Kamis, 27 Juli 2017

Agama bukan Perasaan (Sorotan terhadap Cara Keberagamaan Kaum Muslimin)



"Agama bukan Perasaan"
 (Sorotan terhadap Cara Keberagamaan Kaum Muslimin)

Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.

Jika kita menelisik kehidupan beragama dari kaum muslimin di Indonesia, atau negeri lainnya, maka kita akan banyak menemukan bukti dan fenomena yang menguatkan bahwa kehidupan beragama kita masih sebatas perasaan.

Padahal agama bukanlah perasaan, hawa nafsu dan akal-akalan semata. Agama adalah wahyu dan petunjuk datang dari langit sana.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
{وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ...} [المائدة: 48]
"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu". (QS. Al-Maa'idah : 48)

Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"أَيْ: لَا تَنْصَرِفْ عَنِ الْحَقِّ الَّذِي أَمَرَكَ اللَّهُ بِهِ إِلَى أَهْوَاءِ هؤلاء من الجهلة الأشقياء." اهـ من تفسير ابن كثير، ط. دار طيبة، ت : سامي سلامة (3/ 128)
"Maksudnya, janganlah engkau berpaling dari kebenaran yang Allah perintahkan kepadamu, menuju keinginan-keinginan dari orang-orang jahil lagi celaka itu". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/128), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Ini menunjukkan bahwa seorang dalam beragama tidaklah mengikuti keinginan dan perasaan manusia, tapi mengikuti wahyu dari Allah -Azza wa Jalla- dan petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang bersumber dari bimbingan Allah.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَقُولُ : "عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ."
"Ingatlah sungguh aku telah diberi Al-Kitab, dan semisalnya bersamanya. Ingatlah, hampir-hampir akan ada seseorang yang kenyang di atas ranjangnya seraya berkata, "Berpeganglah saja dengan Al-Qur'an ini. Karenanya, apa saja yang kalian temukan di dalamnya berupa sesuatu yang halal, maka halalkan, dan apa saja yang kalian temukan di dalamnya beruapa sesuatu yang haram, maka haramkanlah". [HR. Abu Dawud (no. 4606). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Al-Misykah (no. 163)]

Para pembaca yang budiman, jadi seorang muslim hendaknya dalam beragama, ia mengikuti petunjuk wahyu, baik yang terdapat dalam Al-Qur'an, maupun hadits (sabda) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bukan mengikuti perasaan dan hawa nafsu, tanpa bimbingan wahyu.

Perasaan dan hawa nafsu adalah tabiat pada manusia. Perasaan terkadang mendorong seseorang ke arah kebaikan dan terkadang pula kepada keburukan.

Karenanya, syariat datang menjelaskan segala sesuatu agar perasaan dapat mengikuti kebaikan yang ditunjukkan oleh wahyu.

Perasaan, akal dan hawa nafsu bukanlah pemimpin, pengarah dan teladan bagi manusia dalam beragama. Perasaan, akal dan hawa nafsu harus ikut dan tunduk kepada petunjuk wahyu!!

Disinilah kerusakan sebagian kaum muslimin saat ia beragama, maka ia selalu menjadikan perasaan dan akalnya sebagai penentu dan pemimpin, bukan wahyu sebagai penentu dan pemutus perkara dalam kehidupannya!!

Akhirnya, Al-Qur'an ia kesampingkan, bahkan terkadang ia buang di balik punggungnya.

Sebagai contoh, lihatlah mereka yang lebih memuliakan hukum-hukum Belanda, Perancis, Amerika, Jerman dan kawanannya dari kalangan orang-orang yang Allah sesatkan hatinya.

Perasaan mereka lebih senang mengikuti hukum, atau undang-undang buatan manusia lemah, bahkan kafir, walaupun jelas-jelas banyak kekurangannya harus direvisi sepanjang abad!!

Manakah orang-orang yang mau mengagungkan Al-Qur'an dan mengikutinya.

Mengapakah kita meniru kaum jahiliah yang selalu mencari petunjuk dan penentu hidup dari selain wahyu Allah?!

Jangan-jangan kita terkena firman Allah,
{وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50) } [المائدة: 49، 50]
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maa'idah : 49-50)

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy -rahimahullah- berkata,
"وَفِيهِ النَّهْيُ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ يَتَّبِعَ أَهْوِيَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ وَيَعْدِلَ عَنِ الْحَقِّ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَإِنَّ كُلَّ مِلَّةٍ مِنَ الْمِلَلِ تَهْوَى أَنْ يَكُونَ الْأَمْرُ عَلَى مَا هُمْ عَلَيْهِ وَمَا أدركوا_عَلَيْهِ سَلَفَهُمْ وَإِنْ كَانَ بَاطِلًا مَنْسُوخًا أَوْ مُحَرَّفًا عَنِ الْحُكْمِ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ، كَمَا وَقَعَ فِي الرَّجْمِ وَنَحْوِهِ مِمَّا حَرَّفُوهُ مِنْ كُتُبِ اللَّهِ." اهـــ من فتح القدير للشوكاني (2/ 55_56)
"Di dalam ayat ini terdapat larangan bagi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari mengikuti keinginan-keinginan ahli Kitab, lalu berpaling dari kebenaran yang Allah turunkan kepada beliau. Karena, pemeluk setiap agama menginginkan agar segala urusan berdasarkan sesuatu yang mereka pijaki dan sesuatu yang mereka warisi dari nenek moyangnya, walaupun urusan itu batil, mansukh (terhapus hukumnya), ataukah telah diselewengkan dari hukum yang pernah Allah turunkan kepada para nabi sebagaimana yang terjadi pada perkara rajam (bagi pezina yang sudah nikah) dan sejenisnya diantara perkara-perkara yang telah mereka selewengkan dari kitab-kitab Allah". [Lihat Fathul Qodir Al-Jami' baina Fannai Ar-Riwayah wa ad-Diroyah min Ilm At-Tafsir (2/70)]

Disinilah kita akan heran dengan sebagian kaum muslimin yang amat bangga dan senang mengadopsi hukum-hukum manusia kafir, entah dari kalangan Ahlul Kitab atau selainnya, lalu membuang Al-Qur'an di balik punggung mereka.

Padahal semua hukum yang mereka tetapkan hanyalah berdasarkan pengalaman yang didasari oleh perasaan, akal dan hawa nafsu semata.

Kalaupun ada diantaranya yang mereka dasari dengan hukum-hukum Taurat atau Injil, tapi ketahuilah semua hukum-hukum itu telah dihapus oleh Al-Qur'an dan diganti dengan yang lebih baik.

Namun Taurat dan Injil yang ada di tangan mereka, kini telah disusupi berbagai utak-atik dan penyelewengan (baik berupa pengubahan kata atau kalimat, pengurangan, dan penambahan) yang dilakukan oleh para pendeta dan pembesar mereka.

Kalau pun mereka bersikeras bahwa itu juga kebaikan, maka kita katakan bahwa tak ada kebaikan, melainkan Al-Qur'an beserta Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menjelaskannya.

Ketahuilah bahwa hukum-hukum buatan manusia amat banyak memiliki kekurangan yang harus dibenahi sana-sini dan dihapus atau diubah.

Adapun hukum Allah yang tertera dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia sudah paten dan siap menjawab segala tantangan zaman, sebab ia cocok di segala tempat dan zaman.

Kalau tak percaya, buktikan saja melalui kajian dan penerapan. Jangan tertipu dengan propaganda para pejuang hukum-hukum jahiliah.

Gambaran lain dari sisi keberagamaan kita yang masih dilandasi oleh perasaan, adanya sekelompok kaum muslimin yang suka mengada-adakan ajaran baru alias bid'ah dalam agama.

“Bid'ah” (penemuan baru) dalam perkara dunia selama bermanfaat dan tak membawa hal negatif, maka ia terpuji.

Adapun bid'ah dalam perkara agama (yakni, ajaran yang baru ditemukan) yang tak pernah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka semuanya adalah keburukan dan kesesatan, walapun akal dan perasaan kita memandangnya sebagai perkara yang baik.

Bid'ah dalam beragama, misalnya: perayaan Maulid, Isra'-Mi'raj, Nuzulul Qur'an, perayaan tahun baru (Masehi atau Hijriyyah), dzikir berjama'ah, haulan kematian, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Semua ini adalah ajaran baru yang tak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Tapi anehnya, para kiai dan ustadz berusaha mengutak-atik dan mencari-cari dalih dalam membenarkannya agar dapat mengikuti selera dan perasaan masyarakat yang senang kepada bid'ah-bid'ah seperti itu.

Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang mengadakan suatu perkara (baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk darinya, maka perkara itu tertolak". [HR.Al-Bukhary dalam Shahih-nya (2697) dan Muslim dalam Shahih-nya (1718)]

Bahkan beliau bersabda mencap sesat semua bid'ah dalam perkara agama,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
"Wasapadalah kalian terhadap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat". [HR. Abu Dawud (4609). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2735)]

Perkara Maulid –misalnya-, ia perkara baru yang diada-adakan orang-orang belakangan, berdasarkan perasaan mereka belaka, bukan didasari oleh dalil.

Nanti belakangan, sejak maulid diperingati oleh banyak orang, barulah para pejuang maulid mencari-cari dalil tentang keabsahannya. Walaupun semua dalil itu tak ada sedikitpun padanya sisi yang menguatkan mereka. Entah mereka berhujjah dengan dalil yang shohih (benar), namun di tempatkan bukan tempatnya dan tidak mendukung bid’ah yang mereka serukan! Kadang pula mereka berhujjah dengan hadits-hadits yang dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Jika kita mau merujuk kepada sejarah, maka maulid itu diada-adakan oleh orang-orang menyimpang dan sesat dari kalangan sekte sesat yang bernama Syi'ah.

Seorang ulama besar Al-Azhar Asy-Syarif Mesir , Syaikh Ali Mahfuzh Al-Hasaniy –rahimahullah- berkata,
"أول من أحدثها بالقاهرة : الخلفاء الفاطميون في القرن الرابع ، فابتدعوا ستة موالد : المولد النبوي ، ومولد الإمام علي رضي الله عنه ، ومولد فاطمة الزهراء رضي الله عنها ، ومولد الحسن والحسين رضي الله عنهما ، ومولد الخليفة الحاضر ، وبقيت الموالد على رسومها ، إلى أن أبطلها " الأفضل أمير الجيوش " ، ثم أعيدت في خلافة الآمر بأحكام الله في سنة أربع وعشرين وخمسمائة ، بعدما كاد الناس ينسونها، وأول من أحدث المولد النبوي بمدينة " إربل " : الملك المظفر أبو سعيد في القرن السابع ، وقد استمر العمل بالمولد إلى يومنا هذا ، وتوسع الناس فيها ، وابتدعوا كل ما تهواه أنفسهم ، وتوحيه شياطين الإنس والجن" انتهى  من الإبداع في مضار الابتداع " (ص 251)
“Orang yang pertama kami mengada-adakan maulid di Kairo adalah para khalifah Fathimiyyah (Syi’ah) di abad keempat.
Mereka menciptakan 6 maulid : Maulid Nabi, Maulid Imam Ali –radhiyallahu anhu-, Maulid Fathimah Az-Zahro’ –radhiyallahu anha-, Maulid Hasan dan Husain –radhiyallahu anhuma-, dan Maulid kholifah yang berkuasa.
Maulid-maulid itu senantiasa di atas ritualnya sampai kemudian dibasmi oleh Al-Afdhol Amirul Juyusy (Penguasa Mesir).
Kemudian maulid-maulid tersebut dihidupkan kembali pada masa khilafah Al-Amir bi Ahkamillah (dari sekte sesat Syi’ah) pada tahun 524 H, dimana manusia sebelumnya telah melupakannya.
Orang yang pertama kali mengadakan maulid Nabi di Kota Irbil (sebuah daerah di Iraq, -pent.) adalah Raja Al-Muzhoffar Abu Sa’id pada abad ke-7 H.
Pelaksanaan maulid terus berlanjut sampai hari kita ini. Manusia pun berluas-luas di dalamnya, dan mengada-adakan segala perkara yang disukai oleh hawa nafsu mereka, dana pa yang dibisikkan oleh setan dari kalangan jin dan manusia.”  [Lihat Al-Ibda’ fi Madhorril Ibtida’, hal. 251, cet. Dar Al-I’tishom)

Mantan Mufti Mesir, Al-Allamah Syaikh Muhammad Bukhoit Al-Muthi’iy –rahimahullah- berkata,
مما أحدث وكثر السؤال عنه الموالد، فنقول: إن أول من أحدثها بالقاهرة الخلفاء الفاطميون وأولهم المعز لدين الله
“Diantara perkara yang diada-adakan (dalam agama) dan sering ada pertanyaan tentangnya adalah maulid.
Karenanya, kami katakan :
Sesungguhnya orang yang pertama kali mengada-adakannya ai Kairo adalah para kholifah Fathimiyyah (baca : Syi’ah), dan orang yang pertama diantara mereka (yang mengada-adakannya) adalah Al-Mi’izz li Dinillah.” [Lihat Ahsan Al-Kalam fimaa Yata’allaq bi As-Sunnah wa Al-Bid’ah min Al-Ahkam, hal. 59, cet. Mathba’ah Kurdistan Al-Ilmiyyah, Kairo, 1329 H]

Perayaan hari lahir (maulid) Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-, tidak muncul, kecuali pada zaman Dinasti Al-Ubaidiyyun yang juga dikenal dengan Dinasti Al-Fathimiyyun atau Al-Fathimiyyah pada tahun 362 H.

Tidak ada seorang pun yang mendahului mereka dalam merayakan maulid ini. Kemudian, mereka diikuti oleh Raja Damaskus, Al-Muzhaffar sekitar abad ke tujuh. [Lihat Siyar A'lam An-Nubalaa' (20/365/no. 253)]

Perayaan maulid merupakan perkara baru dalam agama, karenanya para ulama dari zaman ke zaman menampakkan pengingkaran terhadap acara tersebut.

Diantara ulama yang mengingkari perayaan maulid (namun ini bukan pembatasan karena terbatasnya halaman):

Al-Imam Tajuddin Abu Hafsh 'Umar bin 'Ali Al-Lakhmy Al-Fakihaniy (wafat 734 H) -rahimahullah- berkata,
"لا أعلم لهذا المولد أصلا في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة_في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين؛ بل هو بدعة أحدثها البطالون، وشهوة نفس اغتنى بها الأكالون." اهـــ من المورد في عمل المولد (ص: 8_9)
"Saya tidak mengetahui bagi perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, dan tidak pula dari Sunnah; tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorang pun di kalangan para ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid'ah yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca : pengangguran) dan bid'ah ini juga merupakan selera nafsu yang amat diperhatikan oleh orang-orang yang suka makan (baca : jago makan)". [Lihat Al-Maurid fii 'Amalil Maulid (hal. 8-9) karya Al-Fakihaniy, cet. Darul Ashimah, 1419 H]

Para pembaca yang budiman, masih banyak sisi keberagamaan kita yang dilandasi oleh perasaan

Fenomena lain dari hal itu, adanya sekelompok kaum muslimin yang masih gemar mempertahankan adat-istiadat nenek moyangnya, yang nyata-nyata menyelisihi petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –shollallallohu alaihi wa sallam. Sering kali adat-adat yang mereka pertahankan datang dalam bentuk ibadah yang bid’ah, maksiat, bahkan banyak diantaranya berbau kekafiran dan kesyirikan.

Padahal seorang muslim ketika telah menyatakan kalimat syahadatain, maka kalimat itu menuntut dari seorang untuk meninggalkan segala bentuk penyucian, pembesaran, dan pengkultusan makhluk, sehingga ia harus membersihkan dirinya dari kekafiran, dan kesyirikan beserta symbol-simbol dan syi’ar-syiarnya.

Selain itu, kalimat syahadatain juga menuntut seorang muslim untuk beribadah dan beragama di atas petunjuk Nabi –alaihish sholatu was salam-, serta ia tidak berani menyatakan bahwa perbuatan ini wajib (harus), haram (terlarang), mandub (dianjurkan), mubah (halal) dan lainnya, kecuali ia kembalikan hukumnya kepada syariat dan petunjuk wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).

Di zaman kita ini, masih ada diantara kaum muslimin masih membesarkan nenek moyangnya yang tidak jelas keberadaannya dalam agama. Tapi mereka mengangkat kedudukannya melebihi derajat Nabi Muhammah –alaihish sholatu was salam-, sehingga menurutnya adat-istiadat nenek moyangnya harus diikuti dan tidak boleh dilanggar, walaupun menyelisihi Islam.

Para pengkultus nenek moyang inilah yang pernah diisyaratkan oleh Allah –ta’ala- dalam firman-Nya,
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171)} [البقرة: 170، 171]
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, mereka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah: 170-171)
 Di dalam ayat yang lain, Allah menyinggung mereka dengan firman-Nya,
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ } [لقمان: 21]
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS. Luqman 31:21)

Abul Laits Nashr bin Muhammad As-Samarqondiy –rahimahullah- berkata,
"يعني: أو ليس الشيطان يَدْعُوهُمْ إِلى عَذابِ السَّعِيرِ يعني: يدعوهم إلى تقليد آبائهم بغير حجة، فيصيروا إلى عذاب السعير." اهــ من تفسير السمرقندي = بحر العلوم (3/ 27)
“Maksudnya, bukankah setan mengajak mereka kepada siksa neraka Sa’ir, yakni : mengajak mereka untuk taklid (membebek dan mengekor) kepada nenek moyang mereka tanpa hujjah, sehingga mereka (yang melakukan taklid) ini menuju ke neraka Sa’ir.”  [Lihat Bahr Al-Ulum (3/24) karya As-Samarqondiy, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1413 H]

Orang-orang yang amat mengagungkan adat-istiadat nenek moyang ini, sering kali menyelisihi petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah dalam ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, seni, ritual-ritual ibadah (yang tidak dasarnya dalam Islam), dan segala hal yang mereka sandarkan kepada nenek moyang mereka.

Lihatlah kepada adat-istiadat yang batil itu dalam buku-buku primbon, horoskop, ramalan nasib, atau zodiak, feng sui, lontara, atau aturan-aturan kerajaan yang masih terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di sebagian tempat adat-istiadat dan budaya yang menyelisihi agama, diberi perlindungan berupa CAGAR BUDAYA.

Adat-istiadat yang batil dan menyelisihi petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, sangat banyak ragamnya. Disinilah pentingnya kita mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, agar kita dapat memilah dan memilih mana budaya atau adat-istiadat yang baik (tidak menyelisihi agama), dan mana yang batil (menyelisihi agama).

Jadi, seorang muslim dalam kehidupan dunia ini; jika ingin selamat, maka jadikanlah wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai pedoman dan pegangan hidupmu serta imam ikutanmu menuju surge. Jangan sekali-kali mengutamakan perasaan, akal, dan sangkaan-sangkaan melebihi wahyu dari Allah –azza wa jalla-, sehingga anda pun meninggalkan Al-Qur’an seperti yang dikatakan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang Allah abadikan di dalam Kitab-Nya,
{وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (30) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا (31)} [الفرقان: 30، 31]
Berkatalah Rasul, “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran itu sesuatu yang ditinggalkan.”
“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al Furqon: 30-31)

Apa yang dibenarkan oleh wahyu, maka kita benarkan! Sebaliknya, apa yang disalahkan oleh wahyu, maka kita tolak, walaupun itu adalah warisan leluhur dan nenek moyang kita!!

Ketahuilah bahwa di dalam mengikuti wahyu, terdapat kebahagiaan seorang hamba, dan sebaliknya, di dalam meninggalkan wahyu terdapat kebinasaan, kesempitan jiwa dan kesengsaraan!

Allah –tabaroka wa ta’ala- berfirman,
{قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125)
{قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)} [طه:123-126]
“Dia (Allah) berfirman, Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka."
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”
Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.” (QS.Tha-ha: 123-126)


===============================

INFO PENTING

===============================

Dukung Kami

Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.


“ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 



"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]


# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI. Unit Borong Loe

(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN

Kontak Person :

0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
0852-4154-8039 (Saudara Bahriadi, SE.)
0821-8831-3323 (Saudara Muhammad Sabir)


Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.






                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar