Saatnya Wanita Tinggal di Rumah
Saatnya Wanita Tinggal di Rumah
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Ketika
kami dalam sebuah perjalanan, mata kami tertuju pada sebuah baliho yang besar
dengan sebuah pesan yang aneh.
Di
baliho tersebut terpampang gambar seorang wanita yang tersenyum manis berslogan
“saatnya wanita memimpin!!”.
Hal
ini membuat hati kami merasa sedih dan
khawatir. Sebab slogan ini mendorong para wanita untuk keluar dari rumahnya dan
berikut bekerja, bahkan menjadi pemimpin!!!
Akibatnya,
mereka akan jatuh dalam ikhtilath (campur baur) dengan kaum lelaki.
Ini
akan mengantarkan kita kepada suatu kerugian dan menghilangkan keberuntungan dunia-akhirat!!!!
Nabi -Shallallahu
'alaihi Wa Sallam- bersabda saat mendengar berita bahwa bangsa Persia
mengangkat pemimpin dari kalangan wanita,
لَنْ
يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Tidak
beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan)nya
kepada seorang wanita” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya
(4425)]
Pembaca
yang budiman, jika membaca hadits di atas, maka seolah-olah Islam mengungkung hak wanita sebagaimana yang
sering diteriakkan oleh para pejuang emansipasi!!
Padahal
Islam pada hakikatnya tidak pernah membelenggu kebebasan kaum wanita. Bahkan Islam telah memberikan hak-hak yang tidak
diberikan oleh agama manapun.
Perlu
diketahui bahwa Islam sebenarnya telah memberikan kebebasan bagi wanita, bahkan
manusia seluruhnya. Namun kebebasan tersebut tentunya diatur oleh syariat.
Jadi, di dalam Islam tak ada kebebasan mutlak, tanpa aturan. Sebab, kebebasan mutlak tanpa aturan hanyalah
berlaku dalam dunia hewan.
Lantaran
itu, tak boleh bagi kita meneriakkan slogan kebebasan hak asasi manusia, lalu kita menginginkan dengannya kebebasan mutlak, tanpa
diikat oleh syariat. Kebebasan semacam ini hanya ada
dalam dunia hewan yang tak berakal!!!
Islam
memandang -baik laki-laki, maupun wanita- mempunyai kelebihan masing-masing,
yang keduanya saling melengkapi.
Lelaki
diberi kekuatan pikiran, dan wanita diberi kepekaan rasa. Lelaki cenderung
mempunyai kekuatan fisik yang lebih dibanding wanita, sedangkan wanita
cenderung mempunyai kekuatan magnetis tubuh (aurat) yang lebih daripada lelaki.
Kekuatan
inilah yang biasa menjatuhkan kaum pria. Tapi dengan adanya kelebihan masing-masing,
jangan dipahami bahwa keduanya sama derajat dan posisinya. Tentu jenis pria lebih utama atas jenis wanita secara
umum.
زُيِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ
مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ [آل عمران : 14]
"Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang". (Q.S. Ali Imraan : 14).
Rasulullah
-Shallallahu 'alaihi Wa Sallam- telah memperingatkan kita tentang fitnah
wanita ini dalam sabdanya,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ
خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا
الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ
فِي النِّسَاءِ
"Waspadalah
terhadap dunia, dan waspadalah terhadap wanita, sebab awal fitnah (masalah) di
kalangan Bani Isra'il adalah pada wanita". [HR. Muslim (no.6883)]
Oleh
karenanya, Allah memerintahkan para wanita untuk tinggal di rumah, demi menjaga
harkat dan kesucian diri mereka.
Allah
-Subhana wa Ta'ala- berfirman,
وَقَرْنَ
فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى [الأحزاب
: 33]
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu
dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah
yang dahulu". (QS. Al-Ahzab :
33)
Al-Imam
Abu Ja'far Ath-Thobariy -rahimahullah-
berkata,
"Dikatakan
(oleh sebagian ulama), "Sesungguhnya berhias (bersolek) disini adalah
wanita menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan keelokan tubuhnya kepada
kaum lelaki". [Lihat Jami'ul Bayan
(20/260) karya Al-Imam Ath-Thobariy]
Demikianlah
demi menjaga kesucian dan kehormatan seorang wanita, bukan sebagai kungkungan dan pemenjaraan sebagaimana
yang digambarkan dan disebarkan oleh propagandis emansipasi wanita di zaman
ini.
Wanita-wanita
mukminah harus bersabar dalam melazimi rumahnya demi memelihara kesucian, dan
sifat malunya.
Mereka
pun jika keluar karena ada hajat mendesak, maka mereka keluar dengan adab dan
akhlaq Islam, yakni tetap menggunakan hijab dan jilbab syar'iy yang menutupi
seluruh tubuhnya.
Jilbab
ini sifatnya longgar (tidak ketat), dan tebal (tidak transrapan atau tipis),
tidak mengundang perhatian kaum lelaki, dan tidak menyerupai pakaian wanita-wanita
kafir atau kaum laki-laki.
Inilah
tips yang harus dilakukan oleh para wanita muslimah untuk membentengi dirinya
dari serangan dan permainan orang-orang kafir atau orang jahat. Seorang wanita
harus memakai jilbab seperti ini. Jika tidak, maka ia akan tergolong wanita
yang ber-tabarruj (bersolek) ala jahiliah.
Perhatian:
Sebagian
wanita-wanita muslimah hari ini banyak memakai jilbab. Hanya disayangkan
bahwa mereka tidak memakai jilbab syar'iy. Kebanyakan mereka memakai jilbab
moderen yang pendek, lalu dipasangkan dengan pakaian ketat dan celana ketat.
Ini bukanlah jilbab syar'iy yang dianjurkan oleh agama, bahkan cara
berpakaian seperti itu tercela. Inilah yang diistilahkan oleh Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- dengan "berpakaian, tapi
telanjang". JILBAB SYAR'IY ialah sejenis jilbab besar lagi panjang
dan lapang, menutup kepala, muka dan dada hingga terseret ke tanah. Lalu di
bawahnya ada jilbab kecil, dan pakaian gamis panjang hingga menutupi kaki.
Inilah jilbab syar'iy yang ditinggalkan oleh para wanita muslimah, kecuali
yang dirahmati Allah. Memang asing, tapi itulah yang syar'iy!!
|
Pembaca
yang budiman, demikianlah agama Allah, datang untuk mengatur semua urusan
manusia, membimbing para pemeluknya untuk mendapatkan maslahat dan menjaga
mereka dari sesuatu yang akan menjerumuskannya kepada kerusakan.
Karenanya,
kita mendapati Allah memperingatkan kita dari ajakan-ajakan syaitan.
Allah
–Tabaroka wa Ta'ala- berfirman,
يَا
بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ
الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا [الأعراف :
27]
“Wahai
bani Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia
telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya
pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya”. (Q.S. Al
A’raaf: 27)
Rasulullah
-Shallallahu 'alaihi Wa Sallam- telah memperingatkan kita tentang
besarnya fitnah jika wanita keluar dari rumahnya, sebagaimana Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- mengisyaratkan dengan sabdanya,
إِنَّ
الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا
أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي
نَفْسِهِ
"Sesungguhnya
wanita menghadap dalam bentuk syaitan, dan membelakangi dalam bentuk syaitan”. [HR. Muslim dalam Kitab An-Nikah (no.
1403)]
Al-Imam
Yahya bin Syarof An-Nawawiy -rahimahullah-
berkata,
قَالَ الْعُلَمَاء : مَعْنَاهُ : الْإِشَارَة إِلَى الْهَوَى
وَالدُّعَاء إِلَى الْفِتْنَة بِهَا لِمَا جَعَلَهُ اللَّه تَعَالَى فِي نُفُوس
الرِّجَال مِنْ الْمَيْل إِلَى النِّسَاء ، وَالِالْتِذَاذ بِنَظَرِهِنَّ ، وَمَا
يَتَعَلَّق بِهِنَّ ، فَهِيَ شَبِيهَة بِالشَّيْطَانِ فِي دُعَائِهِ إِلَى الشَّرّ
بِوَسْوَسَتِهِ وَتَزْيِينه لَهُ . وَيُسْتَنْبَط مِنْ هَذَا أَنَّهُ يَنْبَغِي
لَهَا أَلَّا تَخْرُج بَيْن الرِّجَال إِلَّا لِضَرُورَةٍ ، وَأَنَّهُ يَنْبَغِي
لِلرَّجُلِ الْغَضّ عَنْ ثِيَابهَا ، وَالْإِعْرَاض عَنْهَا مُطْلَقً
"Para
ulama berkata, "Maknanya adalah adanya isyarat kepada hawa nafsu dan
ajakan kepada ketergodaan dengan wanita, karena sesuatu yang Allah jadikan
dalam jiwa kaum lelaki berupa adanya kecondongan kepada kaum wanita dan
perasaan senang untuk melihatnya dan sesuatu yang berkaitan dengan wanita.
Jadi, wanita serupa dengan setan dalam hal ajakan setan kepada keburukan dengan
bisikan dan penghias-hiasan terhadap keburukan. Disarikan dari hadits ini bahwa
sepantasnya wanita tak keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena darurat dan
bahwa selayaknya kaum lelaki menundukkan pandangan dari melihat pakaian wanita
serta berpaling dari memandangnya secara mutlak". [Lihat Al-Minhaj (9/178) karya An-Nawawiy]
Oleh
karena itu, hendaklah para wanita bertaqwa kepada Allah dengan menjaga dirinya
dan menjaga kaum lelaki dari fitnah yang ditimbulkan karenanya.
Fakta
di lapangan telah membuktikan bahwa keluarnya para wanita untuk menyaingi kaum
lelaki dalam pekerjaan, banyak menimbulkan problema dan kemelut dalam negara.
Sebab,
kebanyakan wanita tidak mengindahkan batasan syariat saat ia bekerja, seperti
mereka ikhtilath (campur baur) dengan kaum lelaki, menggunakan pakaian
seksi atau ketat atau tidak memenuhi aturan syariat, menggunakan parfum yang
menggoda lelaki, berduaan dengan lawan jenis, berboncengan dengan lawan jenis,
berpacaran, pandang-memandang dengan lawan jenis yang bukan mahram,
melembut-lembutkan suara di hadapan lelaki dan masih banyak lagi pelanggaran
yang wanita lakukan saat mereka keluar bekerja.
Semua
ini akan menimbulkan problema bagi kaum Adam (pria), sebab pria sudah menjadi kodratnya, bila melihat
perempuan yang menggoda seperti ini, pasti ia akan terpesona dan terpengaruh,
bahkan tergelincir.
Dari
sinilah, lahir berbagai macam peristiwa yang mengenaskan lagi menyedihkan,
akibat keluarnya wanita menyaingi pria dalam berbagai lini pekerjaan.
Tak
heran bila anda biasa mendengar berita ada wanita dimesumi teman kerjanya, lelaki berselingkuh dengan wanita, perempuan dibawa
lari oleh bosnya, wanita hamil di luar nikah, banyaknya terjadi prostitusi dan
aborsi, maraknya pacaran yang berakhir dengan musibah, anak lahir tanpa bapak,
kumpul kebo bertahun-tahun tanpa nikah, wanita dipermainkan kaum lelaki atau
diperjualbelikan, dan masih banyak lagi fakta hitam bagi wanita.
Semua
ini terjadi karena bebasnya para wanita keluar dari istananya untuk mencari
pekerjaan, tanpa memperhatikan pekerjaaannya dari sudut pandang syariat,
ditambah lagi penampilan yang tak senonoh yang melanggar syariat.
Duhai
kaum wanita, kalian telah menjadi korban propagandis emansipasi yang
menginginkan kehinaan dirimu!!
Selain
itu, dengan keluarnya para wanita yang menggeser posisi kaum pria, menyebabkan
terjadinya pengangguran, kriminal berupa perampokan, pencurian, pembunuhan, dan
lainnya.
Hal
itu juga menyebabkan banyaknya wanita hidup melajang, menjanda, terlantar, anak-anak hidup terabaikan oleh
ayahnya, kaum lelaki membujang sehingga terkadang jatuh dalam zina.
Semua
itu akibat para lelaki menganggur tanpa pekerjaan. Kenapa menganggur??! Salah
satu sebabnya adalah wanita banyak yang menangani pekerjaan yang sejatinya ditangani
oleh kaum pria.
Wanita
saat keluar karena ada hajat yang dibenarkan oleh agama, hendaknya tidak
bersolek. Inilah aturan syariat demi menjaga harkat
wanita dan menyucikan mereka dari kotoran-kotoran jahiliyah.
Sebab,
wanita jahiliah dahulu bila keluar dari rumah, mereka menampakkan sebagian dari
tubuhnya. Sementara tubuh wanita adalah aurat, mulai dari rambut sampai ujung
kaki. Sehingga di kala itu, banyak terjadi perbuatan mesum dan asusila, karena
tergoda oleh penampilan wanita-wanita yang senang keluar rumah tanpa aturan
agama.
Dengan
demikian, syariat memerintahkan para wanita untuk tinggal di rumahnya bukan untuk
mengekang hak-haknya, menzholiminya atau memenjaranya di dalam rumah.
Tidak
lain hal tersebut, kecuali demi kemaslahatan wanita dan manusia secara umum. Kini
saatnya wanita tinggal di rumah melakukan aktifitasnya!!
Sesungguhnya
dengan tinggalnya para wanita di rumah-rumahnya, ia dapat menangani urusan
rumahnya, menunaikan hak-hak suaminya atau keluarganya, mendidik anak-anaknya
dan memperbanyak melakukan kebajikan lainnya, seperti bakti kepada orang tua, dan
membantu saudara.
Di
rumah, ia juga bisa mengambil dan membuat pekerjaan yang menghasilkan. Kalau
pun terpaksa bekerja di luar rumah, maka ia tak mencari pekerjaan
yang ber-ikhtilath (bercampur baur) dengan pria, serta tetap menjaga
adab dan aturan syariat dalam bermuamalah, berpenampilan dan berpakaian.
================================================
DUKUNG
KAMI :
Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I
POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.
"Siapa yg membangun sebuah masjid
karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".[HR. Al-Bukhori &
Muslim]
#
Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim
sebagian rezki anda melalui :
BRI.0259-01-035305-50-9
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
atau :
Rek BNI No;
0507-4673-45 atas nama Masjid Imam Syafi'i Polman
Kontak Person :
0852-3091-8001 (Saudara Mu'in)
0813-5595-4435 (Saudara Abdullah Majid)
0813-4370-0400 (Saudara Arif)
Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan
doanya.
================================================

Komentar
Posting Komentar