Nasihat sebelum Bunuh Diri
Nasihat sebelum Bunuh
Diri
Oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-
Hidup adalah anugerah terbesar yang
Allah beri. Dunia dan segala isinya
tidak bernilai apa-apa jika dibandingkan dengan arti sebuah kehidupan.
Demi mempertahankan hidup, segala
usaha dan harta benda rela
dikorbankan.
Sebab dengan kehidupan kita bisa
merasakan susah dan senang sehingga lahir kesabaran dan kesyukuran.
Hanya saja sebagian orang, ada yang
tidak tahu tentang besarnya arti kehidupan.
Ia menyia-nyiakan NIKMAT
HIDUP yang Allah berikan, dengan membunuh diri dan mengakhiri
hidupnya!!
Mereka bersikap pengecut untuk lari
dari kenyataan, karena tidak mampu menghadapi tantangan hidup.
Kegagalan dan musibah yang
seharusnya dihadapi dengan jiwa yang tegar, kesabaran yang kuat dan dada
yang lapang, menjadi sirna karena ditutupi oleh selimut ketakutan dan putus asa.
Mereka mengira, dengan mengakhiri
hidup akan menyelesaikan problema. Padahal semua itu hanyalah menambah masalah
dengan masalah.
Pembaca yang mulia, peristiwa bunuh
diri selalu terjadi pada setiap generasi di belahan bumi ini.
Kita mungkin sudah pernah mendengar
tentang tradisi “Harakiri” yang dilakukan oleh orang-orang Jepang.
Mereka membunuh diri dengan cara
merobek perut dengan pedang pendek ketika merasa gagal dalam menjalankan tugas
dan misi.
Tradisi bunuh diri juga ada pada suku
Tengger di Gunung Bromo. Mereka mengakhiri hidupnya hanya karena soal harga
diri (misalnya,
seorang warga yang tidak mampu menggelar seni tari tradisonal tayuban
yang sangat dibanggakan warga sekitar dalam hajatan).
Bahkan hanya gara-gara tidak mampu
memberi sawer (uang) kepada penari tayub, seorang diantara mereka merasa
kehilangan harga diri.
Karena gengsi dan malu dengan hal itu, langkah bunuh diri
dianggapnya merupakan pilihan terbaik.
Di sebagian negeri-negeri kaum muslimin, ada juga yang terpengaruh dengan
tradisi bunuh diri. Mereka ini dari kalangan kaum pergerakan militan.
Mereka melekatkan bom pada tubuhnya dan meledakkannya dikeramaian orang.
Mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad dan diridhai
oleh Allah.
Parahnya lagi, orang yang mati dengan bunuh diri itu, disebut sebagai orang
yang "mati syahid"!!
Padahal semua itu hanyalah angan-angan kosong belaka!!! Sebab mereka telah
menyalahi prinsip-prinsip agung dalam Islam dan memahami dalil seenak perut
mereka, tanpa menoleh pada bimbingan para ulama.
Akhirnya, kelakuan mereka membawa banyak kerusakan dan mencoreng keindahan Islam.
Berita terbaru, ada seorang
mahasisiwa Universitas Bung Karno
yang beragama Nashrani membakar dirinya di depan istana negara.
Yang lebih lucunya lagi, ada
sekelompok mahasiswa di Makassar, yang jahil tentang agamanya menggelar sholat
ghaib untuk mahasisiwa Nashrani tadi sebagai bentuk solidaritas dan rasa cinta
sesama mahasiswa.
Padahal Allah telah melarang kita
untuk menyolati jenazah orang-orang munafik,
{وَلَا
تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ
إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ} [التوبة:
84]
"Dan
janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) seorang yang mati di antara
mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka
telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan
fasik". (QS. At-Taubah : 84)
Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
dalam kitabnya 'Zaadul Masiir' (3/215) menyebutkan bahwa ayat ini
turun tentang diri orang-orang munafik yang meninggal, diantaranya Abdullah bin
Ubay bin Salul.
Jika orang munafik saja yang
menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafirannya, kita dilarang
menyolati jenazahnya, maka tentu saja jenazah orang-orang yang nyata kafir lebih
utama dilarang!!
Lebih parah lagi, bila orang-orang
kafir disholati karena loyal dan cinta kepada mereka, sebab itu merupakan
sebuah kekafiran!!!
Pembaca yang budiman, bunuh diri
secara garis besar terbagi menjadi dua bagian :
Pertama, bunuh diri secara langsung, yaitu mengakhiri hidup dengan sesuatu yang membuat
pelakunya mati seketika itu juga, contohnya gantung diri, minum racun, tikam
diri, bakar diri, bom bunuh diri dan lain serbagainya.
Kedua, bunuh diri secara tidak
langsung, yaitu mengakhiri hidup
dengan sesuatu yang membuat pelakunya tidak mati seketika, tapi membunuhnya secara perlahan-lahan dan membutuhkan
waktu yang lama, contohnya : memakai ganja dan obat-obat terlarang, meminum khomer (minuman keras),
merokok dan lain sebagainya.
Para dokter dan manusia sepakat bahwa barang-barang
tersebut merugikan kesehatan dan lambat laun akan mengantarkan pelakunya pada kematian.
Di dalam Islam segala bentuk bunuh
diri, baik secara langsung atau tidak langsung merupakan perkara yang tercela
dan terlarang!!
Sebab pada perbuatan itu, banyak
terdapat kerusakan dan pelanggaran.
Dengan segala fakta yang terjadi,
kami merasa terpanggil untuk menjelaskan sisi-sisi kerusakan dan pelanggaran
bunuh diri agar orang-orang bodoh yang mau melakukannya akan berhenti dan sadar
dari sikap konyolnya, yakni bunuh diri.
Silakan ikuti ulasan sisi-sisi
kerusakan dan pelanggaran bunuh diri sebagai berikut:
v
Menzholimi Diri Sendiri.
Bunuh
diri merupakan suatu tindakan kezholiman. Sebab ia telah menganiaya dan
menyakiti tubuhnya sendiri.
Oleh
karenanya, barang siapa yang menyiksa tubuhnya dengan membuang dirinya ke jurang
hingga ia tewas, maka ia akan di siksa
kelak seperti itu juga sebagai balasan dari apa yang telah dia kerjakan di
dunia.
Orang yang minum racun, akan
diberi siksaan di neraka dengan racun pula.
Orang yang menikam dirinya
dengan benda tajam, juga disiksa dalam Jahannam dengan tikaman benda tajam itu.
Rasulullah
-Sallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي
نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ
تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ
جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ
فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا
مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
"Barangsiapa
menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia
akan jatuh ke neraka jahannam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya.
Barangsiapa menegak racun, hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan
berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahannam, ia kekal serta
abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barang siapa bunuh diri dengan (menusuk
dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan
menghujamkan ke perutnya di neraka jahannam, ia kekal dan abadi di dalamnya
selama-lamanya."[HR.
Al-Bukhari dalam Shohih-nya (5778)]
v
Membangkang terhadap Perintah Allah
-Ta’ala-.
Perbuatan
bunuh diri merupakan pembangkangan terhadap perintah Allah -Subhana
Wa Ta'ala-, sebab di dalam Al-Qur’an, Allah telah melarang dari bunuh diri.
Lantaran
itulah Allah menjauhkan hamba-Nya dari segala yang dapat membinasakan diri dan
agamanya.
Allah perintah kita untuk
tidak membunuh diri atau orang lain.
Allah -Tabara
wa Ta'ala- berfirman,
{وَلَا
تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} [النساء: 29]
"Dan janganlah
kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu".(QS. An-Nisaa :
29).
Penafsir Jazirah Arab,
Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,
"ويدخل في ذلك الإلقاءُ
بالنفس إلى التهلكة، وفعلُ الأخطار المفضية إلى التلف والهلاك." اهـ من تيسير
الكريم الرحمن (ص: 175)
“Masuk dalam
kategori hal ini (membunuh diri), menjerumuskan diri dalam kebinasaan,
melakukan perkara-perkara yang berbahaya lagi mengantarkan kepada kebinasaan,
dan kehancuran”. [Lihat Taisir
Al-Karim Ar-Rohman (hal. 175)]
Allah -Tabara wa Ta'ala-
juga berfirman,
{وَلَا تُلْقُوا
بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ } [البقرة: 195]
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 195)
v Meng-kufur-i (Mengingkari) Nikmat Allah.
Bunuh
diri adalah perbuatan orang-orang yang tidak pandai bersyukur.
Nikmat hidup dan jasad yang
sehat merupakan nikmat yang tiada taranya.
Allah memberi kita kesempatan
untuk hidup agar dapat mengumpulkan dan memperbanyak amalan shalih yang akan
menjadi bekal perjalanan menuju akhirat.
Belum lagi,
nikmat kesehatan, yang senantiasa kita harus syukuri
dengan cara menjaganya dan memanfaatkannya dalam ketaatan.
Rasulullah -Sallallahu 'alaihi
wa sallam- bersabda,
نِعْمَتَانِ
مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Ada dua nikmat yang dilalaikan oleh kebanyakan
manusia yaitu kesehatan dan waktu luang". [HR. Al-Bukhoriy dalam
Shohih-nya (6412)]
Jadi, kesehatan itu merupakan dua nikmat agung yang
disia-siakan oleh kebanyakan manusia, termasuk mereka yang bunuh diri.
Ketahuilah nikmat kesehatan yang kita rusak dan
sia-siakan dengan BUNUH DIRI, akan dipertanggungjawabkan oleh
para pelakunya.
v Bunuh Diri termasuk Dosa Besar.
Bunuh
diri merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Oleh karenanya, tidak pantas
seseorang merasa bangga diri ketika bunuh diri.
Nabi -Sallallahu 'alaihi wa
sallam- bersabda,
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكَبَائِرِ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ
الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَقَوْلُ الزُّورِ
“Dari Nabi shallallahu
'alaihi wasallam beliau bersabda tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda:
"Mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, bunuh diri,
dan perkataan dusta."[HR. Al-Bukhoriy dalam Asy-Syahadat
(2510) dan Muslim dalam Al-Iman (88)
v Pelaku
Bunuh Diri akan Diharamkan Surga baginya.
Pelaku
bunuh diri akan merasakan akibat paling buruk, Allah haramkan surga baginya!!
Ini
adalah bantahan bagi orang-orang yang menipu pemuda-pemuda Islam untuk
melakukan aksi-aksi bom bunuh diri!!!
Mereka
mengiming-imingi surga
bagi siapa saja yang mau bunuh diri, lalu mereka beri titel “Asy-Syahid”
kepadanya.
Tentu
ini adalah upaya pembodohan dan penyesatan umat.
Sebab
bagaimana mungkin mereka merekomendasikan bagi seseorang sebagai penghuni surga, sementara Pemilik surga
(Allah) telah mengharamkannya bagi para pelaku bunuh diri.
Rasulullah
-Sallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda,
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ
فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى
مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ
"Ada seseorang di antara umat sebelum
kalian menderita luka-luka. Tapi dia tidak sabar, lalu dia mengambil sebilah
pisau, kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darahnya mengalir dan
tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah -Ta'ala-
berfirman, "Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya, maka Aku haramkan
baginya surga".[HR.
Al-Bukhariy dalam Shohih-nya
(3463) dan Muslim dalam Shohih (180)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah-
berkata,
"وَفِي
الْحَدِيثِ تَحْرِيمُ قَتْلِ النَّفْسِ سَوَاءٌ كَانَتْ نَفْسَ الْقَاتِلِ أَمْ
غَيْرِهِ وَقَتْلُ الْغَيْر...
وَفِيهِ
تَحْرِيمُ تَعَاطِي الْأَسْبَابِ الْمُفْضِيَةِ إِلَى قَتْلِ النَّفْسِ." اهـ
من فتح الباري لابن حجر (6/ 500)
"Di dalam hadits ini terdapat pengharaman
membunuh diri, sama saja apakah diri si pembunuh ataukah selainnya…dan di
dalamnya terdapat pengharaman melakukan sebab-sebab yang mengantarkan kepada
bunuh diri". [Lihat Fathul Bariy (6/500),
dengan tahqiq Syaikh bin Baaz, cet. Dar Al-Fikr]
Jadi, bunuh diri adalah
perbuatan haram dari segala sisi dan apapun alasannya.
Walaupun dia bunuh diri
mengatasnamakan Islam, namun islam berlepas diri darinya.
Kerinduan ingin berjumpa
dengan Allah, bukan berarti harus bunuh
diri.
Karenanya, para nabi dan
rasul sebagai orang yang paling cinta kepada Allah, tetap berusaha mencari
faktor-faktor untuk menyelamatkan diri dari bahaya dan serangan musuh, seperti
Rasulullah -Sallallahu 'alaihi wa sallam- pernah berhijrah secara
sembunyi-sembunyi dan bersembunyi di gua Hira’ ketika dikejar oleh orang-orang
musyrik.
Juga ketika perang Uhud,
Beliau -Sallallahu 'alaihi wa sallam- mengenakan dua lapis baju besi.
Itu semua termasuk
faktor-faktor yang logis, terhormat dan disyariatkan yang akan dilakukan oleh
setiap orang yang berakal termasuk para nabi juga.
Inilah beberapa sisi
kerusakan dan pelanggaran aksi bunuh diri yang menunjukkan betapa ngerinya
siksaan yang didapatkan oleh pelakunya dan besarnya kerusakan dunia dan akhirat
si pelaku.
Semoga dengan nasihat
ringkas ini, orang-orang yang punya niat bunuh diri segera sadar dan bertobat
sehingga tidak akan melakoni perbuatan konyol itu.
===============================
INFO PENTING
===============================
Dukung Kami
Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.
“ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “
"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]
# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
BRI. Unit Borong Loe
(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN
Kontak Person :
0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.

Komentar
Posting Komentar