Sekali lagi tentang Duduk Tasyahhud yang Benar pada Shalat yang Memiliki Satu Tasyahhud
Sekali lagi
tentang Duduk
Tasyahhud
yang Benar pada Shalat yang Memiliki Satu Tasyahhud
oleh : Ustadz Abdul
Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-
Sebagian
ikhwah 'kawan-kawan' protes terhadap pendapat yang kami kuatkan dalam
masalah duduk tasyahhud ini, terkhusus duduk tasyahhud dalam sholat yang hanya
memiliki satu tasyahhud, seperti: sholat satu rakaat atau dua rakaat.
Kami
kuatkan bahwa duduk yang benar padanya adalah duduk iftrosy, bukan tawarruk,
berdasarkan penelitian dan penjelasan secara mendalam dari para ulama terhadap
dalil-dalil para ulama mutaqqoddimin yang berselisih dalam hal itu.
Agar
lebih jelas pendapat yang kami rojih-kan (kuatkan), maka kami ulas
kembali dengan beberapa tambahan penjelasan dari para ulama kita. Semoga
saudara-saudara pembaca bisa mengerti sisi kuat dari pendapat itu.
Berikut
ikuti ulasannya dengan pikiran yang jernih dan perasaan tenang, niscaya kalian
akan mendapatkan faedah berharga, insya Allah :
Banyak
teman yang bertanya kepada kami tentang posisi duduk tasyahhud saat seorang
melakukan sholat satu atau dua raka'at. Mereka bertanya-tanya seperti ini,
karena melihat realita di tengah kaum muslimin berupa adanya sebagian kaum
muslimin yang melakukan tawarruk (duduk sambil menyentuhkan pantat kiri di
lantai) saat sholat satu atau dua raka'at, dan ada juga yang duduk iftirosy
(duduk di atas telapak kaki kiri).
Menjawab
simpang-siur seperti ini, ada baiknya kami bawakan jawabannya dengan mengambil
dan menyarikan fatwa ulama Al-Lajnah Ad-Da'imah (7/15)
Duduk
tawarruk atau iftirosy ketika tasyahhud dalam sholat dua raka'at termasuk
perkara ijtihadiyyah, para ulama fiqih berselisih pendapat padanya, karena perbedaan dalam memahami dalil.
Sekelompok
ulama' lain, seperti Asy-Syafi'iy -rahimahullah- berpendapat bahwa seseorang ber-tawarruk (menyentuhkan pinggul kirinya ke lantai) ketika ia tasyahhud
dalam sholat dua rakaat; sama saja dalam sholat fardhu atau nafilah
(sunnah).
Namun, pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat pertama yang
menyatakan bahwa seseorang ketika ber-tasyahhud dalam sholat satu atau dua
raka'at, maka ia dalam posisi iftirosy berdasarkan dalil-dalil berikut:
§
Hadits
Wa'il bin Hujr
Wa'il
bin Hujr -radhiyallahu 'anhu- berkata,
لأنظرن
إلى صلاة رسول الله _صلى الله عليه وسلم_ كيف يصلي؟
فقام رسول الله _صلى الله عليه وسلم_، فاستقبل القبلة، فكبر، فرفع يديه حتى حاذتا بأذنيه، ثم أخذ شمالَهُ بِيَمِيْنَهِ، فلما أراد أن
يركع، رفعهما مثل ذلك.
قال:
ثم
جلس فافترش رجله اليسرى، ووضع يده اليسرى على فخذه اليسرى وحَدَّ مرفقه الأيمن على
فخذه اليمنى وقبض ثنتين وحلق حلقة ورأيته يقول هكذا وحلق بشر الإبهام والوسطى وأشار
بالسبابة
"Sungguh aku melihat sholatnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, bagaimana beliau
sholat?
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berdiri seraya menghadap
kiblat. Beliau bertakbir dan mengangkat tangan sampai sejajar dengan kedua
telinganya.
Kemudian beliau memegang tangan kirinya dengan (menggunakan) tangan
kanannya. Tatkala beliau hendak rukuk, maka beliau mengangkat kedua tangannya seperti itu.
Dia
(Wa'il) berkata,
"Kemudian beliau duduk seraya iftirosy-kan (membentangkan) kaki kirinya, meletakkan tangan kirinya di atas paha
kirinya, mengangkat lengan kanannya di atas paha kanannya, menggenggam kedua
jarinya (jari kelingking dan jari manis), membentuk lingkaran (dengan ibu jari
dan jari tengah)". [HR. Abu Dawud
dalam Sunan-nya (no. 726 & 957) dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya
(no. 1265). Lihat Shohih Abi Dawud (716)]
§
Hadits
Rifa'ah bin Rofi'
Dari
Rifa'ah bin Rofi' -radhiyallahu anhu- dari Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
إذا
قمت فتوجهت إلى القبلة، فكبرْ، ثم اقرأ بأم القرآن وبما شاء الله أن تقرأ، وإذا ركعْتَ، فَضَعْ راحتَيْكَ على ركبتيك، وامدد ظهرك "
وقال " إذا سجدت فمكن لسجودك فإذا رفعت فاقعد
على فخذك اليسرى
"Jika
kamu berdiri seraya menghadap kiblat, maka bertakbirlah, lalu bacalah Ummul
Qur'an (Al-Fatihah) dan sesuatu yang Allah hendaki engkau baca. Bila engkau
rukuk, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu dan datarkan
(luruskan) punggungmu".
Beliau
bersabda, "Jika kamu sujud, maka kuatkan (telapakmu) untuk sujudmu. Jika
kamu bangkit (dari sujud), maka duduklah di atas paha kirimu". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 859).
Dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albaniy]
§
Hadits
Abu Humaid As-Sa'idiy
Abu
Humaid -radhiyallahu anhu- berkata,
إن
رسول الله _صلى الله عليه وسلم_ جلس يعني للتشهد، فافترش رجله اليسرى، وأقبل بصدر اليمنى
على قبلته، ووضع كفَّهُ اليمنى على ركبته اليمنى وكفه اليسرى على ركبته اليسرى وأشار
بإصبعه يعني السبابة
"Sesungguhnya
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- duduk tasyahhud sambil iftirosy-kan (membentangkan) kaki kirinya, menghadapkan punggung telapak kaki kanannya ke
kiblat, meletakkan telapak tangan kanannya di atas lutut kanannya dan telapak
tangan kirinya di atas lutut kirinya, serta beliau berisyarat dengan jari
telunjuknya". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(no. 293)]
§
Hadits
Abul Jauza' dari A'isyah
Dari
Abul Jauza' dari A'isyah -radhiyallahu anha- berkata,
كان رسول الله صلى الله
عليه وسلم يستفتح الصلاة بالتكبير والقراءة بالحمد لله رب العالمين وكان إذا ركع لم
يشخص رأسه ولم يصوبه ولكن بين ذلك وكان إذا رفع رأسه من الركوع لم يسجد حتى يستوي قائما
وكان إذا رفع رأسه من السجدة لم يسجد حتى يستوي جالسا وكان يقول في كل ركعتين التحية
وكان يفرش رجله اليسرى وينصب رجله اليمنى وكان ينهى عن عقبة الشيطان وينهى أن
يفرش الرجل ذراعيه افتراش السبع وكان يختم الصلاة بالتسليم
"Dahulu
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- membuka sholatnya dengan takbir dan
bacaan "alhamdulillahi Robbol alamin" (yakni, Al-Fatihah).
Jika
beliau rukuk, maka beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak pula terlalu
menundukkannya, akan tetapi diantara hal itu.
Bila beliau mengangkat kepalanya
dari rukuk, maka beliau tidak sujud sampai beliau tegak berdiri. Jika beliau
angkat kepala dari sujud, maka beliau tidak sujud (untuk kedua kalinya) sampai
tegak duduk.
Beliau mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rakaat dan beliau iftrosy-kan (menghamparkan) kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.
Beliau
melarang dari cara duduknya setan serta melarang seseorang dari menghamparkan
kedua lengannya (di atas lantai) seperti binatang buas menghamparkan (kedua
lengannya). Beliau menutup sholatnya dengan salam". [HR. Muslim (498), Abu Dawud (no. 783), dan Ibnu
Majah (no. 869)]
Semua
hadits-hadits ini, walaupun ia muthlaq, hanya saja hadits Abu Humaid
As-Sa'idiy -radhiyallahu anhu- tentang sifat sholat Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- men-taqyid ke-muthlaq-an ini.
Sebab, ia membedakan
antara duduk tasyahhud pada rakaat terakhir dalam sholat empat rakaat
dan antara duduk tasyahhud dalam sholat dua rakaat.
