Sabtu, 02 Desember 2017

Selangit Pahala dan Keutamaan bagi Mereka yang Membangun Masjid



Selangit Pahala dan Keutamaan
bagi Mereka yang Membangun Masjid

(Keutamaan Membangun Masjid)

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-

Ketika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- terusir dari kota Makkah, lalu berhijrah ke Madinah, maka amal islami yang pertama kali dilakukan oleh beliau adalah membangun Masjid.

Karenanya, para sejarawan Islam menetapkan bahwa Masjid pertama dalam Islam adalah Masjid Quba' yang terletak di pinggiran Kota Madinah sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam As-Siroh An- dan Nabawiyyah (2/293), As-Suhailiy dalam Ar-Roudh Al-Unuf (2/331) Muhammad Ibn Abdil Wahhab An-Najdiy dalam Mukhtashor As-Siroh (hal. 192).

Sebuah pertanyaan besar akan muncul dalam benak kita, "Kenapa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat memperhatikan dan lebih mengutamakan pembangunan masjid?"

Karena, masjid adalah rumah yang mengumpulkan manusia dalam berbagai macam jenis ibadah, tempat berkumpulnya para ulama dan penuntut ilmu, tempat persinggahan para ibnu sabil yang kehabisan bekal, tempat tinggal sementara bagi kaum muslimin yang melakukan hijrah di jalan Allah.

Intinya, masjid adalah pusat ibadah, ilmu, muamalah antara satu muslim dengan muslim lainnya. Dari masjidlah, lahir para ulama. [Lihat Al-Masyru' wal Mamnu' fi Al-Masjid (hal. 7-10) oleh Muhammad Ibnu Ali Al-Arfaj]

Selain itu, membangun masjid adalah bukti keimanan seorang muslim.

Karena, seorang muslim tidak mungkin akan mencapai ketaqwaan dan kebajikan yang sempurna, sampai ia mengorbankan dan menginfaqkan sebagian hartanya.

Allah -Ta'ala- berfirman,  
{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ} [آل عمران: 92]
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya". (QS. Ali Imraan : 92)

Ketika mendengarkan ayat ini turun, para sahabat -radhiyallahu anhum- (seperti, Umar, Abdullah bin Umar, Abu Tholhah, Zaid bin Haritsah dan lainnya) berlomba-lomba mengeluarkan hartanya di jalan Allah.

Jangankan harta, nyawa pun siap jadi taruhan demi kejayaan Islam. Semua ini, menjadi bukti terbesar atas kuatnya keimanan para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Karenanya, jadikanlah mereka sebagai panutan dalam sisi pengorbanan harta dan nyawa di jalan Allah. [Lihat Ad-Durr Al-Mantsur (2/260-261), cet. Dar Al-Fikr]

Tidak mungkin ada pembangunan masjid, melainkan di dalamnya dibutuhkan pengorbanan harta dari kaum muslimin sebagai bukti ketaqwaannya kepada Allah -Azza wa Jalla-!!

Membangun masjid dan membantu dalam hal itu, baik dengan tenaga, pikiran, waktu dan harta, semuanya termasuk dalam kategori memakmurkan masjid.

Allah memuji kaum beriman yang gemar memakmurkan masjid,
{ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ} [التوبة: 18]
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. At-Taubah: 18)


Diantara bentuk memakmurkan masjid adalah membangun masjid dan menjaganya serta meramaikannya dan menggalakkannya dengan berbagai macam bentuk ibadah, seperti : sholat, berdzikir, berdoa, bermajelis ilmu, membaca al-Qur'an, saling tanasuh (memberi nasihat) dan memperkuat ukhuwah dan silaturahim.

Al-Imam Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"وفي المراد بالعِمارة قولان:
أحدهما : دخوله والجلوس فيه. والثاني : البناء له وإصلاحه. فكلاهما محظور على الكافر." اهـ من زاد المسير في علم التفسير (2/ 242)
"Dalam hal memakmurkan masjid, terdapat dua pendapat. Salah satunya, masuk masjid dan duduk di dalamnya. Kedua, membangun masjid dan memperbaikinya. Nah, kedua hal itu terlarang bagi orang kafir". [Lihat Zadul Masir (3/158)]

Para pembaca yang budiman, ketika kita membangun masjid, maka masjid itu janganlah menjadi sarang laba-laba dan jangkrik saja; dalam artian bahwa usai masjid dibangun, tidak ada yang menghuni dan mendatanginya, melainkan serangga-serangga yang tak berdosa.

Masjid haruslah diramaikan dengan berbagai macam ibadah yang disyariatkan dan dipenuhi dengan majelis-majelis ilmu.

Jangan menjadikan masjid hanya ibarat warung kopi yang ditempati ngobrol tak karuan, bahkan meng-ghibah orang lain.

Masjid kita isi dengan berbagai kebaikan, bukan menjadikannya ibarat pasar dan arena bermain bagi anak-anak; di dalamnya suasana tak tenang dan penuh suara tertawa, dan baku kejar serta berbicara dengan suara lantang!!

Seyogyanya masjid kita mulikan dengan ibadah dan ilmu sebagai bentuk dan bukti keberimanan kita kepada Allah dan Hari Akhir, serta tanda takutnya kita kepada-Nya.

Jangan sebaliknya melakukan perkara-perkara yang menyelisihi semua itu, seperti perkara-perkara yang kami sebutkan di atas atau menjadikan masjid sebagai lokasi pekuburan dan sebaliknya.

Ulama Negeri Yaman, Al-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata ketika mengomentari sifat-sifat orang yang memakmurkan masjid di dalam ayat itu,
"فَمَنْ كَانَ جَامِعًا بَيْنَ هَذِهِ الْأَوْصَافِ فَهُوَ الْحَقِيقُ بِعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ، لَا مَنْ كَانَ خَالِيًا مِنْهَا أَوْ مِنْ بَعْضِهَا." اهـ من فتح القدير للشوكاني (2/ 393)
"Barangsiapa yang mengumpulkan sifat-sifat ini, maka dialah orang yang lebih pantas memakmurkan masjid-masjid, bukan orang yang kosong dari sifat-sifat itu atau sebagiannya". [Lihat Fath Al-Qodir (2/393), karya Asy-Syaukaniy, cet. Dar Ibni Katsir & Dar Al-Kalim Ath-Thoyyib, 1414 H]

Para pembaca yang budiman, keutamaan membangun masjid, bukan hanya sebatas sampai disitu, bahkan pelakunya akan mendapatkan istana yang amat indah di dalam surga sebagai rumah kebanggaan yang ia dapatkan dari jerih payah dan pengorbanannya ketika di dunia.

Ketika sahabat Utsman bin Affan –radhiyallahu anhu- memperluas bangunan Masjid Nabawi sehingga terjadi perubahan bentuk dan luas, maka sebagian manusia berkomentar saat itu.

Lalu Utsman -radhiyallahu anhu- berkata,
"Sesungguhnya kalian telah banyak memberi komentar atas diriku, padahal aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى َبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, sedang ia mencari wajah Allah dengannya, maka Allah akan bangunkan baginya istana di dalam surga". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (450) dan Muslim (1189)]

Inilah balasan bagi seorang muslim yang menginfaqkan sebagian hartanya di jalan Allah.

Balasannya adalah sebuah istana yang sangat indah dan lebih luas dibandingkan rumahnya ketika di dunia.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا فَإِنَّ اللَّهَ يَبْنِي لَهُ بَيْتًا أَوْسَعَ مِنْهُ فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya sebuah rumah yang lebih luas dibandingkan masjid itu dalam surga". [HR Ahmad dalam Al-Musnad (26330) dari Asmaa' binti Yazid. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 237) ]

Masjid yang dibangun oleh seseorang, hendaknya dibangun untuk tujuan yang benar, yaitu untuk mengingat dan menyebut nama Allah, baik itu berupa sholat, dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, atau bermajelis ilmu.

Masjid bukanlah untuk menyebut-nyebut dan meninggikan nama seseorang.

Oleh karena itu, sebagian ulama memandang bahwa membangun masjid dengan menggunakan nama si pembangun sebagai nama masjid, maka hal itu merupakan tindakan yang jauh dari keikhlasan.

Masjid hanyalah dibangun demi mengingat Allah -Azza wa Jalla-.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun sebuah masjid yang disebut nama Allah padanya, maka Allah akan bangunkan baginya sebuah rumah dalam surga". [HR. Ibnu Majah (735). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Mukhtaroh (no. 234)]

Abul Faroj Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"مَنْ كَتَبَ اسْمَهُ عَلَى الْمَسْجِدِ الَّذِي بَنَاهُ كَانَ بَعِيدًا مِنَ الْإِخْلَاصِ." اهـ من حاشية السندي على سنن ابن ماجه (1/ 249)
"Barangsiapa yang menulis namanya pada masjid yang ia bangun, maka ia adalah orang yang jauh dari keikhlasan". [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Ibn Majah (2/142)]

Jadi, syarat seseorang mendapat istana indah dalam surga, ketika ia membangun masjid, maka ia harus mengikhlaskan dan membenarkan niatnya, semata-mata karena ingin mendapatkan pahala dan kebaikan di sisi Allah.

Jangan seperti sebagian para politikus sial yang sibuk membangun masjid kesana-kemari, tapi kata orang, "Ada udang di balik batu", yakni punya niat buruk di balik perbuatannya.

Tujuannya agar ia mendapatkan perhatian dan dukungan dari masyarakat sehingga ia mampu mendapatkan kursi dan kekuasaan yang akan menyeretnya ke neraka!!

Dia hanya ingin riya' (diperhatikan) dan sum'ah (didengar) sehingga ia mendapatkan pujian dan berbangga dengan amalan semunya!!!

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لاَ يُرِيْدُ بِهِ رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً، بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun suatu masjid, sedang ia tidak menginginkan dengannya riya' dan sum'ah, maka Allah akan bangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (8/5/7001). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3399)]

Para pembaca budiman, Membangun masjid adalah perkara yang membutuhkan ta'aawun (kerja sama) antara seorang muslim dengan muslim lainnya, karena membangun masjid memerlukan dana, pikiran dan tenaga.

Sekecil apapun sumbangsih seseorang dalam pembangunan masjid, walaupun sekecil sarang burung, maka pasti ia akan mendapatkan pahalanya yang berlipat ganda.

Nah, bagaimana lagi bila ia yang menanggung separuh biaya pembangunan, atau bahkan keseluruhannya. Pasti balasannya akan lebih besar lagi!!

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة
"Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun seperti (besarnya) sarang burung atau lebih kecil lagi, niscaya Allah akan bangunkan baginya istana di dalam surga". [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (738). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (no. 6128)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,
"وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى دُخُولِ فَاعِلِ ذَلِكَ الْجَنَّةَ إِذِ الْمَقْصُودُ بِالْبِنَاءِ لَهُ أَنْ يَسْكُنَهُ وَهُوَ لَا يسكنهُ إِلَّا بعد الدُّخُول وَالله أعلم". اهـ من فتح الباري لابن حجر (1/ 707)
"Di dalamnya terdapat isyarat tentang akan masuknya pelaku hal itu ke dalam surga. Sebab, maksud dibuatkannya istana dalam surga, supaya ia menempatinya. Nah, tentunya ia tak akan menempatinya, kecuali setelah ia masuk, wallahu a'lam". [Lihat Fathul Bari (1/707)]

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa berinfaq dalam membangun masjid (sedikit atau banyak), semua itu akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan senantiasa mengalir kepada kita, walaupun kita sudah berada di alam kubur.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ :
عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ_وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ_وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ_أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ_ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ_أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ_أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
"Sesungguhnya diantara sesuatu yang akan sampai kepada seorang mukmin berupa amalnya dan kebaikannya setelah ia mati, yaitu :
ilmu (ilmu wahyu dan agama) yang ia ajarkan dan sebarkan, atau anak yang sholih yang ia tinggalkan, atau mush-haf (Al-Qur'an) yang ia wariskan, atau masjid yang bangun atau rumah untuk ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal sebelum sampai tujuan) yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan hidup. (Semua) itu akan sampai (pahalanya) kepadanya". [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (242). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ahkam Al-Jana'iz (hal. 177)]

Di dalam riwayat lain, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
سَبْعٌ يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِيْ قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ كَرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
"Ada tujuh perkara yang mengalir pahalanya kepada seorang hamba, sedang ia berada di dalam kuburnya setelah ia mati: orang yang mengajarkan ilmu (yakni, ilmu agama), atau ia menggali (membuat) sungai, atau menggali sumur, atau ia menanam pohon kurma, atau ia membangun masjid, atau ia mewariskan mush-haf (Al-Qur’an), atau ia meninggalkan seorang anak yang memohonkan ampunan baginya setelah ia mati". [HR. Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhor (7289) dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah  (2/344) serta Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (3175). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 73)]

Inilah amalan yang dibutuhkan oleh seseorang selama ia terpendam dalam kuburnya; ia butuh kepada pahala amalan yang pernah ia kerjakan, bukan kepada makanan dan minuman.

Syaikh Athiyyah Shoqr Al-Mishriy -rahimahullah- berkata,
"إن أحوال القبر والحياة الآخرة من أمور الغيب التى لا تعرف إلا بتوقيف صحيح من الله ورسوله، والميت إذا وضع فى قبره صار فى عالم آخر لا يحتاج فيه إلى أكل وشرب، وإنما يحتاج إلى عمل صالح كان قد عمله فى الدنيا ولم يزل أثره باقيا وهو ما يُعرف بالصدقة الجارية". اهـ من فتاوى دار الإفتاء المصرية (8/ 307، بترقيم الشاملة آليا)
"Sesungguhnya kondisi kubur dan kehidupan akhirat termasuk perkara ghaib yang tak dapat diketahui, kecuali berdasarkan penetapan yang benar dari Allah dan Rasul-Nya. Seorang mayat bila diletakkan dalam kuburnya, maka ia telah berada di alam yang lain; ia tak lagi butuh kepada makan dan minum, ia hanya butuh kepada amal sholih yang pernah ia kerjakan ketika di dunia, sedang jejak amalannya masih terus ada. Itulah yang dikenal dengan "sedekah jariyah"". [Lihat Fatawa Dar Al-Ifta’ Al-Mishriyyah (8/307)_syamilah]


=========================================================



DUKUNG KAMI

Dalam membantu pembangunan MASJID DAR AL-FALAH, milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291




Kontak Person :

PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.



NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar