Pemutus Segala Kelezatan
Pemutus
Segala Kelezatan
Oleh
: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Sebuah pohon tumbuh perlahan-lahan, dari
sejari menjadi batang besar lagi menjulang tinggi. Tampak suatu kekokohan
padanya.
Namun sebagian orang tak sadar bahwa pohon
yang kokoh itu akan melemah dan hancur perlahan-lahan.
Demikianlah perumpamaan manusia dan seluruh
makhluk. Sebuah kepastian yang tak terelakkan bagi setiap insan bahwa ia akan
kembali kepada Allah Sang Maha Pencipta.
Segala kelezatan yang ia pernah rasakan dan
terima di dunia berupa jasad beserta segala pelengkapnya, harta beserta segala
macamnya, keluarga dan lainnya.
Semua itu memiliki masa yang telah
ditentukan oleh Allah Allah -Azza wa Jalla-.
Lantaran itu, Nabi kita yang mulia -Shallallahu
alaihi wa sallam- telah mengingatkan semua itu dalam sebuah sabda,
أَكْثِرُوا
ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، يَعْنِي : الْمَوْتَ
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala
kelezatan, yakni kematian".[HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(no. 2307), An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (1824) dan Ibnu Majah dalam
Sunan-nya (no. 4258). Hadits ini di-shohih-kan oleh
Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (no. 682)]
Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy -rahimahullah-
berkata,
"شَبَّهَ اللَّذَّاتِ الْفَانِيَةَ وَالشَّهَوَاتِ
الْعَاجِلَةَ ثُمَّ زَوَالَهَا بِبِنَاءٍ مُرْتَفِعٍ يَنْهَدِمُ بِصَدَمَاتٍ
هَائِلَةٍ ثُمَّ أَمَرَ الْمُنْهَمِكَ فِيهَا بِذِكْرِ الْهَادِمِ لِئَلَّا يستمر
على الركون إليها ويشتغل عَمَّا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْفِرَارِ إِلَى دَارِ
الْقَرَارِ انْتَهَى كَلَامُهُ." اهـ من تحفة الأحوذي (6/ 489)
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
menyerupakan segala kelezatan yang fana dan segala keinginan duniawi dan
kehancurannya dengan sebuah bangunan yang menjulang. Bangunan itu akan
runtuh oleh berbagai goncangan hebat. Lalu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
memerintahkan orang yang terlena dengan dunia untuk mengingat penghancur
kelezatan tersebut (yakni, maut) agar ia tak terus-menerus condong kepadanya,
(sehingga) ia pun menyibukkan diri dengan sesuatu yang wajib atas dirinya berupa
penghadapan diri kepada kampung abadi (yaitu, akhirat)". [Lihat Tuhfah
Al-Ahwadziy (6/92)]
Wahai para hamba Allah, segala kelezatan yang
kita terima di dunia bukanlah sesuatu yang perlu kita banggakan, bukan pula
sesuatu yang perlu kita tumpuk sampai datangnya masa dimana Allah akan mencabut
dan menariknya secara paksa dari kita.
Mau atau tidak, pasti akan hilang dari tangan
kalian. Kelezatan itu akan hilang seiring dengan datangnya maut yang menjemput
kita dan menghadapkan kita ke liang kubur.
Allah -Ta'ala- berfirman,
{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3)} [التكاثر: 1 - 3]
"Bermegah-megahan telah
melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu
akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)". (QS. At-Takaatsur :
1-3)
Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah-
berkata,
"يَقُولُ
تَعَالَى: شَغَلَكُمْ حُبُّ الدُّنْيَا وَنَعِيمُهَا وَزَهْرَتُهَا عَنْ طَلَبِ
الْآخِرَةِ وَابْتِغَائِهَا، وَتَمَادَى بِكُمْ ذَلِكَ حَتَّى جَاءَكُمُ الْمَوْتُ
وَزُرْتُمُ الْمَقَابِرَ، وَصِرْتُمْ مِنْ أَهْلِهَا؟!" اهـ من تفسير ابن
كثير ت سلامة (8/ 472)
"Allah -Ta'ala- berfirman,
"Kalian telah disibukkan oleh kecintaan kepada dunia, kenikmatan dan
perhiasannya dari mencari akhirat; Semua itu terus-menerus pada diri kalian
sampai kalian didatangi maut dan memasuki liang kubur dan kalian pun menjadi
penghuninya!!"
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/472)]
Bermegah-megahan dengan banyaknya harta,
anak, pengikut, kemuliaan, dan semisalnya.
Apakah semua itu telah melalaikan kamu dari
ketaatan kepada Allah?!
Apakah kalian lebih mengutamakan harta benda
dan kelezatan dunia yang kalian miliki dibandingkan merendahkan diri di hadapan
Allah -Azza wa Jalla- di waktu-waktu adzan telah dikumandangkan.
Sungguh sial dan celakalah seseorang yang
lebih disibukkan oleh hartanya dari menegakkan sholat bersama dengan kaum
muslim di rumah-rumah Allah!!
Banyak diantara kita yang lebih betah di
hadapan televisi, pekerjaan dan segala aktifitasnya dibandingkan ia mencari
kebaikan di majelis-majelis ilmu.
Padahal ia memiliki waktu yang luang untuk
menghadirinya. Namun kesibukan demi kesibukan, seiring dengan perkembangan
zaman, manusia semakin lalai dengan berbagai macam pekerjaan dan fasilitas
kehidupan, mulai dari televisi, komputer, mobil, motor dan lainnya
Taman-taman hiburan untuk tua-muda juga
bertebaran dimana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan dan pasar semakin banyak.
Belum lagi, sebagian orang ada yang
disibukkan dengan berbagai macam aktifitas politik beserta tetek
bengeknya berupa rapat-rapat, kampanye, sosialisasi masyarakat dan sederet
acara-acara lainnya.
Semua itu telah menyibukkan kita dari
perbekalan akhirat yang semestinya kita siapkan dalam dunia yang fana ini.
Tapi semua itu hilang dari catatan memori
kehidupan kita. Sebagian orang lebih senang menghamburkan hartanya untuk
kepentingan perutnya semata, tanpa mengingat bahwa semua harta yang kita
hamburkan, tanpa faedah untuk akhirat kita.
Perutnya sudah sesak, masih terus diisi;
saudaranya kelaparan, namun ia tidak tahu diri dan bermasa bodoh dengan keadaan
saudara dan tetangganya yang berselimut kesusahan dan penderitaan, tanpa uluran
tangan darinya.
Seonggok harapan tertumpu padanya, namun ia tak
pedulikan. Seakan-akan ia binatang yang tak peduli kepada sesamanya.
Jangankan orang lain, orang tua dan kerabat
saja ditelantarkan; tak ada tegur sapa, ziarah dan perhatian kepada mereka.
Dia lebih sibuk dengan setumpuk pekerjaannya
dibandingkan baktinya kepada orang tua. Sementara orang tua semakin didera oleh
ketuaan dan kelemahan, sedang ia telah berputus asa dari kebaikan anaknya.
Sungguh sial orang yang seperti ini!!
Lebih celaka dari semua itu, ia gunakan
hartanya untuk perkara sia-sia dan haram, mulai dari berjudi, minum khomer dan
narkoba, menghamburkan uang di bar-bar, rumah-rumah tunasusila.
Rumah dan mobilnya dihiasi dengan berbagai
macam sound system yang siap mengganggu tetangga dan penghuni rumahnya
dengan berbagai macam alunan setan yang bernama “musik”.
Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
telah mengharamkannya dalam sebuah sabdanya,
لَيَكُونَنَّ
مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ
وَالْمَعَازِفَ
"Sungguh akan ada diantara umatku
orang-orang yang akan menghalalkan zina, sutra, khomer dan musik".[HR. Al-Bukhoriy
dalam Shohih-nya (4/30)]
Al-Imam Ibnu Nujaim Al-Hanafiy -rahimahullah-
berkata,
"وَدَلَّتْ الْمَسْأَلَةُ عَلَى أَنَّ الْمَلَاهِيَ كُلَّهَا
حَرَامٌ حَتَّى التَّغَنِّي بِضَرْبِ الْقَصَبِ." اهـ من البحر الرائق شرح
كنز الدقائق ومنحة الخالق وتكملة الطوري (8/ 214)
"Perkara ini menunjukkan bahwa semua
jenis musik adalah haram sampai pun bernyanyi dengan memukulkan
tulang-belulang". [Lihat Al-Bahr Ar-Ro'iq Syarh Kanz Ad-Daqo'iq
(8/214)]
Musik telah banyak membuat para generasi kita
lalai dan gila. Waktunya tersibukkan dengan nyanyian dan lantunan musik
sehingga ia pun malas mengaji dan membaca Al-Qur'an, apalagi mau hadir di
majelis-majelis ilmu. Hatinya lebih tenang bila mendengarkan musik daripada
mendengarkan Al-Qur'an; ia lebih bangga memegang gitar dan alat musik lainnya
dibandingkan memegang Al-Qur'an dan buku-buku agama.
Dia lebih terpukau dengan penampilan para
pemusik (muslim yang fasiq, maupun kafir) dibandingkan kepahlawanan dan
pengorbanan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya.
Dia lebih rajin membuka kisah dan dongeng Walt
Disney dan Negeri Anta Barantah dibandingkan kisah para nabi dan orang-orang
sholih.
Masa lowongnya lebih senang ia sia-siakan di
depan TV dan komputer, di gedung biokop, mall-mall, diskotik, rumah bordir, dan
taman-taman hiburan lainnya.
Sedikitpun dari usianya tak ada untuk
akhiratnya, semua untuk hawa nafsu dan kesenangan dunianya.
Di sudut lain, kita melihat sebagian wanita
muslimah, tak kalah lalainya daripada kaum lelaki. Tidak jauh beda dengan
gambaran di atas.
Hanya saja wanita-wanita muslimah di zaman
ini, banyak di antara mereka yang tidak lagi memperhatikan rasa malunya di
depan lawan jenisnya.
Pakaian-pakaian seronok dan setengah
jadipun rela mereka pakai. Pakaian yang mestinya dipakai oleh orang-orang yang
miring akalnya alias gila, nah mereka jadikan sebagai pakaian kebanggaan.
Adakah rasa malu lagi di hati mereka, bila
mereka melepas pakaian kemuliaan yang bernama jilbab, lalu memamerkan segala
macam kecantikan tubuhnya.
Sungguh musibah bagi umat ini tatkala kaum
wanitanya telah melepaskan pakaian kemuliaan.
Miris rasanya, kita melihat wanita-wanita
muslimah bertebaran di jalan dan di semua tempat-tempat umum; mereka
menampilkan kemolekan tubuhnya, kecantikan parasnya untuk semua orang, tanpa
malu dan risih kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.
Kesibukan dan aktifitas mereka, tak kalah
padatnya dengan kaum Adam. Mereka sibuk bekerja dengan segala penampilannya
yang tak senonoh.
Padahal mereka dianjurkan tinggal di rumah
melakukan aktifitas dan pekerjaan yang sesuai dengan kodratnya.
Mereka lebih senang membuka lembaran majalah
dan tabloid yang berisi perkembangan model dan kehidupan para selebritis
dibandingkan membuka lembaran sejarah kehidupan para wanita muslimah di zaman
kenabian dan para salaf.
Para wanita kita lebih senang mengoleksi
berbagai macam model pakaian ala Prancis dan Italia, segala merek parfum dan
kosmetik produk mancanegara dan lainnya.
Waktunya banyak yang terbuang di depan TV
mengikuti serial telenovela dan gossip para selebritis.
Kamarnya dipenuhi oleh gambar orang-orang
fasik dan kafir dari kalangan artis dan pemusik mancanegara, dan terkhusus lagi
artis Mandarin dan Korea.
Subhanallah, demikianlah
gambaran kehidupan kaum muslimin dari orang tua sampai remaja.
Semuanya lupa adanya kematian yang akan
menghancurkan segala kelezatan.
Karenanya, sedari dini, setiap orang
mempersiapkan diri menghadapi hari yang penuh dengan siksaan dan kengerian.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
{إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ
الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ
تُرَابًا } [النبأ: 40]
"Sesungguhnya Kami telah
memperingatkan kepada kalian tentang siksa yang dekat, pada hari manusia
melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir
berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah". (QS. An-Naba' : 40)
Sebelum datangnya hari penyesalan, di saat
kematian telah berada di depan, maka hendaknya kita memperbanyak bekal ketaatan
menuju akhirat dan meninggalkan perbuatan maksiat dan kenistaan.
Ikutilah petunjuk dan jalan hidup
Nabimu
-Shallallahu alaihi wa sallam-. Jika tidak, maka sungguh anda telah menzholimi
diri sendiri. Sedang bagi orang yang zholim, tak ada yang ia tunggu, selain
penyesalan. Allah -Ta'ala- berfirman,
{وَيَوْمَ
يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ
الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا
خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ
الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29) } [الفرقان: 27 - 30]
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu)
orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya
(dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku
(dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah
menyesatkan aku dari Al-Quran, ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku".
Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia". (QS. Al-Furqon :
27-29)
Hari itu, tak ada yang bermanfaat kecuali
amal sholih yang pernah kita kerjakan di dunia.
Hari itu, sebelah biji korma yang di-infaq-kan
di jalan Allah, amat berguna bagi pelakunya.
Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,
لِيَتَّقِ
أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَو ْبِشِقِّ تَمْرَةٍ
"Handaknya salah seorang diantara
kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji
korma". [HR.
Ahmad dalam Al-Musnad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy
dalam Shohih At-Targhib (864)]
Amalan sholih yang ikhlash amat bermanfaat
bagi pelakunya, walaupun nilainya sedikit menurut pandangan manusia.
Karenanya, setiap orang berusaha untuk
beramal sholih sesuai kemampuan masing-masing dan jangan tertipu dengan
jumlah!!

Komentar
Posting Komentar