Menyingkap Kedustaan Para Dukun dan Tukang Ramal
Menyingkap Kedustaan Para Dukun dan Tukang Ramal
Penulis :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_
Di zaman ini, muncul pendusta-pendusta
ulung yang suka menipu manusia. Sebagian orang menamainya dengan "paranormal",
“tukang ramal”, “ahli nujum”, “tau macca” (Bugis :
"orang pintar"), "tukang sihir", "dukun",
dan lainnya.
Pendusta-pendusta ulung ini
walaupun ia tak "sehebat" dengan bapak professor, namun ia punya
"kepandaian" dalam menipu orang, dan terkadang tampil dengan jubah
agama. Dia mampu memukau orang dengan berbagai macam tipuannya.
Pendusta-pendusta
ulung
ini juga mengaku tahu perkara ghaib. Ketika ditanyai tentang nasib orang, rezekinya,
jodohnya, atau sandalnya yang hilang, maka ia pun menipu manusia dengan jawaban-jawaban
yang dusta.
Terkadang juga dengan jawaban yang
benar secara kebetulan, atau karena hasil kerja samanya dengan setan dari
kalangan jin yang membantu dirinya di atas kekafiran dan maksiat.
Syaikh Muhammad
bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya tentang pendusta-pendusta
ini, yang mengaku tahu perkara ghaib dengan pertanyaan berikut: "Apa
hukumnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib?"
Kemudian Syaikh Al-Utsaimin
-rahimahullah- menjawab pertanyaan ini dalam kitabnya Fatawa Arkan
Al-Islam (hal. 40),
"Hukumnya orang yang mengaku
tahu perkara ghaib bahwa ia kafir, karena ia adalah orang yang mendustakan
Allah -Azza wa Jalla- .
Allah -Ta'ala- berfirman,
{قُلْ
لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا
يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65)} [النمل: 65]
"Katakanlah,
"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan
dibangkitkan". (QS.An-Naml : 65).
Apabila Allah
-Azza wa Jalla- memerintahkan Nabi-Nya Muhammad -Shollallahu 'alaihi wasallam-
untuk mengumumkan kepada orang banyak (publik) bahwa tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.
Apabila
demikian, maka sesungguhnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib telah
mendustakan Allah -Azza wa Jalla- dalam berita (ayat) ini.
Kami katakan
kepada mereka (para pendusta itu), "Bagaimana mungkin kalian bisa
mengetahui, sementara Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- tidak mengetahui perkara ghaib?!
Apakah kalian
lebih mulia ataukah Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- ?!"
Jika mereka
berkata, "Kami lebih mulia daripada Rasul", maka mereka ini kafir,
karena ucapan ini.
Bila mereka
berkata, "Beliau lebih mulia", maka kami katakan, "Kenapa
dihalangi (disembunyikan) bagi beliau perkara ghaib, sedang kalian malah bisa
tahu?!
Padahal Allah
-Azza wa Jalla- sungguh telah tentang diri-Nya,
{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى
غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ
بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27)} [الجن: 26، 27]
"(Dia
adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada
seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka
Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di
belakangnya". (QS.Al-Jin : 26-27).
Ini adalah
ayat kedua yang menunjukkan kafirnya orang yang mengaku tahu perkara
ghaib.
Allah
-Ta'ala- juga sunnguh telah
memerintahkan Nabi-Nya untuk mengumumkan kepada publik dalam firman-Nya,
{قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ
اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ
أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (50)} [الأنعام: 50]
"Katakanlah:
Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak
(pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa
Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.
Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka
apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS.Al-An'am : 50)".
_Selesai nukilan dari Syaikh Al-Utsaimin_
Kedustaan
para dukun alias tukang ramal telah disingkap jauh hari oleh Rasulullah –shallallahu
alaihi wa sallam- di dalam sabdanya,
" إِنَّ المَلاَئِكَةَ تَنْزِلُ فِي العَنَانِ:
وَهُوَ السَّحَابُ، فَتَذْكُرُ الأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ، فَتَسْتَرِقُ
الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ، فَتُوحِيهِ إِلَى الكُهَّانِ،
فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ "
“Sesungguhnya
para malaikat turun ke awan, lalu mereka menyebutkan perkara yang telah Allah
putuskan di langit. Lalu setan-setan itu (berusaha) mencuri dengar, lalu mereka
mendengar hal itu, dan mewangsitkannya kepada para dukun. Namun mereka
menambahkan bersamanya 100 kedustaan dari sisi diri mereka.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(no. 3210)]
Al-Hafizh Ibnu
Hajar Al-Asqolaniy Asy-Syafi’iy –rahimahullah- berkata saat memetik pelajaran
dari hadits ini,
"وَفِي
الْحَدِيثِ بَقَاءُ اسْتِرَاقِ الشَّيَاطِينِ السَّمْعَ لَكِنَّهُ قَلَّ وَنَدَرَ
حَتَّى كَادَ يَضْمَحِلُّ بِالنِّسْبَةِ لِمَا كَانُوا فِيهِ مِنَ الْجَاهِلِيَّةِ
وَفِيهِ النَّهْيُ عَنْ إِتْيَانِ الْكُهَّانِ." انظر : فتح الباري لابن حجر
(10/ 221)
“Di
dalam hadits ini terdapat (pelajaran) tentang adanya curi pendengaran oleh
setan-setan (dari laingit). Hanya saja hal itu sedikit dan jarang sampai hampir punah kaitannya dengan apa yang mereka lakukan di
masa jahiliah. Di dalam hadits itu juga terdapat larangan dari mendatangi para
dukun.” [Lihat Fath Al-Bari (10/221)]
Di masa
jahiliah, para setan dari kalangan jin senang mempermainkan kaum musyrikin
dengan berbagai kedustaan melalui mulut para tukang ramal, ahli nujum, dan
dukun-dukun yang sering kali bekerjasama dengan para jin dalam mendustai dan
menyesatkan manusia.
Namun setelah
terutusnya Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- ke tengah manusia pada
masa itu dan mereka pun beriman, maka para sahabat tidak lagi mempercayai
igauan dan ucapan para dukun, tukan ramal dan ahli nujum, sehingga para setan
pun tidak lagi menyampaikan berita-berita curian yang dibumbui berbagai
kedustaan kepada para dukun dan tukang ramal tersebut.
Di sini ada
sebuah pelajaran bagi kita bahwa kapan waktu kejahilan merebak di tengah
manusia, maka setan dan para walinya dari kalangan dukun-dukun, tukang ramal
dan ahli nujum akan giat menjalankan misinya dalam menyesatkan manusia dengan
berbagai kedustaan!
Sebaliknya,
kapan waktu kesesatan dan kejahilan itu hilang dan digantikan oleh ilmu dan
kebenaran dari Allah, maka usaha penyesatan setan juga akan berkurang, bahkan
akan sirna di tengah manusia.
Mendatangi
tukang ramal (paranormal atau ahli nujum) dan dukun yang mengaku tahu hal-hal
gaib dan mistik merupakan yang amat terlarang dalam Islam.
Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
«مَنْ أَتَى
عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ
لَيْلَةً»
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia
bertanya kepadanya, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2230)]
Begitu
besarnya dosa mendatangi tukang ramal atau dukun, sampai Nabi –shallallahu alaihi
wa sallam- mengabarkan kepada kita sholatnya orang yang mendatangi mereka tidak
diterima di sisi Allah selama 40 hari.
Ini merupakan
ancaman dan kecaman keras yang mengisyaratkan bahwa mendatangi tukang rama atau
dukun adalah dosa besar.
Al-Imam Abul
Abbas Al-Qurthubiy –rahimahullah- berkata,
"وهذا يدلّ
على : أن إتيان العرافين كبيرة." انظر : المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم
(18/ 108)
“Hadits
ini menunjukkan bahwa mendatangi para peramal adalah dosa besar.” [Lihat Al-Mufhim lima Asykala min
Talkhish Kitabi Muslim (18/108)]
Kemudian
orang yang mendatangi para peramal atau dukun ada dua jenisnya :
* Ia datang
bertanya, tapi tidak membenarkan ucapan peramal atau dukun. Orang yang seperti
ini telah melakukan dosa besar!
* Ia datang
bertanya, lalu membenarkan ucapan peramal atau dukun. Orang yang seperti ini
telah melakukan pelanggaran yang lebih besar daripada yang sebelumnya, bahkan
di antara ulama ada yang mengafirkannya!
Al-Husain bin
Mahmud Az-Zaidaniy –rahimahullah-
berkata,
"إن أتى أحدٌ عرَّافًا، فسأله شيئًا، فأخبره عن غيبٍ، فإن صدَّقه في ذلك
الخبر فهو كافرٌ حتى يجدِّد الإيمانَ، ولا تُقبَل له صلاةٌ ولا غيرُها من الطاعات
قبل أن يجدِّدَ الإيمانَ.
وإن لم يُصدِّقه فلم يكفر، ولكن لا تُقبَل كمالُ صلاتِه وغيرِها من الطاعة
أربعين يومًا كما ذكر النبي - صلى الله عليه وسلم -." اهـ من المفاتيح في شرح
المصابيح (5/ 99)
“Jika
seseorang mendatangi seorang peramal, lalu ia menanyainya tentang sesuatu, lalu
si peramal mengabarkan kepadanya tentang perkara
gaib.
Jika ia membenarkan si peramal tentang berita itu, maka
ia kafir sampai ia memperbaharui imannya, serta sholatnya dan yang lainnya
berupa ketaatan-ketaatannya tidak akan diterima sebelum ia memperbaharui
imannya.
Jika ia tidak membenarkan si peramal, maka ia tidak
kafir. Namun kesempurnaan sholatnya dan yang lainnya dari amalan-amalan
ketaatannya tidak akan diterima selama 40 hari sebagaimana yang disebutkan oleh
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.” [Lihat Al-Mafatih fi Syarh Al-Mashobih (5/99]
Jika orang
yang mendatanginya dan membenarkannya adalah, maka disini ada isyarat bahwa dukun
dan peramal itu telah melakukan kekafiran!
Sekali lagi
bahwa mendatangi para dukun, peramal, ahli nujum, atau paranormal adalah dosa
besar, bahkan dapat mengantarkan kepada kekafiran. Mendatangi mereka adalah
kebiasaan kaum jahiliah yang ditentang keras oleh Islam!
/https://www.thestar.com/content/dam/thestar/uploads/2019/06/21/untitled-design-15--0.png)
Komentar
Posting Komentar