Selangit Pahala dan Keutamaan bagi Mereka yang Membangun Masjid
Selangit Pahala dan Keutamaan
bagi Mereka yang Membangun Masjid
(Keutamaan Membangun Masjid)
Oleh
:
Ustadz
Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Ketika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
terusir dari kota Makkah, lalu berhijrah ke Madinah, maka amal islami yang
pertama kali dilakukan oleh beliau adalah membangun Masjid.
Karenanya, para sejarawan Islam menetapkan
bahwa Masjid pertama dalam Islam adalah Masjid Quba' yang terletak di pinggiran
Kota Madinah sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam As-Siroh
An- dan Nabawiyyah (2/293), As-Suhailiy dalam Ar-Roudh
Al-Unuf (2/331) Muhammad Ibn Abdil Wahhab An-Najdiy dalam Mukhtashor
As-Siroh (hal. 192).
Sebuah pertanyaan besar akan muncul dalam
benak kita, "Kenapa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat
memperhatikan dan lebih mengutamakan pembangunan masjid?"
Karena, masjid adalah rumah yang mengumpulkan
manusia dalam berbagai macam jenis ibadah, tempat berkumpulnya para ulama dan
penuntut ilmu, tempat persinggahan para ibnu sabil yang kehabisan bekal, tempat
tinggal sementara bagi kaum muslimin yang melakukan hijrah di jalan Allah.
Intinya, masjid adalah pusat
ibadah, ilmu, muamalah antara satu muslim dengan muslim lainnya. Dari masjidlah,
lahir para ulama. [Lihat Al-Masyru' wal Mamnu' fi Al-Masjid (hal.
7-10) oleh Muhammad Ibnu Ali Al-Arfaj]
Selain itu, membangun masjid adalah bukti
keimanan seorang muslim.
Karena, seorang muslim tidak mungkin akan
mencapai ketaqwaan dan kebajikan yang sempurna, sampai ia mengorbankan dan
menginfaqkan sebagian hartanya.
Allah -Ta'ala- berfirman,
{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ} [آل عمران: 92]
"Kamu sekali-kali tidak sampai
kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta
yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah
mengetahuinya".
(QS. Ali Imraan : 92)
Ketika mendengarkan ayat ini turun, para
sahabat -radhiyallahu anhum- (seperti, Umar, Abdullah bin Umar, Abu
Tholhah, Zaid bin Haritsah dan lainnya) berlomba-lomba mengeluarkan
hartanya di jalan Allah.
Jangankan harta, nyawa pun siap jadi taruhan
demi kejayaan Islam. Semua ini, menjadi bukti terbesar atas kuatnya keimanan
para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Karenanya, jadikanlah
mereka sebagai panutan dalam sisi pengorbanan harta dan nyawa di jalan Allah.
[Lihat Ad-Durr Al-Mantsur (2/260-261), cet. Dar Al-Fikr]
Tidak mungkin ada pembangunan masjid,
melainkan di dalamnya dibutuhkan pengorbanan harta dari kaum muslimin
sebagai bukti ketaqwaannya kepada Allah -Azza wa Jalla-!!
Membangun masjid dan membantu dalam hal itu,
baik dengan tenaga, pikiran, waktu dan harta, semuanya termasuk dalam kategori
memakmurkan masjid.
Allah memuji kaum beriman yang gemar
memakmurkan masjid,
{ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ
إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ} [التوبة:
18]
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid
Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta
tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun)
selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk
orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. At-Taubah: 18)
Diantara bentuk memakmurkan masjid adalah membangun
masjid dan menjaganya serta meramaikannya dan menggalakkannya dengan
berbagai macam bentuk ibadah, seperti : sholat, berdzikir, berdoa, bermajelis
ilmu, membaca al-Qur'an, saling tanasuh (memberi nasihat) dan memperkuat
ukhuwah dan silaturahim.
Al-Imam Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul
Jauziy Ad-Dimasyqiy
-rahimahullah- berkata,
"وفي المراد بالعِمارة قولان:
أحدهما : دخوله والجلوس فيه. والثاني : البناء له وإصلاحه. فكلاهما محظور على الكافر."
اهـ من زاد المسير في علم التفسير (2/ 242)
"Dalam hal memakmurkan masjid,
terdapat dua pendapat. Salah satunya, masuk masjid dan duduk di dalamnya.
Kedua, membangun masjid dan memperbaikinya. Nah, kedua hal itu terlarang
bagi orang kafir". [Lihat Zadul Masir (3/158)]
Para pembaca yang budiman, ketika kita
membangun masjid, maka masjid itu janganlah menjadi sarang laba-laba dan
jangkrik saja; dalam artian bahwa usai masjid dibangun, tidak ada yang menghuni
dan mendatanginya, melainkan serangga-serangga yang tak berdosa.
Masjid haruslah diramaikan dengan berbagai
macam ibadah yang disyariatkan dan dipenuhi dengan majelis-majelis ilmu.
Jangan menjadikan masjid hanya ibarat warung
kopi yang ditempati ngobrol tak karuan, bahkan meng-ghibah orang lain.
Masjid kita isi dengan berbagai kebaikan,
bukan menjadikannya ibarat pasar dan arena bermain bagi
anak-anak; di dalamnya suasana tak tenang dan penuh suara tertawa, dan baku
kejar serta berbicara dengan suara lantang!!
Seyogyanya masjid kita mulikan dengan ibadah
dan ilmu sebagai bentuk dan bukti keberimanan kita kepada Allah dan Hari Akhir,
serta tanda takutnya kita kepada-Nya.
Jangan sebaliknya melakukan perkara-perkara
yang menyelisihi semua itu, seperti perkara-perkara yang kami sebutkan di atas
atau menjadikan masjid sebagai lokasi pekuburan dan sebaliknya.
Ulama Negeri Yaman, Al-Imam
Asy-Syaukaniy -rahimahullah-
berkata ketika mengomentari sifat-sifat orang yang memakmurkan masjid di dalam
ayat itu,
"فَمَنْ كَانَ جَامِعًا بَيْنَ هَذِهِ الْأَوْصَافِ فَهُوَ
الْحَقِيقُ بِعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ، لَا مَنْ كَانَ خَالِيًا مِنْهَا أَوْ مِنْ
بَعْضِهَا." اهـ من فتح القدير للشوكاني (2/ 393)
"Barangsiapa yang mengumpulkan
sifat-sifat ini, maka dialah orang yang lebih pantas memakmurkan masjid-masjid,
bukan orang yang kosong dari sifat-sifat itu atau sebagiannya". [Lihat Fath
Al-Qodir (2/393), karya Asy-Syaukaniy, cet. Dar Ibni Katsir & Dar
Al-Kalim Ath-Thoyyib, 1414 H]
Para pembaca yang budiman, keutamaan
membangun masjid, bukan hanya sebatas sampai disitu, bahkan pelakunya akan
mendapatkan istana yang amat indah di dalam surga sebagai rumah kebanggaan yang
ia dapatkan dari jerih payah dan pengorbanannya ketika di dunia.
Ketika sahabat Utsman bin Affan –radhiyallahu
anhu- memperluas bangunan Masjid Nabawi sehingga terjadi perubahan bentuk
dan luas, maka sebagian manusia berkomentar saat itu.
Lalu Utsman -radhiyallahu anhu- berkata,
"Sesungguhnya kalian telah banyak
memberi komentar atas diriku, padahal aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ
بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى َبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ، بَنَى اللَّهُ
لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun masjid
karena Allah, sedang ia mencari wajah Allah dengannya, maka Allah akan
bangunkan baginya istana di dalam surga". [HR. Al-Bukhoriy dalam
Shohih-nya (450) dan Muslim (1189)]
Inilah balasan bagi seorang muslim yang
menginfaqkan sebagian hartanya di jalan Allah.
Balasannya adalah sebuah istana yang sangat
indah dan lebih luas dibandingkan rumahnya ketika di dunia.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ
بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا فَإِنَّ اللَّهَ يَبْنِي لَهُ بَيْتًا أَوْسَعَ مِنْهُ
فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun masjid
karena Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya sebuah rumah yang lebih
luas dibandingkan masjid itu dalam surga". [HR Ahmad dalam Al-Musnad
(26330) dari Asmaa' binti Yazid. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy
dalam Shohih At-Targhib (no. 237) ]
Masjid yang dibangun oleh seseorang,
hendaknya dibangun untuk tujuan yang benar, yaitu untuk mengingat dan menyebut
nama Allah, baik itu berupa sholat, dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, atau
bermajelis ilmu.
Masjid bukanlah untuk menyebut-nyebut dan meninggikan
nama seseorang.
Oleh karena itu, sebagian ulama memandang
bahwa membangun masjid dengan menggunakan nama si pembangun sebagai nama
masjid, maka hal itu merupakan tindakan yang jauh dari keikhlasan.
Masjid hanyalah dibangun demi mengingat Allah
-Azza wa Jalla-.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
مَنْ
بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي
الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun sebuah
masjid yang disebut nama Allah padanya, maka Allah akan bangunkan baginya
sebuah rumah dalam surga". [HR. Ibnu Majah (735). Hadits ini
di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Mukhtaroh
(no. 234)]
Abul Faroj Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata,
"مَنْ
كَتَبَ اسْمَهُ عَلَى الْمَسْجِدِ الَّذِي بَنَاهُ كَانَ بَعِيدًا مِنَ
الْإِخْلَاصِ." اهـ من حاشية السندي على سنن ابن ماجه (1/ 249)
"Barangsiapa yang menulis namanya pada
masjid yang ia bangun, maka ia adalah orang yang jauh dari keikhlasan". [Lihat Hasyiyah
As-Sindiy ala Ibn Majah (2/142)]
Jadi, syarat seseorang mendapat istana
indah dalam surga, ketika ia membangun masjid, maka ia harus mengikhlaskan
dan membenarkan niatnya, semata-mata karena ingin mendapatkan pahala dan
kebaikan di sisi Allah.
Jangan seperti sebagian para politikus sial
yang sibuk membangun masjid kesana-kemari, tapi kata orang, "Ada
udang di balik batu", yakni punya niat buruk di balik
perbuatannya.
Tujuannya agar ia mendapatkan perhatian dan
dukungan dari masyarakat sehingga ia mampu mendapatkan kursi dan kekuasaan yang
akan menyeretnya ke neraka!!
Dia hanya ingin riya' (diperhatikan) dan
sum'ah (didengar) sehingga ia mendapatkan pujian dan berbangga dengan amalan
semunya!!!
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
مَنْ
بَنَى مَسْجِدًا لاَ يُرِيْدُ بِهِ رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً، بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا
فِي الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang membangun suatu
masjid, sedang ia tidak menginginkan dengannya riya' dan sum'ah, maka Allah
akan bangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga". [HR. Ath-Thobroniy
dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (8/5/7001). Hadits ini di-hasan-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3399)]
Para pembaca budiman, Membangun masjid adalah
perkara yang membutuhkan ta'aawun (kerja sama) antara seorang muslim
dengan muslim lainnya, karena membangun masjid memerlukan dana, pikiran dan
tenaga.
Sekecil apapun sumbangsih seseorang dalam
pembangunan masjid, walaupun sekecil sarang burung, maka pasti ia akan
mendapatkan pahalanya yang berlipat ganda.
Nah, bagaimana lagi bila ia yang menanggung
separuh biaya pembangunan, atau bahkan keseluruhannya. Pasti balasannya akan
lebih besar lagi!!
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
مَنْ
بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ
بَيْتًا فِي الْجَنَّة
"Barangsiapa yang membangun masjid
karena Allah, walaupun seperti (besarnya) sarang burung atau lebih kecil lagi,
niscaya Allah akan bangunkan baginya istana di dalam surga". [HR. Ibnu Majah dalam
Sunan-nya (738). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy
dalam Shohih Al-Jami' (no. 6128)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah-
berkata,
"وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى دُخُولِ فَاعِلِ ذَلِكَ الْجَنَّةَ
إِذِ الْمَقْصُودُ بِالْبِنَاءِ لَهُ أَنْ يَسْكُنَهُ وَهُوَ لَا يسكنهُ إِلَّا
بعد الدُّخُول وَالله أعلم". اهـ من فتح الباري لابن حجر (1/ 707)
"Di dalamnya terdapat isyarat tentang
akan masuknya pelaku hal itu ke dalam surga. Sebab, maksud dibuatkannya istana
dalam surga, supaya ia menempatinya. Nah, tentunya ia tak akan menempatinya,
kecuali setelah ia masuk, wallahu a'lam". [Lihat Fathul
Bari (1/707)]
Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa berinfaq
dalam membangun masjid (sedikit atau banyak), semua itu akan menjadi amal
jariyah yang pahalanya akan senantiasa mengalir kepada kita, walaupun kita
sudah berada di alam kubur.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
إِنَّ
مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ :
عِلْمًا
عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ_وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ_وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ_أَوْ
مَسْجِدًا بَنَاهُ_ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ_أَوْ نَهْرًا
أَجْرَاهُ_أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ،
يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
"Sesungguhnya diantara sesuatu yang
akan sampai kepada seorang mukmin berupa amalnya dan kebaikannya setelah ia
mati, yaitu :
ilmu (ilmu wahyu dan agama) yang ia
ajarkan dan sebarkan, atau anak yang sholih yang ia tinggalkan, atau mush-haf
(Al-Qur'an) yang ia wariskan, atau masjid yang bangun atau rumah untuk
ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal sebelum sampai tujuan) yang ia bangun,
atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya
ketika ia sehat dan hidup. (Semua) itu akan sampai (pahalanya) kepadanya".
[HR.
Ibnu Majah dalam Sunan-nya (242). Hadits ini di-hasan-kan
oleh Al-Albaniy dalam Ahkam Al-Jana'iz (hal. 177)]
Di dalam riwayat lain, Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
سَبْعٌ
يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِيْ قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: مَنْ عَلَّمَ
عِلْمًا أَوْ كَرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا
أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
"Ada tujuh perkara yang mengalir
pahalanya kepada seorang hamba, sedang ia berada di dalam kuburnya setelah ia
mati: orang yang mengajarkan ilmu (yakni, ilmu agama), atau ia menggali
(membuat) sungai, atau menggali sumur, atau ia menanam pohon kurma, atau ia membangun
masjid, atau ia mewariskan mush-haf (Al-Qur’an), atau ia meninggalkan
seorang anak yang memohonkan ampunan baginya setelah ia mati". [HR. Al-Bazzar dalam
Al-Bahr Az-Zakhkhor (7289) dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (2/344) serta Al-Baihaqiy dalam Syu’abul
Iman (3175). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih
At-Targhib (no. 73)]
Inilah amalan yang dibutuhkan oleh seseorang
selama ia terpendam dalam kuburnya; ia butuh kepada pahala amalan yang pernah
ia kerjakan, bukan kepada makanan dan minuman.
Syaikh Athiyyah Shoqr Al-Mishriy -rahimahullah-
berkata,
"إن أحوال القبر والحياة الآخرة من أمور الغيب التى لا تعرف
إلا بتوقيف صحيح من الله ورسوله، والميت إذا وضع فى قبره صار فى عالم آخر لا يحتاج
فيه إلى أكل وشرب، وإنما يحتاج إلى عمل صالح كان قد عمله فى الدنيا ولم يزل أثره
باقيا وهو ما يُعرف بالصدقة الجارية". اهـ من فتاوى دار الإفتاء المصرية (8/
307، بترقيم الشاملة آليا)
"Sesungguhnya kondisi kubur dan
kehidupan akhirat termasuk perkara ghaib yang tak dapat diketahui, kecuali
berdasarkan penetapan yang benar dari Allah dan Rasul-Nya. Seorang mayat bila
diletakkan dalam kuburnya, maka ia telah berada di alam yang lain; ia tak lagi
butuh kepada makan dan minum, ia hanya butuh kepada amal sholih yang pernah ia
kerjakan ketika di dunia, sedang jejak amalannya masih terus ada. Itulah yang
dikenal dengan "sedekah jariyah"". [Lihat Fatawa
Dar Al-Ifta’ Al-Mishriyyah (8/307)_syamilah]
=========================================================
DUKUNG
KAMI
Dalam membantu pembangunan MASJID DAR AL-FALAH, milik
Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.
"Siapa
yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana
baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori &
Muslim]
# Bagi anda
yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda
melalui :
Rekening
BANK MANDIRI
atas
nama
Yayasan
Dar Al Falah
No.
Rekening : 1740000532291
Kontak
Person :
PANITIA
PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)
Jazakumullohu
khoiron atas sumbangsih dan doanya.
NB
:
Lokasi
Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar.

Komentar
Posting Komentar