Haramnya Meramal Nasib dan Kejadian dengan Rasi Bintang
Haramnya
Meramal Nasib dan Kejadian
dengan
Rasi Bintang
Oleh
: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
Bintang adalah salah satu diantara makhluk
Allah -Azza wa Jalla-. Dia diciptakan untuk tiga tujuan yang mulia.
Hanya saja kebanyakan manusia tidak memahami
hal itu dengan baik.
Bintang diciptakan sebagai penghias langit
dan alat untuk merajam (melempar) setan-setan yang ingin mencuri berita
dari langit agar selanjutnya mereka kabarkan hal-hal itu kepada wali-wali
mereka dari kalangan dukun, paranormal dan tukang sihir.
Allah -Ta'ala- berfirman,
{وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ
وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
} [الملك: 5]
"Sesungguhnya kami Telah
menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan
bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan kami sediakan bagi mereka
siksa neraka yang menyala-nyala". (QS. Al-Mulk : 5)
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Imam
Abdur Rahman Ibn Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
"لولا ما فيها من النجوم، لكانت سقفًا مظلمًا، لا حسن فيه ولا
جمال.
ولكن
جعل الله هذه النجوم زينة [ص:876] للسماء، [وجمالا] ، ونورًا وهداية يهتدى بها في
ظلمات البر والبحر." اهـ من تفسير السعدي = تيسير الكريم الرحمن (ص: 875_876)
"Andaikan tak ada bintang-bintang di
langit, maka langit akan menjadi atap yang gelap, tak ada keindahan dan
kecantikannya. Akan tetapi Allah menjadikan bintang-bintang ini sebagai
perhiasan bagi langit, kecantikan serta cahaya dan petunjuk dalam kegelapan
darat dan lautan". [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal.
875-876), karya As-Sa'diy, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, 1420 H]
Selain itu, bintang-bintang juga diciptakan
sebagai alamat dan tanda yang menjadi rambu dalam perjalanan jauh (safar) dan
saat menentukan arah kiblat. [Lihat Zaadul Masiir (4/85) karya
Abul Faroj Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy]
Allah -Ta'ala- berfirman,
{وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ } [النحل: 16]
"Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda
(penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat
petunjuk".
(QS. An-Nahl : 16)
Di dalam ayat lain, Allah -Azza wa Jalla-
berfirman,
{وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي
ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ }
[الأنعام: 97]
"Dan dialah yang menjadikan
bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di
darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran
(Kami) kepada orang-orang yang mengetahui". (QS. Al-An'aam :
97)
Inilah
tiga tujuan diciptakannya bintang-bintang: sebagai perhiasan bagi langit,
perajam bagi setan-setan jahat yang bekerja mencuri berita dari langit dan
sebagai tanda dan rambu dalam menentukan arah perjalanan di kegelapan malam
atau arah kiblat saat jauh darinya.
Al-Imam Abul Khoththob Qotadah bin
Di'amah As-Sadusiy Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,
خَلَقَ
هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ : جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا
لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا، فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ
ذَلِكَ أَخْطَأَ وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ وَتَكَلَّفَ مَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ
"Allah telah menciptakan bintang-bintang
ini untuk tiga tujuan: Dia menjadikannya sebagai perhiasan lagit, rajam bagi
setan-setan dan tanda yang dijadikan petunjuk. Barangsiapa yang menyangka
(meyakini) selain itu, maka ia telah berbuat keliru, menyia-nyiakan nasibnya
dan memaksakan diri terhadap perkara yang ia tak memiliki ilmu
tentangnya". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya secara mu'allaq (4/130) dan
Ath-Thobariy secara maushul dalam Jami' Al-Bayan (1/91)]
Pernyataan dari Al-Imam Qotadah -rahimahullah-
ini amat benar, sebab bintang-bintang adalah makhluk diantara makhluk-makhluk
Allah dan kita tidak mengetahui rahasia di balik penciptaan bintang-bintang
itu, selain sesuatu yang dikabarkan oleh Allah –Jalla wa Alaa-.
Apa saja yang Allah kabarkan tentangnya, maka
kita pegangi. Apapun yang Allah tidak kabarkan kepada kita tentang
bintang-bintang itu.
Karenanya, kita jangan memaksakan diri dan
melampaui batas dalam mendudukkan bintang-bintang tersebut melebihi kadarnya
sebagai makhluk, seperti orang-orang kafir Yunani kuno dan Romawi serta para
ahli nujum yang menyatakan bahwa bintang-bintang itu adalah sebab terjadinya
segala sesuatu di bumi atau bintang-bintang memiliki pengaruh dalam setiap
kejadian yang ada di bumi.
Lantaran itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda,
إِذَا
ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا ، وَإِذَا ذُكِرَتِ النُّجُومُ فَأَمْسِكُوا ،
وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا
"Bila para sahabatku disebutkan, maka
tahan dirilah. Bila bintang-bintang disebutkan, maka tahan dirilah. Bila taqdir
disebutkan, maka tahan dirilah". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam
Al-Kabir (1427 & 10448) dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah
(4/108). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih
Al-Jami' (no. 545)]
Syaikh Sholih bin Abdil Aziz An-Najdiy –hafizhohullah-
berkata,
"والمراد هنا بذكر النجوم، يعني: في غير ما جاء به الدليل،
إذا ذكر القدر في غير ما جاءت به الأدلة فأمسكوا، وإذا ذكر أصحابي في غير ما جاء
به من فضلهم وحسن صحبتهم وسابقتهم ونحو ذلك من الدليل فأمسكوا، وكذلك إذا ذكرت
النجوم وما فيها بغير ما جاء فيه الدليل فأمسكوا؛ لأن ذلك ذريعة لأمور محرمة."
اهـ من التمهيد لشرح كتاب التوحيد (ص: 347)
"Yang dimaksud dengan menyebut
bintang-bintang, yakni bukan berdasarkan sesuatu yang dibawa (dijelaskan) oleh
dalil. Bila taqdir disebutkan bukan berdasarkan sesuatu yang dibawa
(dijelaskan) oleh dalil, maka tahan dirilah. Bila disebutkan para sahabatku
bukan berdasarkan sesuatu yang dibawa (dijelaskan) oleh dalil berupa keutamaan mereka,
baiknya persahabatan mereka, terdahulunya mereka (dalam kebaikan) dan
semisalnya, maka tahan dirilah. Demikian pula, bila bintang-bintang dan
segala hal tentangnya disebutkan, bukan berdasarkan sesuatu yang dibawa
(dijelaskan) oleh dalil, maka tahan dirilah. Karena, hal itu merupakan jalan
menuju perkara yang diharamkan". [Lihat At-Tamhid (hal. 347),
cet. Dar At-Tauhid, 1423 H]
Disinilah manusia tergelincir, saat berbicara
tentang bintang, mereka melampaui batasan Allah dan tidak mengenal posisi bintang
dan kedudukannya, sehingga mereka pun mendudukkan dan memposisikannya lebih
dari kedudukannya sebagai makhluk.
Mereka menjadikannya sebagai robb
(tuhan) yang mampu melakukan segala sesuatu di alam semesta.
Inilah keyakinan para ahli nujum (astrolog)
Babilonia, Romawi, Yunani dan lainnya.
Para ahli nujum itu meyakini semua
bintang-bintang memiliki andil dan pengaruh bagi segala kejadian di bumi.
Mereka membuat arca-arca bagi setiap
bintang-bintang yang mereka pertuhankan.
Itulah dewa-dewa mereka yang terdapat dalam
kuil-kuil di negeri mereka.
Dewa-dewa itu mereka yakini sebagai
perwujudan bagi setiap bintang yang mereka pertuhankan, seperti Dewa Janus,
Venus, Jupiter, Juno, Aphrodite, Februus dan lainnya.
Adapun bangsa Romawi, maka mereka meyakini
adanya 12 bintang (zodiak) yang memiliki pengaruh terhadap segala kejadian di
bumi: Aries, Taurus,
Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius,
dan Pisces.
Mereka
menganggap bahwa nasib manusia erat hubungannya dengan letak zodiaknya pd waktu
ia lahir, sebab bintang-bintang itu memiliki pengaruh pada segala kejadian di
bumi, termasuk nasib baik dan buruknya seorang manusia. Jelas ini adalah batil,
sebab bintang-bintang dan benda langit hanyalah makhluk lemah yang tidak
memiliki daya dan upaya.
Segala
kuasa dan pengaturan alam semesta berada di Tangan Allah –tabaroka wa ta’ala-.
Keimanan
batil kepada bintang-bintang seperti ini telah mendarah daging di kalangan
bangsa Romawi, Yunani dan Babilonia, bangsa peramal.
Merekalah
pelopor ilmu perbintangan atau astrologi yang banyak menyesatkan umat manusia
sejak dahulu kala sampai hari ini.
Ironisnya
lagi, banyak diantara kaum muslimin yang percaya kepada ramalan zodiac yang
teradopsi dari ilmu sesat kaum kafir paganisme ini, sebagaimana hal ini bisa
kita dengar dan lihat dalam beberapa surat kabar, majalah, tabloid, televisi,
radio, internet dan lainnya.
Keimanan
batil kepada bintang-bintang inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- atas umatnya
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
إنَّ أَخْوَفَ مَا أَتَخَوَّفُهُ عَلَى أُمَّتِيْ آخِرَ الزَّمَانِ ثَلاَثًا
: إِيْمَانًا بِالنُّجُوْمِ وَتَكْذِيْبًا بِالْقَدَرِ وَحَيْفَ السُّلْطَانِ
"Sesungguhnya sesuatu yang paling aku
takutkan atas umatku di akhir zaman adalah tiga perkara: beriman kepada
bintang-bintang, mendustakan takdir dan kezhaliman penguasa". [HR. Abu
Amer Ad-Daani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan (no. 282).
Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(no. 1127)]
Abdur Ro’uf bin Tajil Arifin Al-Haddadiy Al-Munawiy -rahimahullah-
berkata,
أَي
تَصْدِيقًا باعتقاد أنّ لَهَا تَأْثِيرا فَالْمُرَاد أحد قسمي علم النُّجُوم
وَهُوَ علم التَّأْثِير لَا التسيير." اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير (1/
48)
“Maksudnya, membenarkan bahwa
bintang-bintang itu memiliki pengaruh. Jadi, yang dimaksudkan (oleh Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam-) adalah salah satu dari dua cabang ilmu
perbintangan, yaitu ilmu astrologi (ramalan bintang), bukan ilmu astronomi
(ilmu falak)". [Lihat At-Taisir bi Syarh Al-Jami' Ash-Shogir (1/48)]
Jadi, hadits di atas menunjukkan bahwa akan ada diantara umat ini
yang akan membenarkan para astrolog (peramal bintang) dalam ramalan-ramalannya
dengan menggunakan rasi bintang.
Hadits ini tidaklah melarang dari mempelajari ilmu falak
(astronomi) yang hanya mempelajari posisi benda-benda langit dalam mengenal
arah dan letak suatu tempat.
Inilah sekelumit pembahasan tentang haramnya seorang muslim
meramal nasib dan kejadian dengan menggunakan rasi bintang atau zodiac, dan –insya
Allah- akan kami ulas kembali dalam edisi-edisi mendatang seputar jenis-jenis
ilmu perbintangan yang terlarang. Semoga Allah melindungi kita dari segala keburukan.

Komentar
Posting Komentar