Fatwa Kafirnya Ahmadiyyah
![]() |
Fatwa Kafirnya Ahmadiyyah
Ustadz Abdul Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhahullah_
Ahmadiyyah
adalah gerakan yang mengusung paham kafir, dan gerakan pemurtadan, sebab mereka
meyakini bahwa masih ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shallallahu 'alaihi wa
sallam-. Ini adalah paham kafir yang disepakati oleh para ulama' dan
kaum muslimin dari zaman Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- sampai hari ini !!
Ahmadiyyah
(biasa disebut Qodiyaniyyah) yang berasal dari Negeri Penyembah
Sapi (India) telah mengangkat nabi baru alias nabi palsu, yaitu pemimpin mereka
sendiri yang bernama Mirza Ghulam Ahmad, seorang kaki tangan penjajah
Inggris yang telah menduduki India saat itu.
Ketika
mereka mempermaklumkan paham kafir itu, maka serta-merta para ulama di seluruh
dunia mengeluarkan fatwa resmi, dan mengadakan pertemuan demi menepis kerancuan
dan penyimpangan yang ditimbulkan oleh kelompok kafir itu.
Fatwa
& Pernyataan MUI
Melihat
adanya paham kafir yang akan memecah belah masyarakat, maka Majelis Ulama
Indonesia mengeluarkan fatwa sebagai berikut nasnya: "Bismillahir
Rahmanir Rahim, Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional II, tanggal
11-17 Rajab 1400 H/ 26 Mei-1 Juni 1980 M, di Jakarta memfatwakan tentang Jama'ah Ahmadiyyah
sebagai berikut:
1.
Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan dalam 9 (sembilan) buah buku tentang
Ahmadiyyah, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Ahmadiyyah adalah jama'ah
di luar Islam, sesat, dan menyesatkan.
2.
Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyyah hendaknya Majelis
Ulama Indonesia selalu berhubungan dengan Pemerintah". [Lihat Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
(hal. 96), diterbitkan oleh Bagian Proyek Sarana & Prasarana Produk Halal,
Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam & Penyelenggara Haji, Departemen Agama
RI, 2003 M]
Pembaca
yang budiman, kenapa Ahmadiyyah kafir??!
Karena, mereka mendustakan firman Allah,
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ
رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا}
[الأحزاب: 40]
"Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu". (QS. Al-Ahzab : 40)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (6/428),
"فَهَذِهِ الْآيَةُ نَصٌّ فِي أَنَّهُ
لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، وَإِذَا كَانَ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ فَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ
بِطَرِيقِ الْأَوْلَى وَالْأَحْرَى؛ لِأَنَّ مَقَامَ الرِّسَالَةِ أَخَصُّ مِنْ
مَقَامِ النُّبُوَّةِ، فَإِنَّ كُلَّ رَسُولٍ نَبِيٌّ، وَلَا يَنْعَكِسُ.
وَبِذَلِكَ وَرَدَتِ الْأَحَادِيثُ الْمُتَوَاتِرَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من حَدِيثِ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ."
اهـ من تفسير القرآن العظيم (6/ 428) للحافظ أبي الفداء ابن كثير الدمشقي
"Ayat ini
adalah nash bahwa tak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad -Shallallahu 'alaihi
wa sallam-. Jika tak ada nabi setelah beliau, maka tentunya tak ada rasul
setelahnya, karena jenjang kerasulan lebih khusus dibandingkan dengan jenjang
kenabian, karena setiap rasul adalah nabi, dan bukan sebaliknya. Inilah yang
tertera dalam hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah -Shollallahu 'alaihi
wasallam- yang berasal dari sekelompok sahabat -radhiyallahu 'anhum-".
Selain
itu, orang-orang Ahmadiyyah dan pengaku-pengaku kenabian lainnya di zaman ini
telah mengingkari hadits-hadits shohih, seperti sabda Nabi -Shallallahu
'alaihi wa sallam-,
فِيْ
أُمَّتِيْ كَذَّابُوْنَ وَدَجَّالُوْنَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ مِنْهُمْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ
وَإِنِّيْ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لّا نَبِيَّ بَعْدِيْ
"Di tengah
ummatku ada tukang dusta, dan dajjal (jumlahnya) 27 orang, diantara mereka ada
empat wanita. Sesungguhnya aku adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi
setelahku".[HR. Ath-Thohawiy dalam Musykil
Al-Atsar (4/104), Ahmad (5/396/no. 23406), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir
(3026), dan Al-Ausath (5582). Di-shohih-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1999)]
Muhaddits
Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata,
"وفي
الحديث رد صريح على القاديانية وابن عربي قبلهم القائلين ببقاء النبوة بعد النبي
صلى الله عليه وسلم، وأن نبيهم المزعوم ميرزا غلام أحمد القادياني كذاب ودجال من
أولئك الدجاجلة." اهـ من سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها (4/
655)
"Dalam
hadits ini terdapat bantahan yang gamblang atas orang-orang Ahmadiyyah Qodiyaniyyah,
dan Ibnu Arobi sebelumnya yang berpendapat tentang adanya kenabian setelah Nabi
Muhammad -Shollallahu 'alaihi wasallam-, dan
bahwa nabi gadungan mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodiyaniy adalah
tukang dusta, dan dajjal di antara dajjal dajjal tersebut".[Lihat Ash-Shohihah (4/655)]
Jadi,
Mirza Ghulam Ahmad, dan orang-orang Ahmadiyyah adalah orang-orang kafir.
Karenanya, MUI dalam Rakernas 1-4 Jumadil Akhir 1404 H/4-7 Maret
1984 M setelah meminta agar Ahmadiyyah dibubarkan, maka MUI menyerukan
beberapa hal berikut teksnya,
a.
Agar Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat
I, Daerah Tingkat II, para ulama, dan da'i di seluruh Indonesia, menjelaskan
kepada masyarakat tentang sesatnya Jema'at Ahmadiyyah Qodiyaniyyah yang
berada di luar Islam.
b.
Bagi mereka yang telah terlanjur mengikuti Jema'at
Ahmadiyyah Qodiyaniyyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.
c.
Kepada seluruh ummat Islam supaya mempertinggi
kewaspadaannya, sehingga tidak akan terpengaruh dengan faham yang sesat
itu". [Lihat Himpunan Fatwa Majelis
Ulama Indonesia (hal. 96-97), diterbitkan oleh Bagian Proyek Sarana
& Prasarana Produk Halal, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam &
Penyelenggara Haji, Departemen Agama RI, 2003 M]
Pernyataan
Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia
Pernyataan
serupa muncul dari negeri lain. Ketika para ulama Kerajaan Saudi Arabia ditanya
tentang munculnya agama baru yang bernama Ahmadiyyah alias Qodiyaniyyah,
maka para ulama yang tergabung dalam Lembaga Fatwa (Al-Lajnah Ad-Da'imah)
di negeri itu mengeluarkan fatwa resmi sebagai berikut nash-nya :
"لقد
صدر الحكم من حكومة الباكستان على هذه الفرقة بأنها خارجة عن الإسلام، وكذلك صدر
من رابطة العالم الإسلامي بمكة المكرمة الحكم عليها بذلك، ومن مؤتمر المنظمات
الإسلامية المنعقد في الرابطة في عام 1394هـ، وقد نشر رسالة توضح مبدأ هده الطائفة
وكيف نشأت ومتى إلى غير ذلك مما يوضح حقيقتها.
والخلاصة:
أنها طائفة تدعي أن مرزا غلام أحمد الهندي نبي يوحى إليه وأنه لا يصح إسلام أحد
حتى يؤمن به، وهو من مواليد القرن الثالث عشر، وقد أخبر الله سبحانه في كتابه
الكريم أن نبينا محمدا صلى الله عليه وسلم هو خاتم النبيين، وأجمع علماء المسلمين
على ذلك، فمن ادعى أنه يوجد بعده نبي يوحى إليه من___الله عز وجل فهو كافر لكونه
مكذبا لكتاب الله عز وجل، ومكذبا للأحاديث الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه
وسلم الدالة على أنه خاتم النبيين، ومخالفا لإجماع الأمة. وبالله التوفيق. وصلى
الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم." اهـ من فتاوى اللجنة الدائمة - 1 (2/
312_313)
"Sungguh
telah terbit pernyataan dari Pemerintah Pakistan tentang golongan ini bahwa ia
adalah kelompok yang keluar (murtad) dari Islam!! Demikian pula, telah
keluar pernyataan yang sama tentang kelompok ini dari Rabithah Alam Islami,
di Makkah Al-Mukarramah, dan juga pernyataan dari Muktamar
Organisasi-organisasi Islam yang diadakan di Rabithah, tahun 1394 H.
Sungguh telah diedarkan risalah yang menjelaskan prinsip golongan ini,
bagaimana ia muncul, kapan, dan seterusnya, diantara perkara yang menjelaskan
hakikatnya.
Intinya,
Ahmadiyyah adalah kelompok yang mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad (seorang
berkebangsaan India) adalah seorang nabi yang diberi wahyu; mengakui bahwa tak
sah keislaman seseorang sampai ia mau beriman kepadanya. Dia adalah seorang
berkelahiran abad ke-13 Hijriyyah.
Allah
-Subhanahu- sungguh telah
mengabarkan dalam Kitab-Nya yang Mulia
bahwa Nabi kita Muhammad -Shollallahu 'alaihi wasallam- adalah penutup para
nabi. Ulama kaum muslimin telah menyepakati hal itu. Barangsiapa yang meyakini
bahwa ada nabi yang diberi wahyu dari
Allah -Azza wa Jalla- setelah beliau -Shollallahu 'alaihi wasallam-, maka ia
kafir !! Karena ia telah mendustakan Kitab Allah -Azza wa Jalla-, dan hadits-hadits
shohih dari Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- yang menunjukkan bahwa
beliau adalah penutup para nabi, dan juga menyelisihi ijma' (kesepakatan) ummat.
Wabillahit taufiq, washollallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa
sallam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah
Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (2/312-313)]
Sebuah
pertanyaan juga pernah dilayangkan ke Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al-Lajnah
Ad-Da'imah) berbunyi,
"ما الفرق بين المسلمين والأحمديين؟"
"Apa
perbedaan antara kaum muslimin dengan orang-orang Ahmadiyyah?"
Para
ulama yang diketuai oleh Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baaz saat itu memfatwakan,
الفرق بينهما: أن المسلمين هم الذين يعبدون الله وحده
ويتبعون رسوله محمدا صلى الله عليه وسلم ويؤمنون بأنه خاتم الأنبياء ليس بعده نبي،
أما الأحمديون الذين هم أتباع مرزا غلام أحمد، فهم كفار ليسوا مسلمين؛ لأنهم
يزعمون أن مرزا غلام أحمد نبي بعد محمد صلى الله عليه وسلم، ومن اعتقد هذه العقيدة
فهو كافر عند جميع علماء المسلمين؛ لقول الله سبحانه :
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ
رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ} [الأحزاب: 40]
ولما صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : «أنا
خاتم النبيين لا نبي بعدي».
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه
وسلم.
"Perbedaan
antara keduanya, kaum muslimin adalah orang-orang yang hanya menyembah Allah,
dan mengikuti Rasul-Nya Muhammad -Shollallahu 'alaihi wasallam- , dan beriman
bahwa beliau adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahnya. Adapun
orang-orang Ahmadiyyah, mereka adalah pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Mereka
ini adalah orang-orang kafir, bukan muslim !! Karena mereka meyakini bahwa
Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi setelah Muhammad -Shollallahu 'alaihi
wasallam- . Barangsiapa yang meyakini aqidah (keyakinan) ini, maka ia kafir
menurut pernyataan seluruh ulama' kaum muslimin berdasar firman Allah
–Subhanahu-,
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ
رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ} [الأحزاب: 40]
"Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi". (QS. Al-Ahzab : 40)
dan juga
berdasarkan hadits yang shohih dari Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam-
bahwa beliau bersabda,
أَنَا
خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ
"Aku
adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku".[1]
Wabillahit
taufiq, washollallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa
sallam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah
Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (2/314)]
Sekali
lagi, ulama kita di Negeri turunnya
wahyu mengeluarkan fatwa sehubungan dengan pertanyaan yang dikirimkan kepada
mereka.
Penanya
meminta penjelasan tentang kedudukan orang Ahmadiyyah yang biasa disebut
Qodiyaniyyah. Maka para ulama yang tergabung dalam Lembaga Fatwa KSA (Al-Lajnah
Ad-Da'imah) memfatwakan,
"ختمت
النبوة بنبينا محمد صلى الله عليه وسلم فلا نبي بعده؛ لثبوت ذلك بالكتاب والسنة،
فمن ادعى النبوة بعد ذلك فهو كذاب، ومن أولئك غلام أحمد القادياني، فدعواه النبوة
لنفسه كذب، وما زعمه القاديانيون من نبوته فهو زعم كاذب.
