Awas Istighotsah Syirik!
Awas Istighotsah Syirik!
Penulis :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_
Kesyirikan
demi kesyirikan telah melanda umat Islam di negeri ini, karena minimnya ilmu
mereka tentang tauhid, dan sibuknya mereka dengan urusan dunia yang melalaikan
mereka dari mendalami dan memahami agama mereka.
Sebagian
kaum muslimin ada yang terjatuh dalam kubang kesyirikan dari pintu istighotsah
(meminta pertolongan di kala susah) kepada nabi, wali, dan lainnya. Mereka
menyangka bahwa ber-istighotsah kepada makhluk adalah perkara yang
disyari'atkan.
Ini
jelas salah dan batil!!
Kesalahan dan kebatilan seperti ini dilandasi oleh kesalahpahaman tentang makna
istighotsah, sehingga mereka rancu dalam memahami antara istighotsah
dan tawassul.
Istighotsah, maknanya adalah meminta al-ghouts
(pertolongan) di saat susah atau kala menghadapi musibah. Sedang tawassul
adalah seorang hamba mencari jalan menuju Allah dengan berdoa kepada Allah
sambil menyebutkan nama atau sifat-Nya, menyebut amal sholihnya, atau doa orang
lain.
Jadi,
tawassul adalah ibadah yang tetap kita minta dan hadapkan kepada Allah, bukan
kepada wali-wali atau orang sholih.
Dekade
belakangan ini, muncul sebuah ritual baru yang disebut dengan "Istighotsah
Akbar" ketika negeri ini didera dengan krisis moneter dan sejumlah
musibah lainnya.
Di
sebagian tempat, ada di antara kaum muslimin yang ber-istighotsah
(meminta pertolongan di kala susah) kepada Syaikh Abdul Qodir Jailani.
Jelas ini adalah kebatilan dan kesyirikan!
Para
pembaca yang budiman, istighotsah adalah salah satu diantara jenis-jenis
doa, sedang doa adalah ibadah sebagaimana telah kami jelas dalam edisi-edisi
lalu.
Jika
doa adalah ibadah, maka doa tak boleh
dihadapkan dan dipersembahkan kepada selain Allah, sebab itu adalah kesyirikan.
Bahkan doa hanya kepada Allah saja!!!
Jadi,
meminta pertolongan kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani di kala susah adalah
perbuatan kesyirikan yang diharamkan oleh Allah -Azza wa Jalla- dan Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam-.
Seseorang
jika mendapatkan kesusahan berupa penyakit, kemiskinan, kesempitan hidup,
stress, trauma, ketakutan, paceklik, badai, musibah, kegagalan, dan lainnya,
maka hendaknya ia berdoa kepada Allah yang menghilangkan segala kesusahan.
Jangan berdoa kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan-kesusahan itu. Sebab,
makhluk-makhluk itu sama lemahnya dan butuhnya kepada Allah.
Karenanya,
tak layak berdoa dan memohon pertolongan kepada makhluk dalam menghilangkan
kesusahan dan musibah yang tak mampu ditangani oleh makhluk!!
Allah
-Ta'ala- berfirman,
{وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا
يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ
يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ
بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)} [يونس: 106_107]
"Dan janganlah kamu
menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat
kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya
kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan sesuatu
kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.
Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak
kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Yunus : 106-107)
Ahli
Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam
Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini,
"Maknanya, bahwa
Allah -Subhanahu-, Dia-lah Yang Memberi mudhorot dan manfaat. Jika Dia
menurunkan pada hamba-Nya suatu mudhorot (musibah), maka tak ada seorang pun
yang mampu menghilangkan (menolak) musibah, siapapun orangnya. Bahkan Dia
(Allah)-lah yang khusus mampu menghilangkannya, sebagaimana halnya Dia yang
secara khusus menurunkannya". [Lihat Fathul Qodir Al-Jami' baina Fannai Ar-Riwayah wa
Ad-Diroyah min At-Tafsir (3/412)]
Di
dalam ayat itu Allah menerangkan bahwa seorang yang berdoa memohon pertolongan
kepada makhluk, baik di kala susah atau senang adalah orang yang zalim.
Orang
yang memalingkan doanya kepada makhluk, berarti ia telah menempatkan doanya
bukan pada tempatnya, yakni bukan pada Allah. Inilah yang disebut "zhalim",
sebab kezhaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Sebagian
ulama menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam-. Nah, andaikan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saja
berdoa kepada selain Allah bisa menjadi zhalim dan musyrik (walaupun itu tak
mungkin terjadi), maka kita yang bukan nabi dan bukan pula rasul Allah lebih
pantas takut dan waspada terhadap kesyirikan. [Lihat At-Tamhid li Syarh
Kitab At-Tauhid (hal. 182)]
Ini
merupakan peringatan keras buat kiai-kiai dan ustadz yang biasa memimpin massa
dalam ber-istighotsah kepada selain Allah -Azza wa Jalla- saat
musibah dan kesempitan melanda umat.
Makhluk
yang kita tempati bermohon (semisal, Syaikh Abdul Qodir Jailani, Wali
Songo, Nyi Roro Kidul, dan lainnya), maka mereka semua adalah makhluk yang
lemah, tak mampu memberi rejeki, dan pertolongan.
Jika
kalian menyangka bahwa mereka mampu menolong kalian, memenuhi hajat kalian dan
menolak bala dari kalian, maka ini adalah sangkaan batil dan kedustaan di
hadapan Allah.
Inilah
yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya,
{إِنَّمَا تَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ
الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (17)} [العنكبوت:
17]
"Sesungguhnya apa
yang kalian sembah selain Allah, itu adalah berhala, dan kalian telah membuat
kedustaan. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah, itu tidak mampu
memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah
dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan".
(QS. Al-Ankabuut : 17)
Mufassir
Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida' Al-Imad Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"Kemudian Allah
mengabarkan kepada mereka (kaum musyrikin) bahwa arca-arca mereka yang mereka
sembah, dan juga berhala-berhala mereka, semuanya tak mampu memberi mudhorot
dan manfaat. Kalian (musyrikin) hanya menciptakan nama-nama bagi mereka
(sesembahan itu). Kalian menamai berhala dan arca-arca itu dengan
"sesembahan". Padahal mereka adalah makhluk seperti kalian.
Demikianlah penafsiran yang dinukil oleh Al-Aufiy dari Ibnu Abbas. Penafsiran
inilah juga yang dinyatakan oleh Mujahid, dan As-Suddi". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/269),
tahqiq Sami Salamah]
Jika
kita menginginkan rezeki berupa kesehatan, kesembuhan, harta, makanan, tempat
tinggal, kendaraan dan segala hajat kita, maka bermohonlah kepada Allah -Azza
wa Jalla-, Sembahan dan Robb kalian yang mampu mengatur, memelihara, dan
memenuhi segala hajat dan kemaslahatan para hamba-Nya.
Janganlah
meminta rezki kepada Nyi Roro Kidul, Wali Songo, Syaikh Abdul Qodir
Jailaniy, Syaikh Yusuf Al-Makassari, atau makhluk-makhluk lainnya, tapi
mintalah kepada Allah sebagai bentuk kesyukuran kita kepada-Nya!
Tak
ada makhluk yang paling sesat jalannya dibandingkan orang yang memohon dan
berdoa kepada makhluk yang tak memiliki daya dan upaya! Terlebih lagi jika yang
diseru adalah mayat yang sudah terkapar dan termakan ulat dalam pusaranya.
Allah
–Jalla wa Alaa'- berfirman,
{وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ
يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (5) وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ
أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (6)} [الأحقاف : 5_6]
"Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang
tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari
(memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat),
niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari
pemujaan-pemujaan mereka". (QS. Al-Ahqoof : 56)
Syaikh
Isma'il Ibn Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy -rahimahullah- berkata,
"Ayat ini
menunjukkan bahwa kaum musyrikin sungguh telah bodoh. Sungguh mereka berpaling
dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui menuju kepada manusia-manusia
yang tak mampu mendengarkan doa mereka. Jika manusia-manusia itu mampu
mendengarkan doanya, maka mereka (manusia) itu tak mampu memenuhi doa mereka.
Mereka itu tak mampu melakukan apa-apa. Jadi, dari situ tampaklah bahwa
orang-orang yang beristighotsah (kepada selain Allah), dan menyangka bahwa diri
mereka tak berbuat syirik. Karena mereka (yang ber-istighotsah) memang tak
meminta kepada orang-orang mati agar hajatnya dipenuhi, mereka hanya memohon
doa dari mereka. Jika mereka ini tak berbuat syirik dari sisi meminta
dipenuhinya hajat mereka, maka sungguh mereka berbuat syirik dari sisi doa.
Mereka menyangka bahwa manusia yang mereka sembah dapat mendengarkan seruan
mereka dari jauh, sebagaimana mereka (sesembahan batil itu) mendengarkan seruan
mereka dari dekat". [Lihat
Risalah At-Tauhid (hal. 72)]
Jadi,
diantara manusia ada yang menyangka saat ber-istighotsah kepada
"wali-wali" bahwa mereka tak meminta hajat kepada "wali-wali"
tersebut, mereka hanya menjadikannya sebagai perantara. Dalam artian,
mereka berdoa kepada "wali-wali" dengan harapan wali itu yang
menyampaikan doanya (yang berisi permohonan hajat) kepada Allah.
Inilah
kemusyrikan yang ada di zaman jahiliah; yang pernah dilakukan oleh bangsa Arab dan
lainnya sebelum Islam datang dan tersebar. Kemusyrikan seperti masih terus
berlanjut dan berulang dimana-mana, sampai di Indonesia pun ada dan tersebar!
Itulah
yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya saat mengingkari orang-orang yang
mengangkat sesembahan sebagai perantara antara dirinya dengan Allah,
{أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ
الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ
فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ
كَفَّارٌ } [الزمر: 3]
"Ingatlah, hanya kepunyaan
Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil wali
(sesembahan) selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka (wali-wali),
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.
Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka
berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
pendusta dan sangat ingkar". (QS. Az-Zumar : 3)
Syaikh
Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan kesyirikan
orang-orang jahiliah,
"Inilah masalah
bersar yang di dalamnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyelisihi
mereka. Beliau datang membawa ikhlash (tauhid). Beliau mengabarkan kepada
mereka bahwa itulah (yakni, tauhid) agama Allah yang Dia tak menerima dari
seorang pun selainnya, dan bahwa barangsiapa yang melakukan kesyirikan yang
mereka anggap baik, maka Allah mengharamkan surga baginya, sedang tempatnya
adalah neraka" [Lihat Masa'il
Al-Jahiliyyah (hal 37)]
Allah
adalah satu-satunya sembahan kita. Dia-lah tempat kita meminta segala hajat dan
pertolongan; Dia-lah yang menghilangkan segala marabahaya, kesusahan, serta Dia
yang memberikan nikmat kepada kita, bukan makhluk yang memberi?! Dia yang
menjadikan kita sebagai kholifah yang mengurusi dan mengarahkan hamba-hamba-Nya
agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Allah
-Ta'ala- berfirman,
{أَمَّنْ يُجِيبُ
الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ
الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ} [النمل: 62]
"Atau siapakah yang
memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya,
dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai
khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah
kamu mengingati(Nya)". (QS. An-Naml : 62)
Tak
ada yang mampu menolak dan mengangkat musibah dari kita, selain Allah -Azza wa
Jalla-. Lihatlah peristiwa Lapindo di Sidoarjo, dan Gunung Merapi di Yogyakarta.
Tak
ada yang mampu mengatasinya, selain Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk
lemah, semisal Mbah Marijan!!!
Perhatikan
penyakit yang melanda manusia, tak akan hilang, kecuali Allah menghendakinya.
Semua
ini adalah fakta dan kenyataan yang menyadarkan kita bahwa tak ada yang
menghilangkan musibah dan kesusahan, selain Allah!
Komentar
Posting Komentar