Sebagian Kesalahan dalam Sujud saat Menunaikan Ibadah Sholat
Sebagian Kesalahan
dalam Sujud saat
Menunaikan Ibadah Sholat
oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-
Banyak diantara kaum muslimin yang tidak
mengerti arti sebuah sujud sehingga ia sering salah sujud. Ia tidak memahami
cara sujud yang benar saat ia bersujud dalam sholat.
Pemandangan seperti ini mungkin sering anda
temukan dengan adanya sebagian diantara orang-orang yang sholat, ia salah dalam
sujudnya.
Disinilah pentingnya seseorang untuk selalu
menambah ilmu tentang ibadah yang ia kerjakan.
Dalam beribadah, jangan hanya beribadah dengan dasar taqlid
buta kepada orang tua atau kebanyakan manusia, sebab kebanyakan orang tak
mengerti tentang ilmu dan agamanya.
Seorang muslim tak boleh membebek kepada
orang lain, tanpa ada usaha dalam mengilmui sesuatu yang akan ia lakukan atau
ia yakini.
Para pembaca yang budiman, diantara sunnah
(petunjuk) yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, seseorang
merapatkan tujuh anggota sujudnya ke tanah saat ia sujud.
Adapun anggota sujud yang tujuh tersebut, maka
ia terdiri dari wajah (yakni, dahi dan hidung), kedua tangan, kedua lutut dan
kedua kaki.
Merapatkan ketujuh anggota sujud itu adalah
perkara wajib, sebab diperintahkan oleh Allah -Azza wa Jalla- melalui
lisan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam sabdanya,
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ
عَلَى سَبْعٍ : الْجَبْهَةِ وَالْأَنْفِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ
“Aku diperintahkan
untuk bersujud di atas tujuh anggota tubuh: dahi dan hidung, kedua tangan,
kedua lutut dan kedua (ujung) kaki”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya
(no. 491)]
Al-Imam Abul Hasan As-Sindiy -rahimahullah-
berkata tentang sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggandengkan dahi
dan hidung,
“Karena, keduanya termasuk bagian dari wajah.
Jadi, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganggap keduanya sebagai wajah
dengan hitungan satu dari tujuh anggota itu. Jika tak demikian halnya, maka ini
akan mengharuskan penambahan pada tujuh anggota tersebut”. [Lihat Hasyiyah
As-Sindiy (2/275)]
Hadits yang mulia di atas menunjukkan bahwa
anggota sujud adalah tujuh dan bahwa sepantasnya bagi orang yang bersujud untuk
bersujud di atas ketujuh anggota tubuh tersebut.
Al-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah-
berkata dalam kitabnya ‘Nailul Awthor’ (2/288),
“Para ulama telah berselisih tentang wajibnya
bersujud di atas tujuh anggota tubuh ini. Para itroh (keturunan ahlul bait) dan
Imam Asy-Syafi’iy berpendapat –dalam salah satu pendapatnya- tentang wajibnya
bersujud di atas semua tujuh anggota tubuh itu. Abu Hanifah, Asy-Syafi’iy
–dalam salah satu pendapatnya- dan kebanyakan ulama menyatakan, “Yang wajib
adalah bersujud di atas dahi saja. Sedang yang benar adalah pendapat yang
dinyatakan oleh kelompok pertama”.
Itulah pendapat yang benar, bahwa wajib
bersujud di atas seluruh tujuh anggota sujud,
sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah memerintahkannya
dalam hadits di atas. Sementara perintah mengandung hukum wajib.
Terlebih lagi, Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- mengancam orang yang tak menyentuhkan hidungnya ke tanah melalui
sabdanya,
لاَ
صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَمَسَّ أَنْفُه الْأرْضَ
“Tak ada sholat bagi orang yang hidungnya tak
menyentuh tanah”.
[HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash-Shohihain (1/270).
Hadits ini berdasarkan ketentuan Al-Bukhoriy sebagaimana yang ditegaskan oleh
Ahli Hadits Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashir Al-Albaniy dalam kitabnya ‘Tamamul
Minnah’ (hal. 170)]
“Dari sini anda mengetahui kesalahan orang
yang bersujud di atas dahinya, sementara itu ia mengangkat hidungnya, atau ia
mengangkat kedua kakinya dari tanah, atau ia meletakkan salah satu kakinya di
atas kaki yang lainnya, tanpa menyentuh tanah. Orang yang seperti ini tidaklah
bersujud, kecuali di atas lima atau enam anggota sujudnya. Padahal anggota
sujud ada tujuh yang sudah dikenal sebagaimana dalam hadits yang lalu”.[1]
Inilah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam- memerintahkan kita semua untuk memantapkan dan merapatkan wajah
kita ke tanah, tidak hanya sekedar menyentuhkannya ke tanah, tapi ditempelkan
dengan penuh ketenangan dan tuma’ninah.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
إِذَا
سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ
“Bila engkau bersujud, maka mantapkan
(wajahmu) untuk sujudmu”. [HR. Abu Dawud dalam Kitab Ash-Sholah,
bab: Sholah Man Laa Yuqimu Shulbah fi Ar-Ruku’ wa As-Sujud (no. 859).
Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhirj Al-Misykah
(no. 804)]
Diantara kesalahan para jama’ah sholat,
mereka tidak tuma’ninah (tidak tenang) dalam sujudnya.
Telah kami jelaskan dalam
pembahasan-pembahasan yang lalu bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
menghukumi batalnya sholat orang yang tidak meluruskan dan menegakkan
punggungnya saat ia rukuk dan sujud.
Beliau juga memerintahkan para sahabat yang
tak bisa sholat dengan baik agar tenang dalam sujudnya.
Bahkan beliau menyatakan tentang orang yang berbuat
demikian bahwa ia termasuk manusia yang paling buruk dalam mencuri. Yakni,
mencuri dalam sholatnya.
Jadi, seseorang haruslah tuma’ninah
dalam sujudnya sampai semua tulang belulang kembali ke tempatnya masing-masing.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah
bersabda kepada seorang sahabat yang tak dapat melakukan sholat dengan baik,
إِذَا
أَنْتَ سَجَدْتَ، فَأَثْبِتْ وَجْهَكَ وَيَدَيْكَ حَتَّى يَطْمَئِنَّ كُلُّ عَظْمٍ
مِنْكَ إِلَى مَوْضِعِهِ
“Bila engkau bersujud, maka mantapkanlah
(tempelkanlah) wajah dan kedua tanganmu sampai semua tulang belulangmu tenang
pada tempatnya”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya: Kitab
Ash-Sholah, bab: Itsbat Al-Yadain ma’al Wajhi hatta Yathma’inna Kullu Azhmin
(1/322/no. 638). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shifah
Ash-Sholah (hal. 149)]
Telah datang beberapa keterangan tentang tata
cara sholat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau menempelkan
hidung dan dahinya ke tanah. Beliau juga menempelkan kedua lututnya dan ujung
jari-jemari kaki beliau dalam posisi sujud.[2]
Tuma’ninah (tenang) dalam sujud, akan terwujud
dengan baik, bila seseorang bersujud di atas tujuh anggota sujudnya yang
tersebut, di samping ia menghamparkan kedua telapak tangannya, tidak
merengggangkan jari-jemari tangan, dan jari jemarinya ia hadapkan ke arah
kiblat.
Kemudian kedua tangan diletakkan sejajar
dengan kedua bahu. Boleh juga sejajar dengan kedua telinga, serta berusaha
menghadapkan jari-jemari kaki ke arah kiblat, menempelkan kedua tumit sambil
menegakkan kedua telapak kaki.
Selain itu, ia juga mengangkat kedua
lengannya dari tanah dan menjauhkan keduanya dari lambung sampai tampak putih
ketiaknya, di samping kembalinya setiap anggota tubuh pada tempatnya dan
menempelkan tujuh anggota sujud yang ada di atas permukaan tanah ke tanah.
Para pembaca yang budiman, inilah beberapa
kesalahan yang biasa kita saksikan di depan mata kita dari sebagian kaum
muslimin saat mereka bersujud di depan Allah -Azza wa Jalla- .
Kesalahan-kesalahan ini kami utarakan untuk
kita perbaiki dengan mengambil petunjuk dari sabda-sabda Nabi –alaihish sholatu
was salam- agar ibadah sholat kita semakin baik dan banyak pahalanya.
====================================
DUKUNG KAMI
Dalam membantu pembangunan
MASJID DAR AL-FALAH,
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.
"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]
# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291
atau
Rekening BANK MANDIRI SYARIAH
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 7115_1587_18
Kontak Person :
PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)
Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar

Komentar
Posting Komentar