Selasa, 25 Juli 2017

Realita Sujud Tilawah dan Kekeliruan Sebagian Orang dalam Memahaminya



Realita Sujud Tilawah
dan Kekeliruan Sebagian Orang dalam Memahaminya

oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. –hafizhahullah-

Sujud tilawah adalah sebuah sunnah yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabat -radhiyallahu anhum-.

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan saat membaca atau mendengarkan suatu ayat diantara ayat-ayat sajdah, yakni ayat-ayat yang menjelaskan tentang sujud di dalam Al-Qur'an dan jumlahnya ada lima belas ayat. [Lihat At-Tibyan (hal. 127-129) karya An-Nawawiy, cet. Maktabah Ibnu Abbas, 1416 H]

Sunnah ini banyak dilupakan orang tentang hukum-hukum yang berkaitan dengannya, sehingga sebagian orang salah dalam menerapkan dan memahaminya.


Akibatnya ada dua kutub manusia yang berseberangan. Satunya memandang bahwa sujud tilawah adalah wajib hukumnya, sedang yang lain memandang bahwa sujud tilawah adalah hukumnya mustahab (dianjurkan), tidak wajib.

Kelompok pertama mengharuskan adanya sujud tilawah setiap kali membaca ayat sajadah.

Sedang kelompok kedua sama sekali meninggalkan sunnah ini dengan dalih bahwa hukumnya hanya mustahab (dianjurkan), tidak wajib!!

Jelas ini adalah sebuah kekeliruan. Betul mustahab, tapi jangan ditinggalkan sama sekali!!

Para pembaca yang budiman, sujud tilawah telah dianjurkan oleh manusia terbaik, yaitu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya.

Beliau menganjurkannya, karena sujud ini merupakan sunnah yang menyebabkan setan menangis dan bersedih saat melihat seorang hamba menundukkan diri dan bersungkur di depan Robb-nya sebagai pertanda kelemahan dirinya dan butuhnya kepada Allah -Azza wa Jalla-.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ، فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى، يَقُولُ : يَا وَيْلَهُ، أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ، فَسَجَدَ، فَلَهُ الْجَنَّةُ ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ، فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ
"Bila anak Adam membaca ayat As-Sajadah, lalu ia pun bersujud, maka setan akan menyingkir sambil menangis, seraya berkata, "Oh, celakanya aku. Anak Adam diperintah bersujud, lalu ia pun bersujud, maka mendapatkan surga dan aku diperintah bersujud, lalu aku enggan, maka aku pun mendapatkan neraka". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (81), Ibnu Majah dalam Kitab Iqomah Ash-Sholah wa As-Sunnah fiiha (1052), Ahmad dalam Al-Musnad (9713) dan lainnya]

Al-Imam Abdur Rauf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata,
"وفيه بيان فضيلة السجدة ودليل على كفر إبليس." اهـ من فيض القدير (1/ 415)
"Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang fadhilah (keutamaan) sajadah (yakni, sujud tilawah) dan ada dalil tentang kekafiran Iblis". [Lihat Faidhul Qodir (1/415) karya Al-Munawiy, dengan ta'liq Majid Al-Hamawiy, cet. Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubro, Mesir, 1356 H]

Seorang hamba akan semakin dekat, ketika ia melakukan sujud dalam sholatnya atau saat ia membaca ayat sajdah (yakni, sujud tilawah, baik di dalam sholat, ataukah di luar sholat), atau mungkin ia bersujud saat ia bersyukur atas nikmat besar yang ia raih.

Sujud merupakan puncak perendahan diri dan ketundukan seorang hamba kepada Allah.

Ia merupakan amalan yang menyelisihi sikap Iblis yang enggan bersujud karena Allah.

Bersujud juga merupakan lambang ketawadhuan seorang hamba yang akan menjauhkan dirinya dari kesombongan kepada Allah dan makhluk.

Sebab, seorang yang senantiasa bersujud sesuai perintah syariat, akan merasakan kerendahan diri di hadapan Allah –ta’ala-, bukan ketinggian dirinya.

Inilah yang kadang tak disenangi jiwa, sebab jiwa (an-nafs) terkadang menyenangi sebaliknya; senang bila merasa tinggi dan sombong.

Nah, dengan sujud ini, maka sungguh ia telah menyelisihi hawa nafsunya (keinginan jiwanya).

Jika ia jauh dari hawa nafsunya, maka ia akan semakin dekat kepada Allah -Azza wa Jalla-. [Lihat Mir'aatul Mafaatih (3/435) oleh Al-Allamah Ubaidullah bin Muhammad Abdus Salam Ar-Rahmaniy Al-Mubarokfuriy -rahimahullah-]

Sifat tawadhu' (merendah diri) inilah yang tidak bisa diterima dan dijaga oleh Iblis saat ia diperintah bersujud kepada Adam –alaihis salam- sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan kepada Adam, bukan sebagai ibadah bagi Iblis kepada Adam.

Karena, sujud kepada manusia kala itu dibolehkan dalam syariat Adam. Adapun dalam syariat kita, maka sujud kepada makhluk adalah perkara yang terlarang, dan diharamkan oleh Allah –azza wa jalla- di dalam Al-Qur’an, dan melalui lisan Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- di dalam sebagian hadits.

Al-Imam Syarofuddin Al-Husain bin Muhammad Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits menangisnya Iblis bila melihat seseorang melakukan sujud sahwi,
"Teriakan kecelakaan (dari Iblis) sebagai bentuk penyesalan diri terhadap sesuatu yang luput dari dirinya berupa kemulian, dan terhadap adanya laknat dan pengusiran (dari surga) serta adanya kerugian di dunia dan akhirat. Teriakan itu juga terjadi karena hasad terhadap sesuatu yang dicapai oleh Adam berupa kedekatan (kepada Allah), kemuliaan dan keberuntungan". [Lihat Mashobih At-Tanwir ala Shohih Al-Jami' Ash-Shoghir (1/367) oleh Abu Ahmad Mu'tazz bin Ahmad]

Para pembaca yang budiman, sujud tilawah telah lama dilakukan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sejak beliau berada di Makkah.

Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " سَجَدَ بِالنَّجْمِ وَسَجَدَ الْمُسْلِمُونَ، إِلَّا رَجُلًا مِنْ قُرَيْشٍ أَخَذَ كَفًّا مِنْ تُرَابٍ، فَرَفَعَهُ إِلَى جَبْهَتِهِ، فَسَجَدَ عَلَيْهِ " قَالَ عَبْدُ اللهِ: " فَرَأَيْتُهُ بَعْدُ قُتِلَ كَافِرًا "
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersujud pada Surah An-Najm dan kaum muslimin pun bersujud, selain seorang lelaki Quraisy. Dia mengambil tanah satu telapak, lalu ia angkat ke dahinya sambil bersujud padanya". Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku pun melihatnya terbunuh setelah itu dalam keadaan kafir". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Jum'ah (no. 1070) dan Ahmad dalam Al-Musnad (no. 3682)]

Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thohawiy -rahimahullah- berkata seusai membawakan sejumlah atsar (yakni, hadits) tentang sujud tilawah dalam Surah an-Najm,
"فَفِي هَذِهِ الْآثَارِ تَحْقِيقُ السُّجُودِ فِيهَا , وَلَيْسَ فِيمَا ذَكَرْنَا فِي الْفَصْلِ الْأَوَّلِ , مَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ فِيهَا سَجْدَةٌ فَهَذِهِ أَوْلَى , لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُسْجَدَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِ سُجُودٍ. وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يُتْرَكَ السُّجُودُ فِي مَوْضِعِهِ , لِعَارِضٍ مِنَ الْعَوَارِضِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي الْفَصْلِ الْأَوَّلِ. فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَإِنَّ فِي ذَلِكَ دَلَالَةً أَيْضًا تَدُلُّ عَلَى أَنْ لَا سُجُودَ فِيهَا." اهـ من شرح معاني الآثار (1/ 353)
"Di dalam atsar-atsar ini terdapat penetapan sujud di dalam An-Najm. Di dalam pasal pertama sebagaimana telah kami sebutkan, tak ada sesuatu yang meniadakan bahwa di dalamnya terdapat sujud. Inilah yang lebih utama”.  [Lihat Syarh Ma'anil Atsar (1/353)]
  
Sunnahnya sujud tilawah bukan hanya saat di Makkah, bahkan terus berlanjut sampai di Madinah serta diamalkan oleh para sahabat sepeninggal beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Sahabat Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّورَةَ، فِيهَا السَّجْدَةُ، فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُنَا مَوْضِعَ جَبْهَتِهِ
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah membacakan kepada kami sebuah Surah yang di dalamnya terdapat As-Sajdah. Akhirnya beliau bersujud dan kami pun bersujud sampai seorang diantara kami tak mendapatkan tempat bagi dahinya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1075) dan Muslim dalam Shohih-nya (575)]

Ketika Umar -radhiyallahu anhu- menjabat kholifah, maka beliau juga pernah sujud tilawah.

Ini menunjukkan bahwa sujud tilawah adalah sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang terus berlanjut.

Robi'ah bin Abdillah Al-Hudair At-Taimiy -rahimahullah- berkata,
قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُورَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ (جَاءَتِ السَّجْدَةُ) قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ * وَزَادَ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا إِنَّ اللهَ لَمْ يَفْرِضْ عَلَيْنَا السُّجُودَ إِلاَّ أَنْ نَشَاءَ
"Umar pernah membaca di hari Jum'at Surah An-Nahl sampai tiba ayat As-Sajdah, maka beliau turun (dari mimbar), lalu bersujud dan manusia pun bersujud. Ketika Jum'at berikutnya, beliau membacanya lagi sampai ayat as-Sajdah, maka berkata kepada manusia, "Wahai manusia, sesungguhnya kita melewati ayat As-Sajdah. Barangsiapa yang bersujud, maka ia benar. Barangsiapa yang tak bersujud, maka tak ada dosa atasnya". Umar -radhiyallahu anhu- sendiri tak bersujud". Nafi' menambahkan dari Ibnu Umar, "Sesungguhnya Allah tak mewajibkan kita bersujud, kecuali kalau kita mau". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 1077)]

Inilah sejumlah dalil dari Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan atsar dari para sahabat -radhiyallahu anhu- yang menjelaskan kepada kita sujud tilawah adalah sebuah amalan yang telah dilazimi oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya.

Hanya saja hukumnya tidaklah wajib, tapi ia mustahab (dianjurkan). Walaupun ia mustahab, tapi tak boleh kita membiasakan diri meninggalkannya.

Jadi, jangan seperti kaum awam jahil yang mewajibkan kaum muslimin untuk bersujud tilawah setiap membaca ayat sajdah, baik di dalam sholat shubuh ataupun selainnya.

Jangan juga seperti orang yang selalu membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Sajdah, namun ia tak pernah bersujud tilawah, demi menyelisihi kaum awam tersebut.

Boleh saja sekali-kali kita tidak melakukan sujud tilawah saat melewati ayat Sajdah, demi memberikan pelajaran bahwa sujud tilawah tidaklah wajib, tapi jangan ditinggalkan terus-menerus.

Risalah ini kami tulis untuk menyambut permintaan seorang saudara seiman yang merasa prihatin saat melihat ada sebagian masjid-masjid kaum muslimin yang tidak pernah melakukan sujud tilawah saat melewati ayat-ayat As-Sajdah.

Padahal ia adalah sunnah (petunjuk dan jalan hidup) yang pernah dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya semasa beliau hidup dan diikuti oleh para sahabatnya.


Semoga dengan artikel ringkas ini, ilmu dan semangat kita bertambah dalam mengikuti semua sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, baik yang kecil, maupun yang besar, termasuk diantaranya SUJUD TILAWAH, amiin


===============================

INFO PENTING

===============================

Dukung Kami

Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.


“ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 



"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]


# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI. Unit Borong Loe

(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN

Kontak Person :

0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
0852-4154-8039 (Saudara Bahriadi, SE.)
0821-8831-3323 (Saudara Muhammad Sabir)


Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar