Keutamaan Masjidil Aqsho Palestina
Keutamaan Masjidil Aqsho Palestina
Penulis :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_
Masjidil Aqsho
adalah milik seluruh kaum muslimin secara historis; letaknya di Palestina. Dia
juga biasa disebut dengan "Masjid Baitul Maqdis", atau "Masjid
Iliya".
Palestina dahulu pernah dihuni oleh dua suku Arab : suku
Finiqiyyun, dan Kan'aniyyun, lalu setelah itu orang-orang Bani Isra’il datang
ke Palestina saat lari dari kejaran Fir'aun.
Terakhir, Palestina dikuasai oleh khilafah Islamiyyah di zaman
khilafah Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu 'anhu- sampai zaman kita.
Kemudian berusaha dikuasai secara zholim oleh orang-orang Yahudi dari berbagai
negara, sebab mereka dahulu berpencar.
Masjidil Aqsho yang merupakan milik kaum muslimin adalah
masjid yang memiliki keutamaan yang banyak.
Karenanya, kita perlu mengetahui keutamaan-keutamaan itu
sehingga kita bisa meraih keutamaan yang terdapat di dalamnya, dan tetap
berjuang meraihnya dari tangan Zionis Yahudi.
Diantara keutamaan Masjidil Aqsho :
Masjid Kedua di Dunia
Masjidil Aqsho
adalah masjid kedua yang dibangun setelah Ka'bah (Masjidil Haram) sebagaimana
yang disebutkan dalam sebagian hadits-hadits shohih dari Nabi -Shallallahu
'alaihi wa sallam-.
Abu Dzar -radhiyallahu 'anhu- berkata,
قُلْتُ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي اْلأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : اَلْمَسْجِدُ
الْحَرَامُ. قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ: اَلْمَسْجِدُ اْلأَقْصَى. قُلْتُ:
كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ:أَرْبَعُوْنَ سَنَةً, ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ
الصَّلاَةُ بَعْدُ, فَصَلِّهْ, فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيْهِ
"Aku
berkata, "Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di
bumi?" Beliau bersabda, "Masjidil Haram". Dia (Abu Dzar)
berkata, "Aku katakan, "Lalu setelah itu?" Beliau bersabda,
"Masjidil Aqsho". Aku katakan, "Berapa jarak waktu antara
(pembangunan) keduanya". Beliau besabda, "Jarak antara kedua adalah
40 tahun. Kemudian dimanapun kau didapati waktu sholat setelah itu, maka
sholatlah (disitu), karena keutamaan ada padanya (yakni, sholat di awal waktu)". [HR. Al-Bukhoriy (3366 & 3425), Muslim (520) An-Nasa'iy
(690), dan Ibnu Majah (753)]
Sebuah
masjid, semakin lama usianya digunakan dalam ibadah dan ketaatan, maka semakin
besar pula keutamaannya.
Keutamaan Sholat di Masjidil Aqsho
Diantara keutamaan Masjidil Aqsho,
Allah akan mengampuni dosa orang yang shalat di dalamnya, sedang tak ada yang
mendorongnya ke Masjidil Aqsho, selain ia mau sholat di dalamnya.
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wa sallam- bersabda,
"أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ _صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ
اللهَ _عَزَّ وَجَلَّ_ خِلاَلاً ثَلاَثَةً :
*
سَأَلَ اللهَ _عَزَّ وَجَلَّ_ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوْتِيَهُ،
*
وَسَأَلَ اللهَ _عَزَّ وَجَلَّ_ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِيْ لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَأُوْتِيَهُ،
*
وَسَأَلَ اللهَ _عَزَّ وَجَلَّ_ حِيْنَ فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لاَ يَأْتِيَهُ
أَحَدٌ، لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ فِيْهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيْئَتِهِ
كِيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ."
"Sesungguhnya Sulaiman bin Dawud -Shollallahu
'alaihi wasallam-, tatkala ingin membangun Masjid Baitul Masjid, maka ia
meminta kepada Allah -Azza wa Jalla- tentang tiga hal:
* Dia
meminta kepada Allah -Azza wa Jalla- hukum (keputusan) yang mencocoki hukum-Nya,
lalu ia pun diberi;
* Dia
meminta kepada Allah -Azza wa Jalla- suatu kekuasaan yang tak pantas bagi
seorangpun setelah Sulaiman, lalu ia pun diberi;
* Dia
meminta kepada Allah -Azza wa Jalla- setelah usai membangun Masjidil Aqsho agar
tak ada seorang pun yang datang, sedang tak ada yang mendorongnya (untuk
datang), selain sholat di dalamnya agar orang itu dikeluarkan dari kesalahan
(dosa)nya, seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya". [HR. An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (693), dan
Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1408). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Ats-Tsamr Al-Mustathob
(1/545)]
Jadi, sholat di masjidil Aqsho akan
menjadi sebab Allah mengampuni dosa seorang hamba. Ini adalah keutamaan besar
yang Allah berikan kepada orang melaksanakan sholat di Masjidil Aqsho
Sholat di Masjidil Aqsho Dilipatgandakan
Perbandingan kebaikan sholat di
Masjid Nabawi dengan sholat di Masjid Baitul Maqdis, empat banding satu.
Maksudnya, jika sholat di masjid
Nabawi satu kali, lalu seorang akan mendapatkan pahala 1000 sholat atau lebih baik
lagi, maka sholat di Masjidil Aqsho, seorang akan mendapatkan 250 pahala
Abu Dzar -radhiyallahu 'anhu-
berkata,
تَذَاكَرْنَا
وَ نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: أَيُّهُمَا أَفْضَلُ,
مَسْجِدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أو مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ
؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : صلاة في مَسْجِدِيْ هذا
أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيْهِ وَ لَنِعْمَ الْمُصَلَّى وَ لَيُوُشِكَنَّ
أَنْ لاَ يَكُوْنَ لِلَّرَجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ اْلأَرْضِ حَيْثُ يُرَى
مِنْهُ بَيْتُ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا أَوْ قَالَ خَيْرٌ
مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا.
"Kami pernah berbincang-bincang, sedang kami di sisi
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam-, "Manakah yang lebih afdhol
(utama), apakah Masjid Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- ataukah
Masjid Baitul Maqdis?"
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Sholat di masjidku ini lebih afdhol dibandingkan empat kali sholat di
dalamnya (di dalam Masjidil Aqsho). Dia adalah sebaik-baik tempat sholat.
Hampir-hampir seorang tidak memiliki tanah senilai tali kuda, dimana akan
diperlihatkan Baitul Maqdis baginya dari tempat itu. Itu (tanah sekecil itu)
adalah lebih baik baginya dibandingkan dunia seluruhnya". –atau beliau
bersabda-, "lebih baik dibandingkan dunia, dan sesuatu yang ada di
dalamnya". [HR. Ibrohim bin Thohman Al-Khurosaniy
dalam Masyikhoh-nya (hal.119), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath
(6983 & 8230), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (8553),
Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (4145), dan lainnya. Hadits ini
di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (7/955)]
Syaikh Hisyam Al-Arif Al-Maqdisiy -hafizhahullah- berkata, "Hadits ini
seshohih-shohihnya sesuatu yang datang tentang pahala sholat di Masjidil Aqsho.
Hadits ini menunjukkan bahwa sholat di Masjid Nabi -Shallallahu 'alaihi wa
sallam- (Masjid Nabawi) seperti empat kali sholat di Masjidil Aqsho, yakni
sholat di Masjidil Aqsho seperti 250 kali sholat dalam hal pahala".
[Lihat Majalah Al-Asholah (Edisi 30/15 Syawwal 1421 H)]
Masjidil Aqsho Tempat Mencari Pahala dan Keutamaan
Di dalam Islam, Seorang tidak
diperkenankan melakukan safar untuk mengunjungi suatu tempat dalam rangka beribadah,
mencari pahala, dan keutamaan pada suatu tempat, kecuali menuju ke tiga masjid
yang disebutkan oleh Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلىَ ثَلاَثَةِ
مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وِمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ ومَسْجِدِ اْلأَقْصَى
"Tidak boleh bersafar, kecuali menuju tiga masjid:
Masjidil Haram, Masjid Rasul -Shollallahu 'alaihi wasallam- (Masjid Nabawi),
dan Masjidil Aqsho". [HR.
Al-Bukhoriy (1189), dan Muslim (1397)]
Jadi, bersafar dalam rangka
beribadah, mencari pahala, dan keutamaan, tidak boleh dilakukan pada selain
tiga tempat itu.
Dari sini, kita tahu kesalahan
sebagian kaum muslimin yang melakukan safar untuk mengunjungi kubur
orang yang dianggap wali atau orang sholeh, seperti yang dilakukan oleh
orang-orang jahil di Jawa; mereka melakukan "Tour Keliling Wali
Songo".
Kekeliruan seperti ini juga mulai
menjangkit ke Sulsel dengan adanya sebagian orang-orang diantara mereka yang
melakukan safar dari tempat lain menuju kubur Syaikh Yusuf, Gowa.
Ini jelas adalah kesalahan yang
menyalahi petunjuk Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- yang terkandung
di dalam hadits ini!
I'tikaf yang Paling Utama
I'tikaf yang paling utama dilakukan
oleh seseorang, i'tikaf di salah satu dari tiga masjid itu (Masjidil Haram,
Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsho), walaupun harus bersafar.
Nabi -Shallallahu 'alaihi wa
sallam- bersabda,
لاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ
فِيْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ الثَّلاِثَةِ : مَسْجِدِ الْمَدِيْنَةِ وَمَسْجِدِ مَكَّةَ
وَمَسْجِدِ إِيْلِيَا
"Tak ada i'tikaf (yang sempurna, pent-), kecuali di
tiga masjid: Masjid Madinah (Masjid Nabawi), Masjid Makkah (Masjidil Haram),
dan Masjid Iliya (Masjidil Aqsho)".
[HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (8357), Ath-Thobroniy dalam dalam
Al-Kabir (9511), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Ash-Shohihah (2786)]
Pembangunan Baitul Maqdis
Allah -Ta'ala- telah
menetapkan ajal bagi semua makhluk-Nya; ada yang jaya, dan ada yang binasa.
Nabi -Shallallahu 'alaihi wa
sallam- pernah bersabda menceritakan
silsilah kejadian akhir zaman,
عِمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ,
وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوْجُ الْمَلْحَمَةِ, وَخُرُوْجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قَسْطَنْطِيْنِيَّةَ,
وفَتْحُ قَسْطَنْطِيْنِيَّةَ خُرُوْجُ الدَّجَّالِ
"Pembangunan Baitul Maqdis adalah (waktu) hancurnya
kota Madinah. Hancurnya kota Madinah adalah (waktu) munculnya perang besar.
Munculnya perang besar adalah (waktu) direbutnya Qostantiniyah (kerajaan
Romawi). Direbutnya Qostantiniyah (kerajaan Romawi) adalah (waktu) keluarnya
Dajjal".[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya
(4294), Ahmad dalam Musnad-nya (22076 & 22174), Al-Hakim dalam
Al-Mustadrok (8297), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir
(214), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij
Al-Misykah (5424)]
Al-Allamah Syamsul Haq Al-Azhim
Abadi -rahimahullah- berkata dalam
menegaskan makna hadits ini, "Pendapat yang paling benar, Yang dimaksud
dengan pembangunan Baitul Maqdis adalah kesempurnaan dalam hal pembangunannya,
yaitu pembangunan Baitul Maqdis secara sempurna lagi melebihi batas, saat
hancurnya kota Madinah, karena Baitul Maqdis tak akan hancur". [Lihat Aunul
Ma'bud (11/270)]
Masjidil Aqsho tak akan Dimasuki Dajjal
Allah -Ta'ala- telah
memberikan keutamaan kepada Masjidil Aqsho sebagaimana Makkah, Madinah, serta
Thur; Dajjal tak akan masuk ke tempat-tempat ini sebagaimana yang dikabarkan
oleh Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-.
Mujahid -rahimahullah- berkata,
كُنَّا سِتَّ سِنِيْنَ عَلَيْنَا جُنَادَةُ
بْنُ أَبِيْ أُمَيَّةَ, فَقَامَ فَخَطَبَنَا فَقَالَ: أَتَيْنَا رَجُلاً مِنْ اْلأِنْصَارِ
مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ
فَقُلْنَا: حَدِّثْنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ وَلاَ تُحَدِّثْنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ النَّاسِ. فَشَدَدْنَا عَلَيْهِ فَقَالَ:
قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْنَا فَقَالَ: أَنْذَرْتُكُمُ
الْمَسِيْحَ وَهُوَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنَ –قَالَ: أَحْسَبُهُ قَالَ: اَلْيُسْرَى- يَسِيْرُ
مَعَهُ جِبَالُ الْخُبْزِ وَأَنْهَارُ الْمَاءِ, عَلاَمَتُهُ: يَمْكُثُ فِي اْلأَرْضِ
أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا. يَبْلُغُ سُلْطَانُهُ كُلَّ مَنْهَلٍ لاَ يَأْتِيْ أَرْبَعَةَ
مَسَاجِدَ : اَلْكَعْبَةَ وَمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ والْمَسْجِدَ اْلأَقْصَى والطورَ.
وَمَهْمَا كَانَ مِنْ ذَلِكَ فَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
–وَقَالَ ابْنُ عَوْنٍ: وَأَحْسَبُهُ قَدْ قَالَ:-يُسَلَّطُ عَلَى رَجُلٍ فَيَقْتُلُهُ,
ثُمَّ يُحْيِيْهِ وَلاَ يُسَلَّطُ عَلَى غَيْرِهِ
"Selama enam tahun, kami di bawah
pimpinan Junadah bin Abi Umayyah. Dia pernah berdiri memberikan khutbah kepada
kami seraya berkata, "Kami pernah mendatangi seorang Anshor (Ubadah bin
Ash-Shomit, pent.) dari kalangan sahabat Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa
sallam-.
Kami pun masuk menemuinya seraya berkata,
"Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang pernah Anda dengar dari Rasulullah
-Shallallahu 'alaihi wa sallam-, jangan Anda ceritakan kepada kami
sesuatu yang kau dengarkan dari orang-orang", lalu kamipun mendesaknya.
Maka dia (Ubadah bin Ash-Shomith) berkata, "Rasulullah
-Shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah berdiri di depan kami seraya
bersabda, "Aku ingatkan kalian (bahaya) Al-Masih (yakni, Dajjal). Dia
adalah seorang yang buta sebelah (picok) matanya --Rowi berkata, "Aku
yakin ia bersabda,"yang kiri"--. Akan berjalan bersamanya
gunung-gunung roti, dan sungai air. Tandanya, ia akan tinggal di bumi selama 40
hari. Kekuasaannya akan mencapai semua tempat minum (telaga). Dia tak akan
mendatangi empat masjid: Masjid Ka'bah, Masjid Rasul, Masjidil Aqsho, dan Thur
(Thursina'). Apapun yang terjadi, ketahuilah bahwa Allah -Azza wa Jalla- tidaklah
buta sebelah. –Ibnu Aun (rawi) berkata,"Aku yakin ia bersabda,--
ditundukkan baginya seorang laki-laki; Dajjal pun membunuhnya, lalu ia
hidupkan, dan tidak ditundukkan selainnya". [HR. Ahmad (5/364). Di-shohih-kan
oleh Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (23139)]
Inilah beberapa keutamaan Masjidil
Aqsho, hak milik kaum muslimin. Hak milik ini telah dirampas oleh tangan diktator
Zionis Yahudi dari kaum muslimin dengan menginjak-injak, dan menghinakan hak
asasi kaum muslimin di Palestina, bahkan kaum muslimin seluruh dunia.
Namun anehnya, kali ini para pejuang
hak asasi manusia, terbungkam dan diam seribu bahasa. Mana hak asasi manusia bagi kaum muslimin di Palestina
dan seluruh dunia?!
Semoga Allah memberikan jalan kepada
kaum muslimin untuk merebut kembali Palestina dan Masjidil Aqsho dari tangan
orang-orang Yahudi yang zholim lagi terlaknat agar ibadah kita kepada Allah
semakin sempurna dengan meraih segudang pahala dan ampunan di Masjidil Aqsho.

Komentar
Posting Komentar