Agama bukan Perasaan (Sorotan terhadap Cara Keberagamaan Kaum Muslimin)
"Agama
bukan Perasaan"
(Sorotan terhadap Cara Keberagamaan Kaum Muslimin)
Oleh
: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
Jika kita menelisik kehidupan beragama dari
kaum muslimin di Indonesia, atau negeri lainnya, maka kita akan banyak
menemukan bukti dan fenomena yang menguatkan bahwa kehidupan beragama kita
masih sebatas perasaan.
Padahal agama bukanlah perasaan, hawa nafsu
dan akal-akalan semata. Agama adalah wahyu dan petunjuk datang dari langit sana.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
{وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا
بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ
بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ
الْحَقِّ...} [المائدة: 48]
"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran
dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab
(yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.
Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah
datang kepadamu". (QS. Al-Maa'idah : 48)
Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata,
"أَيْ: لَا تَنْصَرِفْ عَنِ الْحَقِّ الَّذِي أَمَرَكَ
اللَّهُ بِهِ إِلَى أَهْوَاءِ هؤلاء من الجهلة الأشقياء." اهـ من تفسير ابن
كثير، ط. دار طيبة، ت : سامي سلامة (3/ 128)
"Maksudnya, janganlah engkau berpaling
dari kebenaran yang Allah perintahkan kepadamu, menuju keinginan-keinginan dari
orang-orang jahil lagi celaka itu". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir
(3/128), cet. Dar Thoybah, 1420 H]
Ini menunjukkan bahwa seorang dalam beragama
tidaklah mengikuti keinginan dan perasaan manusia, tapi mengikuti wahyu
dari Allah -Azza wa Jalla- dan petunjuk Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- yang bersumber dari bimbingan Allah.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
أَلَا
إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ
عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَقُولُ : "عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا
وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ
فَحَرِّمُوهُ."
"Ingatlah sungguh aku telah diberi
Al-Kitab, dan semisalnya bersamanya. Ingatlah, hampir-hampir akan ada
seseorang yang kenyang di atas ranjangnya seraya berkata, "Berpeganglah
saja dengan Al-Qur'an ini. Karenanya, apa saja yang kalian temukan di dalamnya
berupa sesuatu yang halal, maka halalkan, dan apa saja yang kalian temukan di
dalamnya beruapa sesuatu yang haram, maka haramkanlah". [HR. Abu Dawud (no. 4606).
Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Al-Misykah (no. 163)]
Para pembaca yang budiman, jadi seorang
muslim hendaknya dalam beragama, ia mengikuti petunjuk wahyu, baik yang
terdapat dalam Al-Qur'an, maupun hadits (sabda) Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-, bukan mengikuti perasaan dan hawa nafsu, tanpa bimbingan
wahyu.
Perasaan dan hawa nafsu adalah tabiat pada
manusia. Perasaan terkadang mendorong seseorang ke arah kebaikan dan terkadang
pula kepada keburukan.
Karenanya, syariat datang menjelaskan segala
sesuatu agar perasaan dapat mengikuti kebaikan yang ditunjukkan oleh wahyu.
Perasaan, akal dan hawa nafsu bukanlah
pemimpin, pengarah dan teladan bagi manusia dalam beragama. Perasaan, akal dan
hawa nafsu harus ikut dan tunduk kepada petunjuk wahyu!!
Disinilah kerusakan sebagian kaum muslimin
saat ia beragama, maka ia selalu menjadikan perasaan dan akalnya sebagai penentu
dan pemimpin, bukan wahyu sebagai penentu dan pemutus perkara dalam
kehidupannya!!
Akhirnya, Al-Qur'an ia kesampingkan, bahkan
terkadang ia buang di balik punggungnya.
Sebagai contoh, lihatlah mereka yang lebih
memuliakan hukum-hukum Belanda, Perancis, Amerika, Jerman dan kawanannya dari
kalangan orang-orang yang Allah sesatkan hatinya.
Perasaan mereka lebih senang mengikuti
hukum, atau undang-undang buatan manusia lemah, bahkan kafir, walaupun
jelas-jelas banyak kekurangannya harus direvisi sepanjang abad!!
Manakah orang-orang yang mau mengagungkan
Al-Qur'an dan mengikutinya.
Mengapakah kita meniru kaum jahiliah yang
selalu mencari petunjuk dan penentu hidup dari selain wahyu Allah?!
Jangan-jangan kita terkena firman Allah,
{وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا
تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ
اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ
يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
(49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا
لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50) } [المائدة: 49، 50]
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara
di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada
mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maa'idah : 49-50)
Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy
Al-Yamaniy
-rahimahullah- berkata,
"وَفِيهِ
النَّهْيُ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ يَتَّبِعَ أَهْوِيَةَ
أَهْلِ الْكِتَابِ وَيَعْدِلَ عَنِ الْحَقِّ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ،
فَإِنَّ كُلَّ مِلَّةٍ مِنَ الْمِلَلِ تَهْوَى أَنْ يَكُونَ الْأَمْرُ عَلَى مَا
هُمْ عَلَيْهِ وَمَا أدركوا_عَلَيْهِ سَلَفَهُمْ وَإِنْ كَانَ بَاطِلًا مَنْسُوخًا
أَوْ مُحَرَّفًا عَنِ الْحُكْمِ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ،
كَمَا وَقَعَ فِي الرَّجْمِ وَنَحْوِهِ مِمَّا حَرَّفُوهُ مِنْ كُتُبِ اللَّهِ."
اهـــ من فتح القدير للشوكاني (2/ 55_56)
"Di dalam ayat ini terdapat larangan
bagi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari mengikuti keinginan-keinginan
ahli Kitab, lalu berpaling dari kebenaran yang Allah turunkan kepada beliau.
Karena, pemeluk setiap agama menginginkan agar segala urusan berdasarkan
sesuatu yang mereka pijaki dan sesuatu yang mereka warisi dari nenek moyangnya,
walaupun urusan itu batil, mansukh (terhapus hukumnya), ataukah telah
diselewengkan dari hukum yang pernah Allah turunkan kepada para nabi
sebagaimana yang terjadi pada perkara rajam (bagi pezina yang sudah nikah) dan
sejenisnya diantara perkara-perkara yang telah mereka selewengkan dari
kitab-kitab Allah". [Lihat Fathul Qodir Al-Jami' baina Fannai
Ar-Riwayah wa ad-Diroyah min Ilm At-Tafsir (2/70)]
Disinilah kita akan heran dengan sebagian kaum
muslimin yang amat bangga dan senang mengadopsi hukum-hukum manusia kafir,
entah dari kalangan Ahlul Kitab atau selainnya, lalu membuang Al-Qur'an di
balik punggung mereka.
Padahal semua hukum yang mereka tetapkan
hanyalah berdasarkan pengalaman yang didasari oleh perasaan, akal dan hawa
nafsu semata.
Kalaupun ada diantaranya yang mereka dasari
dengan hukum-hukum Taurat atau Injil, tapi ketahuilah semua hukum-hukum itu
telah dihapus oleh Al-Qur'an dan diganti dengan yang lebih baik.
Namun Taurat dan Injil yang ada di tangan
mereka, kini telah disusupi berbagai utak-atik dan penyelewengan (baik berupa
pengubahan kata atau kalimat, pengurangan, dan penambahan) yang dilakukan oleh
para pendeta dan pembesar mereka.
Kalau pun mereka bersikeras bahwa itu juga
kebaikan, maka kita katakan bahwa tak ada kebaikan, melainkan Al-Qur'an beserta
Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menjelaskannya.
Ketahuilah bahwa hukum-hukum buatan manusia
amat banyak memiliki kekurangan yang harus dibenahi sana-sini dan dihapus atau
diubah.
Adapun hukum Allah yang tertera dalam
Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia sudah paten dan siap menjawab segala tantangan
zaman, sebab ia cocok di segala tempat dan zaman.
Kalau tak percaya, buktikan saja melalui
kajian dan penerapan. Jangan tertipu dengan propaganda para pejuang hukum-hukum
jahiliah.
Gambaran lain dari sisi keberagamaan kita
yang masih dilandasi oleh perasaan, adanya sekelompok kaum muslimin yang
suka mengada-adakan ajaran baru alias bid'ah dalam agama.
“Bid'ah” (penemuan baru)
dalam perkara dunia selama bermanfaat dan tak membawa hal negatif, maka ia
terpuji.
Adapun bid'ah dalam perkara agama (yakni, ajaran
yang baru ditemukan) yang tak pernah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-, maka semuanya adalah keburukan dan kesesatan, walapun akal
dan perasaan kita memandangnya sebagai perkara yang baik.
Bid'ah dalam beragama, misalnya: perayaan Maulid,
Isra'-Mi'raj, Nuzulul Qur'an, perayaan tahun baru (Masehi atau Hijriyyah),
dzikir berjama'ah, haulan kematian, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Semua ini adalah ajaran baru yang tak ada
contohnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Tapi anehnya, para kiai dan ustadz
berusaha mengutak-atik dan mencari-cari dalih dalam membenarkannya agar dapat
mengikuti selera dan perasaan masyarakat yang senang kepada bid'ah-bid'ah
seperti itu.
Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
مَنْ
أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang mengadakan suatu
perkara (baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk darinya, maka
perkara itu tertolak". [HR.Al-Bukhary dalam Shahih-nya (2697) dan
Muslim dalam Shahih-nya (1718)]
Bahkan beliau bersabda mencap sesat semua
bid'ah dalam perkara agama,
وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
"Wasapadalah kalian terhadap perkara
yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan adalah bid'ah dan
semua bid'ah adalah sesat". [HR. Abu Dawud (4609). Di-shohih-kan
oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2735)]
Perkara Maulid –misalnya-, ia perkara baru yang
diada-adakan orang-orang belakangan, berdasarkan perasaan mereka belaka,
bukan didasari oleh dalil.
Nanti belakangan, sejak maulid diperingati
oleh banyak orang, barulah para pejuang maulid mencari-cari dalil tentang
keabsahannya. Walaupun semua dalil itu tak ada sedikitpun padanya sisi yang
menguatkan mereka. Entah mereka berhujjah dengan dalil yang shohih (benar),
namun di tempatkan bukan tempatnya dan tidak mendukung bid’ah yang mereka
serukan! Kadang pula mereka berhujjah dengan hadits-hadits yang dho’if (lemah)
dan maudhu’ (palsu).
Jika
kita mau merujuk kepada sejarah, maka maulid itu diada-adakan oleh orang-orang
menyimpang dan sesat dari kalangan sekte sesat yang bernama Syi'ah.
Seorang
ulama besar Al-Azhar Asy-Syarif Mesir , Syaikh Ali Mahfuzh Al-Hasaniy –rahimahullah-
berkata,
"أول من أحدثها
بالقاهرة : الخلفاء الفاطميون في القرن الرابع ، فابتدعوا ستة موالد : المولد
النبوي ، ومولد الإمام علي رضي الله عنه ، ومولد فاطمة الزهراء رضي الله عنها ،
ومولد الحسن والحسين رضي الله عنهما ، ومولد الخليفة الحاضر ، وبقيت الموالد على
رسومها ، إلى أن أبطلها " الأفضل أمير الجيوش " ، ثم أعيدت في خلافة
الآمر بأحكام الله في سنة أربع وعشرين وخمسمائة ، بعدما كاد الناس ينسونها، وأول
من أحدث المولد النبوي بمدينة " إربل " : الملك المظفر أبو سعيد في
القرن السابع ، وقد استمر العمل بالمولد إلى يومنا هذا ، وتوسع الناس فيها ،
وابتدعوا كل ما تهواه أنفسهم ، وتوحيه شياطين الإنس والجن" انتهى من الإبداع في مضار
الابتداع " (ص 251)
“Orang
yang pertama kami mengada-adakan maulid di Kairo adalah para khalifah
Fathimiyyah (Syi’ah) di abad keempat.
Mereka
menciptakan 6 maulid : Maulid Nabi, Maulid Imam Ali –radhiyallahu anhu-, Maulid
Fathimah Az-Zahro’ –radhiyallahu anha-, Maulid Hasan dan Husain –radhiyallahu anhuma-,
dan Maulid kholifah yang berkuasa.
Maulid-maulid
itu senantiasa di atas ritualnya sampai kemudian dibasmi oleh Al-Afdhol Amirul
Juyusy (Penguasa Mesir).
Kemudian
maulid-maulid tersebut dihidupkan kembali pada masa khilafah Al-Amir bi
Ahkamillah (dari sekte sesat Syi’ah) pada tahun 524 H, dimana manusia
sebelumnya telah melupakannya.
Orang
yang pertama kali mengadakan maulid Nabi di Kota Irbil (sebuah daerah di Iraq,
-pent.) adalah Raja Al-Muzhoffar Abu Sa’id pada abad ke-7 H.
Pelaksanaan
maulid terus berlanjut sampai hari kita ini. Manusia pun berluas-luas di
dalamnya, dan mengada-adakan segala perkara yang disukai oleh hawa nafsu
mereka, dana pa yang dibisikkan oleh setan dari kalangan jin dan manusia.” [Lihat Al-Ibda’ fi Madhorril
Ibtida’, hal. 251, cet. Dar Al-I’tishom)
Mantan
Mufti Mesir, Al-Allamah Syaikh Muhammad Bukhoit Al-Muthi’iy –rahimahullah-
berkata,
مما أحدث وكثر السؤال عنه الموالد، فنقول: إن
أول من أحدثها بالقاهرة الخلفاء الفاطميون وأولهم المعز لدين الله
“Diantara
perkara yang diada-adakan (dalam agama) dan sering ada pertanyaan tentangnya
adalah maulid.
Karenanya,
kami katakan :
Sesungguhnya
orang yang pertama kali mengada-adakannya ai Kairo adalah para kholifah
Fathimiyyah (baca : Syi’ah), dan orang yang pertama diantara mereka (yang
mengada-adakannya) adalah Al-Mi’izz li Dinillah.” [Lihat Ahsan Al-Kalam
fimaa Yata’allaq bi As-Sunnah wa Al-Bid’ah min Al-Ahkam, hal. 59, cet.
Mathba’ah Kurdistan Al-Ilmiyyah, Kairo, 1329 H]
Perayaan hari lahir (maulid) Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-, tidak
muncul, kecuali pada zaman Dinasti Al-Ubaidiyyun yang juga dikenal dengan
Dinasti Al-Fathimiyyun atau Al-Fathimiyyah pada tahun 362 H.
Tidak ada seorang pun yang mendahului mereka dalam merayakan maulid ini. Kemudian, mereka diikuti oleh Raja Damaskus, Al-Muzhaffar
sekitar abad ke tujuh. [Lihat Siyar A'lam An-Nubalaa' (20/365/no.
253)]
Perayaan maulid merupakan perkara baru dalam agama, karenanya para
ulama dari zaman ke zaman menampakkan pengingkaran terhadap acara tersebut.
Diantara ulama yang mengingkari perayaan maulid (namun ini bukan
pembatasan karena terbatasnya halaman):
Al-Imam Tajuddin Abu Hafsh 'Umar bin 'Ali Al-Lakhmy Al-Fakihaniy (wafat
734 H) -rahimahullah- berkata,
"لا أعلم لهذا
المولد أصلا في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم
القدوة_في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين؛ بل هو بدعة أحدثها البطالون، وشهوة
نفس اغتنى بها الأكالون." اهـــ من المورد في عمل المولد (ص: 8_9)
"Saya tidak mengetahui bagi perayaan
maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, dan tidak pula dari
Sunnah; tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorang pun di kalangan para
ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan
jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid'ah yang dimunculkan
oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca : pengangguran) dan bid'ah
ini juga merupakan selera nafsu yang amat diperhatikan oleh orang-orang yang
suka makan (baca : jago makan)". [Lihat Al-Maurid fii
'Amalil Maulid (hal. 8-9) karya Al-Fakihaniy, cet. Darul Ashimah, 1419
H]
Para pembaca yang budiman, masih banyak sisi keberagamaan kita
yang dilandasi oleh perasaan
Fenomena
lain dari hal itu, adanya sekelompok kaum muslimin yang masih gemar
mempertahankan adat-istiadat nenek moyangnya, yang nyata-nyata
menyelisihi petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –shollallallohu alaihi wa
sallam. Sering kali adat-adat yang mereka pertahankan datang dalam bentuk
ibadah yang bid’ah, maksiat, bahkan banyak diantaranya berbau kekafiran dan
kesyirikan.
Padahal
seorang muslim ketika telah menyatakan kalimat syahadatain, maka kalimat itu
menuntut dari seorang untuk meninggalkan segala bentuk penyucian, pembesaran,
dan pengkultusan makhluk, sehingga ia harus membersihkan dirinya dari
kekafiran, dan kesyirikan beserta symbol-simbol dan syi’ar-syiarnya.
Selain
itu, kalimat syahadatain juga menuntut seorang muslim untuk beribadah dan
beragama di atas petunjuk Nabi –alaihish sholatu was salam-, serta ia tidak
berani menyatakan bahwa perbuatan ini wajib (harus), haram (terlarang), mandub (dianjurkan),
mubah (halal) dan lainnya, kecuali ia kembalikan hukumnya kepada syariat dan
petunjuk wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).
Di
zaman kita ini, masih ada diantara kaum muslimin masih membesarkan nenek
moyangnya yang tidak jelas keberadaannya dalam agama. Tapi mereka mengangkat
kedudukannya melebihi derajat Nabi Muhammah –alaihish sholatu was salam-,
sehingga menurutnya adat-istiadat nenek moyangnya harus diikuti dan tidak boleh
dilanggar, walaupun menyelisihi Islam.
Para
pengkultus nenek moyang inilah yang pernah diisyaratkan oleh Allah –ta’ala-
dalam firman-Nya,
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ
اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ
آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
(170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ
إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171)}
[البقرة: 170، 171]
Dan
apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,”
mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami
dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “Apakah (mereka akan mengikuti
juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan
tidak mendapat petunjuk?” Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang
kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar
selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, mereka (oleh
sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah: 170-171)
Di dalam ayat yang lain, Allah menyinggung
mereka dengan firman-Nya,
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ
اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ
آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ }
[لقمان: 21]
Dan
apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan
Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa
yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan
mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam
siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS. Luqman 31:21)
Abul
Laits Nashr bin Muhammad As-Samarqondiy –rahimahullah- berkata,
"يعني: أو ليس الشيطان يَدْعُوهُمْ إِلى
عَذابِ السَّعِيرِ يعني: يدعوهم إلى تقليد آبائهم بغير حجة، فيصيروا إلى عذاب
السعير." اهــ من تفسير
السمرقندي = بحر العلوم (3/ 27)
“Maksudnya, bukankah setan mengajak mereka kepada siksa neraka
Sa’ir, yakni : mengajak mereka untuk taklid (membebek dan mengekor) kepada
nenek moyang mereka tanpa hujjah, sehingga mereka (yang melakukan taklid) ini
menuju ke neraka Sa’ir.” [Lihat Bahr
Al-Ulum (3/24) karya As-Samarqondiy, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1413 H]
Orang-orang
yang amat mengagungkan adat-istiadat nenek moyang ini, sering kali menyelisihi
petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah dalam ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, seni, ritual-ritual
ibadah (yang tidak dasarnya dalam Islam), dan segala hal yang mereka sandarkan
kepada nenek moyang mereka.
Lihatlah
kepada adat-istiadat yang batil itu dalam buku-buku primbon, horoskop, ramalan
nasib, atau zodiak, feng sui, lontara, atau aturan-aturan kerajaan yang
masih terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di sebagian tempat adat-istiadat
dan budaya yang menyelisihi agama, diberi perlindungan berupa CAGAR BUDAYA.
Adat-istiadat
yang batil dan menyelisihi petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi –shallallahu alaihi
wa sallam-, sangat banyak ragamnya. Disinilah pentingnya kita mempelajari
Al-Qur’an dan Sunnah, agar kita dapat memilah dan memilih mana budaya atau
adat-istiadat yang baik (tidak menyelisihi agama), dan mana yang batil
(menyelisihi agama).
Jadi,
seorang muslim dalam kehidupan dunia ini; jika ingin selamat, maka jadikanlah
wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai pedoman dan pegangan hidupmu serta imam
ikutanmu menuju surge. Jangan sekali-kali mengutamakan perasaan, akal, dan
sangkaan-sangkaan melebihi wahyu dari Allah –azza wa jalla-, sehingga anda pun
meninggalkan Al-Qur’an seperti yang dikatakan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam- sebagaimana yang Allah abadikan di dalam Kitab-Nya,
{وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي
اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (30) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ
نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
(31)} [الفرقان: 30، 31]
Berkatalah
Rasul, “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran itu sesuatu yang ditinggalkan.”
“Dan
seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang
yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al Furqon: 30-31)
Apa yang dibenarkan oleh wahyu, maka kita benarkan! Sebaliknya, apa yang disalahkan oleh wahyu, maka kita tolak, walaupun itu adalah warisan leluhur dan nenek moyang kita!!
Apa yang dibenarkan oleh wahyu, maka kita benarkan! Sebaliknya, apa yang disalahkan oleh wahyu, maka kita tolak, walaupun itu adalah warisan leluhur dan nenek moyang kita!!
Ketahuilah
bahwa di dalam mengikuti wahyu, terdapat kebahagiaan seorang hamba, dan
sebaliknya, di dalam meninggalkan wahyu terdapat kebinasaan, kesempitan jiwa
dan kesengsaraan!
Allah –tabaroka
wa ta’ala- berfirman,
{قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ
فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ
مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125)
{قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا
فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)} [طه:123-126]
“Dia
(Allah) berfirman, Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu
menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku,
maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan
tidak akan celaka."
“Dan
barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta”.
Dia
berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal
dahulu aku dapat melihat?”
Dia
(Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami,
dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.” (QS.Tha-ha: 123-126)
===============================
INFO PENTING
===============================
Dukung Kami
Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.
“ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “
"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]
# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
BRI. Unit Borong Loe
(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN
Kontak Person :
0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
0852-4154-8039 (Saudara Bahriadi, SE.)
0821-8831-3323 (Saudara Muhammad Sabir)
Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.

Komentar
Posting Komentar