharga. Ketika tiba waktunya untuk membuka gudang tersebut, ia akan melihat hasil dari apa yang telah ia simpan.

 

Demikian pula hari-hari manusia; semuanya akan dibuka pada hari kiamat, menampakkan apa saja yang telah diisi di dalamnya, apakah kebaikan yang membahagiakan atau keburukan yang menyesakkan.

 

🟪 Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,

الأيام خزائن للناس ممتلئة بما خزنوه فيها من خير أو شر، وفي يوم القيامة تفتح هذه الخزائن لأهلها."

~ لطائف المعارف (ص: ١٥٧)

“Hari-hari itu adalah gudang-gudang bagi manusia, yang dipenuhi dengan apa yang mereka simpan di dalamnya, berupa kebaikan atau keburukan. Pada hari kiamat, gudang-gudang itu akan dibuka untuk pemiliknya.”

📙 ~ Latho'if al-Ma‘arif (hlm. 157)

 

Nasihat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun hari yang berlalu tanpa catatan. Setiap detik yang kita jalani akan menjadi bagian dari “simpanan” yang kelak akan ditampakkan di hadapan Allah -Tabaroka wa ta'ala-.

 

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha mengisi hari-harinya dengan amal kebaikan, sekecil apa pun itu, dan menjauhi perbuatan yang dapat merugikan dirinya di akhirat.

 

Karena, pada saat itu semua tersingkap; tidak ada yang bisa kita harapkan, selain apa yang telah kita lakukan sendiri saat hidup di dunia.

 

Allah -Ta‘ala- berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”

(Suroh Az-Zalzalah: 7–8)

 

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”  [Hadits Riwayat Imam Al-Bukhariy dalam “Shohih”-nya (no. 6412)]

 

Keadaan ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang menabung setiap hari. Meskipun sedikit demi sedikit, jika dilakukan terus-menerus, akan menjadi simpanan yang besar. Namun, jika yang disimpan adalah sesuatu yang buruk, maka ia sendiri yang akan menanggung akibatnya.

 

Demikian pula hari-hari kita; jika diisi dengan kebaikan, ia akan menjadi kebahagiaan yang abadi, tetapi jika diisi dengan keburukan, ia akan menjadi penyesalan yang tiada akhir.

 

📌 Faedah dari Nasihat ini:

 

Berikut beberapa petikan faedah dari nasihat Ibn Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah-:

1/ Hari-hari adalah tempat penyimpanan amal.

Setiap hari yang kita jalani akan menyimpan seluruh perbuatan kita, baik kebaikan maupun keburukan.

 

2/ Tidak ada amal yang sia-sia.

Semua yang dilakukan manusia akan tercatat dan tersimpan, sekecil apa pun itu.

 

3/ Pentingnya memanfaatkan waktu.

Waktu yang berlalu tidak akan kembali, sehingga harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat.

 

4/ Setiap manusia akan melihat hasil amal dan perbuatannya.

Pada hari kiamat, seluruh “simpanan” amal akan dibuka dan diperlihatkan kepada pemiliknya.

 

5/ Motivasi untuk memperbanyak kebaikan.

Kesadaran bahwa setiap hari adalah gudang amal mendorong seseorang untuk mengisinya dengan kebaikan.

 

6/ Peringatan dari keburukan.

Keburukan yang dilakukan hari ini akan tersimpan dan menjadi penyesalan di kemudian hari.

 

7. Tanggung jawab pribadi atas amal masing-masing.

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang ia simpan dalam hari-harinya, tanpa bisa menyalahkan orang lain.

 

🟢 19 Syawwal 1447 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama