Tetap Taat Walau Ramadhan Telah Pergi

 


🔰 Tetap Taat Walau Ramadhan Telah Pergi


Penulis: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bughisiy -hafizahullah-

 

Sebagian manusia tampak sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah ketika datangnya bulan Ramadhan; lisannya basah dengan dzikir, langkahnya ringan menuju masjid, dan waktunya dipenuhi dengan berbagai amal kebaikan.

 

Namun, ketika bulan itu berlalu, semangat tersebut perlahan memudar hingga banyak amalan yang ditinggalkan.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian orang belum menjadikan ibadah sebagai kebutuhan hati, melainkan masih bergantung pada suasana dan momentum.

 

Keadaan ini laksana seorang pedagang yang hanya membuka tokonya pada musim tertentu, lalu menutupnya di waktu lainnya, sehingga ia kehilangan banyak kesempatan dalam meraup keuntungan.

 

Demikian pula orang yang membatasi ketaatan dan ibadahnya hanya pada Ramadhan, ia telah menyia-nyiakan peluang besar untuk mendekat kepada Allah -Azza wa jalla- di sepanjang waktu.

 

Oleh karena itu, para ulama salaf memberikan peringatan keras agar seorang hamba tidak menjadi orang yang hanya mengenal Rabb-nya pada waktu-waktu tertentu saja.

 

🟪 Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,

 

قيل لبشر الحافي: أن قومًا يتعبدون في رمضان ويجتهدون في الأعمال، فإذا انسلخ تركوا! قال: بئس القوم قوم لا يعرفون الله إلا في رمضان .

~ "لطائف المعارف" لابن رجب (ص: ٢٢٢)

 

Dikatakan kepada Bishr al-Hafiy, “Sesungguhnya ada suatu kaum yang beribadah di bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh dalam beramal, namun ketika Ramadhan telah berlalu, mereka pun meninggalkannya.”

Beliau menjawab,

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah, kecuali hanya di bulan Ramadhan.”

📙 ~ Latho'if al-Ma'arif (hlm. 222).

 

Dengan demikian, seorang mukmin sejati adalah sosok yang menjadikan ketaatan sebagai sifat yang terus melekat pada dirinya, bukan sekadar semangat sesaat yang muncul karena datangnya musim tertentu.

 

Ia memahami bahwa Rabb yang disembah di bulan Ramadhan adalah Rabb yang sama di seluruh bulan, sehingga ibadah tidak terputus seiring berlalunya waktu, tetapi tetap terjaga sesuai dengan kemampuan dan keistiqomahan.

 

Hendaknya setiap hamba senantiasa menjaga kesinambungan amalnya, meskipun sedikit, karena itulah yang lebih dicintai oleh Allah. Jangan sampai seseorang termasuk golongan yang hanya bersemangat di awal, lalu lalai di akhir.

 

Sebaliknya, berusahalah untuk terus berada di atas jalan ketaatan hingga akhir hayat, agar termasuk orang-orang yang mendapatkan keridhaan Allah dan penutup kehidupan yang baik.

 

📌 Faedah dari Nasihat ini

 

Berikut beberapa petikan faedah dari nasihat Bishr al-Hafi رحمه الله:

1) Celaan terhadap bentuk ibadah yang bersifat musiman.

Nasihat ini menunjukkan bahwa membatasi ibadah hanya pada bulan Ramadhan adalah sifat yang tercela.

 

2) Wajibnya kontinuitas dalam ketaatan.

Seorang mukmin dituntut untuk terus beribadah kepada Allah di setiap waktu, bukan hanya pada momen tertentu.

 

3) Mengenal Allah -Ta'ala- bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sepanjang hidup dalam setiap keadaan.

 

4) Bahaya futur setelah semangat.

Berhenti beramal setelah Ramadhan menunjukkan adanya kelemahan dalam keimanan dan keteguhan hati.

 

5) Ramadhan sebagai madrasah, bukan tujuan akhir.

Ramadhan seharusnya menjadi latihan untuk membiasakan amal, bukan satu-satunya waktu untuk beramal.

 

6) Tanda keikhlasan dalam ibadah.

Orang yang ikhlas akan tetap beramal meskipun Ramadhan telah berlalu, karena tujuannya adalah Allah, bukan suasana.

 

7) Konsistensi lebih utama daripada banyak, tetapi terputus.

Amal yang sedikit namun terus-menerus lebih menunjukkan kejujuran iman daripada yang banyak, namun hanya sesaat.

 

8) Peringatan keras dari ulama salaf.

Ungkapan “seburuk-buruk kaum” menunjukkan kerasnya celaan terhadap sikap lalai setelah musim ketaatan.

 

9) Ibadah yang terikat waktu menunjukkan kelemahan niat.

Nasihat ini mengisyaratkan bahwa orang yang hanya beribadah pada waktu tertentu belum sempurna keikhlasannya, karena ibadahnya masih terpengaruh oleh musim dan suasana, bukan murni karena mengharap wajah Allah -Ta‘ala-.

 

Makassar, 2 Syawwal 1447 H

Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama