Adab-adab Indah di Hari Raya
Adab-adab Indah di Hari Raya
Penulis:
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-
Hari Ied ‘lebaran’ merupakan hari berbahagia dan
bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini
nampak di wajah, tindak-tanduk dan kesibukan mereka. Orang yang dulunya
berselisih dan saling benci, pada hari itu saling mema'afkan. Ibu-ibu rumah
tangga sibuk membuat berbagai macam kue, ketupat, makanan yang akan
dihidang-kan kepada para tamu yang akan berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak
sibuk belanja baju baru buat anak dan keluarganya.
Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan
nun jauh di negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat
atau telepon.
Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang
mengantarkan sebagian manusia lalai
untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied. Diantaranya,
seperti berikut ini :
1. Dianjurkan Mandi sebelum Berangkat ke Musholla
(Lapangan)
Seorang di hari ied disunnahkan untuk bersuci dan
membersihkan diri agar bau tak sedap tidak mengganggu saudara kita yang lain
ketika sholat dan bertemu. Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Tholib
-radhilallahu anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,
يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ
النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“(Mandi seyogianya dilakukan) di hari Jum'at, hari
Arafah (wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Iedul Fitri". [HR.Asy-Syafi'i
dalam Al-Musnad (114), dan Al-Baihaqy (5919)]
2. Memakai Pakaian yang Bagus dan Berhias dengannya
Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia
mempersiapkan dan mema-kai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul
Adhha. Ketahuilah, Sunnah ini diambil
dari hadits Ibnu Umar, ia berkata,
أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ
إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا
فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ
“ Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di
pasar. Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah -Shallallahu ’alaihi
wassalam- seraya berkata: [" Ya Rasulullah, Belilah ini agar engkau bisa
berhias dengannya untuk hari ied dan para utusan …"] "[HR.Al-Bukhory
dalam Shohih-nya (906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]
Al-Allamah Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata
dalam Nail Al-Author (3/349),
" Segi pengambilan dalil dari hadits ini
tentang disyari'atkannya berhias di hari ied adalah adanya taqrir Nabi
-Shallallahu ’alaihi wassalam- bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di hari
ied, dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang yang memakai sejenis
pakaian tersebut, karena ia dari sutera".
3. Di hari Iedul Fithri, Disunnah-kan Makan Sebelum
ke Musholla (Lapangan)
Sebelum berangkat ke musholla (lapa-ngan), maka
dianjurkan makan –utamanya kurma- sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi kita
Muhammad -Shallallahu ’alaihi wassalam- pada hari iedul fitri. Adapun iedul
Adhha, maka sebaliknya seseorang dianjurkan ma-kan setelah sholat ied agar
nantinya bisa mencicipi hewan kurbannya.
Buraidah -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ
حَتَّى يَرْجِعَ
"Nabi -Shallallahu ’alaihi
wassalam- tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada
hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali".
HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (1756). Di-hasan-kan oleh Syu'aib Al-Arna'uth
dalam Takhrij Al-Musnad (5/352/no.23033)
Al-Muhallab bin Abi Shofroh -rahimahullah-
berkata,
“Hikmahnya makan sebelum sholat ied adalah agar
orang tidak menyangka wajibnya puasa sampai usai sholat ied. Seakan Nabi
-Shallallahu ’alaihi wassalam- hendak menepis persangkaan itu”. [Lihat Fath
Al-Bari (2/447)]
Diantara hikmahnya agar masih ada waktu
mengeluarkan sedekah di waktu-waktu yang cocok dan sangat dibutuhkannya oleh
para faqir-miskin.
Ibnul Munayyir –rahimahullah- berkata,
"Nabi -Shallallahu ’alaihi wassalam- makan di
dua hari ied pada waktu yang masyru' (disyari'atkan) agar bisa mengeluarkan
shodaqoh khusus bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri
sebelum berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah
disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang
lain.". [Lihat Fath Al-Bari (2/448)]
4. Bertakbir Menuju Lapangan
Mengumandangkan takbiran saat menuju musholla
merupakan sunnah yang dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini
dilakukan bukan Cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan
suara keras sampai tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir
sampai imam datang memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya !
Ada suatu riwayat dari Nabi –Shal-lallahu ’alaihi
wassalam- "Beliau keluar di hari iedul Fithri seraya bertakbir sampai
tiba di musholla dan sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau hentikan
takbir". [HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165)
dan Al-Firyabi dalam Ahkam Al-Iedain (95). Lihat juga Silsilah
Ahadits Ash-Shohihah (171)]
Dalam riwayat lain, Ibnu Umar -radhiyallahu anhu-
berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ
وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ
وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ
بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ
"Nabi -Shallallahu ’alaihi
wassalam- keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah,
Al-Abbas, Ali, Ja'far, Al-Hasan, Al- Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin
Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan
bertakbir". [HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan
Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa'
(3/123)
Jadi, disyari'atkan di hari ied saat hendak keluar
ke lapangan untuk menguman-dangkan takbir dengan suara keras berdasarkan
kesepakatan empat Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara berjama’ah. [Lihat Majmu'
Al-Fatawa (24/220)]
Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin
Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah
(1/281) ketika mengomentari hadits pertama di atas,
“Di dalam hadits ini terdapat dalil
disyari'atkannya sesuatu yang telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya
takbir dengan suara keras di jalan-jalan menuju musholla. Sekalipun kebanyakan
di antara mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi
tinggal cerita belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta
canggungnya mereka menampakkan sunnah".
Faedah:
Tentang lafazh takbir, tak ada yang shohih
datangnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Akan tetapi disana ada
beberapa atsar yang shohih datangnya dari para sahabat Radhiyallahu anhum
ajma'in.
Dari sahabat Ibnu Mas'ud, beliau mengucapkan:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ
إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/168)
dengan sanad yang shohih
Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhu- berkata saat
bertakbir,
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ، اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا
هَدَانَا
[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro
(3/315) dengan sanad yang shohih]
Salman Al-Farisiy -radhiyallahu anhu- berkata,
"Bertakbirlah :
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
كَبِيْرًا
[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro
(3/316) dengan sanad yang shohih]
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah-
berkata dalam Al-Fath (2/536),
"Di zaman ini telah diciptakan semacam
tambahan pada masalah (lafazh takbir), itu yang tak ada dasarnya".
Faedah Lain:
Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu
fajar hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13
Dzulhijjah). Inilah madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat
dan lainnya. [Majmu' Al-Fatawa (24/220)]
Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis
sholat, tetapi ini tak ada dalilnya. Yang benar, seseorang disunnahkan
bertakbir dalam semua waktu dari hari-hari tersebut (mulai Hari Arofah sampai
berakhirnya hari-hari Tasyriq).
Ini dikuatkan dengan sebuah atsar,
"Ibnu Umar bertakbir di Mina pada
hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda,
majlis, dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut ".
[HR. Al-Bukhory dalam Shohih-nya (1/330)]
Adapun di hari raya Idul Fithri, maka disunnahkan
bertakbir pada hari raya sampai imam selesai sholat.
5. Disyariatkan bagi Para Wanita dan Anak-anak
Kecil untuk Ikut ke Lapangan
Di hari ied wanita -walaupun ia haid- dan anak-anak
kecil disyariatkan untuk keluar menyaksikan sholat dan doanya kaum muslimin.
Ummu Athiyyah -radhiyallahu anha- berkata,
"Rasulullah –Shal-lallahu ’alaihi
wassalam- memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan
pingitan. Ada-pun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan
kebaikan dan
dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata,
" Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab".
Beliau menjawab, "Hendaknya saudaranya
memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya".
[Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971) dan Muslim dalam Ash-Shohih
(890)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata dalam Fath Al-Bari
(2/470),
"Di dalamnya terdapat anjuran
keluarnya para wanita untuk menyaksikan dua hari raya, baik dia itu gadis,
ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan ataupun bukan".
Bahkan sebagian ulama mewajibkan membawa serta para
wanita dan anak-anak kecil ke lapangan ied.
6. Mencari Jalan lain Ketika Pulang ke Rumah
Disunnahkan mencari jalan lain ketika selesai
melaksanakan sholat ied. Artinya ketika ia pergi ke musholla mengambil suatu
jalan, dan ketika pulang ke rumah di mencari jalan lain dalam rangka mencontoh
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا خَرَجَ إِلىَ الْعِيْدِ رَجَعَ فِيْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ
فِيْهِ
"Nabi -Shollallahu 'alaihi
wasallam- jika keluar ied, beliau kembali pada selain jalan yang beliau tempati
keluar".[HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan
(1301). Lihat Shohih Ibni Majah (1076) karya Al-Albaniy]
7. Berjalan Kaki Menuju dan Kembali dari Musholla
Pada hari ied di sunnahkan berjalan kaki menuju
musholla untuk melaksanakan sholat ied. Demikian pula ketika kembali ke rumah.
Namun, ini jika mushollanya dekat sehingga orang
tak berat jalan menuju musholla. Adapun jika jauh atau perlu berkendara, maka
tak masalah.
Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu-
berkata,
مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ
مَاشِيًا
"Di antara sunnah, kamu keluar
menuju ied sambil jalan". [HR.At-Tirmidzy dalam
As-Sunan (2/410) ; di-hasan-kan Al-Albany dalam Shohih Sunan
At-Tirmidzy (530)]
8. Bersegera & Cepat Berangkat Melaksanakan
Sholat Ied
Demikian pula bersegera berangkat menuju musholla
untuk menunaikan sholat ied. Perkara ini dianjurkan agar setiap orang mengambil
tempat dan banyak mengumandangkan takbir sampai keluarnya memimpin sholat ied.
Peringatan:
Setelah tiba di musholla (lapangan), seseorang
tidak dianjurkan sholat sebelum dan setelah sholat ied; juga tidak disunnahkan melakukan adzan dan iqomat,
karena Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- tak pernah melakukan hal itu,
kecuali jika sholat iednya di masjid
(karena hujan atau udzur lain), maka ia harus sholat dua rakaat tahiyyatul
masjid.
Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا
"Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- melaksanakan sholat iedul fithri sebanyak dua raka'at, namun beliau
tidak sholat sebelum dan sesudahnya". [HR.Al-Bukhoriy
dalam Ash-Shohih (989)]
8/ Mengucapkan Tahni'ah (Ucapan Selamat) Berisi Doa
Disunnah oleh para salaf agar seorang muslim di hari raya untuk saling mendoakan kebaikan, seperti yang ternukil dari mereka:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah
menerima (semua amal sholih) dari kami dan kalian.”
Akhirnya, hari raya bukanlah sekadar perayaan yang
berlalu tanpa makna, tetapi ia adalah kesempatan berharga untuk menyempurnakan
ketaatan dan memperindah diri dengan sunnah-sunnah Nabi -Shollallahu 'alaihi
wasallam-.
Setiap adab yang kita amalkan pada hari itu adalah
bagian dari pengagungan terhadap syiar Allah -Tabaroka wa ta’ala-, yang
dengannya hati menjadi hidup dan amal menjadi lebih bernilai.
Ibarat seorang musafir yang telah menempuh
perjalanan panjang, maka hari raya adalah saat ia beristirahat sejenak, namun
tetap menjaga bekal dan arah perjalanannya agar tidak tersesat di tengah
kenikmatan yang ia rasakan.
Hendaklah setiap muslim berusaha menjadikan hari
rayanya sebagai ibadah, bukan sekadar adat kebiasaan. Jangan sampai kebahagiaan
yang dirasakan justru melalaikan dari tuntunan yang telah diajarkan.
Laksana pakaian indah mempercantik penampilan
lahir, maka adab-adab syar’i adalah perhiasan bagi batin yang jauh lebih mulia.
Dengan itulah, hari raya akan benar-benar menjadi hari kemenangan, bukan hanya
di mata manusia, tetapi juga di sisi Allah -Ta’ala-.

Komentar
Posting Komentar