Saatnya Wanita Muslimah Kembali kepada Hijab
Saatnya
Wanita Muslimah Kembali kepada Hijab
Penulis
:
Ust.
Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_
Ketika seseorang keluar rumah dengan
pakaian robek atau terbalik dalam keadaan ia tidak sadar, maka ia akan merasa
biasa-biasa saja, sekalipun banyak orang yang memandangnya sinis dan tersenyum aneh
kepadanya. Namun, ketika ia menyadari hal itu, maka muncullah rasa malu, sehingga ia berusaha
menutupi tubuhya yang terlihat dan segera mengganti pakaiannya.
Tetapi suatu hal yang aneh, adanya
sebagian wanita yang mengetahui bahwa bajunya robek (baca: berlubang atau
terbelah), bahkan auratnya terlihat, sedang ia merasa biasa biasa saja, dan
merasa bangga dengan pakaiannya tersebut! Wanita seperti ini sudah jelas bahwa
ia adalah orang yang tak tahu malu!!
Inilah pemandangan yang setiap hari
berlalu di depan mata kita, adanya wanita-wanita muslimah yang tidak merasa
malu lagi memperlihatkan aurat mereka.
Perlu diketahui bahwa aurat seorang
wanita menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, mulai dari kepala sampai kaki. Semua
ini harus dan wajib ditutup oleh seorang wanita muslimah yang sadar dan sehat
akalnya.
Sebuah realita yang pahit, para
remaja putri kita tidak lagi risih berjalan di tempat-tempat umum dengan pakaian
ketat, rok mini dan kaos you can see.
Mereka telah terseret jauh oleh
badai moderenisasi, sehingga tidak lagi mengenal aturan agamanya. Padahal pakaian
adalah nikmat yang Allah -Ta'ala- telah turunkan untuk menutupi aurat
manusia.
Allah berfirman,
{يَابَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ } [الأعراف: 26]
“Hai
anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup
auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang
paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan
Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
(QS. Al-A’raf : 26)
Al-Imam Al-Hafizh Abul Fida' Ibnu
Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata dalam
menafsirkan ayat ini,
"Allah
–Tabaaroka wa Ta'ala- memberikan anugrah kepada para hambanya dengan sesuatu
yang Allah ciptakan bagi mereka berupa pakaian (penutup aurat) dan pakaian
keindahan. Pakaian yang tersebut disini untuk menutupi aurat". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/399-400)]
Allah memberikan dua pakaian bagi
anak Adam : pakaian yang
menutupi aurat, dan pakaian keindahan. Pakaian penutup aurat, inilah yang
disebut "jilbab" bagi wanita yang menutupi aurat mereka dari
kepala sampai ke ujung kaki, sebab aurat wanita adalah seluruh tubuhnya.
Adapun pakaian keindahan bagi
wanita, maka ia tak menampakkannya, kecuali kepada mahramnya, seperti suami,
anak, ayah, kakek, dan pamannya.
Pakaian keindahan ini tidak ia tampakkan
di hadapan semua orang yang bukan mahramnya.
Seorang muslimah jika keluar rumah,
maka ia menggunakan jilbab besar lagi panjang dan lebar, serta menutupi semua
jasadnya. Jilbab wanita muslimah tak boleh pendek, ketat, transparan, atau
mengundang perhatian kaum lelaki.
Sebuah kenyataan pahit, kini mode
sudah menjadi gaya hidup manusia moderen. Jika tidak mengikuti gaya busana yang
lagi berkembang berarti tidak modern, alias kampungan. Ini menurut persangkaan para
penyembah mode!! Semua ini hanyalah bisikan setan semata.
Inilah yang menjadikan para remaja
muslimah berlomba-lomba memperlihatkan paha dan betis, serta dada mereka agar menurutnya bebas dari cap “kampungan” dan “kuper
(kurang pergaulan)”. Na’udzu billahi min dzalik!
Dalam keseharian, kita menemukan wanita
muslimah yang merendahkan harga dirinya hanya untuk kesenangan hawa nafsu, mau
dipuji dan disanjung sebagai wanita seksi lagi cantik.
Akhirnya, mereka memperlihatkan
auratnya kepada siapa saja yang berminat, tanpa imbalan sepeserpun demi mencari
popularitas dan sensasi sebagai sosok wanita modern yang seksi dan sebagai
sosok yang maju. Sungguh ini sebuah musibah! Laa haula walaa quwwata illa
billah!
Banyak yang akhirnya tampil modis,
cantik dan seksi, sehingga banyak kaum lelaki yang berdecak kagum, bahkan ada
yang sampai menggodanya.
Tapi keuntungan apa yang mereka
dapatkan dari sanjungan seperti itu? Tiada lain hanyalah kepuasan semu.
Sementara modal yang dikeluarkannya
adalah harta, dan di akhirat dia akan kembali dengan menyandang dosa dan
pertanggung jawaban berat tentang segala nikmat tersebut. Allah –Subhana Wa
Ta’ala- berfirman,
{فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ
الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)} [النازعات: 37 - 41]
“Adapun
orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya
nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada
kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya
syurgalah tempat tinggal(nya).”(QS. An-Nazi’at)
Pembaca yang budiman, kita semua
telah mengetahui bahwa mode pakaian yang berkiblat ke negeri barat, nyaris
tak ada satu pun yang dapat menyelamatkan aurat wanita.
Kebanyakannya buka-bukaan dan
cenderung menantang kaum lelaki untuk menggoda, bahkan memperkosanya.
Dunia barat yang notabenenya adalah Yahudi
dan Nashrani, sejak dahulu berusaha ingin menghancurkan Islam dan membuat makar
hingga kaum muslimin mau mengikuti agama dan tata cara kehidupan mereka.
Merekapun mempropaganda dan mengajak
kaum muslimah melalui media-media masa, maupun cetak untuk meninggalkan pakaian
takwa mereka (yakni, jilbab) dan menggantinya dengan pakaian kehinaan.
Musuh-musuh Islam menyerukan untuk
menggunakan rok dan celana pendek serta meninggalkan jilbab yang syar’i.
Mereka menggambarkan kepada kaum
muslimah yang jahil tentang agamanya bahwa dengan memakai rok mini dan pakaian ketat, maka itulah ciri wanita moderen
dan maju. Adapun jilbab, mereka gambarkan sebagai pakaian untuk orang-orang
ketinggalan zaman, menurut propaganda mereka.
Allah -Azza wa Jalla-
berfirman dalam membongkar kebusukan niat dan makar kaum Yahudi dan Nasrani di
dalam (QS. Al-Baqoroh : 120),
{وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا
النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ} [البقرة: 120]
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada
kamu hingga kamu mengikuti agama mereka".
Ironinya, sebagian besar wanita
muslimah begitu bangga dengan pakaian ala barat yang dikenakannya. Setiap model
terbaru yang datang dari barat, ditelannya bulat-bulat
Negara kita dengan mayoritas penduduknya
muslim, tapi banyak ciri Islam yang nyaris hilang, seperti cara dan adab
berpakaian bagi wanita.
Berbagai merek pakaian wanita dan
model pakaian mereka yang gila (tapi dianggap moderen) membuat kepala bergeleng,
sebagaimana dapat disaksikan di jalan-jalan. Akibatnya, kita tidak lagi dapat
membedakan antara wanita muslimah dan wanita yang kafir.
Fenomena ini sangat menyayat hati kaum mukminin. Sebab,
para muslimah tersebut adalah generasi muda Islam yang seharusnya gigih mempertahankan
pakaian islami-nya sebagai syiar islam.
Namun, justru berkiblat kepada orang-orang yang ingin
menghancurkan Islam, dan merendahkan wanita. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah
melarang kaum muslimin untuk mengikuti dan meniru gaya hidup mereka, seperti
gaya hidup buka-bukaan & porno aksi.
