Akhir Sebuah Perjalanan
Akhir Sebuah Perjalanan
oleh :
Ust. Abdul Qodir
Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Berakhirnya tahun, hendaknya menjadi ibrah (pelajaran) dan bahan
renungan bagi kaum beriman bahwa segala sesuatu yang ada di dunia memiliki awal
dan akhir.
Tumbuhan
yang ada di sekitar kita, muncul berupa tunas sampai ia menjadi pohon yang
besar, menjulang dan lebar. Akhirnya, ia punah tertelan bumi.
Bangunan
yang bermula dengan susunan bebatuan dan lainnya sampai ia berwujud rumah atau
yang lainnya. Akhirnya zaman berlalu sedikit demi sedikit sampai bangunan itu
mengalami perubahan dan kerusakan hingga ia runtuh!!
Lihatlah
kaum Tsamud yang dahulu memiliki kehebatan dan kejayaan dalam arsitektur sampai mereka membuat bangunan rumah megah di
gunung-gunung kokoh!!! Namun semuanya berujung dengan kehancuran!!!!
Kemana
peradaban manusia-manusia tempo dulu yang pernah menghiasi sejarah?!! Kini
tinggal cerita rakyat. Kalaupun masih ada yang tersisa, tinggal menunggu waktu
kehancurannya.
Begitulah
cerita kehidupan manusia di alam dunia ini. Kehidupan dunia yang fana ini
ibarat sebuah perjalanan yang akan berakhir pada batas yang telah ditentukan
oleh Allah Pencipta dan Pemilik alam semesta.
Allah
–Tabaroka wa Ta'ala- berfirman,
اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
[الحديد : 20]
"Ketahuilah
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, (kehidupan dunia) seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi
kering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu menjadi hancur. Dan di akhirat
(nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (QS. Al-Hadiid 57 : 20)
Ahli
Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fidaa'
Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
هكذا الحياة الدنيا تكون أولا شابة، ثم تكتهل، ثم تكون عجوزًا
شوهاء، والإنسان كذلك في أول عمره وعنفوان شبابه غضا طريًّا لين الأعطاف، بهي
المنظر، ثم إنه يشرع في الكهولة فتتغير طباعه وَيَنْفَد بعض قواه، ثم يكبر فيصير
شيخًا كبيرًا، ضعيف القوى، قليل الحركة، يعجزه الشيء اليسير." اهـ من تفسير
ابن كثير / دار طيبة - (8 / 24)
"Demikianlah
kehidupan dunia. Pertama, ia muda belia, lalu dewasa, berikut menjadi tua renta.
Manusia juga demikian di awal umur dan kedewasaannya berupa manusia yang segar
bugar lagi lembut anggota-anggota badannya, indah rupanya. Kemudian ia mulai
menua seraya terjadi perubahan pada pembawaannya dan hilanglah sebagian
energinya. Setelah itu, ia terus menua sampai menjadi tua renta lagi lemah
tenaganya, berkurang gerakannya. Ia tak mampu lagi melakukan sesuatu yang
ringan". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/24),
cet. Dar Thoybah]
Kehidupan
dunia ini adalah kehidupan yang fana dan sementara. Banyak diantara kita yang
tak menyadari hal itu atau bermasa bodoh seakan-akan ia adalah anak-anak dunia
yang akan terus abadi bermain dan bersenda gurau di atasnya.
Dunia
yang penuh perhiasan yang indah lagi hijau ini melalaikan mata dan hati mereka
dari hakikat dunia yang akan hancur berantakan.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengingatkan
kita dalam sabdanya,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ
خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا
الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ
فِي النِّسَاءِ
"Sesungguhnya
dunia itu manis lagi hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai
kholifah di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Lantaran
itu, waspadailah dunia, dan waspadailah wanita, sebab awal fitnah (masalah) di
kalangan Bani Isra'il adalah pada wanita". [HR. Muslim dalam Adz-Dzikr wa Ad-Du'a'
(no.6883)]
Manusia
yang lalai ini betul-betul lalai mempersiapkan bekal perjalanan hakikinya
menghadap Allah Robbul alamin.
Dia
pun bergumul dengan berbagai warna-warni maksiat mulai dari berjudi, bermain
perempuan, makan riba, menzholimi orang.
Sebagian
anak-anak dunia lalai melakukan amal sholih sebagai tabungannya. Mungkin saja
ia jauh dari maksiat, namun ia lalai mengisi hari-harinya dengan amal sholih
dan ketaatan, sehingga lembaran pahalanya blank (kosong) dari
catatan-catatan kebaikan.
Hari-harinya
hanya diisi dengan amalan sia-sia yang tiada guna. Ia memiliki angan-angan yang
panjang sehingga ia menunda-nunda waktunya berbuat baik dan bertobat sampai
dijemput ajal yang akan merenggut segalanya.
Ali
bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu-, ia
berkata,
ارْتَحَلَتْ
الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا
بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا
فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
"Dunia
akan pergi berlalu dan akhirat akan datang menjelang, sedang setiap dari
keduanya memiliki anak-anak. Karenanya, jadilah kalian anak-anak akhirat, dan
janganlah menjadi anak-anak dunia!! Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah
beramal, tanpa pembalasan. Namun esok (di akhirat) ada pembalasan dan tak lagi
beramal". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya,
bab: fil amal wa tuulih (1/3220) secara mu'allaq, Ibnul
Mubarok dalam Az-Zuhd (no. 255), Ahmad dalam Az-Zuhd
(hal. 130), Ibnu Abid Dun-ya dalam Qishorul Amal (no. 49), Abu
Nu'aim dalam Al-Hilyah (1/76), Al-Baihaqiy dalam Syu'abul
Iman (no. 10130)]
Seorang
mukmin harus selalu menyibukkan dirinya dengan ibadah dan ketaatan, segera bertobat bila ia durhaka, jangan terlalu sibuk
dengan dunia sampai ia meninggalkan kewajiban-kewajiban syariat, sebab
perjalanan menuju akhirat adalah sebuah kepastian!!
Janganlah
seseorang terhalang dari semua itu dengan sebab angan-angan panjangnya yang
selalu membisikinya, "Waktu masih panjang, Allah itu Maha Pemurah lagi
Maha Pengampun…Nantilah kau bertobat…Nantilah kau beramal".
Al-Hafizh
Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah-
berkata saat mengomentari atsar Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu-,
"ويتولد من طول الأمل الكسل عن الطاعة، والتسويف بالتوبة،
والرغبة في الدنيا، والنسيان للآخرة، والقسوة في القلب، لأن رقته وصفاءه إنما يقع
بتذكير الموت والقبر والثواب والعقاب وأهوال القيامة." اهـ من فتح الباري- تعليق
ابن باز - (11 / 237)
"Akan
lahir dari angan-angan panjang, perasaan malas dari ketaatan, menunda-nunda
tobat, cinta dunia, lupa akhirat dan kerasnya hati. Karena, kelembutan dan
kejernihan hati hanyalah terjadi dengan mengingat mati, kuburan, pahala,
siksaan dan huru-hara di hari kiamat".
[Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (11/237), cet. Darul
Fikr]
Seorang
harus menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan untuk mengambil dan
mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Karenanya,
seseorang bila berada di waktu pagi, janganlah berangan-angan bahwa akan hidup
di waktu sore. Sebaliknya, bila ia hidup di waktu sore, maka janganlah
berangan-angan bahwa umurnya masih panjang sampai waktu pagi.
Abdullah bin Umar -radhiyallahu
anhu- berkata,
أَخَذَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ جَسَدِي فَقَالَ كُنْ فِي
الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ فِي أَهْلِ
الْقُبُورِ، فَقَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: إِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ
بِالْمَسَاءِ وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالصَّبَاحِ وَخُذْ
مِنْ صِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ فَإِنَّكَ لَا
تَدْرِي يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا اسْمُكَ غَدًا
"Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- pernah memegang sebagian anggota badanku seraya
bersabda, "Jadilah di dunia seakan-akan engkau orang asing, atau musafir
yang melintasi jalan, anggaplah dirimu dalam golongan penghuni kubur". Ibnu
Umar berkata kepadaku (yakni, rawi hadits), "Bila engkau berada di waktu
pagi, maka janganlah engkau membisiki jiwamu tentang adanya waktu sore. Bila
engkau berada di waktu sore, maka janganlah engkau membisiki jiwamu tentang
adanya waktu pagi. Karena, sesungguhnya engkau tak tahu apa sebutanmu di hari
esok, wahai Abdullah". [HR. Al-Bukhoriy (6416), At-Tirmidziy (2333)
dan Ibnu Majah (4114)]
Al-Imam
Abu Zakarriyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy
-rahimahullah- berkata,
وقال النووي رحمه الله : "معنى الحديث : لا تركن إلى
الدنيا ولا تتخذها وطنا ولا تحدث نفسك بالبقاء فيها ولا تتعلق منها بما لا يتعلق
به الغريب في غير وطنه انتهى." اهـ من تحفة الأحوذي - (6 / 515)
"Maknanya
hadits ini, janganlah engkau condong kepada dunia dan janganlah menjadikannya
sebagai kampung halaman (yakni, terminal akhir) serta janganlah membisiki
jiwamu untuk tetap tinggal padanya dan janganlah bergantung dari dunia pada
sesuatu yang tak bergantung dengannya seorang asing (musafir) di selain
kampungnya". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy
(6/515) karya Al-Mubarokfuriy, cet. Darul Kutub]
Di
dalam hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memperumpamakan
seorang hamba yang berjalan menuju akhirat dengan "seorang yang asing" atau "seorang musafir yang melintasi jalan".
Ia
diserupakan dengan "orang asing", sebab orang asing biasanya kurang terbuka di hadapan
manusia, bahkan ia merasakan kurangnya kedekatan dengan mereka.
Karena,
hampir-hampir ia tak melewati orang yang ia kenal, sehingga ia pun merasa dekat
dengannya dan lebih banyak bergaul dengannya. Jadi, ia merasa rendah lagi
khawatir.
Adapun
ia diserupakan dengan "musafir
yang melintasi jalan",
sebab seorang musafir tak akan berlalu dalam safarnya, kecuali karena ia mampu
bersafar dan ringan dari segala beban, tanpa bergantung kepada sesuatu yang
menghalanginya dari menempuh safarnya. Bersamanya, ada bekal dan tunggangan
yang akan menyampaikannya ke tujuan. [Lihat Fathul Bari (11/234)]
Ini
semua menunjukkan bahwa seorang hamba dalam dunia ini harus lebih mengutamakan
sikap zuhud (perendahan) terhadap dunia dan mengambil bekal dan rezeki dari
dunia dengan sekadarnya.
Jika
seorang musafir tak butuh kepada bekal (harta) yang melebihi kadar yang dapat
menyampaikannya kepada tujuan, maka seorang mukmin pun dalam perjalanan
kehidupannya menuju akhirat tak butuh kepada bekal (harta) yang melebihi kadar
yang dapat menyampaikannya ke tempat tujuan (yakni, surga).
Sebab
jika ia mengambil lebih dari itu, maka ia akan tersibukkan dengannya dan lalai dari
maksud atau ia akan capek, bahkan binasa sebelum sampai tujuan. [Lihat Syarah
Shohih Al-Bukhoriy (10/148-149) karya Abul Hasan Ibnu Bathhol Al-Qurthubiy,
dengan tahqiq Abu Tamim Yasir bin Ibrahim, cet. Maktabah Ar-Rusyd, 1423
H]
================================================
DUKUNG
KAMI :
Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I POLMAN
SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.
"Siapa yg membangun sebuah masjid karena
Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".[HR. Al-Bukhori &
Muslim]
#
Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim
sebagian rezki anda melalui :
BRI.0259-01-035305-50-9
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
atau :
Rek BNI No; 0507-4673-45
atas nama Masjid Imam Syafi'i Polman
Kontak Person :
0852-3091-8001 (Saudara Mu'in)
0813-5595-4435 (Saudara Abdullah Majid)
0813-4370-0400 (Saudara Arif)
Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
================================================

Komentar
Posting Komentar