Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama
Bantahan
Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat
yang
Menganggap Zakat Fitri dengan Beras
tidak
Memiliki Dasar dalam Agama
oleh
_Ustadz
Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc._
-hafizhahullah-
Ustadz Adi Hidayat adalah seorang dai yang terkenal
melalui media sosial, seperti YOUTUBE dan lainnya.
Ia merupakan salah satu “figur” yang banyak
digandrungi oleh kaum muda di Indonesia, dan seringkali mengisi acara-acara
ceramah dan khutbah di berbagai tempat di nusantara ini.
Belakangan ini, ia mengeluarkan pernyataan kontroversial
dalam membela maulid sampai lisannya terpeleset dalam masalah takfir (pengafiran)
bagi mereka yang menyatakan bid’ahnya maulid, semata-mata karena Sang Ustadz ingin
membela maulid dan para pelakunya. [ https://goo.gl/cgt6mh ]
Kali ini, kami tidak akan menanggapi masalah takfir tersebut.
Kami hanya akan menyoroti istidlal (pengambilan dalil) yang dilakukan
oleh sang ustadz berdasarkan logikanya.
Logika
Sang Ustadz menyatakan bahwa kalau maulid itu memang bid’ah, dengan alasan
tidak ada di zaman Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-, maka berarti
zakat dengan beras juga bid’ah dong, karena juga tidak ada di zaman kenabian.
|
Pendalilan logika yang dilakukan oleh Sang Ustadz adalah
pendalilan keliru, karena ia telah melakukan qiyas bathil dalam
menyamakan antara bermaulid dengan berzakat dengan menggunaka beras.
Kebatilan qiyas yang dilakukan oleh Sang Ustadz amat
terang bagi setiap penuntut ilmu, dan sebenarnya hal ini sekalipun tidak
dijelaskan, maka jelas perkaranya di depan para thullabul ilmi (penuntut
ilmu).
Hanya saja hal ini harus kita terangkan, karena banyak
diantara saudara-saudara kita yang ikut mendengarkan dan menyaksikan ceramah
Sang Ustadz, namun mereka tidak mengerti kebatilan ucapan Sang Ustadz Adi
Hidayat.
Benarkah ZAKAT DENGAN BERAS tidak ada di zaman Nabi –shollallohu
alaihi wa sallam-?
Memang para sahabat tidaklah mengeluarkan zakat fitri
mereka dengan menggunakan beras.
Namun bukan berarti bahwa mengeluarkan zakat fitri dengan
beras tidak memiliki dasar dalam agama!
Kita cermati hadits-hadits berikut :
Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-
berkata,
كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ
"Kami mengeluarkan
zakat fitrah pada zaman Rasulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan satu
sho’ bahan makanan.”
Dalam sambungan riwayat di atas, Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu
‘anhu- berkata,
وَكَانَ طَعَامَنَا : الشَّعِيرُ
وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ
“Yang menjadi makanan pokok kami
adalah gandum, kismis (anggur kering), keju, dan kurma.” [HR.
Bukhariy dalam Shohih-nya (1510), dan Muslim (985)]
Di dalam riwayat yang lain, Abu Sa’id Al-Khudriy –radhiyallahu
anhu- berkata,
«كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا
مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ
صَاعًا مِنْ أَقِطٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ»
“Dulu kami mengeluarkan zakat fitri sebanyak
satu sho’ makanan, atau satu sho’ gandum, atau satu sho’ kurma kering, atau
satu sho’ keju, atau sho’ kismis.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(1506) dan Muslim dalam Shohih-nya
(17/no. 985)]
Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan
zakat fitrah, sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan
sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” [HR.
Abu Dawud (no. 1609) dan Ibnu Majah (no. 1827). Dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy
dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (no. 1818)]
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat dalam
mengeluarkan zakat fitri, mereka mengeluarkan zakat berupa makanan pokok yang
ada pada masa itu berupa kurma, kismis, gandum, dan keju.
Andaikan mereka mengenal BERAS pada masa itu
sebagai makanan pokok dalam kebiasaan hidup mereka, maka pasti Nabi -shollallohu
‘alaihi wa sallam- akan memerintahkan mereka membayar zakat fitri dengan beras.
Karena, inti dari zakat fitri adalah sebagai makanan
pokok yang mereka nikmati pada hari raya.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah –rahimahullah- berkata setelah menyebutkan jenis-jenis
makanan pokok para sahabat di dalam hadits-hadits tersebut, beliau berkata,
وهذه كانت غالب أقواتهم بالمدينة فأما أهل بلد أو محلة
قوتهم غير ذلك فإنما عليهم صاع من قوتهم كمن قوتهم الذرة أو الأرز أو التين أو غير
ذلك من الحبوب ، فإن كان قوتهم من غير الحبوب ، كاللبن واللحم والسمك أخرجوا
فطرتهم من قوتهم كائنا ما كان ، هذا قول جمهور العلماء ، وهو الصواب الذي لا يقال
بغيره ، إذ المقصود سد حاجة المساكين يوم العيد ومواساتهم من جنس ما يقتاته أهل
بلدهم ، وعلى هذا فيجزئ إخراج الدقيق وإن لم يصح فيه الحديث ". اهـ
“Ini adalah makanan-makanan pokok yang
dominan pada mereka di Kota Madinah. Adapun penduduk negeri atau kampung yang
makanan pokoknya selain itu, maka hanyalah (wajib) atas mereka satu sho’
dari makanan pokok mereka , seperti orang-orang yang makanan pokoknya
adalah jagung, atau beras, atau buah tin, atau yang lainnya berupa
bebijian. Jika makanan pokok mereka adalah dari selain biji-bijian, seperti
susu, daging, dan ikan, maka mereka mengeluarkan zakat fitri mereka dari
makanan pokok mereka itu, apapun bentuknya! Ini adalah pendapat jumhur
(mayoritas) ulama. Inilah pendapat yang benar yang tidak boleh dinyatakan
selainnya. Sebab maksud (dari zakat fitri itu) adalah menutupi kebutuhan kaum
miskin (berupa makanan) pada raya, serta membantu mereka dengan jenis makanan
pokok yang dikonsumsi oleh penduduk negeri mereka. Karena ini, sah mengeluarkan
tepung (sebagai zakat fitri jika menjadi makanan pokok), walaupun tidak shohih
suatu hadits tentangnya.” [Lihat I’lam Al-Muwaqqi’in
(3/18), karya Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah, cet. Dar Al-Kutub Al’Ilmiyyah, 1411 H]
Apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim sejalan dengan
penjelasan Syaikhul Islam –rahimahullah- saat beliau berkata dalam menguatkan
pendapat itu,
يُخْرِجُ مَا يَقْتَاتُهُ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ هَذِهِ
الْأَصْنَافِ. وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ: كَالشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِ.
وَهُوَ أَصَحُّ الْأَقْوَالِ؛
فَإِنَّ الْأَصْلَ فِي الصَّدَقَاتِ أَنَّهَا تَجِبُ عَلَى
وَجْهِ الْمُسَاوَاةِ لِلْفُقَرَاءِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {مِنْ أَوْسَطِ مَا
تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ} .
وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ
زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ؛ لِأَنَّ هَذَا
كَانَ قُوتَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَلَوْ كَانَ هَذَا لَيْسَ قُوتَهُمْ بَلْ
يَقْتَاتُونَ غَيْرَهُ لَمْ يُكَلِّفْهُمْ أَنْ يُخْرِجُوا مِمَّا لَا يَقْتَاتُونَهُ
كَمَا لَمْ يَأْمُرْ اللَّهُ بِذَلِكَ فِي الْكَفَّارَاتِ. وَصَدَقَةُ الْفِطْرِ
مِنْ جِنْسِ الْكَفَّارَاتِ هَذِهِ مُعَلَّقَةٌ بِالْبَدَنِ وَهَذِهِ مُعَلَّقَةٌ
بِالْبَدَنِ بِخِلَافِ صَدَقَةِ الْمَالِ فَإِنَّهَا تَجِبُ بِسَبَبِ الْمَالِ
مِنْ جِنْسِ مَا أَعْطَاهُ اللَّهُ." اهـ من مجموع الفتاوى (25/ 68)
“Seseorang mengeluarkan sesuatu yang ia
jadikan sebagai makanan pokok, walaupun ia bukan termasuk dari jenis-jenis ini.
Ini adalah pendapat kebanyakan ulama, seperti Asy-Syafi’iy, dan selainnya. Ini
merupakan pendapat yang paling benar. Karena, hukum asal pada sedekah (zakat
fitri) bahwa ia wajib sebagai bentuk bantuan bagi kaum fakir, sebagaimana yang
Allah –ta’ala- katakan (tentang kaffaroh), “…dari sebaik-baik apa yang kalian
beri makan kepada keluarga kalian.”
Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-telah
mewajibkan zakat fitri sebanyak satu sho’ kurma, atau satu sho’ gandum. Karena,
makanan ini adalah makanan pokok penduduk Madinah.
Andaikan makanan ini (yakni, kurma atau
gandum) bukanlah makanan pokok mereka, maka
pasti tidak akan membebani para sahabat untuk mengeluarkan sesuatu yang tidak
mereka biasa jadikan sebagai makanan pokok, sebagaimana halnya Allah tidak
memerintahkan mereka dengan hal itu dalam kaffaroh-kaffaroh.
Zakat fitri sama jenisnya dengan kaffaroh.
Ini (yakni, zakat fitri) terkait dengan badan, sedang yang ini (kaffaroh) juga
terkait dengan badan. Lain halnya dengan zakat maal (harta). Karena, zakat maal
wajib karena (adanya) harta, (diambil zakat maal itu) dari jenis sesuatu Allah
berikan kepadanya.” [Lihat
Majmu’ Al-Fatawa (25/68)]
Apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim –rahimahullah-
dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam –rahimahullah- merupakan pendapat yang
lurus berdasarkan lahiriah hadits-hadits di atas. Sebab, di dalam hadits-hadits
itu, disebutkan kata “makanan” (طَعَامٌ) .
Tentunya kata “makanan” mencakup semua jenis makanan,
baik makanan pokok yang mereka kenal pada masa itu, atau pun yang lainnya.