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wa sallam- bersabda,
مَنْ
تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ
مِنْهُمْ
“Barang
siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”. [HR. Abu Dawud (4031). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy
dalam Takhrij Al-Misykah (4347)]
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wa sallam- bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ
شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرِاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى
؟ قَالَ: فَمَنْ ؟
”Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum
kalian sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang
dhobb (sejenis biawak), niscaya kalian pun akan masuk ke dalamnya”. Para
sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nashara? Maka
beliau menjawab:” Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” [HR. Bukhariy
(3269 & 6889), Muslim (2669)]
Banyak ayat dan hadits yang
menjelaskan tentang haramnya mengikuti dan menyerupai orang-orang kafir, karena
hal itu merupakan tujuan syariat. Namun, sangat disayangkan, para wanita
muslimah di hari ini banyak yang termakan umpan orang-orang kafir, sehingga
mereka tidak tahu dan tidak mau tahu lagi aturan Allah dalam berpakaian.
Yang lebih menyedihkan lagi bahwa pakaian
islami yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dianggap oleh orang-orang jahil
agama sebagai sesuatu yang kuno dan tidak mengikuti arus perkembangan
zaman, sehingga Islam dan syi'arnya semakin terasing di tengah pemeluknya
sendiri.
Inilah yang diisyaratkan oleh
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- sejak 14 abad silam melalui
sabdanya,
بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ
غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْباً فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam
muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul
dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing.” [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (no. 232)].
Islam asing dan aneh di mata manusia
karena menyalahi hawa nafsu dan kejahilan mereka.
Ketika seseorang mengamalkan sunnah
(ajaran) Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- di awal islam, maka semua
orang sontak kaget dan heran sebagaiman kagetnya orang orang yang hidup di zaman
ini.
Di hari ini, jika ada seseorang yang
mengamalkan ajaran Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- (seperti,
memakai jilbab besar beserta cadarnya), maka banyak manusia berteriak kaget dan
menganggapnya aneh alias asing, menakutkan, ketinggalan zaman dan lain-lain.
Keasingan ini terjadi karena
kebanyakan manusia jahil dam menjauh dari sunnah Nabi -Shallallahu 'alaihi
wa sallam-. Namun, keasingan ini sebenarnya adalah sunnatullah (ketentuan
dari Allah).
Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibiy -rahimauhullah- berkata, “Keterasingan ini
adalah sunnatullah pada makhluk-Nya, yakni pengikut kebenaran dibandingkan
pengusung kebatilan adalah jumlahnya sedikit berdasarkan firman-Nya -Ta'ala-,
{وَمَا أَكْثَرُ
النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ} [يوسف: 103]
“Dan sebahagian
besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-“.(QS. Yusuf: 103)
{وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ }
[سبأ: 13]
“Dan
sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (QS. Saba’ :13)
(Demikianlah) agar Allah membenarkan
apa yang telah Dia janjikan kepada Nabi-Nya berupa kembalinya sifat
keterasingan itu kepada islam. Jadi keterasingan itu tak akan terjadi, kecuali
karena hilangnya pengikut (kebenaran) atau sedikitnya mereka. Hal itu terjadi
saat perkara yang ma’ruf berubah menjadi kemungkaraan; kemungkaran berubah
(dianggap) sebagai sesuatu yang ma’ruf ; sunnah dianggap bid’ah dan bid’ah
dianggap sunnah. Akhirnya, pengikut sunnah diperhadapkan dengan cacian dan
sikap keras sebagaimana nasibnya dahulu para pengusung bid’ah, karena adanya
keinginan para pengusung bid’ah itu agar simbol kesesatan bisa bersatu (kuat). [Lihat Al-I’tishom (1/12), tahqiq Masyhur
Hasan Salman]
Kita tidak bisa menyaksikan pada
hari ini wanita yang memakai jilbab syar’I, kecuali bilangan jari, bagaikan
burung ghurob a’shom (gagak yang putih sayap dan kakinya), diantara sekian
banyak burung gagak yang lainnya.
Kebanyakan wanita muslimah lebih
memilih pakaian ala barat, walaupun harus merendahkan harga diri dan mengubur
rasa malunya!!
Hari ini, mereka semakin terlena
dengan pakaian-pakaian setengah telanjang sebagai kesenangan semu mereka di
dunia ini. Mereka tidak menyadari bahwa mereka akan menuai kehinaan dan
kerendahan di sisi Rabb-nya.
Mereka lebih senang memakai kos
ketat, rok mini, jeans dan lain-lain yang menampakkan seluruh lekuk-lekuk
tubuhnya dibanding memakai pakaian yang diridhai oleh Allah -Subhana Wa Ta'ala-.
Sifat wanita seperti inilah yang
pernah diberitakan oleh Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam-
sebagai wanita penghuni neraka dalam sabdanya,
صِنْفَاَنِ مِنْ أَهْلِ اْلنَّارِ لَمْ
أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا
اْلنَّاسُ وَ ِنسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ
كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ اْلمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ اْلجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ
مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Dua
kelompok dari penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya : suatu kaum
yang mempunyai cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya dan
wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok jalannya,
kepala-kepala mereka seperti punuk onta, tidak akan masuk surga dan tidak
mencium baunya, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian ” [HR. Muslim (2192)].
Ini adalah sebuah kenyataan pahit yang
melanda kaum mukminin dan hanya kepada Allah-lah tempat kami mengadu dan
meminta keselamatan.
Bagaimana tidak, orang tua yang
seharusnya memberi teguran dan nasehat kepada putri-putri mereka, justru malah
memberi dukungan, semangat bahkan contoh kepada putri mereka untuk mengenakan
pakaian seksi.
Mereka rela merogoh kantongnya untuk
membeli pakaian tersebut. Mereka malu jika putri mereka menutup aurat dengan
jilbab syar’i.
Duh, tidak malu jika dada, betis dan
paha putrinya dicicipi oleh ribuan mata yang melintas. Bahkan telah sampai
kabar kepada kami bahwa ada orang tua yang memarahi anaknya memakai jilbab dan
tega membakar jilbab tersebut.
Sungguh setan telah berhasil menutup
mata kaum muslimin dari hidayah dan menyulap kemungkaran menjadi suatu
kebenaran.
Orang tua seperti ini tidak sadar
bahwa perbuatannya tersebut telah diancam oleh Nabi -Shallallahu 'alaihi wa
sallam- dengan neraka, dan kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas
dirinya, hartanya dan keluarganya.
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wa sallam- bersabda,
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ
عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ : مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَ الْعَاقُّ وَ الدَّيُّوْثُ
الَّذِيْ يُقِرُّ فِيْ أَهْلِهِ الْخُبْثَ
"Ada tiga golongan yang sungguh Allah haramkan
baginya surga: pecandu khomer, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan
dayyuts(kepala keluarga) yang membiarkan perbuatan keji dalam
keluarganya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad
(2/69). Lihat Shohih Al-Jami' (3047)]
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wa sallam- bersabda,
“Setiap orang diantara kalian adalah pemimpin. Setiap orang
diantara kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Imam A’zham (pemimpin
negara) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanyai tentang
kepemimpinannya. Seorang lelaki (suami) adalah penanggung jawab bagi
keluarganya dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Wanita (istri) adalah
penanggung jawab bagi keluarga suaminya, dan anak suaminya, sedang ia akan
ditanyai tentang mereka. Seorang budak adalah penanggung jawab terhadap harta
tuannya dan ia akan ditanyai tentang harta tersebut. Ketahuilah, setiap kalian
adalah penanggung jawab dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.”[HR. Al-Bukhari (5200), dan Muslim (4701)]
Jika kita telah menyadari bahwa kita
akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas sesuatu yang menjadi tanggung
jawab kita, maka bertaqwalah kepada
Allah dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut.
Didiklah keluarga kita diatas
ketaatan kepada Allah dan senantiasa mencari cinta dan ridho-Nya. Bukannya
justru mendidik keluarga dengan perkara yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, sehingga
mereka kelak akan disentuh oleh api neraka.
Allah berfirman,
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم: 6]
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(QS. At-Tahrim: 6)

masyaAllah,jazaakallahu khayron
BalasHapusSemoga bermanfaat. Silakan share ke teman-teman dan keluarga
Hapus