Kepalsuan Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut
Di sana, ada sebuah kisah palsu yang dinisbahkan secara dusta
kepada Nabi Idris -Shollallahu 'alaihi wasallam- . Saking masyhurnya
kisah ini, banyak penulis, dan majalah yang menukilnya, seperti kami pernah temukan sekitar tahun 80-an dalam
“Majalah Anak Shaleh".
Bunyi
hadits itu :
إِنَّ
إِدْرِيْسَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ صَدِيْقًا لِمَلَكِ الْمَوْتِ. فَسَأَلَهُ
أَن يُرِيَهُ الْجَنَّةَ وَ النَّارَ, فَصَعَدَ إِدْرِيْسُ فَأَرَاهُ النَّارَ فَفَزِعَ
مِنْهَا وَكَادَ يُغْشَى عَلَيْهِ, فَالْتَفَّ عَلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ بِجَنَاحِهِ،
فَقَالَ
مَلَكُ الْمَوْتِ : "أَلَيْسَ قَدْ رَأَيْتَهَا؟"
قَالَ
: "بَلىَ، وَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ قَطُّ".
ثُمَّ
انْطَلَقَ بِهِ حَتَّى أَرَاهُ الْجَنَّةَ, فَدَخَلَهَا, فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ:
"انْطَلِقْ قَدْ رَأَيْتَهَا".
قَالَ
: "إِلَى أَيْنَ؟"
قَالَ
مَلَكُ الْمَوْتِ : "حَيْثُ كُنْتَ".
قَالَ
إِدْرِيْسُ : "لَا وَاللهِ! لَا أَخْرُجُ مِنْهَا بَعْدَ أَنْ دَخَلْتُهَا".
فَقِيْلَ
لِمَلَكِ الْمَوْتِ : "أَلَيْسَ أَنْتَ قَدْ أَدْخَلْتَهُ إِيَّاهَا؟ وَإِنَّهُ
لَيْسَ لِأَحَدٍ دَخَلَهَا أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا."
"Sesungguhnya
Nabi Idris -Shollallahu 'alaihi wasallam- dulu berteman dengan Malaikat Maut.
Lalu ia pun meminta kepadanya agar diperlihatkan surga dan neraka. Kemudian Idris pun naik (ke langit), lalu Malaikat Maut
memperlihatkan neraka kepadanya.
Nabi Idris kaget sehingga hampir pinsang. Malaikat Maut
mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya berkata, "Bukankah engkau telah
melihatnya?"
Idris
berkata, "Ya, sama sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari
ini". Kemudian, Malaikat Maut membawanya sampai ia memperlihatkan surga
kepada Nabi Idris seraya masuk ke dalamnya.
Malaikat
Maut berkata, "Pergilah, sesungguhnya engkau telah melihatnya".
"Kemana?", tanya Idris. "Ke tempatmu semula", jawab
Malaikat Maut. "Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah aku
memasukinya", tukas Idris.
Lalu
dikatakanlah kepada Malaikat Maut, "Bukankah engkau yang telah
memasukkannya? Sesungguhnya seorang yang telah memasukinya tidak boleh keluar
darinya". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam
Al-Ausath (7/201/7269)][1]
Hadits
ini adalah hadits maudhu' (palsu), karena di dalam sanadnya
terdapat rawi yang tertuduh dusta, yaitu Ibrahim bin
Abdillah bin Khalid Al-Mishshishiy.
Sebab
itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kumpulan hadits-hadits
palsu di dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho'ifah (339).
Setelah
kita mengetahui kepalsuan hadits ini, maka seorang muslim tidak boleh
menyandarkannya kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.
Demikian
pula seseorang tidak boleh menetapkan kisah palsu ini sebagai hujjah dan dalil
dalam menetap perkara agama, apalagi memeganginya sebagai aqidah dan keimanan!
[1]
Kisah ini datang dalam sebuah atsar
tanpa sanad periwayatan dalam Ma’alim At-Tanzil (5/238), karya Al-Baghowiy dari seorang tabi’in yang bernama
Ka’ab Al-Ahbar. Sementara Ka’ab Al-Ahbar adalah seorang mantan pendeta yang
masuk Islam dan biasa menukil sebagian dari kitab-kitab Bani Isra’il. Itulah
yang biasa kita kenal dengan “Kisah Isro’iliyyat”, dan ia bukan termasuk hujjah
dalam menetapkan suatu perkara, apalagi dalam hal aqidah dan perkara gaib
(seperti kisah Nabi Idris masuk surga tersebut).
Al-Hafizh Ibnu
Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah- berkata dalam Tafsir beliau,
"هَذَا
مِنْ أَخْبَارِ كَعْبِ الْأَحْبَارِ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ، وَفِي بَعْضِهِ نَكَارَةٌ،
وَاللَّهُ أَعْلَمُ." اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (5/ 241)
“(Kisah) ini termasuk kisah-kisah Isro’iliyyat yang
disampaikan oleh Ka’ab Al-Ahbar. Di dalam sebagiannya terdapat nakaroh
(penyelisihan), wallahu a’lam.”
Lihat : Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (5/241)
Kisah palsu ini pernah kami dapati dalam sebuah koran
portal “Republika”(https://republika.co.id/berita/oe1yc75/perjalanan-idris-as-dan-izrail-makna-dan-tujuan-hidup-yang-sebenarnya)

Komentar
Posting Komentar