Ketaatan kepada Allah bukan Musiman, tetapi Tugas Sepanjang Hidup

 


🔰 Ketaatan kepada Allah bukan Musiman, tetapi Tugas Sepanjang Hidup

 

Penulis: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah AL-Bughisiy -hafizhahullah-

 

Sebagian manusia menjadikan musim-musim ketaatan sebagai batas semangat mereka; ketika datang bulan yang mulia mereka bersungguh-sungguh, namun ketika ia berlalu semangat itu pun ikut pudar.

 

Padahal hakikat ibadah bukanlah terikat oleh waktu-waktu tertentu saja. Ibadah merupakan perjalanan panjang seorang hamba menuju Rabb-nya.

 

Oleh karena itu, para ulama senantiasa mengingatkan agar seorang muslim tidak membatasi amalnya pada momentum tertentu, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan yang terus hidup dalam kesehariannya.

 

Seorang hamba dalam perjalanannya kepada Allah -Azza wa jalla- laksana seorang pejalan yang menempuh jalan panjang menuju tujuan yang agung; ia tidak berhenti hanya karena melewati satu tempat peristirahatan, tetapi terus melangkah hingga sampai ke tujuan akhirnya.

 

Demikian pula amal saleh, ia bukan berhenti ketika berlalunya musim kebaikan, melainkan terus berjalan hingga akhir hayat.

 

Dalam makna inilah datang nasihat yang dalam dari seorang ulama besar tentang hakikat keberlangsungan amal seorang mukmin.

 

🟪 Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Liqo’ al-Bab al-Maftu (51),

الاعمال لا تنتهي بانتهاء مواسمها وانما تنتهي الاعمال بانتهاء الاجل

لقاء الباب المفتوح (٥١)

“Amalan-amalan itu tidak berakhir dengan berakhirnya musim-musimnya, tetapi amalan itu berakhir dengan berakhirnya ajal.”

 

Dengan demikian, seorang hamba yang memahami hakikat ini akan menjadikan ketaatan sebagai jalan hidupnya, bukan sekadar aktivitas musiman. Ia akan terus menjaga amal saleh dalam setiap keadaan, baik di waktu lapang maupun sempit, di saat semangat maupun lemah.

 

Karena ia menyadari bahwa yang menjadi batas amal bukanlah pergantian waktu, melainkan datangnya ajal yang tidak diketahui kapan tibanya.

 

Hendaknya seorang mukmin senantiasa memperbarui tekad, menjaga keistiqomahan, dan tidak merasa cukup dengan amal yang telah lalu.

 

Sebab, keberuntungan sejati adalah bagi mereka yang menutup hidupnya dengan kebaikan.

 

Barangsiapa yang terus melangkah di jalan ketaatan hingga akhir hayatnya, maka ia akan termasuk orang-orang yang mendapatkan husnul khatimah dan meraih keridhaan Allah -Ta‘ala-.

 

📌 Faedah dari Nasihat ini

 

Berikut beberapa petikan faedah dari nasihat Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullah-:

1/ Kewajiban Istiqomah dalam amal.

Nasihat ini menunjukkan bahwa amal saleh tidak terbatas pada waktu tertentu, tetapi dituntut untuk terus berlanjut sepanjang hayat.

 

2/ Ibadah bukan bersifat musiman.

Seorang mukmin tidak boleh hanya giat di waktu-waktu tertentu (seperti Ramadhan), lalu meninggalkannya setelah itu.

 

3/ Hakikat akhir amal adalah kematian.

Ukuran berakhirnya amal seseorang bukanlah selesainya suatu musim ibadah, tetapi datangnya ajal yang menutup seluruh kesempatan beramal.

 

4/ Pentingnya menjaga kontinuitas amal (المداومة على العمل).

Amal yang sedikit, namun terus-menerus lebih dicintai oleh Allah-Azza wa jalla- daripada yang banyak, tetapi terputus.

 

5/ Dorongan untuk husnul khatimah.

Karena amal berakhir saat ajal, maka seorang hamba harus berusaha agar akhir hidupnya diisi dengan ketaatan.

 

6/ Waspada dari futur setelah masa semangat.

Nasihat ini mengingatkan bahaya kemunduran (futur) setelah musim kebaikan berlalu.

 

7/ Menunjukkan keluasan rahmat Allah.

Pintu amal selalu terbuka selama nyawa masih ada, sehingga setiap saat adalah kesempatan untuk kembali dan memperbaiki diri.

 

8/ Tarbiyah jiwa agar tidak bergantung pada suasana.

Seorang mukmin dididik untuk beribadah karena Allah, bukan karena momentum atau lingkungan semata.

 

9/ Anjuran untuk tidak menunda amal (المبادرة إلى الطاعة).

Nasihat ini mengisyaratkan bahwa saat ajal tidak diketahui kapan datangnya, maka seorang hamba tidak boleh menunda-nunda ketaatan. Ia harus segera beramal saleh selagi masih ada kesempatan, sebelum datang waktu di mana amal tidak lagi bermanfaat.

 

Makassar, 2 Syawwal 1447 H

Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama