Selasa, 13 Maret 2018

Sebagian Kesalahan dalam Sujud saat Menunaikan Ibadah Sholat




Sebagian Kesalahan
dalam Sujud saat Menunaikan Ibadah Sholat

oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
hafizhahullah-

Banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengerti arti sebuah sujud sehingga ia sering salah sujud. Ia tidak memahami cara sujud yang benar saat ia bersujud dalam sholat.

Pemandangan seperti ini mungkin sering anda temukan dengan adanya sebagian diantara orang-orang yang sholat, ia salah dalam sujudnya.

Disinilah pentingnya seseorang untuk selalu menambah ilmu tentang ibadah yang ia kerjakan.

Dalam beribadah, jangan hanya beribadah dengan dasar taqlid buta kepada orang tua atau kebanyakan manusia, sebab kebanyakan orang tak mengerti tentang ilmu dan agamanya.

Seorang muslim tak boleh membebek kepada orang lain, tanpa ada usaha dalam mengilmui sesuatu yang akan ia lakukan atau ia yakini.

Para pembaca yang budiman, diantara sunnah (petunjuk) yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, seseorang merapatkan tujuh anggota sujudnya ke tanah saat ia sujud.


Adapun anggota sujud yang tujuh tersebut, maka ia terdiri dari wajah (yakni, dahi dan hidung), kedua tangan, kedua lutut dan kedua kaki.

Merapatkan ketujuh anggota sujud itu adalah perkara wajib, sebab diperintahkan oleh Allah -Azza wa Jalla- melalui lisan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam sabdanya,
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعٍ : الْجَبْهَةِ وَالْأَنْفِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ
 “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh anggota tubuh: dahi dan hidung, kedua tangan, kedua lutut dan kedua (ujung) kaki”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 491)]

Al-Imam Abul Hasan As-Sindiy -rahimahullah- berkata tentang sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggandengkan dahi dan hidung,
“Karena, keduanya termasuk bagian dari wajah. Jadi, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganggap keduanya sebagai wajah dengan hitungan satu dari tujuh anggota itu. Jika tak demikian halnya, maka ini akan mengharuskan penambahan pada tujuh anggota tersebut”. [Lihat Hasyiyah As-Sindiy (2/275)]

Hadits yang mulia di atas menunjukkan bahwa anggota sujud adalah tujuh dan bahwa sepantasnya bagi orang yang bersujud untuk bersujud di atas ketujuh anggota tubuh tersebut.

Al-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata dalam kitabnya ‘Nailul Awthor’ (2/288),
“Para ulama telah berselisih tentang wajibnya bersujud di atas tujuh anggota tubuh ini. Para itroh (keturunan ahlul bait) dan Imam Asy-Syafi’iy berpendapat –dalam salah satu pendapatnya- tentang wajibnya bersujud di atas semua tujuh anggota tubuh itu. Abu Hanifah, Asy-Syafi’iy –dalam salah satu pendapatnya- dan kebanyakan ulama menyatakan, “Yang wajib adalah bersujud di atas dahi saja. Sedang yang benar adalah pendapat yang dinyatakan oleh kelompok pertama”.

Itulah pendapat yang benar, bahwa wajib bersujud di atas seluruh tujuh anggota sujud,  sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah memerintahkannya dalam hadits di atas. Sementara perintah mengandung hukum wajib.

Terlebih lagi, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengancam orang yang tak menyentuhkan hidungnya ke tanah melalui sabdanya,
لاَ صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَمَسَّ أَنْفُه الْأرْضَ
“Tak ada sholat bagi orang yang hidungnya tak menyentuh tanah”. [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash-Shohihain (1/270). Hadits ini berdasarkan ketentuan Al-Bukhoriy sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahli Hadits Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashir Al-Albaniy dalam kitabnya ‘Tamamul Minnah’ (hal. 170)]

“Dari sini anda mengetahui kesalahan orang yang bersujud di atas dahinya, sementara itu ia mengangkat hidungnya, atau ia mengangkat kedua kakinya dari tanah, atau ia meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lainnya, tanpa menyentuh tanah. Orang yang seperti ini tidaklah bersujud, kecuali di atas lima atau enam anggota sujudnya. Padahal anggota sujud ada tujuh yang sudah dikenal sebagaimana dalam hadits yang lalu”.[1]

Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita semua untuk memantapkan dan merapatkan wajah kita ke tanah, tidak hanya sekedar menyentuhkannya ke tanah, tapi ditempelkan dengan penuh ketenangan dan tuma’ninah.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ
“Bila engkau bersujud, maka mantapkan (wajahmu) untuk sujudmu”. [HR. Abu Dawud dalam Kitab Ash-Sholah, bab: Sholah Man Laa Yuqimu Shulbah fi Ar-Ruku’ wa As-Sujud (no. 859). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhirj Al-Misykah (no. 804)]

Diantara kesalahan para jama’ah sholat, mereka tidak tuma’ninah (tidak tenang) dalam sujudnya.

Telah kami jelaskan dalam pembahasan-pembahasan yang lalu bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menghukumi batalnya sholat orang yang tidak meluruskan dan menegakkan punggungnya saat ia rukuk dan sujud.

Beliau juga memerintahkan para sahabat yang tak bisa sholat dengan baik agar tenang dalam sujudnya.

Bahkan beliau menyatakan tentang orang yang berbuat demikian bahwa ia termasuk manusia yang paling buruk dalam mencuri. Yakni, mencuri dalam sholatnya.

Jadi, seseorang haruslah tuma’ninah dalam sujudnya sampai semua tulang belulang kembali ke tempatnya masing-masing.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada seorang sahabat yang tak dapat melakukan sholat dengan baik,
إِذَا أَنْتَ سَجَدْتَ، فَأَثْبِتْ وَجْهَكَ وَيَدَيْكَ حَتَّى يَطْمَئِنَّ كُلُّ عَظْمٍ مِنْكَ إِلَى مَوْضِعِهِ  
“Bila engkau bersujud, maka mantapkanlah (tempelkanlah) wajah dan kedua tanganmu sampai semua tulang belulangmu tenang pada tempatnya”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya: Kitab Ash-Sholah, bab: Itsbat Al-Yadain ma’al Wajhi hatta Yathma’inna Kullu Azhmin (1/322/no. 638). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shifah Ash-Sholah (hal. 149)]

Telah datang beberapa keterangan tentang tata cara sholat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau menempelkan hidung dan dahinya ke tanah. Beliau juga menempelkan kedua lututnya dan ujung jari-jemari kaki beliau dalam posisi sujud.[2]

Tuma’ninah (tenang) dalam sujud, akan terwujud dengan baik, bila seseorang bersujud di atas tujuh anggota sujudnya yang tersebut, di samping ia menghamparkan kedua telapak tangannya, tidak merengggangkan jari-jemari tangan, dan jari jemarinya ia hadapkan ke arah kiblat.

Kemudian kedua tangan diletakkan sejajar dengan kedua bahu. Boleh juga sejajar dengan kedua telinga, serta berusaha menghadapkan jari-jemari kaki ke arah kiblat, menempelkan kedua tumit sambil menegakkan kedua telapak kaki.

Selain itu, ia juga mengangkat kedua lengannya dari tanah dan menjauhkan keduanya dari lambung sampai tampak putih ketiaknya, di samping kembalinya setiap anggota tubuh pada tempatnya dan menempelkan tujuh anggota sujud yang ada di atas permukaan tanah ke tanah.

Para pembaca yang budiman, inilah beberapa kesalahan yang biasa kita saksikan di depan mata kita dari sebagian kaum muslimin saat mereka bersujud di depan Allah -Azza wa Jalla- .

Kesalahan-kesalahan ini kami utarakan untuk kita perbaiki dengan mengambil petunjuk dari sabda-sabda Nabi –alaihish sholatu was salam- agar ibadah sholat kita semakin baik dan banyak pahalanya.


 ====================================

DUKUNG KAMI

Dalam membantu pembangunan 
MASJID DAR AL-FALAH
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291

atau 

Rekening BANK MANDIRI SYARIAH 
atas nama
Yayasan Dar Al Falah

No. Rekening : 7115_1587_18

Kontak Person :

PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.



NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar

















[1] [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal. 136)]
[2] [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal. 136)]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar