Kepalsuan Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut




Kepalsuan Kisah Nabi Idris
bersama Malaikat Maut

Penulis :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-


Di sana, ada sebuah kisah palsu yang dinisbahkan secara dusta kepada Nabi Idris -Shollallahu 'alaihi wasallam- . Saking masyhurnya kisah ini, banyak penulis, dan majalah yang menukilnya, seperti  kami pernah temukan sekitar tahun 80-an dalam “Majalah Anak Shaleh".

 

Bunyi hadits itu :

إِنَّ إِدْرِيْسَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ صَدِيْقًا لِمَلَكِ الْمَوْتِ. فَسَأَلَهُ أَن يُرِيَهُ الْجَنَّةَ وَ النَّارَ, فَصَعَدَ إِدْرِيْسُ فَأَرَاهُ النَّارَ فَفَزِعَ مِنْهَا وَكَادَ يُغْشَى عَلَيْهِ, فَالْتَفَّ عَلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ بِجَنَاحِهِ،

فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ : "أَلَيْسَ قَدْ رَأَيْتَهَا؟"

قَالَ : "بَلىَ، وَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ قَطُّ".

ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ حَتَّى أَرَاهُ الْجَنَّةَ, فَدَخَلَهَا, فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: "انْطَلِقْ قَدْ رَأَيْتَهَا".

قَالَ : "إِلَى أَيْنَ؟"

قَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ : "حَيْثُ كُنْتَ".

قَالَ إِدْرِيْسُ : "لَا وَاللهِ! لَا أَخْرُجُ مِنْهَا بَعْدَ أَنْ دَخَلْتُهَا".

فَقِيْلَ لِمَلَكِ الْمَوْتِ : "أَلَيْسَ أَنْتَ قَدْ أَدْخَلْتَهُ إِيَّاهَا؟ وَإِنَّهُ لَيْسَ لِأَحَدٍ دَخَلَهَا أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا."

"Sesungguhnya Nabi Idris -Shollallahu 'alaihi wasallam- dulu berteman dengan Malaikat Maut. Lalu ia pun meminta kepadanya agar diperlihatkan surga dan neraka. Kemudian Idris pun naik (ke langit), lalu Malaikat Maut memperlihatkan neraka kepadanya.

Nabi Idris kaget sehingga hampir pinsang. Malaikat Maut mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya berkata, "Bukankah engkau telah melihatnya?"

Idris berkata, "Ya, sama sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari ini". Kemudian, Malaikat Maut membawanya sampai ia memperlihatkan surga kepada Nabi Idris seraya masuk ke dalamnya.

Malaikat Maut berkata, "Pergilah, sesungguhnya engkau telah melihatnya". "Kemana?", tanya Idris. "Ke tempatmu semula", jawab Malaikat Maut. "Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah aku memasukinya", tukas Idris.

Lalu dikatakanlah kepada Malaikat Maut, "Bukankah engkau yang telah memasukkannya? Sesungguhnya seorang yang telah memasukinya tidak boleh keluar darinya". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Ausath (7/201/7269)][1]

 

Hadits ini adalah hadits maudhu' (palsu), karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh dusta, yaitu Ibrahim bin Abdillah bin Khalid Al-Mishshishiy.

 

Sebab itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kumpulan hadits-hadits palsu di dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho'ifah (339).

 

Setelah kita mengetahui kepalsuan hadits ini, maka seorang muslim tidak boleh menyandarkannya kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.

 

Demikian pula seseorang tidak boleh menetapkan kisah palsu ini sebagai hujjah dan dalil dalam menetap perkara agama, apalagi memeganginya sebagai aqidah dan keimanan!

 



[1] Kisah ini datang dalam sebuah atsar tanpa sanad periwayatan dalam Ma’alim At-Tanzil (5/238), karya Al-Baghowiy dari seorang tabi’in yang bernama Ka’ab Al-Ahbar. Sementara Ka’ab Al-Ahbar adalah seorang mantan pendeta yang masuk Islam dan biasa menukil sebagian dari kitab-kitab Bani Isra’il. Itulah yang biasa kita kenal dengan “Kisah Isro’iliyyat”, dan ia bukan termasuk hujjah dalam menetapkan suatu perkara, apalagi dalam hal aqidah dan perkara gaib (seperti kisah Nabi Idris masuk surga tersebut).

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah- berkata dalam Tafsir beliau,

 

"هَذَا مِنْ أَخْبَارِ كَعْبِ الْأَحْبَارِ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ، وَفِي بَعْضِهِ نَكَارَةٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ." اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (5/ 241)

“(Kisah) ini termasuk kisah-kisah Isro’iliyyat yang disampaikan oleh Ka’ab Al-Ahbar. Di dalam sebagiannya terdapat nakaroh (penyelisihan), wallahu a’lam.”

Lihat : Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (5/241)

Kisah palsu ini pernah kami dapati dalam sebuah koran portal “Republika”(https://republika.co.id/berita/oe1yc75/perjalanan-idris-as-dan-izrail-makna-dan-tujuan-hidup-yang-sebenarnya)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama