Kamis, 09 Februari 2017

Sekali lagi tentang Duduk Tasyahhud yang Benar

Sekali lagi 
tentang Duduk Tasyahhud 
yang Benar

oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-

Sebagian ikhwah 'kawan-kawan' protes terhadap pendapat yang kami kuatkan dalam masalah duduk tasyahhud ini, terkhusus duduk tasyahhud dalam sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud, seperti : sholat satu rakaat atau dua rakaat.

Kami kuatkan bahwa duduk yang benar padanya adalah duduk iftriosy, bukan tawarruk, berdasarkan penelitian dan penjelasan secara mendalam dari para ulama terhadap dalil-dalil para ulama mutaqqoddimin yang berselisih dalam hal itu.

Agar lebih jelas pendapat yang kami rojih-kan (kuatkan), maka kami ulas kembali dengan beberapa tambahan penjelasan dari para ulama kita. Semoga saudara-saudara pembaca bisa mengerti sisi kuat dari pendapat itu.

Berikut ikuti ulasannya dengan pikiran yang jernih dan perasaan tenang, niscaya kalian akan mendapatkan faedah berharga, insya Allah :


Banyak teman yang bertanya kepada kami tentang posisi duduk tasyahhud saat seorang melakukan sholat satu atau dua raka'at. Mereka bertanya-tanya seperti ini, karena melihat realita di tengah kaum muslimin berupa adanya sebagian kaum muslimin yang melakukan tawarruk (duduk sambil menyentuhkan pantat kiri di lantai) saat sholat satu atau dua raka'at, dan ada juga yang duduk iftirosy (duduk di atas telapak kaki kiri).

Menjawab simpang-siur seperti ini, ada baiknya kami bawakan jawabannya dengan mengambil dan menyarikan fatwa ulama Al-Lajnah Ad-Da'imah (7/15)

Duduk tawarruk atau iftirosy ketika tasyahhud dalam sholat dua raka'at termasuk perkara ijtihadiyyah, para ulama fiqih berselisih pendapat padanya.

Ada yang berpendapat bahwa ia iftirosy-kan (bentangkan) telapak kaki kirinya, dan menegakkan kaki kanannya, sambil duduk di atas telapak kaki kiri.

Sekelompok ulama' lain, seperti Asy-Syafi'iy -rahimahullah- berpendapat bahwa seorang ber-tawarruk (menyentuhkan pinggul kanannya ke lantai) ketika ia tasyahhud dalam sholat dua raka'at; sama saja dalam sholat fardhu atau nafilah (sunnah).

Namun pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat pertama yang menyatakan bahwa seorang ketika ber-tasyahhud dalam sholat satu atau dua raka'at, maka ia dalam posisi iftirosy berdasarkan dalil-dalil berikut:

§   Hadits Wa'il bin Hujr

Wa'il bin Hujr -radhiyallahu 'anhu- berkata,
لأنظرن إلى صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف يصلي ؟ فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فاستقبل القبلة فكبر فرفع يديه حتى حاذتا بأذنيه ثم أخذ شماله بيمينه فلما أراد أن يركع فرفعهما [ إلى ] مثل ذلك قال
ثم جلس فافترش رجله اليسرى ووضع يده اليسرى على فخذه اليسرى وحد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى وقبض ثنتين وحلق حلقة ورأيته يقول هكذا وحلق بشر الإبهام والوسطى وأشار بالسبابة
"Sungguh melihat sholatnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, bagaimana beliau sholat? Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berdiri seraya menghadap kiblat. Beliau bertakbir dan mengangkat tangan sampai sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian beliau memegang tangan kirinya dengan (menggunakan) tangan kanannya. Tatkala beliau hendak rukuk, maka beliau mengangkat kedua tangannya sampai seperti itu.
Dia (Wa'il) berkata, "Kemudian beliau duduk seraya membentangkan (iftirosy-kan) kaki kirinya, meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya, mengangkat lengan kanannya di atas paha kanannya, menggenggam kedua jarinya (jari kelingking dan jari manis), membentuk lingkaran (dengan ibu jari dan jari tengah)". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 726 & 957) dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (no. 1265). Lihat Shohih Abi Dawud (716)]

§   Hadits Rifa'ah bin Rofi'

Dari Rifa'ah bin Rofi' -radhiyallahu anhu- dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إذا قمت فتوجهت إلى القبلة فكبر ثم اقرأ بأم القرآن وبما شاء الله أن تقرأ وإذا ركعت فضع راحتيك على ركبتيك وامدد ظهرك " وقال " إذا سجدت فمكن لسجودك فإذا رفعت فاقعد على فخذك اليسرى
"Jika kamu berdiri seraya menghadap kiblat, maka bertakbirlah, lalu bacalah Ummul Qur'an (Al-Fatihah) dan sesuatu yang Allah hendaki engkau baca. Bila engkau rukuk, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu dan datarkan (luruskan) punggungmu".
Beliau bersabda, "Jika kamu sujud, maka kuatkan (telapakmu) untuk sujudmu. Jika kamu bangkit (dari sujud), maka duduklah di atas paha kirimu". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 859). Dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albaniy]

§   Hadits Abu Humaid As-Sa'idiy

Abu Humaid -radhiyallahu anhu- berkata,
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم جلس يعني للتشهد فافترش رجله اليسرى وأقبل بصدر اليمنى على قبلته ووضع كفه اليمنى على ركبته اليمنى وكفه اليسرى على ركبته اليسرى وأشار بإصبعه يعني السبابة
"Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- duduk tasyahhud sambil membentangkan (iftirosy-kan) kaki kirinya, menghadapkan punggung telapak kaki kanannya ke kiblat, meletakkan telapak tangan kanannya di atas lutut kanannya dan telapak tangan kirinya di atas lutut kirinya serta beliau berisyarat dengan jari telunjuknya". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 293)]

§   Hadits Abul Jauza' dari A'isyah
Dari Abul Jauza' dari A'isyah -radhiyallahu anha-  berkata,
 كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستفتح الصلاة بالتكبير والقراءة بالحمد لله رب العالمين وكان إذا ركع لم يشخص رأسه ولم يصوبه ولكن بين ذلك وكان إذا رفع رأسه من الركوع لم يسجد حتى يستوي قائما وكان إذا رفع رأسه من السجدة لم يسجد حتى يستوي جالسا وكان يقول في كل ركعتين التحية وكان يفرش رجله اليسرى وينصب رجله اليمنى وكان ينهى عن عقبة الشيطان وينهى أن يفرش الرجل ذراعيه افتراش السبع وكان يختم الصلاة بالتسليم
"Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- membuka sholatnya dengan takbir dan bacaan "alhamdulillahi Robbol alamin" (yakni, Al-Fatihah). Jika beliau rukuk, maka beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak pula terlalu menundukkannya, akan tetapi diantara hal itu. Bila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, maka beliau tidak sujud sampai beliau tegak berdiri. Jika beliau angkat kepala dari sujud, maka beliau tidak sujud (untuk kedua kalinya) sampai tegak duduk. Beliau mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rakaat dan beliau menghamparkan (iftrosy-kan) kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Beliau melarang dari cara duduknya setan serta melarang seseorang dari menghamparkan kedua lengannya (di atas lantai) seperti binatang buas menghamparkan (kedua lengannya). Beliau menutup sholatnya dengan salam". [HR. Muslim (498), Abu Dawud (no. 783), dan Ibnu Majah (no. 869)]

Semua hadits-hadits, walaupun ia muthlaq, hanya saja hadits Abu Humaid As-Sa'idiy -radhiyallahu anhu- tentang sifat sholat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- men-taqyid ke-muthlaq-an ini. Sebab, ia membedakan antara duduk tasyahhud pada rakaat terakhir dalam sholat empat rakaat dan antara duduk tasyahhud dalam sholat dua rakaat.

Beliau (Abu Humaid) menyebutkan duduk tawarruk (menempelkan bokong ke lantai) pada duduk (tasyahhud) dalam sholat empat rakaat dan iftirosy (duduk di atas telapak kaki kiri sambil menghamparkannya) serta menegakkan kaki kanan dalam duduk (tasyahhud) dalam sholat dua rakaat.

Hadits Abu Humaid datang dalam keadaan muthlaq, lalu dijelaskan dan di-taqyid oleh riwayat lain.

Adapun riwayat yang muthlaq, maka lafazh-nya:
حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا، ثُمَّ سَلَّمَ
"…sehingga bila tiba rakaat yang di dalam sholat berakhir, maka ia mengundurkan (mengeluarkannya) kaki kirinya dan duduk pada sebelahnya sambil ber-tawarruk (duduk di atas bokong kiri), lalu bersalam". [At-Tirmidziy (304) dan An-Nasa'iy (1262)]

Sedang riwayat muqoyyad, lafazh-nya berikut ini:
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
"Jika ia duduk (untuk tasyahhud pertama) pada dua rakaat, maka beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Jika beliau duduk di rakaat terakhir (untuk tasyahhud akhir), maka beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain dan duduk di atas bokongnya". [HR. Al-Bukhoriy (828)]

Hal itu menunjukkan sunnahnya duduk tawarruk dalam duduk tasyahhud pada sholat empat rakaat dan sehukum dengannya, sholat Maghrib.

Adapun selain itu berupa duduk yang lainnya, maka ia berdasarkan konsekuensi nash-nash yang ada, yaitu duduk iftirosy, sama saja dalam hal itu apakah berupa duduk tasyahhud akhir untuk sholat dua rakaat ataukah berupa tasyahhud pertama dalam sholat tiga rakaat dan empat rakaat serta duduk diantara dua sujud.

Duduk iftirosy juga disunnahkan dalam duduk tasyahhud pada sholat witir (baik witirnya berupa 3 rakaat atau satu rakaat), karena kesamaan hukumnya dengan sholat dua rakaat yang hanya memiliki satu tasyahhud. Wallahu A'lam bish showab.

Sebagai penutup, kami akan nukilkan ucapan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy -rahimahullah- dalam menerangkan sisi ke-rojih-an dan kuatnya pendapat yang kami sokong.

Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy -rahimahullah- berkata,
وجملته أن جميع جلسات الصلاة لا يتورك فيها إلا في تشهدتان لحديث وائل بن حجر : "أن النبي صلى الله عليه و سلم لما جلس للتشهد افترش رجله اليسرى ونصب رجله اليمنى"
ولم يفرق بين ما يسلم فيه وما لا يسلم
وقالت عائشة : وَكَانَ رسول الله صلى الله عليه و سلم يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى" رواه مسلم،
وهذان يقضيان على كل تشهد بالافتراش إلا ما خرج منه لحديث أبي حميد في التشهد الثاني فيبقى فيما عداه على قضية الأصل
ولأن هذا ليس بتشهد ثان، فلا يتورك فيه كالأول وهذا لأن التشهد الثاني إنما تورك فيه للفرق بين التشهدين وما ليس فيه إلا تشهد واحد لا اشتباه فيه فلا حاجة إلى الفرق." اهـ من المغني - (1 / 613)
"Globalnya bahwa semua duduk dalam sholat tidak dilakukan padanya tawarruk, kecuali pada tasyahhud yang kedua, berdasarkan hadits Wa'il bin Hujr, "Bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala beliau duduk tasyahhud, maka beliau meng-iftirosy (menghamparkan) kaki kirinya, dan menegakkan kaki kanannya." [1] 
(Disini) tidak dibedakan antara tasyahhud yang diucapkan padanya salah, dengan tasyahhud yang tidak diucapkan padanya salam.[2]
A'isyah berkata, "Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengucapkan tahiyyat pada semua dua rakaat, dan beliau meng-iftrosy (menghamparkan) kaki kirinya, dan menancapkan (menegakkan) kaki kanannya." HR. Muslim.[3]
Dua hadits ini memutuskan bagi setiap tasyahhud untuk melakukan tasyahhud dengan cara iftirosy, kecuali apa yang keluar darinya, berdasarkan hadits Abu Humaid dalam tasyahhud kedua.
Jadi, hukum iftirosy itu tetap di atas hukum asal pada selainnya (yakni, selain tasyahhud kedua, pen.), dan karena ini (tasyahhud pertama) bukanlah tasyahhud kedua, maka tidaklah dilakukan tawarruk padanya seperti halnya yang pertama.[4]
Demikian inilah, karena tasyahhud kedua hanyalah dilakukan tawarruk padanya demi membedakan dua tasyahhud itu.
Sholat apapun yang tidak ada padanya, selain satu tasyahhud, tidak ada padanya kesamaran (antara tasyahhud pertama dengan tasyahhud kedua, pen.), maka tidak butuh kepada pembedaan ini." [Lihat Al-Mughni (1/613) oleh Ibnu Qudamah, bikhtishor]

Di dalam sebagian lafazh Hadits Abu Humaid -radhiyallahu anhu-, beliau berkata,
حتى إذا كانت السجدة التي فيها التسليم أخر رجله اليسرى وقعد متوركا على شقه الأيسر
"sampai ketika rakaat yang di dalamnya terdapat salam, maka beliau mengeluarkan kaki kirinya duduk tawarruk pada sisi (bokong) kirinya." [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (730 & 963). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrijul Misykah (no. 801)]

Ini memberikan isyarat bahwa duduk tawarruk yang disebutkan oleh sahabat Abu Humaid hanyalah dalam kasus khusus, yakni khusus dalam sholat yang memiliki dua tasyahhud, tidak mencakup sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud.

Ini melemahkan pendapat orang yang menyatakan bahwa duduk tawarruk disyariatkan dalam sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud. Padahal dalam realitanya, Abu Humaid -radhiyallahu anhu- hanya menerangkan sholat empat rokaat alias sholat yang memiliki dua tasyahhud.

Di dalam hadits itu, Abu Humaid  menyebutkan dua tasyahhud : tasyahhud pertama dengan duduk iftrirosy, dan tasyahhud kedua dengan duduk tawarruk.

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata,  
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَمَنْ وَافَقَهُ هَذَا مَخْصُوصٌ بِالصّلَاةِ الّتِي فِيهَا تَشَهّدَانِ وَهَذَا التّوَرّكُ فِيهَا جُعِلَ فَرْقًا بَيْنَ الْجُلُوسِ فِي التّشَهّدِ الْأَوّلِ الّذِي يُسَنّ تَخْفِيفُهُ فَيَكُونُ الْجَالِسُ فِيهِ مُتَهَيّئًا لِلْقِيَامِ وَبَيْنَ الْجُلُوسِ فِي التّشَهّدِ الثّانِي الّذِي يَكُونُ الْجَالِسُ فِيهِ مُطْمَئِنّا .
وَأَيْضًا فَتَكُونُ هَيْئَةُ الْجُلُوسَيْنِ فَارِقَةً بَيْنَ التّشَهّدَيْنِ مُذَكّرَةً لِلْمُصَلّي حَالَهُ فِيهِمَا .
وَأَيْضًا فَإِنّ أَبَا حُمَيْدٍ إنّمَا ذَكَرَ هَذِهِ الصّفَةَ عَنْهُ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي الْجَلْسَةِ الّتِي فِي التّشَهّدِ الثّانِي
فَإِنّهُ ذَكَرَ صِفَةَ جُلُوسِهِ فِي التّشَهّدِ الْأَوّلِ وَأَنّهُ كَانَ يَجْلِسُ مُفْتَرِشًا ثُمّ قَالَ وَإِذَا جَلَسَ فِي الرّكْعَةِ الْآخِرَةِ وَفِي لَفْظٍ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرّكْعَةِ الرّابِعَةِ
وَأَمّا قَوْلُهُ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِهِ : "حَتّى إذَا كَانَتْ الْجِلْسَةُ الّتِي فِيهَا التّسْلِيمُ أَخْرَجَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَجَلَسَ عَلَى شِقّهِ مُتَوَرّكًا"  
فَهَذَا قَدْ يَحْتَجّ بِهِ مَنْ يَرَى التّوَرّكَ يُشْرَعُ فِي كُلّ تَشَهّدٍ يَلِيه السّلَامُ فَيَتَوَرّكُ فِي الثّانِيَةِ وَهُوَ قَوْلُ الشّافِعِيّ رَحِمَهُ اللّهُ وَلَيْسَ بِصَرِيحٍ فِي الدّلَالَةِ
بَلْ سِيَاقُ الْحَدِيثِ يَدُلّ عَلَى أَنّ ذَلِكَ إنّمَا كَانَ فِي التّشَهّدِ الّذِي [ ص 247 ] يَلِيه السّلَامُ مِنْ الرّبَاعِيّةِ وَالثّلَاثِيّةِ
فَإِنّهُ ذَكَرَ صِفَةَ جُلُوسِهِ فِي التّشَهّدِ الْأَوّلِ وَقِيَامَهُ مِنْهُ ثُمّ قَالَ : "حَتّى إذَا كَانَتْ السّجْدَةُ الّتِي فِيهَا التّسْلِيمُ جَلَسَ مُتَوَرّكًا"
فَهَذَا السّيَاقُ ظَاهِرٌ فِي اخْتِصَاصِ هَذَا الْجُلُوسِ بِالتّشَهّدِ الثّانِي .

"Al-Imam Ahmad dan ulama yang sepakat dengan beliau berkata, "Ini (yakni, hadits Abu Humaid) adalah khusus bagi sholat yang di dalamnya terdapat, dan duduk tawarruk ini diletakkan di dalamnya (yakni, di dalam sholat yang memiliki dua tasyahhud) sebagai pembeda antara duduk dalam tasyahhud pertama yang disunnahkan untuk diringankan, sehingga orang yang duduk pada tasyahhud pertama bersiap untuk berdiri dan antara duduk pada tasyahhud kedua yang orang duduk di dalamnya tenang.
Juga bentuk dua duduk tersebut menjadi pembeda antara dua tasyahhud sekaligus pengingat bagi yang sedang sholat tentang keadaan dirinya dalam dua tasyahhud itu.
Juga Abu Humaid hanyalah menyebutkan sifat seperti ini dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hal duduk yang ada pada tasyahhud kedua. Karena, Abu Humaid menyebutkan sifat (tata cara) duduk beliau dalam tasyahhud pertama dan bahwa beliau duduk iftirosy, lalu Abu Humaid berkata,
"Jika beliau duduk pada rakaat terakhir…,"
Dalam sebuah lafazh, "Jika beliau duduk pada rakaat keempat…"
Adapun ucapan Abu Humaid dalam sebagian lafazhnya,
"…sampai ketika duduk yang di dalamnya terdapat salam, maka beliau mengeluarkan kaki kirinya, dan beliau duduk di atas bokongnya dalam keadaan tawarruk," maka lafazh ini terkadang dijadikan hujjah oleh orang orang yang memandang tawarruk disyariatkan pada semua tasyahhud yang diiringi oleh salam, sehingga dilakukanlah duduk tawarruk pada sholat dua rakaat.
Itu adalah pendapat Imam Syafi'i -rahimahullah-. Namun lafazh itu tidaklah gamblang.
Bahkan konteks hadits itu menunjukkan bahwa hal itu (duduk tawarruk) hanyalah (dikerjakan) pada tasyayhhud yang diiringi oleh salam dari sholat empat atau tiga rakaat.
Karena, Abu Humaid menyebutkan tata cara duduknya dalam tasyahhud pertama, dan bangkitnya beliau dari tasyahhud pertama. Kemudian Abu Humaid berkata, "…sampai ketika duduk yang di dalamnya terdapat salam, maka beliau mengeluarkan kaki kirinya, dan beliau duduk di atas bokongnya dalam keadaan tawarruk."
Nah, konteks ini gamblang dalam mengkhususkan duduk (tawarruk) ini pada tasyahhud kedua."

-Selesai ucapan Ibnul Qoyyim- dari kitab "Zadul Ma'ad" (1/245)

Kesimpulan :

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat ulama Hanabilah yang menyatakan bahwa duduk tawarruk hanya disyariatkan pada rakaaat akhir dari sholat yang memiliki empat rakaat atau tiga rakaat. Adapun duduk iftirosy, maka ia disyariatkan pada setiap sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud, baik itu sholat yang hanya satu rakaat, ataukah dua rakaat.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh ulama mu'ashirin, seperti ulama Al-Lajnah Ad-Da'imah, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Al-Albaniy –rahimahumullah jami'an- .

Adapun pendapat Imam Syafi'i -rahimahullah- yang menyatakan bahwa duduk tawarruk disunnahkan pada semua rakaat terakhir dalam semua sholat (baik sholat satu rakaat, atau dua, tiga, empat rakaat), dengan berdalilkan hadits Abu Humaid, maka ini adalah pendapat lemah, sebab hadits Abu Humaid -radhiyallahu anhu- hanyalah membahas sholat empat rakaat atau tiga rakaat yang memiliki dua duduk tasyahhud (pertama & kedua). Sementara sholat yang memiliki satu tasyahhud, tidak beliau singgung.

Karena itu, sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud, kita kembalikan kepada hadits A'isyah -radhiyallahu anha- berikut :

A'isyah berkata,
وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى
"Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengucapkan tahiyyat pada semua dua rakaat, dan beliau meng-iftrosy (menghamparkan) kaki kirinya, dan menancapkan (menegakkan) kaki kanannya." HR. Muslim.[5]

Hadits Aisyah ini menerangkan bahwa sholat dua rakaat yang hanya memiliki satu tasyahhud, maka sunnahnya adalah duduk iftirosy, bukan tawarruk. Demikian pula sholat satu rakaat yang hanya memiliki satu tasyahhud (dalam witir –misalnya) sama dengan sholat dua rakaat, maka sunnahnya adalah duduk iftirosy.


================================================

DUKUNG KAMI :

Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI.0259-01-035305-50-9
a/n.YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY

Kontak Person : 0852-3091-8001 (Saudara Mu'in)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
================================================






[1] HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (292). Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (716).
[2] Yakni, tidak dibedakan antara tasyahhud pertama dengan tasyahhud akhir.
[3] HR. Muslim dalam Shohih-nya (498).
[4] yakni, sholat yang hanya memiliki 2 rakaat.
[5] HR. Muslim dalam Shohih-nya (498).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar