Tangisan Mukmin dengan Kepergian Ramadhan

 


🔰 Tangisan Mukmin dengan Kepergian Ramadhan

Penulis: Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-- 


Ramadhan adalah tamu agung yang datang membawa limpahan rahmat, ampunan, dan kesempatan besar untuk memperbaiki diri.

 

Hari-harinya dipenuhi dengan ketaatan, malam-malamnya dihiasi dengan doa dan munajat, hingga hati seorang mukmin merasakan kedekatan yang lebih kuat dengan Rabb-nya. Namun, ketika bulan itu berlalu, tersisa pertanyaan dalam hati: apakah kita akan dipertemukan kembali dengannya di masa yang akan datang, ataukah ini menjadi perjumpaan terakhir?

 

Keadaan ini laksana seorang tamu mulia yang singgah di rumah seseorang dengan membawa berbagai hadiah berharga, lalu ia pergi tanpa kepastian akan kembali.

 

Orang yang memahami nilainya tentu akan merasa sedih saat kepergiannya, bahkan bisa jadi meneteskan air mata karena khawatir tidak akan berjumpa lagi.

 

Demikianlah perasaan seorang mukmin terhadap Ramadhan; kesedihannya bukan sekadar karena berakhirnya waktu, tetapi karena takut kehilangan kesempatan emas yang belum tentu terulang kembali.

 

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbaliy -rahimahullah- berkata,


 "كيف لا تجري للمؤمن على فراق رمضان دموع وهو لا يدريها هل بقي له في عمره إليه رجوع."

لطائف المعارف (١/ ٢١٧)


“Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak meneteskan air mata karena berpisah dengan Ramadhan, sedang ia tidak mengetahui apakah umurnya masih akan kembali menjumpai Ramadhan lagi.”

~ Latho'iful al-Ma'arif (1/217).

 

Dengan demikian, kesedihan seorang mukmin saat berpisah dengan Ramadhan bukanlah kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati dan kuatnya keimanan.

 

Ia menyadari bahwa setiap kesempatan untuk beribadah adalah karunia yang besar, dan tidak ada jaminan bahwa ia akan diberi umur panjang untuk mengulanginya kembali.

 

Oleh karena itu, perpisahan dengan Ramadhan menjadi momen muhasabah (introspeksi diri) untuk menilai sejauh mana ia telah memanfaatkannya.

 

Hendaknya setiap hamba menjaga bekas-bekas kebaikan yang telah ia bangun selama Ramadhan, serta melanjutkannya dalam kehidupan setelahnya.

 

Siapapun yang jujur dalam ibadahnya, ia akan tetap istiqomah, meskipun Ramadhan telah berlalu.

 

Siapapun yang benar-benar merindukannya, ia akan mempersiapkan diri sejak sekarang agar jika Allah mempertemukannya kembali, ia datang dengan hati yang lebih siap dan amal yang lebih baik.

 

Faedah dari Nasihat ini

 

Berikut beberapa petikan faedah dari nasihat Ibnu Rajab al-Hanbaliy -rahimahullah-:

1/ Tanda hidupnya hati adalah bersedih atas berlalunya musim ketaatan.

Seorang mukmin yang hatinya hidup akan merasakan kehilangan ketika Ramadhan berlalu.

 

2/ Tidak ada jaminan umur untuk bertemu kembali dengan Ramadhan.

Hal ini mendorong seorang hamba untuk memanfaatkan setiap kesempatan ibadah dengan sebaik-baiknya.

 

3/ Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam amal.

Karena tidak diketahui apakah masih hidup atau tidak. Lantaran itu, setiap Ramadhan harus diisi dengan kesungguhan.

 

4/ Muhasabah setelah berlalunya musim kebaikan.

Perpisahan dengan Ramadhan menjadi waktu untuk mengevaluasi amal yang telah dilakukan.

 

5/ Rasa takut tidak diterimanya amal.

Kesedihan juga muncul karena khawatir ibadah yang dilakukan belum tentu diterima oleh Allah.

 

6/ Dorongan untuk menjaga bekas ketaatan setelah Ramadhan.

Orang yang benar dalam ibadahnya akan melanjutkan amal setelah Ramadhan, bukan meninggalkannya.

 

7/ Menunjukkan tingginya nilai Ramadhan di sisi orang beriman.

Ramadhan bukan sekadar waktu, tetapi kesempatan agung yang sangat dirindukan.

 

8/ Kelembutan hati para salaf.

Nasihat ini menggambarkan betapa halus dan dalamnya perasaan mereka terhadap ibadah dan waktu-waktu ketaatan.

 

Makassar, 2 Syawwal 1447 H

Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama