Keutamaan Anjing atas Sebagian Manusia yang Berakal
Keutamaan
Anjing atas Sebagian Manusia yang Berakal
(تفضيل
الكلاب على كثير ممن ارتدى الثياب)
Oleh
:
Ustadz
Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-
Sebuah keutamaan besar bagi manusia, Allah
anugerahkan kepadanya akal yang mampu membedakan antara yang baik dan buruk.
Dengan akal, manusia punya kasih dan perasaan
kepada sesama.
Akal itu membantu dirinya dalam memahami
wahyu yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul. Akal ibarat pelita yang
digunakan dalam mengarungi perjalanan yang diselimuti oleh kegelapan.
Manusia telah diciptakan dengan bentuk yang
paling sempurna. Andai seluruh makhluk berkumpul dan bekerja sama dalam
menciptakan makhluk yang bernama "manusia", niscaya mereka tak
mampu!!
Maha
Suci Allah -Azza wa Jalla- yang telah berfirman dalam Surah At-Tiin: 4-6,
{لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) } [التين:
4 - 7]
"Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala
yang tiada putus-putusnya".
Al-Imam
Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata,
"فَهَذَا
يَدُلُّكَ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ أَحْسَنُ خَلْقِ اللَّهِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا،
جَمَالَ هَيْئَةٍ، وَبَدِيعَ تَرْكِيبٍ الرَّأْسُ بِمَا فِيهِ، وَالصَّدْرُ بِمَا
جَمَعَهُ، وَالْبَطْنُ بِمَا حَوَاهُ، وَالْفَرْجُ وَمَا طَوَاهُ، وَالْيَدَانِ
وَمَا بَطَشَتَاهُ، وَالرِّجْلَانِ وَمَا احْتَمَلَتَاهُ." اهـ من تفسير
القرطبي (20/ 114)
"Ini
menunjukkan kepada anda bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling bagus
secara batin dan lahiriahnya; dalam hal keindahan postur tubuhnya, kehebatan
susunannya beserta sesuatu yang ada padanya, dada beserta sesuatu yang ia
kumpulkan, perut beserta kandungannya, kemaluan beserta sesuatu yang ia
kandung, kedua tangan beserta sesuatu yang ia pegang, dan kaki beserta sesuatu
yang ia bawa". [Lihat
Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (20/114), karya
Al-Qurthubiy, takhrij Dr. Mahmud
Hamid Utsman, cet. Dar Al-Hadits, 1416 H]
Dengan
segala bentuk kesempurnaan dan anugerah Allah kepada manusia, namun sayangnya
banyak manusia yang merendahkan dirinya dengan berbagai maksiat dan pelanggaran
yang ia lakukan.
Semula
ia diberi kemuliaan penciptaan dan fitrah oleh Allah -Azza wa Jalla-, tapi ia
campakkan semua itu sehingga dirinya bukan lagi makhluk yang termulia, bahkan
ia makhluk yang terhina dan paling rendah.
Saking
rendahnya, ia lebih redah dibandingkan hewan-hewan yang tidak diberi akal.
Allah
–azza wa jalla- berfirman,
{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا
مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ
أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ
كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُون} [الأعراف: 179]
"Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raaf :
179)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"يَعْنِي: لَيْسَ
يَنْتَفِعُونَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْجَوَارِحِ الَّتِي جَعَلَهَا اللَّهُ سَبَبًا
لِلْهِدَايَةِ." اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 513)
"Maksudnya,
mereka tidak mengambil manfaat dari organ-organ tubuh tersebut yang telah
dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mendapatkan hidayah". [Lihat Tafsir
Ibnu Katsir (3/513), tahqiq Sami bin Muhammad Salamah, cet. Dar
Thoibah, 1420 H]
Bila seseorang
yang tidak menggunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, matanya tak
digunakan membaca ayat Allah dan telinganya tak digunakan untuk mendengarkan
ayat-ayat Allah, maka orang yang seperti ini akan menjadi orang-orang yang
jauh dari kebenaran dan tak akan mendapatkan hidayah dari allah -Azza wa
Jalla-.
Orang
yang seperti ini ibarat binatang yang tidak memiliki hati yang digunakan untuk
berpikir. Bahkan lebih buruk dibandingkan binatang, karena ia telah diberi
hati, mata dan telinga, namun semua itu tidak digunakan dalam mencari keridhoan
Allah -Azza wa Jalla-.
Mungkin
anda pernah bertemu dengan orang yang seburuk ini. Ia memiliki hati, namun
hatinya tak digunakan mentadabburi ayat-ayat dan sunnah Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-, bahkan ia gunakan untuk memikirkan perkara-perkara yang terlarang.
Hatinya
bukan digunakan untuk memikirkan dan menghafal ayat-ayat, tapi dipakai
menyimpan dan menghafal lagu-lagu yang dimurkai oleh Allah.
Dia
gunakan untuk memikirkan wanita lain yang bukan mahramnya!!
Orang-orang
semodel ini memiliki mata, tapi bukan digunakan untuk membaca dan mentadabburi
hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Namun ia pakai melihat
aurat wanita.
Dia
punya pendengaran, namun ia penuhi pendengarannya dengan musik. Padahal telah
diketahui bersama bahwa musik dalam syariat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
adalah perkara yang diharamkan.
Fenomena
banyaknya manusia yang tak menggunakan akal, mata dan pendengarannya serta
organ-orang tubuh yang lainnya dalam perkara-perkara yang dicintai oleh Allah,
membuat orang-orang berakal sehat dari kalangan pengikut setia para rasul
bergeleng-geleng kepala.
Tak
heran bila ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Kholaf bin
Al-Marzuban Al-Baghdadiy (wafat 309 H) menulis sebuah kitab yang
berjudul "Fadhl Al-Kilaab ala Katsirin mimman Labitsa
Ats-Tsiyaab" (Keutamaan Anjing atas Kebanyakan Orang yang
Menggunakan Pakaian).
Beliau
menjelaskan beberapa perkara yang menunjukkan keutamaan anjing yang merupakan
binatang yang paling hina dan menjijikkan dibandingkan kebanyakan manusia-manusia
lalai yang tak menggunakan akal sehatnya.
Bila seseorang memperhatikan anjing, maka ia akan mendapati
bahwa anjing itu amat penyayang kepada majikannya dibandingkan seorang ayah
terhadap anaknya.
Lihatlah
anjing bila ia menjaga majikannya dan keluarganya, ia ada atau tidak, ia tidur
atau terjaga, anjing tak akan teledor dari tugasnya, walaupun terkadang sang
majikan berbuat kasar kepadanya; ia tak akan menghinakan majikannya, walapun si
majikan menghinakannya.
Bila
dibandingkan dengan manusia-manusia di zaman ini, maka kita akan malu di
hadapan anjing. Sebab, berapa banyak orang diantara kita bila diberi amanah, namun
ia akan berbuat curang dan khianat kepada atasan atau orang yang memberinya
amanah sehingga muncullah istilah "pagar makan tanaman" atau "jeruk
makan jeruk".
Dari
sinilah bermunculan aksi korupsi, pencurian, pemerkosaan anak kandung dan
sederet pengkhianatan lainnya!!
Para pembaca yang budiman, diantara sifat anjing, ia senantiasa
takut kepada majikannya.
Begitulah
sifat orang-orang sholih yang selalu takut kepada Allah, Sang Pemilik alam
semesta.
Sementara
kebanyakan manusia lalai diantara kita, ia tak pernah takut kepada Allah!! Dengan bebasnya ia
bergumul dalam maksiat.
Tak ada
rasa takut bila ia berbuat syirik, kekafiran dan pelanggaran lainnya.
Rumah-rumah bordir dan diskotik dipenuhi oleh manusia yang berakal, namun hati
dan akalnya tak berfungsi. Na'udzu billah…
Anjing tidaklah memiliki rumah, selain rumah majikannya.
Ini
merupakan symbol kuatnya tawakkal mereka. Sifat tawakkal inilah yang layak kita
contoh dari mereka.
Binatang
saja bisa bertawakkal, mengapa kita sebagai manusia tak mampu bertawakkal
kepada Allah?
Karenanya,
seorang mukmin selayaknya berusaha mencari penghidupan untuk diri dan
tanggungannya sambil menyandarkan urusan kepada Allah.
Bila
berusaha mencari rezeki, lalu gagal, maka seorang yang bertawakkal tak sepantasnya
frustasi, apalagi stres atau bahkan bunuh diri!!!
Dunia
hanyalah sementara bagi orang-orang beriman untuk memetik bekal menuju akhirat.
Orang jadi miskin atau gagal dalam urusan dunia, bukanlah tolok ukur bahagia
tidaknya seseorang di sisi Allah.
Sifat lain yang dimiliki anjing, ia tidak tidur di malam hari,
kecuali sedikit.
Demikian
itulah sifat orang-orang yang menginginkan kebaikan dan pahala.
Di malam
hari, ia bangun melaksanakan sholat tahajjud, sementara manusia tertidur lelap.
Di siang hari ia bekerja dan beribadah.
Allah -Azza
wa Jalla- berfirman,
{كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا
يَهْجَعُونَ } [الذاريات: 17]
"Di
dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam". (QS. Adz-Dzariyaat :
17)
Begitulah
kehidupan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat, sedikit
tidur demi menghambakan diri di hadapan Allah.
Bukan
seperti kebanyakan manusia di zaman ini, mereka banyak tidurnya dibandingkan
ibadahnya.
Ada
juga diantara mereka yang sedikit tidurnya, namun ia bukan begadang untuk
kebaikan akhiratnya.
Dia
begadang dalam maksiat dan perbuatan sia-sia, seperti mereka yang menghabiskan
malamnya ngobrol (lewat telepon, SMS, chating
dan sejenisnya) dengan lawan jenisnya demi mengumbar syahwat.
Matanya
mampu terbelalak dan menangis karena godaan kekasih. Sementara matanya tak
pernah menangis karena takut kepada Allah.
Sifat lain bagi anjing, ia tidak mewariskan apapun bagi
keturunannnya bila ia mati.
Dari
sini ada isyarat tentang sifat zuhud. Sebab, seorang yang zuhud senantiasa
memperhatikan dan mengutamakan kebaikan yang ia akan raih di negeri akhirat
dibandingkan kepentingan duniawinya, sehingga ada sebagian diantara mereka yang
tidak meninggalkan apapun untuk keluarga dan anak-anaknya, kecuali Allah -Azza
wa Jalla-, seperti yang dialami oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan
sebagian sahabat -radhiyallahu anhum-.
Para pembaca yang budiman, anjing juga memiliki sifat kesetiaan
yang tinggi.
Ini
terlihat bila majikannya berbuat apapun, maka ia tak akan meninggalkannya,
walaupun si majikan berbuat kasar dan memukulnya.
Ini
adalah sifat setia dan sabar yang terdapat pada diri anjing. Berbeda dengan
sebagian orang yang ada di zaman kita ini saat ia mencari suatu kebaikan dari
seorang guru, lalu gurunya berbuat kasar dan tidak sopan –menurut penilaiannya-,
maka ia akan lari dan gulung tikar, seraya membenci dan memusuhi gurunya.
Sifat qona'ah juga terdapat pada anjing.
Apapun
yang kita berikan kepada anjing berupa makanan dan tempat, maka ia akan ridho.
Demikianlah
selayaknya seorang yang tawadhu' dan qona’ah (merasa puas atas pemberian
Allah), apapun yang Allah berikan kepada dirinya, walapun itu sedikit, maka ia
selalu bersyukur.
Bila ia
diberi banyak, maka ia tak pernah menyombongkan diri dan angkuh di hadapan
hamba-hamba Allah.
Ketika anjing bersalah, lalu ia diusir dan pergi dari tempatnya,
maka ia akan kembali ke tempatnya.
Ini
adalah sifat orang-orang yang ridho dan setia. Lain halnya dengan manusia di
zaman ini, bila ia bersalah, maka ia akan bertahan pada posisinya dan siap
melakukan perlawanan dengan segala cara. Dia tidak pergi untuk berpikir, lalu
meminta maaf kepada orang yang ia zhalimi dan berbuat salah kepadanya.
Ia sudah
tahu dirinya bersalah, tapi tetap mencari-cari pembenaran dan keras kepala.
Kadang
orang yang seperti ini pergi, bukan untuk berpikir dan kembali dalam keadaan
sadar, tapi ia pergi demi menyusun strategi dan makar.
Adapun
anjing, tak demikian halnya; ia akan pulang ke kandangnya dengan tenang dan
pelan.
Keutamaan lain, bila anjing kita usir dan pukul, lalu dipanggil
kembali, maka ia akan menyambut panggilan, tanpa rasa dendam.
Ini
adalah sifat orang-orang yang patuh. Orang yang diusir dan dijauhkan dari
rahmat Allah, akibat maksiat yang ia lakukan, bila pada dirinya masih ada
kebaikan, maka ia akan segera kembali kepada Allah -Azza wa Jalla- dan memohon
ampunan-Nya, bukan semakin jauh dalam maksiatnya.
Oleh
karenanya, seorang yang berakal saat ia bermaksiat, maka ia tidak boleh berpegang
dengan prinsip konyol yang berbunyi "Terlanjur basah"!!
Tapi ia
segera sadar dan berhenti. Ia berusaha memperbaiki diri dan mencari kekurangan
dirinya.
Demikian
pula seorang anak yang diusir oleh kedua orang tuanya, maka hendaknya jangan
semakin menjauh dan durhaka, tapi hendaknya ia kembali kepada mereka untuk
meminta maaf dan mencari keridhaannya, tanpa ada perasaan dendam kepada mereka,
walaupun mereka pernah memukul dan menyakiti hati kita.
Apalagi
orang tua biasanya berbuat demikian karena untuk kebaikan kita juga.
Perkara lain yang membuat kita takjub kepada anjing, bila waktu makan
telah datang dan semuanya terhidang, maka ia akan duduk atau berada di tempat
yang jauh demi mengharap sesuap nasi.
Begitulah
ciri para masakin (orang-orang miskin), mereka selayaknya memiliki adab
saat bertamu, bukan berbuat tak sopan dan melanggar tata krama.
Bahkan
seorang miskin harus menjaga adab dan sifat malunya, jangan terlalu lancang
sehingga orang pun akan jengkel kepadanya.
Sebagian
orang-orang miskin kadang tidak memperhatikan waktu-waktu bertamu di sisi orang
lain, misalnya : si miskin peminta-minta datang pada waktu-waktu istirahat,
atau saat kedatangan tamu dan kerabat, dimana saat itu tuan rumah sibuk
melayani tamu dan bercengkerama dengan para tamu.
Ada yang
lebih parah dari itu, saat tuan rumah lalai, mereka manfaatkan waktu untuk
mencuri!! Sudah miskin, kurang ajar lagi!!!
Anjing juga memiliki ketulusan kepada orang lain. Bila ada
seorang yang datang dari suatu tempat, sambil membawa sesuatu, maka anjing itu
akan menyertainya, tanpa melirik kepada barang bawaan orang itu.
Ini
merupakan lambang ketulusan. Sifat ini seyogianya ada pada diri kaum muslimin.
Setiap
kali ia menyertai orang lain dalam sebuah urusan atau perjalanan, maka semestinya
ia selalu berlaku tulus dalam membantu urusannya.
Seorang mukmin
hendaknya menghindari ungkapan "ada udang di balik batu".
Orang
yang memegang ungkapan ini sebagai prinsip hidup, ia tak akan bekerja dengan
tulus hati bersama kita.
Orang
yang seperti ini tak layak jadi pendamping, apalagi menjadi pemimpin!!
Diantara keistimewaan anjing, ia mengenal pemiliknya serta
tempat tinggalnya.
Inilah
selayaknya sifat yang dimiliki oleh seorang hamba di hadapan Allah.
Dia
selalu mengenal dan mengingat Rabb-nya, baik di kala ia susah, maupun senang
serta sadar bahwa suatu saat ia akan kembali kepada Allah di akhirat.
Ia
selalu mengingat kampung halamannya (negeri akhirat). Ia sadar bahwa ia akan
pulang ke negeri kekal abadi, yang di dalamnya ada banyak kenikmatan dan
kesenangan bagi mereka yang membawa bekal berupa pahala amal sholihnya.
Inilah
sebagian sifat dan keistimewaan anjing yang terkadang sirna pada kebanyakan
manusia yang lalai terhadap ketaatan kepada Penciptanya, Allah -Ta'ala-, sehingga
anjing pun lebih mulia dibandingkan mereka. Nas'alullahal afiyah was
salamah.

Komentar
Posting Komentar