Bahaya Takut Sembarangan
Bahaya Takut
Sembarangan
oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Di zaman ini manusia sering keliru dalam
menempatkan rasa takutnya.
Kadang ia takut kepada sesuatu yang tak mesti
ditakuti. Sebaliknya, kadang tak takut kepada sesuatu yang harusnya ditakuti.
Mungkin anda pernah melihat ada orang
yang datang ke kubur orang-orang dianggap "wali" untuk ber-nadzar bahwa bila ia
selamat atau sembuh, maka ia datang ke kubur itu kedua kalinya untuk
menyembelih sapi, kambing dan lainnya.
Dia amat takut melanggar nadzar dan janjinya
tersebut, dengan alasan takut kualat bila ia tak memenuhinya. Takut bila si
penghuni kubur marah kepadanya!!
Inilah takut ibadah, yakni ibadah kepada
selain Allah. Takut semacam ini merupakan kesyirikan.
Takut seperti inilah yang sering dihembuskan
oleh para jin kepada para penyembah dan pengagungnya.
Dahulu orang-orang Arab Jahiliah ketika
melewati suatu tempat menyeramkan –menurut mereka-, maka mereka pun
berlindung dan berdoa kepada jin yang diyakini oleh mereka sebagai penguasa
tempat itu.
Semua itu mereka lakukan, karena alasan takut
kepada jin sehingga menyeret mereka ke dalam penyembahan jin dengan adanya doa
dan sembelihan untuk para jin.
Inilah yang pernah dikisahkan oleh Allah
dalam firman-Nya,
وَأَنَّهُ
كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا [الجن/6]
"Dan bahwasanya ada beberapa orang
laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di
antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan". (QS. Al-Jin : 6)
Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata,
"يَعُوذُونَ بِعَظِيمِ ذَلِكَ الْمَكَانِ مِنَ الْجَانِّ،
أَنْ يُصِيبَهُمْ بِشَيْءٍ يَسُوؤُهُمْ كَمَا كَانَ أَحَدُهُمْ يَدْخُلُ بِلَادَ
أَعْدَائِهِ فِي جِوَارِ رَجُلٍ كَبِيرٍ وَذِمَامِهِ وَخَفَارَتِهِ، فَلَمَّا
رَأَتِ الْجِنُّ أَنَّ الْإِنْسَ يَعُوذُونَ بِهِمْ مِنْ خَوْفِهِمْ مِنْهُمْ،
{فَزَادُوهُمْ رَهَقًا} أَيْ: خَوْفًا وَإِرْهَابًا وَذُعْرًا، حَتَّى تَبْقَوْا
أَشَدَّ مِنْهُمْ مَخَافَةً وَأَكْثَرَ تَعَوُّذًا بِهِمْ، كَمَا قَالَ قَتَادَةُ:
{فَزَادُوهُمْ رَهَقًا} أَيْ: إِثْمًا، وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ
جَرَاءَةً." اهـ من تفسير ابن كثير، ت سامي سلامة (8/ 239)
"Mereka (Arab Jahiliah) memohon
perlindungan kepada penguasa tempat itu dari kalangan jin agar para jin tidak
menimpakan kepada mereka sesuatu yang menyakiti mereka sebagaimana halnya
mereka (bangsa Arab Jahiliah) bila seorang diantara mereka memasuki negeri
musuh-musuh mereka, maka ia berada dalam perlindungan (suaka politik) dari seorang
pembesar (penguasa negeri itu). Tatkala para jin melihat manusia memohon
perlindungan kepada mereka karena takutnya, maka para jin pun menambahi
perasaan takut dan gentar manusia, sehingga mereka selalu takut kepada para jin
dan senantiasa memohon perlindungan kepada mereka". [Lihat Tafsir
Al-Qur'an Al-Azhim (8/239) karya Ibnu Katsir, dengan tahqiq Saami
Salamah, cet. Dar Thoybah, 1420 H]
Dengan takut ini membuat mereka semakin
berdosa, karena takut itulah yang membuat mereka melakukan banyak pelanggaran,
seperti berdoa kepada jin, mempersembahkan sesajen kepada mereka dan lainnya.
Para pembaca yang budiman, mungkin juga anda
pernah melihat orang yang takut kepada binatang buas atau api dan penjahat
ataukah penguasa yang zhalim, sehingga lari darinya.
Takut seperti ini disebut dengan takut
tabiat.
Takut yang merupakan kewajaran dan memang ada pada setiap manusia.
Oleh karena itu, Allah tidak mencela Nabi
Musa -Shallallahu alaihi wa sallam- saat beliau melarikan diri dari
kejaran Fir'aun.
Allah -Ta'ala- berfirman,
فَأَصْبَحَ
فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ
يَسْتَصْرِخُهُ قَالَ لَهُ مُوسَى إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ [القصص/18]
"Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa
takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya). Maka tiba-tiba
orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya.
Musa Berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang
nyata (kesesatannya)". (QS. Al-Qhoshosh : 18)
Takut ini tak terlarang, kecuali jika seseorang
takut dengan alasan yang tidak masuk akal, misalnya takut kepada ular,
karena meyakini punya kekuatan gaib.
Contoh lain, takut kepada makhluk
halus atau mayat, sehingga ia takut melewati pekuburan, dengan alasan takut
bila diganggu oleh si mayat atau makhluk halus yang menyeramkan.
Ini bukan lagi takut tabiat yang dibolehkan,
bahkan berubah menjadi takut sirr (tersembunyi) yang tidak diketahui
sebabnya secara jelas.
Sebab ia takut hanya karena alasan yang tak
masuk akal dan timbul dari imajinasi saja.
Takut seperti ini kadang timbul dalam
hati sebagian orang karena terpengaruh dengan film-film horor yang menyeramkan, semisal Zombie,
Gondoruwo, Sundel Bolong, Kuntilanak, Mak Lampir, Ghost Buster, dan lainnya.
Mungkin juga karena mendengarkan sandiwara
horor, atau cerita rakyat yang tidak memiliki asal-usul yang jelas. Akibatnya
timbul rasa takut kepada jin, mayat, tempat gelap, rumah kosong, kuburan dan
lainnya.
Realita seperti ini kadang mengundang tawa
dan senyum dengan penuh keheranan, saat kita melihat ada orang yang takut
pulang ke rumahnya yang bertetangga dengan kubur, takut bermalam di rumah
kematian, takut masuk ke rumahnya sendiri saat ia sendiri, takut berjalan
sendiri di tengah kegelapan malam.
Bulu kuduk dan bulu romanya terasa berdiri
tegak saat ia melewati rumah atau pohon yang ia anggap keramat dan menyeramkan.
Semua ini muncul dari imajinasi yang
bersumber dari keyakinan yang salah tentang hal-hal tersebut. Inilah takut
sembarangan!!
Di sudut lain, ada orang tidak takut
kecuali kepada Allah -Azza wa Jalla-. Takut ini adalah terpuji di sisi Allah. Takutnya
adalah takut yang baik, sebab rasa takutnya membuat ia semakin terdorong dan
bersemangat dalam ketaatan.
Karena, ia sadar bahwa menghadapi hari hisab
butuh bekal berupa amal sholih. Bila ia tak berbekal dengannya, maka ia akan
disiksa oleh Allah.
Dengan takutnya ia banyak
mempersiapkan bekal amal sholihnya. Takut
ini juga membuat dirinya jauh dari maksiat dan segala macam bentuk kedurhakaan.
Sebab, ia paham bahwa gara-gara maksiat dan
dosa, ia akan binasa di dunia dan akhirat dengan mendapatkan balasan berat yang
setimpal dengan dosa dan maksiatnya saat ia berada di dunia.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman dalam memuji
orang-orang yang takut kepada-Nya,
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ
يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ [التوبة/18]
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid
Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta
tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada
siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan
termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. At-Taubah :
18)
Mufassir Jazirah Arab, Syaikh Ibnu
Nashir As-Sa'diy -rahimahullah-
berkata menerangkan ayat ini,
"أي قصر خشيته على ربه، فكف عما حرم الله، ولم يقصر بحقوق
الله الواجبة.
فوصفهم
بالإيمان النافع، وبالقيام بالأعمال الصالحة التي أُمُّها الصلاة والزكاة، وبخشية
الله التي هي أصل كل خير، فهؤلاء عمار المساجد على الحقيقة " اهـ من تيسير
الكريم الرحمن (ص: 331)
"Maksudnya, orang itu membatasi rasa
takutnya hanya kepada Robb-nya. Karenanya, ia menahan diri dari sesuatu yang
Allah haramkan dan tidak bersikap teledor terhadap hak-hak Allah yang wajib.
Itulah sebabnya Allah menyifati mereka dengan keimanan yang bermanfaat dan
perealisasian amal-amal sholih yang terpentingnya adalah sholat dan zakat.
Orang itu juga merealisasikan rasa takutnya kepada Allah yang merupakan pokok
setiap kebaikan. Jadi, mereka itulah para pemakmur masjid pada hakikatnya".
[Lihat
Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan (hal. 331)]
Orang yang senantiasa takut kepada Allah
dalam setiap keadaannya akan mendapatkan naungan di Padang Mahsyar.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ
(عَادِلٌ) وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ
دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi
oleh Allah -Ta'ala- dalam naungan-Nya pada hari tak ada naungan, kecuali
naungan-Nya: …Seorang lelaki yang diajak (untuk berzina) oleh seorang wanita
yang memiliki kedudukan dan kecantikan. Lelaki itupun berkata, "Aku takut
kepada Allah".
[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (660 & 1423) dan Muslim
dalam Kitab Az-Zakaah (1031)
Al-Imam Abul Abbas Al-Qurthubiy -rahimahullah-
berkata,
إِنَّمَا
يَصْدُرُ ذَلِكَ عَنْ شِدَّةِ خَوْفٍ_مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَتِينِ تَقْوَى
وَحَيَاءٍ." اهـ من تحفة الأحوذي (7/ 58_59)
"Hal itu (yakni, ucapan lelaki itu)
muncul karena amat takutnya kepada Allah -Ta'ala- serta mantapnya rasa taqwa
dan malunya". [Lihat
Tuhfah Al-Ahwadziy (7/58), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]
Perhatikanlah bagaimana kuatnya pengaruh rasa
takut kepada Allah dalam membentengi seseorang dari maksiat dalam kondisi
cobaan dan godaan amat berat. Wajarlah bila pemiliknya dinaungi di akhirat.
===============================
INFO PENTING
===============================
Dukung Kami
Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.
“ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “
"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]
# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
BRI. Unit Borong Loe
(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN
Kontak Person :
0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
0852-4154-8039 (Saudara Bahriadi, SE.)
0821-8831-3323 (Saudara Muhammad Sabir)
Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.

Komentar
Posting Komentar