Beliau
(Abu Humaid) menyebutkan duduk tawarruk (menempelkan bokong kiri ke lantai)
pada duduk tasyahhud dalam sholat empat rakaat dan iftirosy (duduk di
atas telapak kaki kiri sambil menghamparkannya), serta menegakkan kaki kanan
dalam duduk (tasyahhud) dalam sholat dua rakaat.
Hadits
Abu Humaid datang dalam keadaan muthlaq, lalu dijelaskan dan di-taqyid
oleh riwayat lain.
Adapun
riwayat yang muthlaq, maka lafazh-nya:
حَتَّى
إِذَا كَانَتِ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى،
وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا، ثُمَّ سَلَّمَ
"…sehingga
bila tiba rakaat yang di dalam sholat berakhir, maka ia mengundurkan
(mengeluarkannya) kaki kirinya dan duduk pada sebelahnya sambil ber-tawarruk
(duduk di atas bokong kiri), lalu bersalam". [At-Tirmidziy (304) dan An-Nasa'iy (1262)]
Sedang
riwayat muqoyyad, lafazh-nya berikut ini:
فَإِذَا
جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى، وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى
وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
"Jika
ia duduk (untuk tasyahhud pertama) pada dua rakaat, maka beliau duduk di atas
kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Jika beliau duduk di rakaat terakhir
(untuk tasyahhud akhir), maka beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki
yang lain dan duduk di atas bokongnya". [HR. Al-Bukhoriy (828)]
Hal
itu menunjukkan sunnahnya duduk tawarruk dalam duduk tasyahhud pada sholat yang memiliki dua tasyahhud (baik itu sholat empat rakaatmaupun sholat
Maghrib).
Adapun
sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud, maka ia berdasarkan konsekuensi nash-nash
yang ada, yaitu duduk iftirosy, sama saja dalam hal itu apakah berupa
duduk tasyahhud akhir untuk sholat dua rakaat ataukah berupa tasyahhud
pertama dalam sholat tiga rakaat dan empat rakaat, serta duduk di antara dua
sujud.
Duduk iftirosy
juga disunnahkan dalam duduk tasyahhud pada sholat witir (baik witirnya berupa
3 rakaat atau satu rakaat), karena kesamaan hukumnya dengan sholat dua rakaat
yang hanya memiliki satu tasyahhud. Wallahu A'lam bish showab.
Sebagai
penutup, kami akan nukilkan ucapan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy
-rahimahullah- dalam menerangkan sisi ke-rojih-an dan kuatnya pendapat yang
kami sokong.
Al-Imam
Abu Muhammad Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy -rahimahullah-
berkata,
وجملته
أن جميع جلسات الصلاة لا يتورك فيها إلا في تشهدتان لحديث وائل بن حجر : "أن النبي
صلى الله عليه و سلم لما جلس للتشهد افترش رجله اليسرى ونصب رجله اليمنى"
ولم
يفرق بين ما يسلم فيه وما لا يسلم
وقالت
عائشة : وَكَانَ رسول الله صلى الله عليه و سلم يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ
وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى" رواه مسلم،
وهذان
يقضيان على كل تشهد بالافتراش إلا ما خرج منه لحديث أبي حميد في التشهد الثاني فيبقى
فيما عداه على قضية الأصل
ولأن
هذا ليس بتشهد ثان، فلا يتورك فيه كالأول وهذا لأن التشهد الثاني إنما تورك فيه للفرق
بين التشهدين وما ليس فيه إلا تشهد واحد لا اشتباه فيه فلا حاجة إلى الفرق." اهـ
من المغني - (1 / 613)
"Globalnya
bahwa semua duduk dalam sholat, tidak dilakukan padanya tawarruk, kecuali pada shalat (yang memiliki) dua tasyahhud, berdasarkan hadits Wa'il bin Hujr, "Bahwa Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala beliau duduk tasyahhud, maka beliau
meng-iftirosy (menghamparkan) kaki kirinya, dan menegakkan kaki kanannya." [1]
(Disini)
tidak dibedakan antara tasyahhud yang diucapkan padanya salam, dengan tasyahhud
yang tidak diucapkan padanya salam.[2]
A'isyah
berkata, "Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengucapkan
tahiyyat pada semua dua rakaat, dan beliau meng-iftrosy (menghamparkan)
kaki kirinya, dan menancapkan (menegakkan) kaki kanannya." HR. Muslim.[3]
Dua
hadits ini memutuskan bagi setiap tasyahhud untuk melakukan tasyahhud dengan
cara iftirosy, kecuali apa yang keluar darinya, berdasarkan hadits Abu Humaid
dalam tasyahhud kedua.
Jadi,
hukum iftirosy itu tetap di atas hukum asal pada selainnya (yakni, selain
tasyahhud kedua, pen.), dan karena ini (yakni, tasyahhud pertama) bukanlah tasyahhud
kedua, maka tidaklah dilakukan tawarruk padanya seperti halnya yang pertama.[4]
Demikian
inilah, karena tasyahhud kedua hanyalah dilakukan tawarruk padanya demi membedakan
dua tasyahhud itu.
Sholat
apapun yang tidak ada padanya, selain satu tasyahhud, tidak ada padanya
kesamaran (antara tasyahhud pertama dengan tasyahhud kedua, pen.), maka tidak
butuh kepada pembedaan ini." [Lihat
Al-Mughni (1/613) oleh Ibnu Qudamah, bikhtishor]
Di
dalam sebagian lafazh Hadits Abu Humaid -radhiyallahu anhu-, beliau berkata,
حتى
إذا كانت السجدة التي فيها التسليم أخر رجله اليسرى وقعد متوركا على شقه الأيسر
"sampai
ketika rakaat yang di dalamnya terdapat salam, maka beliau mengeluarkan kaki
kirinya duduk tawarruk pada sisi (bokong) kirinya." [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (730 & 963). Di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrijul Misykah (no. 801)]
Ini
memberikan isyarat bahwa duduk tawarruk
yang disebutkan oleh sahabat Abu Humaid hanyalah dalam kasus khusus, yakni khusus dalam sholat yang memiliki dua tasyahhud,
tidak mencakup sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud.
Ini
melemahkan pendapat orang yang menyatakan bahwa duduk tawarruk disyariatkan
dalam sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud. Padahal dalam realitanya, Abu
Humaid -radhiyallahu anhu- hanya
menerangkan sholat empat rokaat alias sholat yang memiliki dua tasyahhud.
Di
dalam hadits itu, Abu Humaid menyebutkan
dua tasyahhud : tasyahhud pertama dengan duduk iftrirosy, dan tasyahhud kedua
dengan duduk tawarruk.
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata,
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَمَنْ وَافَقَهُ هَذَا مَخْصُوصٌ بِالصّلَاةِ الّتِي فِيهَا تَشَهّدَانِ
وَهَذَا التّوَرّكُ فِيهَا جُعِلَ فَرْقًا بَيْنَ الْجُلُوسِ فِي التّشَهّدِ الْأَوّلِ
الّذِي يُسَنّ تَخْفِيفُهُ فَيَكُونُ الْجَالِسُ فِيهِ مُتَهَيّئًا لِلْقِيَامِ وَبَيْنَ
الْجُلُوسِ فِي التّشَهّدِ الثّانِي الّذِي يَكُونُ الْجَالِسُ فِيهِ مُطْمَئِنّا
.
وَأَيْضًا
فَتَكُونُ هَيْئَةُ الْجُلُوسَيْنِ فَارِقَةً بَيْنَ التّشَهّدَيْنِ مُذَكّرَةً لِلْمُصَلّي
حَالَهُ فِيهِمَا .
وَأَيْضًا
فَإِنّ أَبَا حُمَيْدٍ إنّمَا ذَكَرَ هَذِهِ الصّفَةَ عَنْهُ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ
وَسَلّمَ فِي الْجَلْسَةِ الّتِي فِي التّشَهّدِ الثّانِي
فَإِنّهُ
ذَكَرَ صِفَةَ جُلُوسِهِ فِي التّشَهّدِ الْأَوّلِ وَأَنّهُ كَانَ يَجْلِسُ مُفْتَرِشًا
ثُمّ قَالَ وَإِذَا جَلَسَ فِي الرّكْعَةِ الْآخِرَةِ وَفِي لَفْظٍ فَإِذَا جَلَسَ
فِي الرّكْعَةِ الرّابِعَةِ
وَأَمّا
قَوْلُهُ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِهِ : "حَتّى إذَا كَانَتْ الْجِلْسَةُ الّتِي فِيهَا
التّسْلِيمُ أَخْرَجَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَجَلَسَ عَلَى شِقّهِ مُتَوَرّكًا"
فَهَذَا
قَدْ يَحْتَجّ بِهِ مَنْ يَرَى التّوَرّكَ يُشْرَعُ فِي كُلّ تَشَهّدٍ يَلِيه السّلَامُ
فَيَتَوَرّكُ فِي الثّانِيَةِ وَهُوَ قَوْلُ الشّافِعِيّ رَحِمَهُ اللّهُ وَلَيْسَ
بِصَرِيحٍ فِي الدّلَالَةِ
بَلْ
سِيَاقُ الْحَدِيثِ يَدُلّ عَلَى أَنّ ذَلِكَ إنّمَا كَانَ فِي التّشَهّدِ الّذِي
[ ص 247 ] يَلِيه السّلَامُ مِنْ الرّبَاعِيّةِ وَالثّلَاثِيّةِ
فَإِنّهُ
ذَكَرَ صِفَةَ جُلُوسِهِ فِي التّشَهّدِ الْأَوّلِ وَقِيَامَهُ مِنْهُ ثُمّ قَالَ :
"حَتّى إذَا كَانَتْ السّجْدَةُ الّتِي فِيهَا التّسْلِيمُ جَلَسَ مُتَوَرّكًا"
فَهَذَا
السّيَاقُ ظَاهِرٌ فِي اخْتِصَاصِ هَذَا الْجُلُوسِ بِالتّشَهّدِ الثّانِي .
"Al-Imam
Ahmad dan ulama yang sepakat dengan beliau berkata, "Ini (yakni, hadits Abu
Humaid) adalah khusus bagi sholat yang di dalamnya terdapat dua tasyahhud, dan duduk tawarruk
ini diletakkan di dalamnya (yakni, di dalam sholat yang memiliki dua tasyahhud)
sebagai pembeda antara duduk dalam tasyahhud pertama yang
disunnahkan untuk diringankan, sehingga orang yang duduk pada tasyahhud pertama
bersiap untuk berdiri dan antara duduk pada tasyahhud kedua yang
orang duduk di dalamnya tenang.
Juga
bentuk dua duduk tersebut menjadi pembeda antara dua tasyahhud sekaligus
pengingat bagi yang sedang sholat tentang keadaan dirinya dalam dua tasyahhud
itu.
Juga
Abu Humaid hanyalah menyebutkan sifat seperti ini dari Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam- dalam hal duduk yang ada pada tasyahhud kedua. Karena, Abu Humaid
menyebutkan sifat (tata cara) duduk beliau dalam tasyahhud pertama dan bahwa
beliau duduk iftirosy, lalu Abu Humaid berkata,
"Jika
beliau duduk pada rakaat terakhir…,"
Dalam
sebuah lafazh, "Jika beliau duduk pada rakaat keempat…"
Adapun
ucapan Abu Humaid dalam sebagian lafazhnya,
"…sampai
ketika duduk yang di dalamnya terdapat salam, maka beliau mengeluarkan kaki
kirinya, dan beliau duduk di atas bokongnya dalam keadaan tawarruk," maka lafazh ini terkadang dijadikan hujjah oleh
orang orang yang memandang tawarruk disyariatkan pada semua tasyahhud yang
diiringi oleh salam, sehingga dilakukanlah duduk tawarruk pada sholat dua
rakaat.
Itu
adalah pendapat Imam Syafi'i -rahimahullah-. Namun, lafazh itu tidaklah
gamblang.
Bahkan
konteks hadits itu menunjukkan bahwa hal itu (duduk tawarruk) hanyalah (dikerjakan)
pada tasyayhhud yang diiringi oleh salam dari sholat empat atau tiga rakaat.
Karena,
Abu Humaid menyebutkan tata cara duduk beliau (Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-) dalam tasyahhud pertama, dan
bangkitnya beliau dari tasyahhud pertama.
Kemudian Abu Humaid berkata, "…sampai
ketika duduk yang di dalamnya terdapat salam, maka beliau mengeluarkan kaki
kirinya, dan beliau duduk di atas bokongnya dalam keadaan tawarruk."
Nah,
konteks ini gamblang dalam mengkhususkan duduk (tawarruk) ini pada tasyahhud
kedua."
-Selesai
ucapan Ibnul Qoyyim- dari kitab "Zadul Ma'ad" (1/245)
Kesimpulan :
Pendapat
yang kuat dalam hal ini adalah pendapat para ulama Hanabilah yang menyatakan bahwa
duduk tawarruk hanya disyariatkan pada rakaaat akhir dari sholat yang memiliki dua tasyahhud (pada sholat empat rakaat atau tiga rakaat).
Adapun duduk iftirosy, maka ia disyariatkan pada
setiap sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud, baik itu sholat yang hanya terdiri dari satu rakaat, ataukah dua rakaat.
Pendapat
ini juga dikuatkan oleh ulama mu'ashirin, seperti ulama Al-Lajnah Ad-Da'imah,
Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Al-Albaniy –rahimahumullah jami'an- .
Adapun
pendapat Imam Syafi'i -rahimahullah- yang menyatakan bahwa duduk
tawarruk disunnahkan pada semua rakaat terakhir dalam semua sholat (baik sholat
satu rakaat, atau dua, tiga, empat rakaat), dengan berdalilkan hadits Abu
Humaid, maka ini adalah pendapat lemah.
Sebab, hadits Abu Humaid -radhiyallahu
anhu- hanyalah membahas sholat empat rakaat atau tiga rakaat yang memiliki dua
duduk tasyahhud (pertama & kedua). Sementara sholat yang memiliki satu tasyahhud,
tidak beliau singgung.
Karena itu,
sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud, kita kembalikan kepada hadits
A'isyah -radhiyallahu anha- berikut :
A'isyah
berkata,
وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ
يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى
"Dulu
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengucapkan tahiyyat pada semua
dua rakaat, dan beliau meng-iftrosy (menghamparkan) kaki kirinya, dan
menancapkan (menegakkan) kaki kanannya." HR. Muslim.[5]
Hadits
Aisyah ini menerangkan bahwa sholat dua rakaat yang hanya memiliki satu
tasyahhud, maka sunnahnya adalah duduk iftirosy, bukan tawarruk.
Demikian
pula sholat satu rakaat yang hanya memiliki satu tasyahhud (dalam witir –misalnya)
sama dengan sholat dua rakaat, maka sunnahnya
adalah duduk iftirosy.
Syaikh Muhammad bin Ali
bin Adam Al-Itsyubiy –rahimahullah- berkata,
فقد نصّ فيه أن الصلاة التي فيها تشهّدان، فالجلوس للأول بالافتراش، وللثاني بالتورّك، وأما الصلاة التي ليس فيها تشهّدان فتبقى على حديث عائشة -رضي اللَّه عنها-، فتأمله بالإنصاف، واللَّه تعالى أعلم.
“Sungguh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah menetapkan di dalam hadits Abu Humaid bahwa shalat yang di dalamnya terdapat dua tasyahhud, maka duduk pada tasyahhud pertama adalah dengan cara iftirosy, dan (duduk) pada tasyahhud kedua adalah dengan cara tawarruk. Adapun shalat yang tidak ada padanya dua tasyahhud, maka shalat tersebut tetap berdasarkan hadits A’isyah –radhiyallahu anha-. Renunganilah hadits A’isyah dengan adil, wallahu A’lam.” [Lihat Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajjaj (11/302)]
A'isyah berkata,
وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى
"Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengucapkan tahiyyat pada semua dua rakaat, dan beliau meng-iftrosy (menghamparkan) kaki kirinya, dan menancapkan (menegakkan) kaki kanannya." HR. Muslim.
Ini hadits A'isyah yang dimaksudkan oleh Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam Al-Itsyubiy -rahimahullah-.
================================================
DUKUNG
KAMI :
Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I
POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.
"Siapa yg membangun sebuah masjid
karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".[HR. Al-Bukhori &
Muslim]
#
Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim
sebagian rezki anda melalui :
BRI.0259-01-035305-50-9
a/n.YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
a/n.YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
Kontak Person : 0852-3091-8001 (Saudara Mu'in)
Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan
doanya.
================================================
[1] HR.
At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (292). Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (716).
[2] Yakni,
tidak dibedakan antara tasyahhud pertama dengan tasyahhud akhir.
[3] HR.
Muslim dalam Shohih-nya (498).
[4] yakni,
sholat yang hanya memiliki 2 rakaat.
[5] HR.
Muslim dalam Shohih-nya (498).
Komentar
Posting Komentar