وقد
صدر قرار من مجلس هيئة كبار العلماء بالمملكة باعتبار القاديانيين فرقة كافرة من
أجل ذلك.
وبالله
التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم." اهـ من فتاوى اللجنة
الدائمة - 1 (2/ 313)
"Pintu
kenabian telah tertutup dengan (datangnya) Nabi kita Muhammad -Shollallahu
'alaihi wasallam- . Jadi tak ada lagi nabi setelah beliau, karenanya tetapnya
hal itu dalam Al-Kitab dan Sunnah. Barang siapa yang mengaku nabi setelah itu,
maka ia adalah tukang dusta. Diantaranya, Mirza Ghulam Ahmad. Maka pengakuan
kenabian bagi dirinya adalah kedustaan, dan sesuatu yang diyakini oleh
orang-orang Qodiyaniyyah berupa kenabian Mirza adalah sangkaan yang dusta.
Sungguh telah terbit pernyataan dari Hai'ah Kibar Ulama (Majelis Ulama Besar)
di Kerajaan Saudi Arabia dalam menganggap orang-orang Qodiyaniyyah adalah
kelompok kafir karena alasan tersebut Wabillahit taufiq, washollallahu ala
Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts
Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (2/313)]
Nasihat
& Peringatan bagi Kaum Muslimin
Terakhir
kami ingin ingatkan kepada seluruh kaum muslimin bahwa orang-orang Ahmadiyyah
belakangan ini terus menjalankan makarnya untuk memurtadkan kalian dari agama
kalian.
Sebuah
contoh, saat FPI melakukan tindak keras kepada orang-orang Ahmadiyyah,
maka orang-orang Ahmadiyyah berusaha membuat opini bahwa mereka adalah
orang-orang yang terzholimi, perlu didukung.
Dengan
momen ini, Ahmadiyyah berusaha mencari simpati dari kaum muslimin
dengan berbagai cara (seperti, membagikan hadiah & shodaqoh di Makasaar).
Pada gilirannya, mereka akan tetap kokoh, dan berjalan bebas di Indonesia Raya
untuk melakukan aksi perusakan aqidah dan keyakinan sehingga anak bangsa ini
akan menjadi murtad !!
Kami
juga nasihatkan kepada kaum muslimin agar mempelajari agama yang tertera dalam Al-Qur'an
dan Sunnah pada seorang ulama dan ustadz Ahlus Sunnah, bukan dari orang-orang sesat, apalagi kafir seperti
Ahmadiyyah.
Ilmu
agama akan menjadi benteng kokoh dalam menghadapi segala bentuk gelombang, dan
serangan aqidah sesat lagi kafir. Inilah rahasianya seorang pemuda di
akhir zaman nanti akan kokoh di atas agamanya, karena ia membentengi dirinya
dengan ilmu wahyu. Dia tak ragu tentang kebatilan Dajjal Pendusta, bahkan ia
dengan berani menyatakan kepada Dajjal dan pengikutnya,
فَإِذَا
رَآهُ الْمُؤْمِنُ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَذَا الدَّجَّالُ الَّذِيْ ذَكَرَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Jika
Dajjal telah dilihat (dijumpai) oleh Pemuda mukmin ini, maka ia berkata,
"Wahai manusia, inilah Dajjal yang pernah disebutkan oleh Rasulullah
-Shollallahu 'alaihi wasallam-". [HR.
Muslim dalam Shohih-nya (2938)]
"Seorang
muslim hendaknya mengambil cahaya (petunjuk) ketika terjadinya masalah-masalah
dari hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-. Karena
itu, ia akan sanggup mengenali Dajjal dengan sifat-sifatnya yang tersebut dalam
Sunnah yang shohih".[2]
[1] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4252), At-Tirmidziy
dalam Sunan-nya (no. 2219). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy
dalam Takhrij Al-Misykah (no. 5406).
[2] Lihat Bahjah An-Nazhirin (3/288)

Komentar
Posting Komentar