“Jangan Mencela Para Sahabat !!”
“Jangan Mencela Para Sahabat
!!”
oleh :
Ustadz Abdul Qodir
Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Para sahabat Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- merupakan generasi terbaik yang dipilih oleh Allah -Subhanahu
wa Ta’ala- untuk menemani Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam
memperjuangkan, dan menyebarkan Islam. Jasa mereka kepada Islam dan kaum
muslimin amat besar.
Namun sangat
disayangkan, pada hari ini muncul generasi yang jelek berusaha merendahkan para
sahabat, menghina mereka, bahkan menganggap mereka munafiq dan kafir, na’udzu
billah.
Usaha merendahkan dan
mencela sahabat, muncul dengan berbagai macamnya.
Ada yang menghina
sahabat dengan alasan “Studi Kritis Sejarah Islam”, atau“Pembelaan
Terhadap Ahlul Bait”, dan berbagai macam slogan yang berakhir pada satu
muara, yaitu mencela sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .
Parahnya lagi, jika
usaha busuk ini diusung oleh para mahasiswa muslim.
Ini tentunya
menyalahi adab dan aqidah ahlus sunnah yang memerintahkan kita memuliakan
sahabat, memujinya, mendoakan kebaikan baginya, dan menahan lisan dan hati dari
benci kepada mereka.
Mencela sahabat,
apalagi sampai menganggapnya munafik, dan telah berbuat makar, atau
mengkafirkannya adalah merupakan perkara yang berbahaya bagi aqidah seorang
muslim.
Seorang muslim harus
membersihkan lisan dan hatinya dari kata-kata yang tidak layak, sifat benci dan
dendam kepada para sahabat -radhiyallahu anhum ajma’in-, apakah ia dari
kalangan orang-orang terdahulu masuk Islam ataukah belakangan.
Yang jelas ia adalah
sahabat Nabi-shollallahu alaihi wasallam-, maka kita harus beradab dan
sopan kepada mereka dalam berkata dan bersikap.
Cinta para sahabat Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam-, baik itu ahlul bait maupun bukan merupakan tanda
keimanan seseorang, dan membenci mereka adalah tanda nifaq.
Al-Imam Al-Bukhary -rahimahullah-
berkata, “Bab Tanda Keimanan Adalah Cinta Kepada Orang-Orang Anshar”.
Setelah itu Al-Bukhary membawakan sebuah
hadits dari Anas -radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi
wasallam-, beliau bersabda,
آيَةُ
الْمُنَافِقِ بُغْضُ اْلأَنْصَارِ وَآيَةُ
الْمُؤْمِنِ حُبُّ اْلأَنْصَارِ
“Tanda kemunafiqan itu adalah membenci
orang-orang Anshar dan tanda keimanan itu adalah mencintai orang-orang Anshar”. [Lihat Shahih
Al-Bukhoriy (1/14/17)]
Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata ketika
menafsirkan hadits di atas,
"الآية هي العلامة ومعنى هذه الأحاديث
أن من عرف مرتبة الأنصار وما كان منهم في نصرة دين الإسلام والسعي في إظهاره
وإيواء المسلمين وقيامهم في مهمات دين الإسلام حق القيام محبهم النبي صلى الله
عليه وسلم وحبه إياهم وبذلهم أموالهم وأنفسهم بين يديه وقتالهم ومعاداتهم سائر
الناس إيثارا للإسلام وعرف من علي ابن أبي طالب رضي الله عنه قربه من رسول الله
صلى الله عليه وسلم وحب النبي صلى الله عليه وسلم له وما كان منه في نصرة الإسلام
وسوابقه فيه ثم أحب الأنصار وعليا لهذا - كان ذلك من دلائل صحة إيمانه وصدقه في
إسلامه لسروره بظهور الإسلام والقيام بما يرضي الله سبحانه وتعالى ورسوله صلى الله
عليه وسلم ومن أبغضهم كان بضد ذلك واستدل به على نفاقه وفساد سريرته." اهـ من
الديباج على صحيح مسلم بن الحجاج (1/ 92)
“Tanda-tanda orang beriman adalah
mencintai orang-orang Anshar. Karena, siapa saja yang mengerti martabat mereka
dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam,
jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat (muhajirin,pen),
cinta mereka kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, pengorbanan jiwa dan
harta mereka di depan Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam-, permusuhan mereka
terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya. Semua
itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dia dalam berislam.
Barangsiapa yang membenci mereka di balik semua pengorbanan itu, maka itu
merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini”. [Lihat Ad-Dibaj
ala Shohih Muslim Ibnil Hajjaj (1/92)]
Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam-
bersabda saat melarang keras mencela para sahabat dengan menerangkan martabat mereka,
لاَ
تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا
مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ
“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara kalian
berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu mencapai satu
mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”. [HR.Al-Bukhary
dalam Shahih-nya (no. 3470), Muslim dalam Shahih-nya
(no. 2541)].
Dari dua hadits ini dan hadits lainnya yang
semakna, Ahlis Sunnah menetapkan suatu aqidah: “Wajibnya mencintai para
sahabat Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- dan tidak mencela mereka, bahkan
memuliakan mereka serta membersihkan hati dan lisan dari membicarakan
permasalahan di antara para sahabat, mencela, merendahkan dan menghina para
sahabat”.
Sebab merekalah yang memperjuangkan Islam dan
menyebarkannya dengan mengorbankan harta dan jiwa mereka sampai kita juga bisa
merasakan nikmat Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata,
“Di antara prinsip Ahlus Sunnah, selamatnya hati dan lisan mereka dari
sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam- dan berlepas diri dari jalan
hidupnya orang-orang Rofidhoh yang membenci dan mencela para sahabat.
Mereka (Ahlussunnah) menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara
mereka, dan berkata:
[‘Sesungguhnya
atsar-atsar yang teriwayatkan mengenai kejelekan para sahabat, di antaranya ada
berita dusta, ada juga yang sudah ditambahi dan dikurangi, serta diubah dari
semestinya’].
Para sahabat lebih dahulu berislam,
dan memiliki keutamaan-keutamaan yang mengharuskan diampuninya dosa yang ada
pada dari mereka, apabila ada. Sehingga mereka diampuni dari segala kekeliruan
yang tidak diampuni bagi orang setelah mereka. Lalu jika ada dosa pada salah
seorang di antara mereka, maka mereka (tentunya) akan bertaubat darinya, atau
ia melakukan kebaikan yang bisa menghapuskan dosanya atau diampuni dosanya
karena keutamaan dahulunya masuk Islam, atau karena syafa’at Nabi Muhammad
-shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada mereka, yangmana mereka adalah orang yang
lebih berhak mendapatkan syafa’atnya, ataukah ia ditimpakan suatu bala’ di
dunia yang bisa menghapuskan dosanya. Jika ini hubungannya dengan dosa yang
nyata, maka bagaimana lagi dengan perkara yang mereka di dalamnya berijtihad?
Jika mereka benar, maka mereka mendapatkan dua pahala. Jika keliru, maka mereka
mendapat satu pahala, sedangkan kesalahannya terampuni”.[Lihat Syarah
Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 139-152) karya Syaikh Shaleh Al-Fauzan,
dengan sedikit perubahan tanpa merusak dan mengubah makna].
Orang Rafidhah yang disebut oleh
Syaikhul Islam, mereka adalah berasal dari orang-orang majusi yang mengaku
masuk Islam dengan tujuan merusak Islam dari dalam.
Mereka berkedok dengan pembelaan bagi
Ahlul Bait dalam rangka mencela, bahkan mereka mengafirkan para sabahat Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- agar Islam hancur.
Sekarang Rofidhoh (baca:Syi’ah)
bermarkas di Iran. Karenanya, kami ingatkan kaum muslimin agar berhati-hati
terhadap mereka dan jauhkan anak-anak kita dari mereka, jangan sampai di
sekolahkan di negeri mereka (khususnya, di Qum, Iran), hanya karena
diiming-imingi dengan dunia dan gelar, sementara ia rela mengorbankan aqidah. Na’udzu
billah minal khudzlan.
Hal ini perlu kami jelaskan, karena
orang-orang Rafidhah (terkenal dengan sebutan Syi’ah), belakangan ini banyak
merasuki dunia kampus, dan sebagian oragnisasi dakwah.
Selain itu, mereka memakai
senjata “nikah mut’ah” (nikah
kontrak/nikah tanpa wali). Banyak mahasiswa yang terpengaruh dengan mereka
karenanya. Apalagi nikah mut’ah dibumbui dengan janji-janji pahala dan
keutamaan yang mereka ada-ada.
Ketahuilah, mereka adalah kaum yang
memiliki niat busuk dalam mencela sahabat Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi
wasallam-.
Al-Imam Muhammad bin Al-Husain Al-Ajury -rahimahullah- berkata,
"يَنْبَغِي لِمَنْ تَدَبَّرَ مَا
رَسَمْنَاهُ مِنْ فَضَائِلِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَفَضَائِلِ أَهْلِ بَيْتِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ أَنْ
يُحِبَّهُمْ وَيَتَرَحَّمَ عَلَيْهِمْ وَيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ , وَيَتَوَسَّلَ
إِلَى اللَّهِ الْكَرِيمِ بِهِمْ وَيَشْكُرَ اللَّهَ الْعَظِيمَ إِذْ وَفَّقَهُ
لِهَذَا , وَلَا يَذْكُرَ مَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ وَلَا يَنْقُرَ عَنْهُ وَلَا
يَبْحَثَ." الشريعة للآجري (5/ 2485)
“Seyogyanya bagi orang yang mau
mentadabburi apa yang telah kami torehkan berupa keutamaan-keutaan para sahabat
Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- dan keluarga beliau -radhiyallahu
anhum ajma’in- agar mencintai mereka, mendoakan rahmat bagi mereka, memohonkan
ampunan bagi mereka, mencari jalan kepada Allah untuk mereka, juga bersyukur
kepada Allah karena ia diberi taufiq (petunjuk) kepada hal ini, serta tidak
menyebutkan perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan mengorek-ngoreknya,
dan tidak pula mencari-carinya”.[Lihat Asy-Syari’ah (hal. 2485),
karya Al-Imam Al-Ajurriy.]
Oleh karena itu, tak
wajar jika seorang muslim menyebarkan hadits yang berisi kisah celaan kepada
Tsa’labah bin Hathib, yang di dalamnya terdapat pelecehan bagi beliau. Karena, itu termasuk
perkara yang dilarang Ahlus Sunnah, kecuali jika kita sebutkan hadits itu demi
menjelaskan kelemahan dan kepalsuannya, maka tidak mengapa. Bahkan bisa
mendapatkan pahala karena membela kehormatan sahabat Nabi -Shollallahu
alaihi wa sallam-.
Al-Imam An-Naqid Abu Zur’ah Ar-Rozy -rahimahullah-
berkata,
«إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ
أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ
فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ , وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَّ عِنْدَنَا حَقٌّ , وَالْقُرْآنَ حَقٌّ , وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا
هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَّ , وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يُجَرِّحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا
الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ , وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ» اهـ من
الكفاية في علم الرواية للخطيب البغدادي (ص: 49)
“Apabila engkau melihat seseorang
mencela salah seorang sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka
ketahui bahwa orang itu zindiq. Karena Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di
sisi kami benar, dan Al-Qur’an adalah kebenaran. Sedangkan yang menyampaikan
Al-Qur’an ini kepada kami adalah para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi
wasallam-. Mereka (para pencela tersebut) hanyalah berkeinginan untuk
menjatuhkan saksi-saksi kami agar mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan
As-Sunnah. Padahal celaan itu lebih pantas bagi mereka, sedang mereka adalah
orang-orang zindiq”.
[Lihat Al-Kifayah (hal. 49), karya Al-Khathib Al-Baghdadiy]
Mencela sahabat adalah tanda dan sebab
seseorang ditutup hatinya sampai ia menjadi munafik atau kafir. Mencela para
sahabat tidaklah sama mencela orang selainnya, sebab mencela mereka memberikan
efek buruk bagi dakwah dan Islam.
Al-Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- berkata,
" مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلَ
الرَّوَافِضِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ "
اهـ من السنة لأبي بكر بن الخلال (3/ 493)
“Barangsiapa mencela (sahabat), maka
aku takutkan kekufuran atas dirinya, seperti orang-orang Rofidhoh.”
Lalu beliau berkata lagi, “Barangsiapa
yang mencela para sahabat Rasulullah–shollallahu alaihi wasallam- , maka kami
tak merasa aman atas dirinya dari keluarnya ia dari agama”. [Lihat As-Sunnah
(3/439) karya Al-Khollal]
Seorang muslim haram hukumnya mencela
sahabat Rasulullah –alaihish sholatu was salam- dan wajib mencintai mereka.
Namun dalam mencintai mereka tidak boleh berlebihan.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawy -rahimahullah-
berkata dalam menjelaskan aqidah Ahlussunnah,
(وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ، وَلَا
نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ. وَنُبْغِضُ مَنْ يُبْغِضُهُمْ، وَبِغَيْرِ
الْخَيْرِ يَذْكُرُهُمْ. وَلَا نَذْكُرُهُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ. وَحُبُّهُمْ دِينٌ
وَإِيمَانٌ وَإِحْسَانٌ، وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ) اهـ من شرح
العقيدة الطحاوية_ت : الأرناؤوط (2/ 689)
“Kami mencintai para sahabat
Rasulullah -shollallahu alaihi
wasallam-, tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka,dan
tidak berlepas diri dari salah seorang di antara mereka. Kami membenci orang
yang membenci mereka dan menyebutnya bukan dalam kebaikan. Kita tidak menyebut
para sahabat, kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, keimanan,
dan kebaikan. Sedang membenci mereka merupakan kekufuran, kemunafikan, dan
pelampauan batas”.
[Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 689), karya Ibnu
Abil Izz Al-Hanafy.]
Ahlus Sunnah biasa dinamai “Al-Jama’ah”.
Mereka memiliki ciri yang dikenal pada mereka berupa kecintaan kepada para
sahabat. Mereka juga menetapkan bahwa manusia yang paling utama setelah para
nabi dan rasul adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, dan berikut Ali bin
Tholib.
Al-Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit
Al-Kufiy -rahimahullah- berkata,
"الْجَمَاعَة أن تفضل أَبَا بَكْرٍ
وَعُمَرَ وَعَلِيًّا وَعُثْمَانَ وَلا تَنْتَقِصَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ
اللَّهِ _صلى الله عَلَيْهِ وَسلم_." اهـ من الانتقاء في فضائل الثلاثة
الأئمة الفقهاء (ص: 163)
“Al-Jama’ah: Engkau mengutamakan Abu
Bakar, Umar , Ali, dan Utsman, dan engkau tidak mencela salah seorang diantara
sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- “. [Lihat Al-Intiqo’
fi fadho’il Ats-Tsalatsah Al-A’immah (hal. 163), karya Ibnu Abdil Barr,
cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]
Imam Darul Hijrah,
Malik bin Anas
-rahimahullah- berkata,
" الَّذِي يَشْتِمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ، أَوْ قَالَ: نَصِيبٌ فِي
الْإِسْلَامِ " اهـ من السنة لأبي بكر بن الخلال (3/ 493)
“Orang yang mencela
para sahabat Nabi -shollallahu alaihi wasallam- tidak memiliki saham-atau ia
berkata:- bagian dalam Islam”. [Lihat As-Sunnah (3/493) karya Al-Khollal]
Ketika kita melihat
kekurangan pada diri sebagian sahabat, atau mereka melakukan suatu perkara yang
kita anggap sebuah pelanggaran, maka hendaknya kita memohonkan ampunan bagi
mereka, berbaik sangka serta membersihkan hati dan lisan kita dari mencela
mereka.
Al-Imam Al-Humaidy -rahimahullah- berkata,
أصول السنة للحميدي (ص: 6)
فلم يؤمر إلا
بالإستغفارٍ لهم، فمن يسبهم أو ينقصهم أو أحداً منهم , فليس على السُنَّة، وليس له
في الفئ حق
“Seseorang tidaklah diperintah kecuali
untuk memohonkan ampunan bagi mereka (sahabat). Barangsiapa yang mencela mereka
atau meremehkan mereka atau salah seorang dari mereka, maka ia bukanlah di atas
sunnah, dan ia tidak memiliki bagian dari fa’i (rampasan perang)”. [Lihat Ushul
As-Sunnah, hal. 6, karya Al-Humaidy]
Inilah beberapa
pernyataan dari para ulama Ahlussunnah tentang orang yang mencela sahabat.
Lantaran itu,
janganlah anda tertipu dengan sebagian orang yang berusaha mencela para
sahabat, sekalipun dengan istilah dan slogan “Studi Kritis Terhadap
Sejarah Hidup Para Sahabat”.
Karena, hal ini
bukanlah jalannya Ahlus Sunnah, bahkan jalannya orang-orang Rofidhoh, dan
orientalis yang ingin meruntuhkan Islam
dengan jalan mencela dan merendahkan para sahabat.
Kenapa? Karena dengan
mencela mereka, otomatis akan menolak riwayat-riwayat yang disampaikan oleh
para sahabat berupa hadits-hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sedang
ajaran dan syariat Islam, terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.
Ahlus Sunnah
menjauhkan diri dari mengorek-ngorek kesalahan para sahabat dan menghukumi
mereka.
Para sahabat -radhiyallahu
anhum- adalah suatu kaum yang telah mempersembahkan amal sholeh dan jihad
dalam membela Islam.
Bahkan para sahabat
Rasulullah –alaihish sholatu was salam- telah menghabiskan waktunya, mengorbankan
harta dan tenaganya dalam membela Nabi -shollallahu alaihi wasallam-,
Islam dan menyebarkannya sehingga sampai kepada kita.
Mereka telah banyak
berusaha dan berkorban untuk Islam. Lalu
apa yang kita persembahkan untuk Islam, sehingga kita merasa lebih hebat
dibandingkan sahabat dan malah justru mau menghakimi mereka yang telah lama
meninggal.
Lalu apa manfaat yang
kalian peroleh dalam mengkritisi sejarah hidup para sahabat?
Wallahi, tiada lain kecuali
kerugian yang akan kalian petik di dunia dan akhirat. Nas’alullahal afiyah wassalamah minal khudzlan !
====================================
DUKUNG KAMI
Dalam membantu pembangunan
MASJID DAR AL-FALAH,
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.
"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]
# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291
atau
Rekening BANK MANDIRI SYARIAH
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 7115_1587_18
Kontak Person :
PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)
Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar

Komentar
Posting Komentar