Ilmu Agama, Jalan Terbaik menuju Surga
Ilmu Agama, Jalan Terbaik menuju Surga
oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhohulloh_
Setiap
insan menginginkan dirinya termasuk golongan yang selamat dari api neraka,
walaupun ia adalah manusia yang paling berdosa, sebab fitrah manusia selalu
mencari jalan dan sebab yang membahagiakan dirinya.
Tak
ada yang meluputkan kebahagiaan pada dirinya, kecuali orang gila dan sinting
saja, ataukah orang yang menyerupainya!
Manusia
dalam mencari jalan menuju surga memiliki berbagai macam cara dan usaha.
Ada
yang mencari jalan menurut hawa nafsunya, dan golongan ini akan menuai
kegagalan.
Ada
juga yang mencari jalan dengan bimbingan dari Allah dan Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- , serta arahan para ulama. Golongan inilah yang akan
mendapatkan keselamatan.
Para
pembaca yang budiman, Jalan yang kami maksudkan adalah mencari dan mempelajari ilmu agama.
Ilmu
agama hari ini, nasibnya amat menyedihkan. Banyak diantara kaum muslimin dan
anak-anaknya semakin menjauh darinya.
Realita
telah membuktikan hal ini. Lihat saja ke majelis-majelis ilmu yang di dalamnya
diajarkan Al-Kitab dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Yang
hadir bisa dihitung jari. Itupun yang hadir bermacam-macam tendensinya.
Ada
yang hadir karena hanya sekedar mencari kesibukan. Ada yang hadir karena
mencari perhatian orang.
Ada
yang hadir karena sekedar memenuhi undangan. Ada yang hadir karena perintah
atasan. Mereka hadir bukan karena mencari ilmu yang akan siap mereka amalkan.
Lantaran
itu, sering kita menyaksikan pemandangan buruk di majelis-majelis ilmu yang
menggambarkan kurang butuhnya mereka kepada ilmu agama.
Sering
kita menyaksikan orang-orang yang berbicara di majelis sedang ustadz
menjelaskan ayat-ayat dan hadits-hadits, sementara jamaah yang hadir duduk jauh
dari ustadz, sambil bersandar di tembok, sibuk utak-atik HP, bahkan ada yang
ngorok di majelis!
Parahnya
lagi, sebagian mereka membawa Koran dan
majalah yang akan mereka baca di tengah majelis.
Lebih
parah dari itu, ada yang merokok di majelis, padahal rokok itu jelas
keharamannya, baik dari sisi syariat, maupun sisi akal dan medis!!
Sisi
lain, banyak diantara kaum muslimin yang bangga jika paham tentang ilmu-ilmu
keduniaan. Sementara itu ia tak merasa risih jika anak-anaknya jahil dan tak
paham agamanya, sehingga lahirlah generasi-generasi yang jauh dari agamanya.
Sungguh
memilukan hati jika fenomena seperti ini terjadi. Tapi demikianlah realita yang
terjadi karena kejahilan dan jauhnya kaum muslimin dari ilmu agama yang
bermanfaat.
Padahal
mendatangi ilmu di majelis-majelis adalah sebuah keutamaan yang amat agung di
sisi Allah -Azza wa Jalla-.
Ilmu
itu adalah jalan dan sebab yang akan mengantarkan kita ke surga yang penuh
kenikmatan.
Di
dunia, ilmu yang kita dengarkan akan menjadi penenang hati, mendatangkan rahmat
Allah, dan menjadi sebab Allah mencintai diri seorang hamba.
Inilah
yang pernah dinyatakan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, Nabi
pembawa rahmat kepada alam semesta di dalam sebuah sabdanya,
وَمَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ
اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ
الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Barangsiapa
yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu agama di dalamnya, niscaya
Allah akan mudahkan baginya -lantaran hal itu- jalan menuju surga. Tidaklah
suatu kaum berkumpul di suatu rumah diantara rumah-rumah Allah, sedang mereka
membaca Kitabullah, dan saling mengajarkannya diantara mereka, kecuali akan
turun pada mereka ketenangan, diliputi rahmat (kasih sayang Allah), para
malaikat mengerumuni mereka, dan Allah akan menyebut-nyebutnya di kalangan
malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya”.
[HR. Muslim dalam Adz-Dzikr wa Ad-Du’aa (11/no. 38)]
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah-
berkata,
"فَلَا طَرِيقَ إِلَى مَعْرِفَةِ اللَّهِ
وَإِلَى الْوُصُولِ إِلَى رِضْوَانِهِ وَالْفَوْزِ بِقُرْبِهِ وَمُجَاوَرَتِهِ فِي
الْآخِرَةِ إِلَّا بِالْعِلْمِ النَّافِعِ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رُسُلَهُ،
وَأَنْزَلَ بِهِ كُتُبَهُ، فَهُوَ الدَّلِيلُ عَلَيْهِ، وَبِهِ يُهْتَدَى فِي
ظُلُمَاتِ الْجَهْلِ وَالشُّبَهِ وَالشُّكُوكِ، وَلِهَذَا سَمَّى اللَّهَ
كِتَابَهُ نُورًا؛ لِأَنَّهُ يُهْتَدَى بِهِ فِي الظُّلُمَاتِ." اهـ من جامع
العلوم والحكم، ت : الأرنؤوط (2/ 298)
“Tidak
ada jalan untuk mengenal Allah, dan sampai kepada ridho-Nya, serta untuk meraih
kedekatan dengan-Nya di akhirat, melainkan dengan ilmu (agama) yang bermanfaat,
yang Allah mengutus karenanya para rasul-Nya, menurunkan karenanya
kitab-kitab-Nya. Dia (ilmu agama) adalah dalil (penuntun) menuju Allah; ilmu
agama ini dijadikan penuntun dalam gelapnya kejahilan, syubhat, dan keraguan.
Karenanya, Allah menamai Kitab-Nya (yakni, Al-Qur’an) dengan “cahaya”. Sebab,
Al-Qur’an dijadikan penuntun dalam kegelapan-kegelapan.” [Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (2/298), karya
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy, dengan tahqiq Al-Arna’ut & Ibrohim
Bajis, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, tahun 1422 H]
Hadits
ini menjelaskan keutamaan berkumpul di masjid untuk berdzikir, dan membaca
Al-Qur’an.
Maksudnya,
setiap orang membaca Al-Qur’an masing-masing dengan ayat atau surah yang mereka
kehendaki, bukan dengan melakukan bacaan atau dzikir secara koor yang dipimpin oleh satu orang, yang biasa disebut
dengan “DZIKIR JAMA’AH”.
Sebab
dzikir jama’ah adalah sesuatu yang terlarang dan tak ada tuntunannya dalam
Islam.
Orang-orang
yang malas dan tak becus bermajelis ilmu perlu mengetahui bahwa hadits ini
mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang yang duduk di masjid dan lainnya dalam
mempelajari dan membaca al-Qur’an, mendapatkan empat balasan :
d Turunnya Sakinah kepada
Mereka
Seorang
yang ikhlash dan bersungguh-sungguh dalam menghadiri majelis ilmu akan meraih
kelezatan saat ia mendengarkan petuah dan nasihat dari Kitabullah dan Sunnah.
Sebab,
di dalam keduanya banyak perkara yang mengingatkan kita kepada Allah, sedang
mengingat Allah akan mewariskan sakinah, yaitu ketenangan.
Lantaran
itu, jika seseorang ingin menghilangkan stress dan kendala yang ia alami, maka
hendaknya ia banyak membaca al-Qur’an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- serta mengkajinya di majelis orang-orang berilmu, niscaya ia akan
merasakan ketenangan hati.
Itu
semua berasal dari pengaruh dzikir (mengingat Allah). Jadi, majelis ilmu
adalah majelis dzikir, sebab di dalamnya kita diingatkan tentang Allah.
Allah
-Ta'ala- berfirman,
{هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ } [الفتح: 4]
“Dia-lah
yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya
keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)”. (QS. Al-Fath : 4)
Seorang
sahabat yang mulia, Al-Baro’ bin Azib
-radhiyallahu anhu- mengabarkan bahwa ada seorang laki-laki yang membaca
Surah Al-Kahfi, sedang di sisinya ada seeokor kuda.
Tiba-tiba
kuda itu diliputi oleh sesuatu yang menyerupai awan. Lalu mulailah sesuatu yang
menyerupai awan itu berputar dan mendekat. Kuda itu pun lari darinya.
Tatkala
di pagi hari, ia mendatangi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya
menyebutkan hal itu.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda ketika itu,
تِلْكَ
السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ
“Itulah
sakinah (ketenangan) yang turun karena Al-Qur’an”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 4281) dan Muslim dalam Sholah
Al-Musafirin (36/no. 240)]
An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,
"قَدْ قِيلَ فِي مَعْنَى السَّكِينَةِ هُنَا أَشْيَاءُ،
الْمُخْتَارُ مِنْهَا : أَنَّهَا شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِ اللَّهِ تعالى فيه
طُمَأْنِينَةٌ وَرَحْمَةٌ وَمَعَهُ الْمَلَائِكَةُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ." المنهاج
شرح صحيح مسلم (6/ 82) للنووي
“As-Sakinah
(ketenangan) disini adalah beberapa pendapat. Pendapat yang terpilih bahwa ia
adalah suatu makhluk diantara makhluk-makhluk Allah -Ta'ala- yang di dalamnya
terdapat tuma’ninah (ketenangan) dan rahmat, dan bersamanya para malaikat.
Wallahu A’lam”. [Lihat Al-Minhaj (6/82)]
Demikianlah
keutamaan besar yang Allah _azza wa jalla_ berikan kepada mereka yang
cinta kepada Al-Qur’an yang berisi ilmu dan ia senantiasa membaca dan
mempelajari serta mengkaji isi dan faedah-faedahnya.
Ilmu
agama inilah yang semakin dikaji, maka semakin mendatangkan ketenangan bagi
mereka yang ikhlash mempelajarinya dari para ulama dan orang-orang yang
berilmu.
d Terliputi oleh Rahmat
Allah
Rahmat
Allah berupa kelembutan, kasih sayang, dan ampunan-Nya akan meliputi
orang-orang yang ikhlash membaca dan mengkaji Al-Qur’an.
Sebab,
mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi
Allah.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
{إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ } [الأعراف:
56]
“Sesungguhnya
rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Aroof: 56)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata,
"أَيْ:
إِنَّ رَحْمَتَهُ مُرْصَدة لِلْمُحْسِنِينَ، الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ أَوَامِرَهُ
وَيَتْرُكُونَ زَوَاجِرَهُ." اهـ من تفسير القرآن العظيم لابن كثير، ت : سامي
سلامة، دار طيبة، 1420 هـ (3/ 429)
“Maksudnya,
sungguh rahmat-Nya disiapkan bagi orang-orang yang berbuat baik, yaitu
orang-orang yang mengikuti perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya”. [Lihat Tafsir
Al-Qur’an Al-‘Azhim (3/429), karya Ibnu Katsir, cet. Dar Thoibah, 1420
H]
Orang
yang mendapatkan rahmat dari Allah adalah orang-orang yang taat kepada Allah.
Dia mengamalkan sesuatu yang ia baca dan pelajari dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam-.
Adapun
orang yang rajin bermajelis ilmu, namun ia tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tidak termasuk orang yang mendapatkan keutamaan ini
dan keutamaan lainnya diantara keutamaan ilmu.
Bahkan
ilmu akan menjadi musibah baginya! Sebab, ilmunya akan menjadi saksi atas
keburukannya yang telah menyia-nyiakan ilmu itu dan tidak mengamalkannya.
d Dikerumuni oleh Para
Malaikat
Diantara
balasan orang yang gemar membaca dan mempelajari Al-Qur’an, ia akan dikerumuni
dan didekati oleh para malaikat.
Kejadian
seperti ini, sekali waktu pernah dialami oleh
sahabat Usaid bin Hudhoir -radhiyallahu anhu-.
Pada
suatu malam, ia pernah membaca Al-Qur’an Al-Karim di kandang kudanya yang
berada di belakang rumahnya.
Tiba-tiba
kudanya melompat. Karena beliau takut, jangan sampai kuda itu menginjak anaknya
yang bernama Yahya, maka ia pun berdiri menuju kudanya.
Tiba-tiba
ada sesuatu yang serupa dengan naungan di atas kepalanya. Pada sesuatu tersebut
terdapat sesuatu yang mirip dengan pelita naik ke udara sampai ia tidak
melihatnya.
Akhirnya, ia pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi
wa sallam- di pagi harinya untuk menceritakan kejadian itu.
Ketika
itu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
تِلْكَ
الْمَلَائِكَةُ كَانَتْ تَسْتَمِعُ لَكَ،
وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحَتْ يَرَاهَا النَّاسُ، مَا تَسْتَتِرُ مِنْهُمْ
“Itulah
para malaikat yang menyimak (bacaan)mu. Andai engkau terus membacanya, maka
manusia akan melihat para malaikat itu, sedang mereka (para malaikat)
itu tak akan bersembunyi dari mereka”. [HR. Muslim dalam Kitab Sholah Al-Musafirin
(36/no. 242)]
Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"وَفِي
هَذَا الْحَدِيثِ : جَوَازُ رُؤْيَةِ آحَادِ الْأُمَّةِ الْمَلَائِكَةَ، وَفِيهِ :
فَضِيلَةُ الْقِرَاءَةِ وَأَنَّهَا سَبَبُ نُزُولِ الرَّحْمَةِ وَحُضُورِ
الْمَلَائِكَةِ، وَفِيهِ : فَضِيلَةُ اسْتِمَاعِ الْقُرْآنِ." اهـ من شرح صحيح
مسلم (5/323)
“Di
dalam hadits ini terdapat keterangan tentang bolehnya (mungkinnya) seorang
diantara umat ini melihat malaikat. Di dalamnya juga terdapat keutamaan membaca
Al-Qur’an, dan bahwa ia adalah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Di
dalamnya juga ada keutamaan menyimak Al-Qur’an”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (5/323), cet.
Dar Al-Ma’rifah, 1421 H]
Demikianlah
Allah _tabaroka wa ta’ala_ menganugerahkan keutamaan ini kepada mereka
yang gemar dan cinta mempelajari atau mengkaji dan membaca Al-Qur’an!
Keutamaan
ini tampak bahwa bila seseorang mencintai kebaikan (yakni, Al-Qur’an), maka
yang dekat kepadanya pasti dari kalangan makhluk-makhluk yang baik.
Al-Qur’an
adalah kalamullah, sedang kalamullah (firman Allah) adalah sebaik-baik ucapan.
Nah, tidak heran tentunya bila yang datang mendengarkannya adalah
makhluk-makhluk yang terbaik dari kalangan para malaikat mulia.
Kemudian
tidak ada yang gemar membaca dan mengkaji ilmu dari ilmu Al-Qur’an, melainkan
manusia-manusia terbaik.
Nabi
_shollallohu alaihi wa sallam_ bersabda,
«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
“Sebaik-baik
orang diantara kalian adalah orang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5027)]
Tentunya
orang yang mempelajari Al-Qur’an disini, mencakup orang yang mempelajari tajwid
dan tafsirnya.
d Allah Menyebutnya di sisi
Malaikat-malaikatnya
Ini
adalah keutamaan dan balasan besar kepada orang-orang yang rajin membaca dan
mengkaji Kitabullah, semata-mata karena mencari pahala darinya.
Insya
Allah, Dia membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya, dan akan mencintai
mereka.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- pernah keluar menemui para sahabatnya
dalam suatu majelis, sedang mereka berdzikir dan memuji Allah sebagai tanda
kesyukuran mereka diberi taufik untuk masuk Islam.
Beliau
bertanya kepada mereka bahwa apakah mereka melakukannya demikian, dan mereka
pun mengiyakannya. Kemudian beliau bersabda,
أَمَا
إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي
أَنَّ اللَّهَ _عَزَّ
وَجَلَّ_ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ
“Ingatlah,
sesungguhnya aku tadi tidaklah meminta kalian bersumpah karena suatu
kecurigaan. Tapi Jibril mendatangiku seraya mengabarkan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat”. [HR. Muslim dalam Adz-Dzikr wa Ad-Du’aa (11/no. 40) ]
Al-Allamah
Al-Mubarokfuriy _rahimahullah_ berkata,
"قِيلَ مَعْنَى الْمُبَاهَاةِ بِهِمْ : أَنَّ اللَّهَ
تَعَالَى يَقُولُ لِمَلَائِكَتِهِ انْظُرُوا إِلَى عَبِيدِي هَؤُلَاءِ كَيْفَ
سَلَّطْتُ عَلَيْهِمْ نُفُوسَهُمْ وَشَهَوَاتِهِمْ وَأَهْوِيَتَهُمْ
وَالشَّيْطَانَ وَجُنُودَهُ، وَمَعَ ذَلِكَ قَوِيَتْ هِمَّتُهُمْ عَلَى
مُخَالَفَةِ هَذِهِ الدَّوَاعِي الْقَوِيَّةِ إِلَى الْبَطَالَةِ وَتَرْكِ
الْعِبَادَةِ وَالذِّكْرِ فَاسْتَحَقُّوا أَنْ يُمْدَحُوا أَكْثَرَ مِنْكُمْ
لِأَنَّكُمْ لَا تَجِدُونَ لِلْعِبَادَةِ مَشَقَّةً بِوَجْهٍ" اهـ من تحفة
الأحوذي (9/ 298)
“Ada
yang menyatakan bahwa makna “membanggakan mereka”, bahwa Allah -Ta'ala-
berfirman kepada para malaikat, “Lihatlah kepada para hamba-Ku itu, bagaimana
Aku kuasakan setan dan bala tentaranya atas hati mereka, dan keinginannya.
Walaupun demikian, semangat mereka tetap kuat dalam menyelisihi
pendorong-pendorong kuat menuju
kemalasan, dan meninggalkan ibadah? Lantaran itu, mereka berhak untuk dipuji
melebihi kalian, karena kalian tidak merasakan kesusahan sedikitpun”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/298), cet. Dar
Ihya’ At-Turots Al-Arobiy & Mu’assasah At-Tarikh Al-Ghorbiy, 1422 H]
Jika
seseorang membaca Al-Qur’an dan mengkajinya demi mendekatkan diri kepada Allah,
maka Allah akan mencintainya.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ
بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Senantiasa
seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan nafilah (sunnah) sampai
Aku mencintainya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(no. 6502)]
Jika
Allah mencintai seseorang, maka para malaikat dan lainnya akan mencintainya.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ
فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ
السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْض
“Apabila
Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril, “Sesungguhnya
Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, lalu Jibril pun mencintainya.
Kemudian Jibril berkumandang di kalangan penduduk langit, “Sesungguhnya Allah
telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, lalu penduduk langit pun
mencintainya, lalu ditetapkanlah bagi orang itu penerimaan di kalangan penduduk
bumi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6040)]
Puncak kebahagiaan seorang adalah saat ia dicintai oleh
Allah _tabaroka wa ta’ala_, dengan sebab ketaatannya kepada Allah
dan jauhnya dari maksiat.
.............................................
Selesai diedit ulang, 27 Dzulhijjah 1439 H = 08 Agustus 2018
M, Studio Radio An-Nashihah 88.20 FM, jalan Baji Rupa, Makassar.
..............................................
Ikuti artikel dan kajian ilmiah Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. _hafizhohulloh_ via :
➤ Joint Channel Telegram : t.me/abufaizah75
➤ Halaman Facebook (Fans Page) : @abu.faizah03
..............................................
Ikuti artikel dan kajian ilmiah Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. _hafizhohulloh_ via :
➤ Joint Channel Telegram : t.me/abufaizah75
➤ Halaman Facebook (Fans Page) : @abu.faizah03
➤ Google Plus : https://plus.google.com/u/0/+AbdulQodirAbuFaizahLc
➤ Blogger Resmi : https://abufaizah75.blogspot.com/
Telegram
Fans Page
Google Plus
Blogger





Komentar
Posting Komentar