Sabtu, 11 Februari 2017

Siapa Sih Ahlus Sunnah itu?


Siapa Sih Ahlus Sunnah itu?
[Tanggapan atas Pernyataan Habib Rizieq Syihab]

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

Seorang kawan pernah mengunggah video singkat Habib Rizieq Syihab tentang komentarnya seputar Saudi Arabia dan defenisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. [ https://goo.gl/X6958o ]

Dari sela-sela komentarnya, tampak bahwa ia kurang mengerti tentang siapa Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu pada hakikatnya?

Di saat seseorang tidak mengerti siapa Ahlus Sunnah, maka akan muncul darinya sikap yang keliru. Akhirnya, ia akan membela atau membenci orang yang selayaknya tidak ia bela, atau tidak sepantasnya ia benci.


"Tak kenal, maka tak sayang". Itulah sebuah ungkapan pribahasa yang sering kita dengarkan. Ungkapan ini biasa digunakan untuk sebuah makna bahwa seseorang tak dapat mengetahui perangai dan hakikat diri orang lain dengan baik, bila ia belum mengenalnya dari dekat.[1]

Dalam hal ini, seseorang tak mungkin akan mengenal Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan baik, bila ia tak memahami dan mengenal hakikat serta seluk Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Seorang muslim yang ingin menapaki jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah haruslah mengerti hakikat mereka dan seluk-beluknya berupa makna, nama-nama, sifat-sifat dan manhaj mereka dalam beragama.

Sebab, seorang muslim tak boleh mendakwakan sesuatu yang ia tak memiliki pengetahuan tentangnya, sehingga ia pun terkadang melakukan sesuatu yang menyelisihi pengakuannya.

Semua itu lahir dari kejahilannya tentang sesuatu yang ia akui dan dakwakan.

Dia mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah, tapi di waktu yang sama ia menyalahi manhaj dan aqidah mereka.

Hal yang seperti ini banyak kita jumpai di medan dakwah; banyaknya kelompok-kelompok dakwah atau ormas dan yayasan yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah, namun keyakinan dan amaliahnya menyalahi jalan mereka[2].

Mengenal hakikat Ahlus Sunnah wal Jama'ah beserta seluk-beluknya adalah perkara yang amat penting di zaman ini. Sebab, banyak orang dari kalangan ahli bid'ah dan pelaku kebatilan yang berjubah dan berkostum Ahlus Sunnah wal Jama'ah demi mengelabui orang, baik ia lakukan sadar atau tidak!!

Padahal hakikatnya ia memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Tak heran bila hari ini kaum sufi mengaku Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Kaum Khawarij-teroris dengan berbagai macam model dan kostumnya juga mengaku Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Berbagai kelompok bid'ah pun mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Selain itu, sebagian orang ada yang menyangka bahwa Ahlus Sunnah adalah nama sebuah organisasi atau yayasan yang menghimpun berbagai macam manusia di dalamnya. Ada juga yang menyangka bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah komunitas yang hidup dalam sebuah tempat atau berbagai tempat dan memiliki pemimpin dan syaikh yang mereka taati dan fanatik kepadanya.

Sebagian orang jahil, ada yang menyangka bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kaum awam yang hanya terpaku pada teks wahyu, tanpa memahami dan mengkajinya dengan baik.

Orang jahil ini mengklaim bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan gelar buruk sebagai "Kaum Fundamentalis".

Satu lagi, ada yang menuduh Ahlus Sunnah yang kuat dalam berpegang dengan ajaran Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan tuduhan sebagai kaum ekstrim atau "Wahhabi".[3]

Inilah sebagian sangkaan-sangkaan keliru lagi buruk tentang Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Semua ini menjelaskan kepada kita bahwa banyak diantara masyarakat kita yang tidak mengerti Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Fenomena seperti ini amat memerlukan penjelasan dan pencerahan tentang arti dan hakikat Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Sehingga, kita sebagai muslim yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat, tidak terjerat atau terpengaruh oleh para pelaku kebatilan dan ahli bid'ah yang sering kali berjubah dan berkostum Ahlus Sunnah, lalu mengajak kita kepada jurang neraka yang terjal lagi dalam, dengan bersenjatakan syubhat yang siap menyeret pemikiran dan jasad kita ke arah yang mereka inginkan.

Seorang muslim harus sadar bahwa ia jangan terpengaruh dengan nama dan label, karena nama dan label mudah saja diakui oleh setiap orang.

Tapi yang terpenting adalah adanya kesamaan antara pengakuan dengan hakikat keyakinan dan bukti amaliahnya.

Itulah sebabnya para ulama meletakkan kaedah penting yang berbunyi,
العِبْرَةُ بِحَقَائِقِ اْلأَشْيَاءِ وَمَعَانِيْهَا دُوْنَ أَلْفَاظِهَا وَعِبَارَاتِهَا
"Ukurannya ada pada hakikat perkara dan maknanya, bukan pada lafazh dan ungkapannya".[4]

Barometer segala sesuatu terletak pada hakikat dan maknanya, bukan pada istilah, lafazh dan pengakuan saja.

Seorang teroris-Khawarij mengaku sebagai ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam lafazh dan kata yang ia ucapkan atau sematkan pada dirinya, tidaklah bermanfaat bagi dirinya di depan Allah dan orang-orang beriman.

Khawarij tetap Khawarij, walaupun ia mengganti namanya dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Sama halnya dengan khomer, walaupun nama dan lafazhnya diganti dengan "minuman segar" atau "minuman pria jantan", tapi hakikatnya tetap sama, yaitu memabukkan dan hukumnya haram.

Musik, diganti dengan nama lain, seperti nasyid, qasidah dan lainnya, maka tetap hakikatnya musik dan hukumnya haram!!

Seorang yang mencela sahabat dan mengkafirkan mereka adalah kekafiran, walaupun istilah dan sebutannya diganti dengan nama lain, misalnya "membela ahlul bait", "Studi Kritis Kehidupan Sahabat".

Mencela sahabat –seperti yang dilakukan kaum Syi'ah-, hakikatnya tetap haram, karena ia adalah kekafiran, walaupun diganti dengan lafazh yang indah!![5]

Disini akan tampak bagi kita tentang pentingnya mengetahui hakikat segala perkara agar kita jangan tertipu dengan usaha orang-orang yang mau mengelabui kita dengan segala pengakuannya yang kosong dari hakikat dan makna yang sebenarnya.

Para pembaca yang budiman, mungkin anda akan bertanya dalam hati, "Bagaimana dan apa caranya kita mengenal hakikat Ahlus Sunnah wal Jama'ah sehingga dapat menapaki jalan mereka dengan benar, tak salah jalan atau salah pilih serta tidak tertipu dengan makar para pelaku kebatilan yang sering menyamarkan perkara dengan segala syubhat mereka yang berbahaya?"

Pertama kali seseorang harus mengenal dan memahami istilah "Ahlus Sunnah wal Jama'ah".

Dia harus mengenalnya menurut tinjauan bahasa dan istilah syar'i-nya.

Ini penting kita pahami dengan baik agar tidak tersamar antara hakikat Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan para pengakunya dari kalangan ahli bid'ah, apapun jubah dan kostumnya.

Para pembaca yang budiman, bila menilik istilah ini, maka ia terdiri dari tiga kata:
أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ
Kata pertama, ahlu. Kedua, as-Sunnah. Ketiga, Al-Jama'ah. Inilah unsur-unsur istilah ini. Semuanya akan kita bahas, agar kita memahami hubungan antara maknanya dalam bahasa dengan maknanya dalam istilah syari'at.

Defenisi Kata Ahlu
Kata ahlu (أَهْلٌ) biasa digunakan untuk istri dan penghuni rumah. Asal kata ini digunakan untuk kerabat dan keluarga. Terkadang ia digunakan untuk penduduk (السُكَّانُ), penganut sesuatu (المتدينُ بشيءٍ), umat (الأُمَّةُ), sahabat (الأصحابُ), atau pengikut (الأَتْبَاعُ).[6]

Sebagian ahli bahasa menjelaskan bahwa kata ahlu digunakan untuk sesuatu yang dikumpulkan oleh suatu perkara.

Namun makna yang dimaksudkan dalam kata ahlu dari kalimat "Ahlus Sunnah" adalah dua makna yang terakhir ash-hab (sahabat dan pemilik) dan atbaa' (pengikut).

&           Defenisi Kata "Sunnah"
Kemudian kata sunnah (السُّنَّةُ) menurut bahasa ia bermakna ath-thoriqoh (jalan dan metode) yang ditetapkan oleh para pendahulu manusia, lalu ia menjadi jalan hidup bagi orang-orang yang ada setelahnya.[7] Kata sunnah digunakan untuk thoriqoh (jalan) yang mahmudah (terpuji) dan yang madzmumah (tercela).

Al-Imam Ibnu Manzhur Al-Ifriqiy -rahimahullah- berkata,
والسُّنَّة السيرةُ حسنةً كانتْ أَو قبيحةً
"Sunnah adalah siroh (jalan), apakah ia baik atau pun ia buruk".[8]

Makna inilah yang pernah diungkapkan dan digunakan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sebuah sabdanya,
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
"Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah (jalan) yang baik, lalu diamalkan setelahnya, maka akan dituliskan bagi pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, sedang pahala mereka tak berkurang sedikit pun. Barangsiapa yang mencontohkan di dalam Islam suatu sunnah (jalan) yang buruk, lalu iamalkan setelahnya, maka akan dituliskan baginya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya, sedang dosa mereka tak berkurang sedikit pun".[9]

Hadits yang mulia ini merupakan hujjah yang amat gamblang bahwa sunnah –menurut bahasa- dapat digunakan untuk perkara yang baik dan perkara yang buruk[10].

Dua perkara itu dapat dibedakan dengan menyandarkan kata "sunnah" kepada sesuatu.

Bila kata sunnah disandarkan kepada yang baik (misalnya, kepada Allah), maka maknanya adalah baik. Allah -Ta'ala- berfirman,
مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا  [الأحزاب : 38]
"Tidak ada suatu keberatanpun atas nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku". (QS. Al-Ahzaab : 38)

Allah -Azza wa Jalla- juga berfirman,

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلاً  [فاطر : 43]
"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu". (QS. Faathir : 43)

Kata "sunnah" bila disandarkan kepada yang tercela, maka ia adalah sunnah yang buruk.

Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرِاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
"Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan dan jejak) umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya". Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka beliau menjawab:" Siapa lagi (kalau bukan mereka)?".[11]

Inilah makna kata sunnah dalam bahasa, ia bermakna ath-thoriqoh (jalan) dan as-siroh (jejak), apakah ia baik, atau ia buruk.

Adapun kata sunnah dalam istilah syar'i-nya, maka para ulama telah memberikan defenisi yang bermacam-macam, namun bermuara dalam sebuah makna bahwa sunnah hanya digunakan dalam perkara yang baik sebagaimana halnya bid'ah menurut tinjauan syariat hanya digunakan untuk sesuatu yang buruk.

Syaikh Abdus Salam bin Barjas Alu Abdil Karim -rahimahullah- berkata,
"Bila kata sunnah datang dalam ucapan Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- atau sahabat dan para tabi'in –sedang itu dalam konteks yang baik-, maka yang dimaksudkan dengannya adalah maknanya secara syar'i yang umum lagi mencakup semua hukum-hukum aqidah dan amaliah (baik itu wajib, mandub dan mubah)".[12]

Diantara contoh yang bisa kita angkat, sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Kalian akan melihat setelahku perselisihan yang banyak. Lantaran itu, pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafa' Ar-Rosyidiin (yang lurus) lagi mendapatkan petunjuk. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan, karena semua bid'ah adalah sesat".[13]

Ibnu Allan Al-Makkiy saat mengomentari sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, "Pegangilah sunnahku…", ia berkata,
"Maksudnya, jalanku dan jejakku yang lurus yang aku pijaki diantara perkara yang telah aku jelaskan kepada kalian berupa hukum-hukum aqidah dan amaliah yang wajib, mandub, dan lainnya".[14]

Abu Sa'id Al-Khudriy -radhiyallahu anhu- berkata,
خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِي تَوَضَّأَ وَأَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
"Ada dua orang yang pernah keluar dalam sebuah safar. Lalu datanglah waktu sholat, sedang tak ada air bersama mereka. Mereka pun bertayammum dengan tanah yang baik, lalu keduanya sholat. Kemudian mereka mendapatkan air di saat itu. Salah seorang diantara mereka mengulangi sholatnya dan wudhu'nya. Yang satunya lagi tidak mengulangi sholatnya. Keduanya pun mendatangi Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada yang tidak mengulangi sholatnya, "Kamu telah mencocoki sunnah dan sholatmu telah cukup (sah) bagimu"…".[15]

Al-Imam Al-Amir Ash-Shon'aniy -rahimahullah- berkata, "Maksudnya, (Engkau telah mencocoki) thoriqoh (jalan dan cara) yang syar'iy".[16]

Ketika ada tiga orang sahabat yang datang ke rumah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk bertanya kepada tentang ibadah beliau dan mereka menganggapnya sedikit bagi diri mereka yang penuh dengan kekurangan.

Akhirnya, mereka berpikiran untuk menambahi dan melebihi batasan syari'at, sehingga mereka menyelisihi dan meninggalkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Ketika itu beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
"Barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka ia bukan termasuk dariku".[17]

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata,
"Yang dimaksud dengan "sunnah" adalah thoriqoh (jalan hidup Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-), bukan sunnah sebagai lawan kata "fardhu". Sedang benci kepada sesuatu adalah berpaling darinya kepada selainnya. Yang dimaksud (oleh hadits ini), barangsiapa yang meninggalkan thoriqoh (jalan)ku dan mengambil selainnya, maka ia bukan termasuk dari golonganku".[18]

Diantara kata sunnah  yang bermakna ath-thoriqoh (jalan hidup Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam beragama), ucapan sahabat Abdullah bin Mas'ud,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطَّهُوْرَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ
"Barangsiapa yang ingin bergembira menemui Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah sholat-sholat itu tatkala dikumandangkan. Karena Allah telah mensyari'atkan sunanul huda (jalan-jalan petunjuk) bagi Nabi kalian -Shollallahu 'alaihi wasallam-, dan sesungguhnya dia (sholat-sholat wajib) itu merupakan sunanul huda (jalan-jalan petunujuk). Andaikan kalian sholat (fardhu) di rumah kalian sebagaimana orang (munafiq) yang tinggal di rumahnya, maka kalian telah meninggalkan sunnah (jalan dan petunjuk) Nabi kalian. Andaikan kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian, maka kalian akan sesat. Tak ada seorang pun yang bersuci, lalu ia memperbaiki bersucinya, kemudian ia ke masjid di antara masjid-masjid, melainkan Allah akan tuliskan kebaikan bagi setiap langkah yang ia ayunkan, Dia (Allah) akan mengangkat derajat orang itu dengannya, dan menghapus dosanya dengannya. Kami telah menyaksikan orang-orang diantara kami, tak ada yang tertinggal dari sholat jama'ah, kecuali orang munafiq yang nyata kemunafiqannya. Sungguh ada seorang laki-laki didatangkan sambil dipapa di antara dua orang sampai ia ditegakkan dalam shaf". [HR.Muslim dalam Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' Ash-Sholah (654), dan Ibnu Majah dalam Kitab Al-Masajid wa Al-Jama'at (777)]

Ini menunjukkan bahwa sholat jama'ah adalah sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berhukum wajib bagi kaum pria[19], bukan sunnah dalam artian "mandub" (dianjurkan); bila dikerjakan, maka dapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa[20].

Ini sunnah dalam istilah para ahli fiqih. Adapun dalam istilah syariat, bila disebutkan kata sunnah, maka yang dimaksud adalah ath-thoriqoh (jalan hidup Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam beragama).

Jadi, "sunnah" yang kita maksudkan dalam pembahasan kita kali ini adalah sunnah menurut istilah syari'at secara umum dan universal; mencakup semua hukum syaria't, baik dalam perkara aqidah atau amaliah.

Para pembaca yang budiman, kata sunnah dalam istilah syariat lebih luas dan lebih umum dibandingkan istilah sunnah dalam pengertian ulama fiqih.

Sunnah yang kita maksudkan dalam pembahasan nama AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH berdasarkan istilah umumnya dalam syariat yang mencakup semua ajaran agama Islam.

Oleh karena itu, Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahariy -rahimahullah- berkata, "Ketahuilah bahwa Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam. Salah satunya tidak akan tegak, kecuali dengan yang lainnya".[21]

Seorang yang berada di atas prinsip-prinsip agama yang lurus, tanpa menyelisihinya disebut dengan "shohibush sunnah" (صاحِبُ السُّنَّةِ) atau "ahlus sunnah" (أَهْلُ السُّنَّةِ), lalu diringkas dengan "sunniy" (pengikut sunnah)[22].

Sebaliknya bila seseorang menyelisihi prinsip-prinsip agama yang merupakan jalan hidup Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya dalam beragama, maka orang ini disebut "shohibul bid'ah" atau "ahli bid'ah",[23] biasa diringkas menjadi "mubtadi'".[24]

Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibiy -rahimahullah- berkata dalam kitabnya Al-Muwafaqot (4/4),
"Kata sunnah digunakan sebagai lawan kata bid'ah. Karena itu, dikatakan, "Si fulan di atas sunnah", bila ia beramal berdasarkan sesuatu yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Hal itu telah ditetapkan dalam al-Kitab pada awal kalinya. Dikatakan, "Si fulan di atas bid'ah", bila ia beramal berdasarkan sesuatu yang menyelisihi hal itu".[25]

Al-Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Malik Al-Karjiy, "Ketahuilah bahwa sunnah adalah thoriqoh (jalan hidup) Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan menempuhnya. Sunnah itu ada tiga macam: ucapan, perbuatan dan aqidah".[26]

Hal yang sama juga pernah ditegaskan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- saat beliau berkata, "Sunnah adalah thoriqoh (jalan hidup) yang ditempuh. Itu mencakup tamassuk (berpegang teguh) dengan sesuatu yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para Khulafa' Rosyidin berupa i'tiqod (aqidah), amalan dan ucapan. Inilah sunnah yang sempurna. Karena inilah, para salaf sejak dulu tidaklah menggunakan kata sunnah, kecuali pada sesuatu yang mencakup semua itu. Hal itu telah diriwayatkan dari Al-Hasan, Al-Awza'iy dan Al-Fudhoil bin Iyadh".[27]

Jadi, kata sunnah bila digunakan dalam permasalahan aqidah, maka yang dimaksud adalah makna ini, yaitu sunnah yang mencakup agama secara sempurna, bukan sunnah yang dalam istilah para ulama fiqih atau yang lainnya.

&           Defenisi Al-Jama'ah
Al-Jama'ah terambil dari kata (جَمَعَ). Para ahli bahasa menjelaskan bahwa al-jama'ah sekelompok manusia yang dikumpulkan oleh tujuan yang sama.[28]

Dikatakan sholat jama'ah, karena dihadiri oleh sekelompok manusi yang ingin menunaikan sholat.

Sholat di hari jum'at disebut "sholat Jum'at", karena berkumpulnya manusia pada hari itu untuk sebuah tujuan, yaitu sholat[29].

Jadi, kata "al-jama'ah" menurut bahasa menunjukkan tentang berkumpulnya sesuatu. Dia adalah lawan kata dari al-furqoh (berpecah-belah).

Adapun AL-JAMA'AH menurut istilah syar'i-nya, mereka adalah para pengikut kebenaran yang berkumpul di atas sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Terkadang mereka dipimpin oleh seorang imam (pemerintah) muslim dan terkadang juga tidak[30].

Terkadang pula mereka sendiri dalam suatu tempat dan waktu, dan terkadang mereka juga banyak. Al-Jama'ah tidak mesti jumlahnya banyak[31].

Walaupun seseorang bersendirian di tengah manusia yang menyelisihi kebenaran, tapi ia tetap berusaha mencocoki kebenaran dan sunnah, maka ia tetap dianggap al-Jama'ah.

Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu anhu- berkata,
الجَمَاعَةُ : مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
"Al-Jama'ah adalah sesuatu yang mencocoki kebenaran, walaupun engkau sendirian".[32]

Adapun orang yang berkumpul di atas suatu bid'ah –walapun jumlahnya banyak-, maka ia keluar dari lingkup al-jama'ah, karena telah keluar dari sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-[33].


Oleh karena itu, sebagian orang keliru saat menggolongkan ahli bid'ah dari kalangan sekte Asy'ariyyah dan Maturidiyyah sebagai Ahlus Sunnah.

Bagaimana bisa mereka menyatakan diri sebagai Ahlus Sunnah.
 Sementara kedua sekte ini telah  menyalahi keyakinan (aqidah) Ahlus Sunnah dari kalangan sahabat, tabi'in dalam perkara asma' was shifat (nama dan sifat-sifat Allah).

Mereka (Maturidiyyah & Asy'ariyyah) adalah ahli kalam yang suka mentakwil nama dan sifat-sifat Allah -Azza wa Jalla-.

Bahkan mereka me-nafi-kan (meniadakan) sebagian besar nama dan sifat-sifat Allah -Azza wa Jalla- yang telah tsabit dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Jelas ini menyalahi madzhab dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam beraqidah, aqidah para imam empat: Malik, Abu Hanifah, Syafi'iy, dan Ahmad bin Hambal -rahimahumullah- .

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata,
"Pada asalnya kata "al-jama'ah" bermakna berkumpul. Dia adalah isim mashdar. Ini pada asalnya. Kemudian kata ini dipindahkan dari asalnya ini kepada kaum yang berkumpul.
Berdasarkan hal ini, maka makna Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah Ahlus Sunnah wal Ijtima'. Mereka disebut dengan Ahlus Sunnah, karena berpegang teguh dengan sunnah.
Mereka disebut dengan Ahlul Jama'ah, karena mereka berkumpul (bersatu) di atas sunnah. Oleh karena ini, kelompok (Ahlus Sunnah) ini tak pernah berpecah sebagaimana hal ahli bid'ah berpecah.
Kita akan menjumpai ahli bid'ah, seperti Jahmiyyah telah berpecah, Mu'tazilah berpecah, Rofidhoh berpecah dan selain mereka (diantara ahli bid'ah) dari kalangan ahlut ta'thil[34] berpecah.
Akan tetapi golongan (Ahlus Sunnah) ini berkumpul di atas kebenaran…Kalau begitu, mereka berkumpul di atas sunnah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dimaklumi dari ucapan Penulis (yakni, Penulis Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam) -rahimahullah- bahwa tidaklah masuk dalam golongan Ahlus Sunnah, orang yang menyelisihi mereka (Ahlus Sunnah) dalam thoriqoh (jalan hidup)nya. Sekte Asy'ariyyah dan Maturidiyyah -sebagai contoh- tidaklah teranggap sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam perkara ini. Karena, mereka menyelisihi sesuatu yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya dalam memahami sifat-sifat Allah -Subhanahu wa Ta'ala- berdasarkan hakikatnya. Oleh karena ini, kelirulah orang yang berkata, "Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah ada tiga: Salafiyyun (para pengikut Salaf), Asy'ariyyun (pengikut sekte Asy'ariyyah) dan Maturidiyyun (pengikut sekte Maturidiyyah)".
Ini adalah kekeliruan!!
Kita katakan, "Bagaimana mungkin mereka semua Ahlus Sunnah, padahal mereka saling berselisih. Tak ada setelah kebenaran, melainkan kesesatan!! Bagaimana mungkin mereka semua Ahlus Sunnah, sedang setiap salah satu dari golongan itu saling membantah golongan lainnya?!
Ini tak mungkin, kecuali jika memungkinkan penggabungan antara dua hal yang berlawanan[35], maka ya. Kalau tidak, maka tak ragu lagi bahwa salah satu dari (tiga) golongan itu saja yang Ahlus Sunnah. Golongan mana itu?! Asy'ariyyah, Maturidiyyah atau Salafiyyah (para pengikut Salaf)?! Kita katakan, "Barangsiapa yang mencocoki sunnah, maka ia adalah shohibush Sunnah (yakni, Ahlus Sunnah). Barangsiapa yang menyelisihi sunnah, maka ia bukan shohibus Sunnah". Kita katakan, "Para salaf itulah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sifat itu (sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah) tidaklah cocok  bagi selain mereka selamanya. Kata-kata itu dinilai berdasarkan maknanya.
Coba kita perhatikan, bagaimana mungkin menamai orang yang menyelisihi sunnah sebagai Ahlus Sunnah?! Ini tak mungkin! Bagaimana mungkin kita nyatakan tentang tiga golongan yang berbeda bahwa mereka bersatu; mana persatuan tersebut?! Jadi, Ahlus Sunnah adalah para Salaf[36]dalam sisi aqidah (keyakinan) sampai pun orang belakangan hingga hari kiamat, bila ia berada di atas jalannya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, maka sesungguhnya ia adalah salafiy (pengikut salaf)[37]".[38]

Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kaum yang mengikuti sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam perkara aqidah dan amaliah berdasarkan pemahaman al-jama'ah (yakni, para sahabat), sehingga kaum ini senantiasa bersatu di atas sunnah, aqidah dan manhaj yang sama dari zaman ke zaman, walaupun terkadang mereka hidup di tempat dan waktu yang berbeda.

Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Al-Andalusiy  -rahimahullah- berkata,
"Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang kami sebut dengan ahlul haq (pengikut kebenaran). Selain mereka adalah ahli bid'ah. Karena, mereka (Ahlus Sunnah) adalah para sahabat -radhiyallahu anhum- dan semua orang yang menapaki jejak mereka dari kalangan orang-orang pilihan tabi'in, lalu ash-habul hadits dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan fuqoha dari generasi ke generasi lainnya sampai hari kita ini, serta orang-orang yang meneladani mereka dari kalangan kaum awam di timur bumi dan baratnya. Semoga rahmat Allah atas mereka".[39]

Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"Tak ragu lagi bahwa ahlun naql wal-atsar[40] yang mengikuti jejak Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, mereka adalah Ahlus Sunnah. Karena, mereka berada di atas jalan (manhaj) yang belum diada-adakan padanya suatu perkara baru. Perkara-perkara baru dan bid'ah hanyalah terjadi sepeninggal Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya".[41]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata saat mendefenisikan Ahlus Sunnah wal Jama'ah,
"Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- serta sesuatu yang disepakati oleh orang-orang yang terdahulu lagi pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin, Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan".[42]

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa As-Sa'diyyah (hal. 63-64),
"Ahlus Sunnah yang murni lagi selamat dari segala macam bid'ah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sesuatu yang pernah dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya dalam semua ushul (prinsip agama): prinsip tauhid, kerasulan, taqdir, perkara-perkara iman dan lainnya. Selain mereka dari kalangan Khawarij, Mu'tazilah, Jahmiyyah, Qodariyyah, Rofidhoh, Murji'ah dan semua golongan yang bercabang dari mereka, semuanya termasuk ahli bid'ah dalam aqidah".[43]

Para pembaca yang budiman, dari beberapa komentar para ulama tersebut, maka kita dapat mengambil kesimpulan:

·       Bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam- dan sesuatu yang disepakati oleh para sahabat dan pengikut mereka dalam kebaikan hingga hari ini serta mereka tidaklah menyelisihi sedikitpun diantara prinsip-prinsip agama.

Termasuk dalam golongan mereka, kaum awam dari kalangan kaum muslimin yang meneladani mereka.

·       Semua ahli bid'ah keluar dari lingkup Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena penyelisihan mereka terhadap prinsip-prinsip agama yang telah disepakati oleh para salaf.[44]

·       Tidak akan terwujud bagi seseorang bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah setelah menetapkan prinsip-prinsip itu dalam ilmu dan amalan, kecuali dengan berlepas diri dari semua ahli bid'ah dan pernyataan-pernyataan mereka[45].


================================================
DUKUNG KAMI :

Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI.0259-01-035305-50-9
a/n.YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY

Kontak Person : 0852-3091-8001 (Saudara Mu'in)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
================================================







[1] Lihat 5700 Peribahasa Indonesia (hal.196) karya Drs. Nur Arifin Chaniago dan Bagas Pratama, S.Pd, cet. Pustaka Setia, 1998 M.
[2] Inilah yang kita saksikan dalam waqi' (realita) berupa munculnya para aktifis atau pegiat dakwah yang mengajak masyarakat untuk membenci dan memberontak serta melawan pemerintahnya yang mereka kafirkan menurut sangkaannya. Karenanya, mereka tak segan-segan mencela pemerintah muslim dan mencoreng nama baik mereka di mimbar, kelas, majalah, bulletin dan segala sarana yang mereka miliki. Mereka mengaku Ahlus Sunnah, padahal mereka adalah teroris-Khawarij. Kelompok ini banyak macam dan organisasinya bertebaran di sekitar kita. Karenanya, waspadalah!!
[3] Istilah "Wahhabi" hanyalah istilah dan mitos yang dimunculkan pertama kali oleh para kaum kafir orientalis Inggris untuk memberikan kesan buruk bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berjuang di Jazirah Arab (sekarang Arab Saudi), karena kaum kafir itu tidak menginginkan keberadaan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang akan siap menerapkan syari'at Islam di Jazirah Arab.

Namun anehnya, istilah dan mitos buruk itu diambil dan diadopsi oleh musuh dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari kalangan sufi alias tarekat di zaman itu demi mencoreng nama baik para ulama dan dai Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yakni Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab -rahimahullah- dan murid-muridnya. Celakanya lagi, masyarakat kita (khususnya, kaum sufi) di Indonesia juga turut mengadopsi dan mempropagandakan istilah buruk ini. Akibatnya, setiap ada yang bukan termasuk golongan sufi, maka mereka gelari dengan "Wahhabi" demi mencoreng namanya dan menjauhkan masyarakat darinya. Sungguh ini adalah makar busuk!! Semoga Allah membalas makar busuk mereka!!!
[4] Lihat At-Taqrir wa At-Tahbir (1/386) karya Ibnu Amir Al-Hajj Al-Halabiy Al-Hanafiy, I'laam Al-Muwaqqi'in (3/279) oleh Ibnul Qoyyim Ad-Dimasyqiy dan Al-Qoul As-Sadid (hal. 29) oleh As-Sa'diy.
[5] Kesesatan dan kekafiran kaum Syi'ah-Rofidhoh telah dikupas habis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- dalam Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah.
Insya Allah, suatu saat kami akan mengangkat sebagian kesesatan mereka. Ini penting, karena tampaknya mereka mulai mengarahkan taring dan jaring kesesatannya di negeri kita yang tercinta ini. Semoga Allah menggagalkan segala usaha mereka.
[6] Lihat Mu'jam Al-Maqooyis (hal. 78), Al-Mufrodaat (hal. 39), Al-Mishbah Al-Munir (1/161), Taajul Aruus (1/6857), dan Al-Mu'jam Al-Wasith (hal. 31).
[7] Lihat Tahdzib Al-Lughoh (4/243-244) karya Al-Azhariy
[8] Lihat Lisan Al-Arab (13/220), cet. Dar Shodir
[9] HR. Muslim dalam Kitab Az-Zakah, bab: Al-Hatstsu ala Ash-Shodaqoh…(no. 2348-69/5) dan Kitab Al-Ilm, bab: Man Sanna Sunnah Hasanah aw Sayyi'ah…(no. 6741-15/1).
[10] Hadits ini sering dijadikan dalil oleh para pejuang bid'ah hasanah, padahal hadits ini tak ada dalil bagi mereka. Sebab, ketika kita berbicara tentang bid'ah dalam agama, maka kaitannya dengan maknanya dalam syari'at, bukan kaitannya dengan makna bid'ah dalam bahasa Arab. Makna bid'ah dalam bahasa Arab, bid'ah adalah segala sesuatu yang diadakan tanpa contoh sebelumnya, apakah itu baik atau buruk. Adapun bid'ah dalam syari'at, yang berkaitan dengan agama, maka semuanya buruk. Jadi, bid'ah (mengada-ada) dalam agama adalah buruk dan digunakan dalam perkara yang buruk.  Seperti halnya dengan kata sunnah, bila kita berbicara tentang sunnah dalam agama, maka kaitannya dengan syariat, yakni sunnah hanya digunakan dalam perkara yang baik, bukan kaitannya dengan makna sunnah dalam bahasa. Sebab sunnah dalam bahasa memiliki makna yang lebih luas, mencakup yang baik dan buruk!! Jadi, para pejuang bid'ah hasanah tidak memiliki pegangan dalam hadits ini dan selainnya. Adapun bantahan syubhat seputar bid'ah hasanah, insya Allah akan kami ulas dalam edisi-edisi mendatang. Semoga Allah memudahkannya.
[11] HR. Bukhariy dalam Kitab Ahaadits Al-Anbiyaa', bab: Maa Dzukir an Bani Isra'il (no. 3456) dan Muslim dalam Kitab Al-Ilm, bab: Ittiba' Sunan Al-Yahud wa An-Nashoro (no. 6723-6/1) dari Abu Sa'id Al-Khudriy -radhiyallahu anhu-. Lihat Tuhfah Al-Asyroof (no. 4171) untuk takhrij selengkapnya.
[12] Lihat Al-Ihtimam bi As-Sunan An-Nabawiyyah (hal. 18) oleh  Abdus Salam bin Barjas, cet. Dar Ash-Shumai'iy, 1425 H.
[13] HR. Abu Dawud dalam Kitab As-Sunnah, bab: Fi Luzum As-Sunnah (4607), At-Tirmidziy dalam Kitab Al-Ilm, bab: Maa Jaa'a fil Akhdzi bis Sunnah wa Ijtinaab Al-Bida' (2676) dan Ibnu Majah dalam Al-Muqoddimah, bab: Ittiba' Sunnah Al-Khulafaa' Ar-Rosyidin Al-Mahdiyyin (no. 43 & 44). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Irwa' Al-Gholil (no. 2455) dan Ash-Shohihah (no. 937).
[14] Lihat Dalil Al-Falihin li Thuruq Riyadh Ash-Sholihin (2/418), tahqiq Khalil Ma'mun Syiha, cet. Dar Al-Ma'rifah, 1420 H.
[15] HR. HR. Abu Dawud dalam Kitab Ath-Thoharoh, bab: fi Al-Mutayammim Yajid Al-Maa'…(no. 338) dan An-Nasaa'iy dalam Kitab Al-Gusl wa At-Tayammum, bab: At-Tayammum li man Yajid Al-Maa' Ba'da Ash-Sholaah (no. 433). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 533).
[16] Lihat Subul As-Salam (1/362), tahqiq Muhammad Shubhi Hasan Hallaq, Dar Ibn Al-Jauziy.
[17] HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab An-Nikah, bab: At-Targhib fi An-Nikah (no. 5063), dan Muslim dalam Kitab an-Nikah, bab: Istihbab An-Nikah li man Taaqot Nafsuh ilaih… (no. 3389-5/6) dari Anas bin Malik -radhiyallahu anhu-.
[18] Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (9/133) oleh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy, dengan ta'liq Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dan Syaikh Ali bin Abdil Aziz Asy-Syibl, cet. Darus Salam, 1421 H.
[19] Ini sama dengan permasalahan membiarkan dan memanjangkan jenggot, ia adalah sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berhukum wajib, bukan berhukum sunnah yang bermakna mandub atau mustahab (dianjurkan); bila dikerjakan, maka dapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Memanjangkan jenggot bukan mandub atau mustahab, bahkan hukumnya fardhu atau wajib. Jadi, memanjangkan jenggot adalah sunnah dalam artian jalan hidup Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya dalam beragama. Mereka senantiasa memanjangkan jenggot, karena jenggot adalah thoriqoh dan syariat yang senantiasa mereka jaga. Lantaran itu, para sahabat tidaklah mencukur jenggot mereka, berbeda dengan manusia di zaman ini mereka menyelisihi sunnah yang wajib ini dengan memangkas, bahkan menggundul jenggot mereka. Gerakan pangkas jenggot seperti ini menyelisihi sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya!! [Lihat Ad-Duror Al-Muntaqo fi Tabyin Hukm I'faa' Al-Lihaa (hal. 13-55) oleh Fauzi bin Abdillah Al-Atsariy, cet. Maktabah Al-Furqon, 1422 H]
[20] Lihat Syarh Al-Kawkab Al-Munir (1/402-403) karya al-Futuhiy, cet. Ummul Quro.
[21] Lihat Syarh Sunnah (hal.59/no. 1) karya Al-Barbahariy, tahqiq Kholid bin Qosim Ar-Roddadiy, cet. Dar As-Salaf dan Dar Ash-Shumai'iy, 1421 H.
[22] Lihat Tahdzib Al-Lughoh (4/224) karya Al-Azhariy.
[23] Biasa juga disebut dengan ahlul ahwaa'.
[24] Seperti kaum Khawarij, mereka disebut ahli bid'ah alias mubtadi', karena mereka telah menyelisihi prinsip dan sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam beragama, yang menetapkan bahwa seseorang tak boleh mengkafirkan kaum muslimin, dan memberontak melawan pemerintah muslim. Tapi mereka lebih suka mengkafirkan pemerintah dan masyarakat Islam. Ini adalah penyelisihan terhadap sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Karenanya, mereka tergolong ahli bid'ah. Contoh lain, kaum Syi'ah-Rofidhoh alias Imamiyyah atau Ja'fariyyah, mereka telah menyelisihi sunnah dan prinsip agama dengan mencela, bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Padahal dalam agama seorang muslim dilarang keras mencela dan mengkafirkan para sahabat, bahkan ia harus mendoakan kebaikan dan ampunan bagi mereka. Inilah sebabnya kaum Rofidhoh disebut ahli bid'ah. Ini hanya contoh saja, walaupun kaum Khawarij dan Syi'ah masih memiliki beberapa penyelisihan lain terhadap sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang menyebabkan mereka disebut dengan ahli bid'ah.
[25] Lihat Mawqif Ahlis Sunnah wal Jama'ah min Ahlil Bida' wal Ahwaa' (1/33)
[26] Lihat Majmu' Al-Fatawa (4/180) karya Syaikhul Islam.
[27] Lihat Iqozh Al-Himam Al-Muntaqo min Jami' Al-Ulum wal Hikam (hal. 397) karya Salim bin Ied Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1419 H.
[28] Lihat Al-Mu'jam Al-Wasith (1/135) oleh Ibrahim Mushthofa, dkk, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyyah.
[29] Lihat Al-Mufrodaat (hal. 104) oleh Ar-Roghib Al-Ashfahaniy, tahqiq Muhammad Kholil Iitaniy, cet. Dar Al-Ma'rifah, 1422 H.
[30] Di kala tidak adanya pemimpin muslim diantara mereka, maka mereka meninggalkan semua firqoh dan senantiasa melazimi sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
[31] Lihat Al-Mishbah Al-Munir fi Ghorib Asy-Syarh Al-Kabir (2/186) oleh Al-Fayyumiy.
[32] HR. Al-Laalikaa'iy dalam Syarh Ushul I'tiqod Ahlis Sunnah wal Jama'ah (no. 160) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (46/409), cet. Dar Al-Fikr, 1419 H. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1/61).
[33] Lihat Al-I'tishom (3/311) karya Asy-Syathibiy, dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman, cet. Maktabah At-Tauhid, 1421 H.
[34] Ahlut Ta'thil adalah kaum yang meniadakan nama atau sifat-sifat Allah, sebagian atau keseluruhannya. [Lihat At-Tuhfah Al-Mahdiyyah Syarh Ar-Risalah At-Tadmuriyyah (hal. 45 & 151) karya Syaikh Falih bin Mahdi Alu Mahdiy Ad-Dausariy -rahimahullah-, dengan ta'liq  Abdur Rahman bin Sholih Al-Mahmud, cet. Dar Al-Wathon, 1414 H dan Qothf Al-Jana Ad-Daani Syarh Muqoddimah Risalah Ibni Abi Zaid Al-Qoirowaniy (hal. Hal. 28) karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr –hafizhahullah-  , cet. Dar Al-Fadhilah, 1423 H]
[35] Ini adalah ungkapan tentang sesuatu yang mustahil.
[36] Defenisi Salaf telah kami kupas dalam edisi sebelumnya.
[37] Sebagian orang menyangka bahwa Syaikh Al-Utsaimin mengingkari penggunaan istilah "salafiy". Padahal dalam ucapan ini, beliau gunakan kata "salafiy"!!
[38] Lihat Syarh Al-Aqidah AlWasithiyyah (1/53-54) karya Al-Utsaimin, dengan takhrij Sa'ad bin Fawwaz Ash-Shumail, cet. Dar Ibnu Al-Jauziy, 1421 H.
[39] Lihat Al-Fishol fi Al-Milal wa Al-Ahwaa' wa An-Nihal (1/198) karya Ibnu Hazm Al-Andalusiy, -Syamilah.
[40] Ahlun naql wal atsar (pengikut sunnah dan atsar) adalah nama lain bagi Ahlus sunnah wal Jama'ah sebagaimana akan datang ulasannya, insya Allah -Ta'ala-.
[41] Lihat Al-Muntaqo An-Nafis min Talbis Iblis (hal. 38).

[42] Lihat Majmu' Al-Fatawa (3/375) karya Syaikhul Islam.

[43] Lihat Mawqif Ahlis Sunnah wal Jama'ah (1/37), cet. Al-Ghuroba' Al-Atsariyyah, 1415 H.
[44] Disinilah akan muncul keheranan kita ketika adanya sebagian orang yang menggolongkan sekte Asy'ariyyah dan Maturidiyyah ke dalam lingkup Ahlus Sunnah wal Jama'ah, seperti yang dilakukan oleh dua Penulis Jama'ah Tabligh, Ustadz Adil Akhyar dan Ustadz Muslim Al Bukhori dalam sebuah buku mereka yang berjudul "Quo Vadis Mau Kemana Salafy, Hakikat Salafush Shalih", terbitan Putaka Zaadul Ma'aad, tanpa tahun.

Selain itu, di dalam buku ini, kedua Penulis tersebut memuntahkan segala kebenciannya kepada Ahlus Sunnah wal Jama'ah-Salafiyyun dengan menggelari Salafiyyun dengan "Wahhabiyyah", "Murji'ah", "Keras dan kaku", "Musyabbihah", "Mujassimah", "Antek-antek Yahudi", "Kaki Tangan Zionis", dan lainnya.
Buku ini penuh kedustaan atas dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah serta pemutarbalikan fakta sehingga memaksa kami membuat catatan khusus tentang isi buku ini sebagai bukti penyimpangan dakwah Jama'ah Tabligh. Semoga tulisan itu bisa terbit suatu saat nanti, insyaa Allah -Ta'ala-.

[45] Lihat Mawqif Ahlis Sunnah wal Jama'ah min ahlil Ahwaa' wal Bida' (1/38).

1 komentar:

  1. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi banyak muslim lainnya, amin.

    BalasHapus