Andaikan manusia (baik dari kalangan bangsa Arab atau
selainnya) berubah pola makan mereka, dimana dahulu mereka memakan gandum atau
kurma, lalu pada hari ini mereka mengonsumsi beras, maka pasti para ulama
membolehkan mereka mengeluarkan zakat fitri dengan menggunakan makanan pokok
yang bernama beras, dan tidak akan ada yang menyatakan itu adalah bid’ah.
Ketika Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah-
menguatkan pendapat jumhur ulama yang membolehkan untuk mengeluarkan zakat dari
selain yang ada pada masa kenabian, beliau berkata,
"وهذا هو الصواب ؛ لأن الزكاة مواساة من
الأغنياء للفقراء ، ولا يجب على المسلم أن يواسي من غير قوت بلده . ولا شك أن
الأرز قوت في بلاد الحرمين وطعام طيب ونفيس ، وهو أفضل من الشعير الذي جاء النص
بإجزائه. وبذلك يعلم أنه لا حرج في إخراج الأرز في زكاة الفطر".
“Ini yang benar. Karena, zakat itu adalah
bantuan dari orang-orang kaya bagi kaum fakir, dan tidak wajib bagi seorang
muslim untuk membantu dengan selain makanan pokok negerinya.. Tidak ragu lagi
bahwa BERAS adalah makanan pokok di dua tanah suci (Makkah dan Madinah), dan ia
adalah makanan yang baik lagi berharga. Beras lebih afdhol (utama) dibandingkan
dengan gandum yang telah datang nash tentang cukupnya (sahnya membayar zakat
fitri dengannya). Dengan itu, diketahuilah bahwa tidak masalah dalam
mengeluarkan beras dalam zakat fitri.” [Lihat Majmu’ Fatawa
wa Rosa’il Mutanawwi’ah (14/200) karya Syaikh Ibnu Baz]
Pendapat ini pula yang didukung oleh Al-Allamah
Faqihuz Zaman, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rahimahullah-
saat beliau berkata,
"والصحيح أن كل ما كان قوتاً من حب وثمر
ولحم ونحوها فهو مجزئ "اهـ
“Pendapat yang benar bahwa semua yang
menjadi makanan pokok berupa biji-bijian, buah-buahan, daging, dan sejenisnya,
maka ia mencukupi (yakni, dalam zakat fitri).” [Lihat
Asy-Syarh Al-Mumti’ (6/183)]
Pendapat ini semakin meyakinkan kita bahwa praktik nyata
di Saudi bahwa penduduk Saudi sekarang ini yang hampir dikata semuanya telah
menjadikan BERAS sebagai manakan pokok, sehingga mereka juga mengeluarkan zakat
dengan beras.
Sekalipun demikian, tidak ada diantara ulama zaman yang
mengingkari hal itu dan menyatakan bahwa zakat dengan beras tidak ada dasarnya.
Kesimpulan :
1. Zakat fitri di zaman kenabian adalah dengan menggunakan kurma, gandum,
kismis, dan keju. Karena, itulah makanan pokok yang ada dalam keseharian
mereka. Itulah makanan pokon yang ada dalam kebiasaan mereka.
2. Mayoritas ulama menyatakan bolehnya mengeluarkan zakat
fitri dengan beras dan lainnya (selain yang ada di zaman kenabian), dan itulah
pendapat yang terkuat, terlebih lagi mereka yang menjadikan beras dan
sejenisnya sebagai makanan pokok.
3. Tidak ada diantara ulama yang menyatakan bid’ahnya
mengeluarkan zakat dengan beras. Kalaupun ada, maka itu adalah pendapat yang
marjuh (tertolak). Karena, di dalam hadits Abu Sa’id bahwa para sahabat
mengeluarkan zakat dalam bentuk “makanan”, yang dengan keumumannya ia mencakup
kurma, beras, dan lainnya.
4. Dengan ini, tampak bagi anda dengan terang tentang
kebatilan pernyataan Ust. Adi Hidayat yang menyamakan antara maulid yang tidak
ada dasar dan pijakannya dalam agama, dengan mengeluarkan zakat berupa beras (yang
merupakan perkara yang ditopang oleh dalil-dalil berupa hadits-hadits yang
telah kami nukilkan).
====================================
DUKUNG
KAMI
Dalam
membantu pembangunan
MASJID DAR AL-FALAH,
milik Ahlus Sunnah Pampang,
Makassar.
"Siapa
yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana
baginya di surga".
[HR.
Al-Bukhori & Muslim]
#
Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim
sebagian rezki anda melalui :
Rekening
BANK MANDIRI
atas
nama
Yayasan
Dar Al Falah
No.
Rekening : 1740000532291
Kontak
Person :
PANITIA
PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)
Jazakumullohu
khoiron atas sumbangsih dan doanya.
NB :
Lokasi
Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar.

Barokallahu fiik, syukron atas pencerahannya
BalasHapusTerima kasih atas pencerahanya pak ustad.
BalasHapusBarakallahu fiik
BalasHapusBarakallahu fiik
BalasHapus