Peringatan Keras tentang Bahaya Dunia Perdukunan
Peringatan Keras tentang Bahaya Dunia Perdukunan
((تَنْبِيْهُ
الْجَهَلَةِ مِنْ أَخْطَارِ الْكَهَنَةِ))
Oleh
:
Ust.
Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-
Al-Kahanah ‘Perdukunan’ telah
dikenal oleh umat manusia sejak dahulu kala.
Di zaman para nabi dan rasul, mereka telah ada
bahkan mereka menjadi musuh dakwah tauhid yang dilancarkan oleh para
nabi dan rasul.
Sebab, mereka (para dukun alias paranormal), biasanya
adalah orang-orang yang bekerjasama dengan para setan dari kalangan jin.
Sedang para nabi dan rasul memberantas kesyirikan,
termasuk diantaranya perdukunan yang menggunakan jin dan mengaku tahu perkara
gaib. Di dalamnya, mereka melakukan ke-syirik-an (menduakan Allah dengan
makhluk-Nya) dalam ibadah dan ketaatan.
Dunia perdukunan terus berkembang pesat, seiring
dengan jauhnya manusia dari agama Islam yang menyerukan tauhid dan membasmi
syirik.
Perkembangan dunia perdukunan di zaman ini jauh
lebih menghebohkan, karena para dukun pandai mengelabui manusia dengan
menggunakan nama-nama keren lagi memikat, seperti mereka biasa menyebut diri
dengan "orang pintar", "paranormal", "tabib
yang menyembuhkan semua penyakit".
Lebih ganas lagi, mereka sekarang mulai
menggunakan gelar "kiai", lalu membalut kepala mereka dengan
serban sambil menggunakan pakaian koko atau gamis panjang. Semua ini tentu akan
menipu kaum awam yang memiliki pemahaman agama yang dangkal.
Dahulu, orang-orang menganggap dukun dan
perdukunan adalah sebuah perkara yang tabu.
Kini, mereka menjadi selebriti dan pekerjaan
mereka menjadi "alternatif akhir" bagi kaum awam dalam dunia
pengobatan.
Kesan positif juga semakin tersemat pada mereka,
karena merebaknya praktik ruqyah yang dilakoni oleh para dukun dan
selain dukun, sehingga masyarakat tidak bisa membedakan antara dukun dan
selainnya.
Walaupun ruqyah adalah perkara yang disyariatkan
dalam agama. Tapi, kini banyak dukun yang berkedok ruqyah.
Usut punya usut, ternyata si dukun ini melakukan
praktik perdukunan yang melanggar agama dalam ruqyah-nya, misalnya
menggunakan jampi yang tidak dimengerti maknanya, membalik ayat-ayat Al-Qur'an,
menulis ayat atau dzikir dengan menggunakan najis dan sebagainya.
Para pembaca yang budiman, mungkin ada diantara
kita yang bertanya, "Apa dan siapa sih dukun itu?".
Menjawab hal ini, Al-Imam Ibnul Atsir Al-Jazariy
-rahimahullah- berkata,
"الكاهِنُ: الَّذِي يَتَعاطَى الخَبَر عَنِ الكائِنات فِي
مُسْتَقْبَل الزَّمَانِ، ويَدَّعي مَعْرِفَةَ الأسْرار. وَقَدْ كَانَ فِي
الْعَرَبِ كَهَنة، كَشِقّ، وسَطِيح، وغيرِهما، فَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَزْعمُ
أَنَّ لَهُ تابِعاً مِنَ الجِنّ وَرَئِيًّا يُلْقِي إِلَيْهِ الْأَخْبَارَ،
وَمِنْهُمْ
من__كَانَ يَزْعمُ أَنَّهُ يَعْرِف الْأُمُورَ بمُقَدِّمات أسْباب يَسْتَدلُّ
بِهَا عَلَى مَواقِعها مِنْ كَلَامِ مَن يَسأله أَوْ فِعْلِه أَوْ حَالِهِ،
وَهَذَا يَخُصُّونه بِاسْمِ العَرَاف، كَالَّذِي يَدَّعِي مَعْرِفَةَ الشَّيْءِ
المَسْروق، وَمَكَانِ الضَّالَّة وَنَحْوِهِمَا." اهـ من النهاية في غريب
الحديث والأثر (4/ 214-215)
"Dukun adalah orang yang melakukan
pemberitaan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa akan datang dan
mengaku tahu perkara yang rahasia (gaib). Sungguh dahulu di kalangan bangsa
Arab, para dukun telah ada, semisal Syiqq, Sathih dan selainnya. Diantara
mereka ada yang mengaku punya pengikut dan khadam (pelayan) dari kalangan jin
yang akan menyampaikan berita kepadanya. Diantara para dukun ada yang mengaku
bahwa ia akan mengetahui perkara-perkara dengan sebab-sebab terdahulu yang ia
jadikan sebagai petunjuk tentang tempat-tempatnya dari ucapan orang yang ia
tanyai, atau dari perbuatannya dan kodisinya. Orang yang seperti ini, manusia
khususkan baginya dengan sebutan "arrof" (peramal), seperti orang
yang mengaku tahu tentang barang yang dicuri, barang hilang dan
sejenisnya".
[Lihat An-Nihayah fi Ghorib Al-Hadits (4/214-215)]
Dukun dalam perjalanannya –sebagaimana yang kami
telah utarakan- mengalami perkembangan.
Kini, banyak diantara mereka juga merambah ke
dunia medis dengan berkedok istilah "pengobatan alternatif".
Karenanya, jangan sampai kita cepat terpengaruh
dengan istilah itu, lalu lari ke dukun.
Tapi perhatikanlah hakikat praktik dan perbuatan
mereka. Banyak diantara mereka menggunakan mantra-mantra kesyirikan atau
jampi-jampi yang tak bisa dimengerti, serta bekerjasama dengan jin. Sebab
mereka adalah kaum yang memiliki jiwa yang busuk dan buruk.
Penampilan lain dari dunia perdukunan, sesuatu
yang kita kenal pada hari ini dengan "astrologi" (ilmu
ramalan bintang) alias “zodiak”.
Ilmu perdukunan yang satu ini, juga banyak
menyesatkan manusia, sebab ia mulai menggunakan sarana dan teknologi canggih
dan merambah ke dunia maya (internet) dan dunia komunikasi, seperti telepon, HP,
surat kabar, majalah dan sebagainya.
Ketahuilah bahwa ilmu ramalan bintang itu adalah
ilmu sesat!! Ilmu yang diingkari dalam syariat, sebab tidak makhluk yang
meramalkan sesuatu yang akan terjadi di hari esok berupa kejadian dan
peristiwa, atau penyakit dan musibah.
Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy -rahimahullah-
berkata,
"الكهان فيما علم بشهادة الامتحان: قوم لهم أذهان حادة ونفوس
شريرة، وطبائع نارية، فهم يفزعون إلى الجن في أمورهم، ويستفتونهم في الحوادث،
فيلقون إليهم الكلمات." اهـ من تيسير العزيز الحميد في شرح كتاب التوحيد الذى
هو حق الله على العبيد (ص: 347)
"Dukun –menurut sesuatu yang telah
dimaklumi berdasarkan hasil eksperimen- adalah kaum yang memiliki perasaan yang
tajam, jiwa yang buruk dan tabiat yang panas. Mereka selalu kembali kepada
jin dalam berbagai urusan mereka, dan meminta saran kepada mereka tentang
beberapa peristiwa, lalu para jin pun menyampaikan ucapan-ucapan (wangsit)
kepada mereka". [Lihat
Taisir Al-Aziz (hal. 347)]
Ketahuilah bahwa para jin tak akan mau menjadi
pelayan manusia dalam segala hajatnya, melainkan jin akan meminta tumbal dan
ganjarannya.
Lantaran itu, para dukun pun akhirnya siap
diperbudak oleh para jin, tanpa sadar, sehingga apapun yang diminta oleh para
jin, walaupun itu adalah perkara yang melanggar syariat, maka para dukun siap
memenuhinya, demi mendapatkan sesuatu yang ia inginkan dari para setan jin itu, berupa sihir
dan berita-berita gaib yang sudah bercampur dengan kebatilan dan kedustaan.
Akhirnya, para dukun pun ikut dusta, sebagaimana
para jin yang mereka kultuskan berdusta dalam mengabarkan perkara-perkara gaib
yang terkait kejadian masa lalu dan masa mendatang.
Para jin yang buruk lagi pendusta, tidak akan
turun, melainkan kepada manusia yang buruk lagi pendusta (seperti : dukun,
paranormal dan peramal), sebagaimana halnya malaikat yang baik lagi jujur tidak
akan turun, melainkan kepada para nabi dan rasul yang baik lagi jujur dalam
ucapan dan perbuatannya.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
{هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ
الشَّيَاطِينُ (221) تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (222) يُلْقُونَ
السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (223)} [الشعراء: 221 - 223]
"Apakah
akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka
turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan
pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang
pendusta".
(QS. Asy-Syu'araa' : 221-223)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
"وَإِنَّمَا يَنْزِلُونَ عَلَى مَنْ
يُشَاكِلُهُمْ وَيُشَابِهُهُمْ مِنَ الْكُهَّانِ الْكَذَبَةِ." اهـ من تفسير
ابن كثير ت سلامة (6/ 172)
"Para
setan hanyalah turun kepada orang-orang yang semisal dan serupa dengannya dari
kalangan para dukun yang pendusta". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (6/172),
cet. Dar Thoibah]
Oleh karena itu, kita amat heran dengan sebagian
orang yang berseliweran ke tempat-tempat praktik
para dukun. Setiap ada masalah, pasti ke dukun. Setiap mau kenaikan pangkat,
pergi ke dukun. Setiap sakit, pergi ke dukun.
Bahkan ada sebagian orang, bila mau mencalonkan
diri sebagai pejabat, maka ia pasti datang ke dukun demi meminta berkah, restu
dan doa. Subhanallah, alangkah jahilnya mereka tentang Islam! Apakah
para dukun itu adalah tuhan yang mengatur segala urusan. Apakah para dukun
adalah tuhan yang mampu melakukan segala sesuatu.
Andaikan para dukun itu mampu melakukan segala
sesuatu dan mampu mengatur alam semesta ini, maka pasti mereka akan mengatur
nasib mereka sendiri, agar selanjutnya tidak lagi mengharapkan dan merogoh harta
benda dan uang-uang kalian.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah
bersabda dalam mengancam orang yang mendatangi para dukun dan peramal,
« مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ
صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
"Barangsiapa yang mendatangi peramal,
lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka sholatnya tak akan diterima
selama 40 hari".
[HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2230)]
Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullah-
berkata,
"أَمَّا الْعَرَّافُ فَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهُ وَأَنَّهُ مِنْ
جُمْلَةِ أَنْوَاعِ الْكُهَّانِ." اهـ من شرح النووي على مسلم (14/ 227)
"Adapun arrof (peramal),
sungguh telah lewat penjelasannya, dan bahwa ia adalah termasuk golongan para
dukun".
[Lihat Al- Minhaj Syarh Shohih Muslim (14/227)]
Bahkan Rasulullah -Shollallahu 'alaihi
wasallam- bersabda,
مَنْ
أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا
أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Barang siapa yang mendatangi dukun
atau arraf (peramal) lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir
terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad". [HR. Ahmad dalam Musnad-nya
(2/429/no.9532), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/8/no.15), Al
Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (7/198/no.16274), dan di-shahih-kan
oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shohih At-Targhib (3047)]
Maksudnya, ia telah mengingkari ayat yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad -Shollallahu 'alaihi wasallam- berikut
ini,
{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ
إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ} [النمل: 65]
"Katakanlah: "Tidak ada
seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali
Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan".(QS. An-Naml: 65)
Para pembaca yang budiman, dua hadits di atas
menerangkan kepada kita bahwa mendatangi dukun adalah perbuatan melanggar agama!
Bagaimana tidak, sedang para dukun itu pada
hakikatnya adalah wali-wali dan perantara setan yang akan menyesatkan
manusia dari jalan yang lurus.
Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-
berkata,
"فلا يجوز للمريض أن يذهب إلى الكهنة الذين يدَّعون معرفة
المغيبات ليعرف منهم مرضه، كما لا يجوز له أن يصدقهم فيما يخبرونه به فإنهم
يتكلمون رجماً بالغيب، أو يستحضرون الجن ليستعينوا بهم__على ما يريدون، هؤلاء
حكمهم الكفر والضلال إذا ادعوا علم الغيب." اهـ من حكم السحر والكهانة وما
يتعلق بها (ص: 4_5) للشيخ عبد الزيز بن باز
"Tidak boleh bagi orang yang sakit untuk
mendatangi para dukun yang mengaku tahu perkara gaib agar si sakit dapat
mengetahui penyakitnya dari mereka, sebagaimana halnya tak boleh baginya
membenarkan para dukun dalam sesuatu yang mereka kabarkan. Karena mereka itu
berbicara dengan menerka perkara gaib atau mereka menghadirkan para jin demi
meminta pertolongan atas perkara yang mereka hendaki. Para dukun ini, urusan
mereka adalah kekafiran dan kesesatan. Sebab mereka mengaku tahu
perkara-perkara gaib". [Lihat Hukm As-Sihr wal Kahanah (hal. 4-5) oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz]
Para dukun dalam menjalankan aksinya, mereka
bekerjasama dengan setan dari kalangan jin dalam mengetahui perkara gaib.
Ada juga yang tidak bekerjasama dengan jin, tapi
ia dasari semua ramalannya dengan prasangka dan perasaan saja, sehingga
terkadang ia benar, dan seringnya salah! Golongan ini adalah pendusta besar
yang berusaha menandingi Allah Yang mengetahui perkara gaib.
Mengaku tahu perkara gaib merupakan kekafiran,
sebab tidak ada yang mengetahuinya, selain Allah -Azza wa Jalla-, berdasarkan
ayat di atas dan lainnya.
Lantaran itu, para ulama mengafirkan para dukun
dari sisi ini, walaupun ia tidak bekerjasama dengan jin.
Nah, bagaimana lagi bila ia menjalin hubungan
dengan jin dan diperbudak oleh jin serta takut kepada jin. Jelas ini adalah kekafiran!
Adapun orang yang mendatangi dukun, maka para
ulama juga telah merinci perkara ini.
Bila ia datang bertanya, tanpa membenarkannya,
maka perbuatannya adalah dosa besar. Tapi bila ia membenarkan ucapan dukun,
maka ia kafir.
Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alusy Syaikh
An-Najdiy -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas,
"وظاهر الحديث أنه يكفر متى اعتقد صدقه بأي وجه كان، لاعتقاده
أنه يعلم الغيب، وسواء كان ذلك من قِبَل الشياطين، أو من قِبَل الإلهام لا سيما
وغالب الكهان في وقت النبوة إنما كانوا يأخذون عن الشياطين." اهـ من تيسير
العزيز الحميد في شرح كتاب التوحيد الذى هو حق الله على العبيد (ص: 338)
"Lahiriah hadits ini menerangkan bahwa
ia (orang yang datang ke dukun) adalah kafir, bila ia meyakini kebenaran dukun
dengan segala bentuknya. Sebab, ia meyakini bahwa si dukun mengetahui perkara
gaib. Sama saja apakah hal itu (yakni, pengakuan dukun) dari arah setan atau
dari sisi ilham. Terlebih lagi, mayoritas dukun di zaman kenabian, mengambil
(keterangan) dari para setan". [Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamid
(hal. 338), tahqiq Muhammad Aiman As-Salafiy, cet. Dar Alam Al-Kutub,
1419 H]
Perdukunan bukanlah jalan orang-orang sholih,
bahkan ia adalah jalan dan metode yang digunakan oleh para wali setan dan
penyembahnya.
Karenanya, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa
sallam- berlepas diri dari orang yang melakukan perdukunan dalam sabdanya,
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلا تُطُيِّرَ لَهُ، وَلا تَكَهَّنَ وَلا تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ
سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ
"Bukanlah termasuk dari golongan kami
orang yang ber-tathoyyur (merasa sial dengan suatu hari atau tempat) atau
di-tathoyyur-kan, orang yang melakukan perdukunan atau didukunkan dan orang
yang menyihir atau disihirkan". [HR. Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhor
(no. 3578) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (no. 355).
Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Ishlah
Al-Masajid (hal. 116)]
Jadi, hendaknya seorang mukmin waspada dengan
praktik perdukunan yang merebak di berbagai tempat dan media.
Sebab, ia adalah perkara yang amat diingkari oleh
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya -radhiyallahu
anhum-.
Dia adalah jalan yang mendatangkan kerusakan dan
kesesatan bagi manusia.

Komentar
Posting Komentar