Adab-adab Indah di Hari Raya
Adab-adab Indah di Hari Raya
Oleh
:
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. –hafizhahullah-
‘Pembina
Ponpes Al-Ihsan, Gowa dan Penceramah di Radio An-Nashihah 88.2 FM, Makassar’
Hari Ied "lebaran" merupakan hari berbahagia dan bersuka cita
bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini nampak di
wajah,tindak-tanduk dan kesibukan mereka.
Orang yang dulunya berselisih dan saling benci, pada hari itu
saling mema'afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai macam kue,
ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan berdatangan
pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan keluarganya.
Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan nun jauh di
negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat atau
telepon.
Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang mengantarkan
sebagian manusia lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus
kerjakan di hari Ied.
Diantaranya, seperti berikut ini :
q Dianjurkan
Mandi sebelum Berangkat ke Musholla (Lapangan)
Seorang di hari ied
disunnahkan untuk bersuci dan membersihkan diri agar bau tak sedap tidak
mengganggu saudara kita yang lain ketika sholat dan bertemu.
Ini berdasarkan atsar
dari Ali bin Abi Tholib -radhilallahu
anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,
يَوْمَ الْجُمُعَةِ
وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
"(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum'at, hari Arafah
(wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Iedul Fitri". [HR.Asy-Syafi'i
dalam Al-Musnad (114), dan Al-Baihaqy (5919)]
q Memakai
Pakaian yang Bagus dan Berhias dengannya
Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia mempersiapkan dan memakai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul Adhha.
Ketahuilah, Sunnah ini diambil dari hadits Ibnu Umar , ia berkata:
أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ
إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ
تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ
" Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar.
Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah r seraya berkata: ["
Ya Rasulullah, Belilah ini agar engkau bisa berhias dengannya untuk hari ied
dan para utusan …"] "[HR.Al-Bukhory dalam Shohih-nya
(906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]
Al-Allamah Asy-Syaukani -rahimahullah-
berkata dalam Nail Al-Author (3/349)," Segi
pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari'atkannya berhias di hari ied
adalah adanya taqrir Nabi r bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di
hari ied, dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang yang memakai sejenis pakaian
tersebut, karena ia dari sutera".
q Di hari
Iedul Fithri, Disunnahkan Makan Sebelum ke Musholla (Lapangan)
Sebelum berangkat ke musholla (lapangan), maka
dianjurkan makan –utamanya kurma- sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi kita
Muhammad r pada hari iedul fitri. Adapun iedul Adhha, maka sebaliknya
seseorang dianjurkan makan setelah sholat ied agar nantinya bisa mencicipi
hewan kurbannya.
Buraidah -radhiyallahu anhu- berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى يَطْعَمَ وَيَوْمَ
النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ
"Nabi r tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai
beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau
kembali". HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (1756).
Di-hasan-kan oleh Syu'aib Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (5/352/no.23033)
Al-Muhallab bin Abi Shofroh -Rahimahullah- berkata,”Hikmahnya
makan sebelum sholat ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa
sampai usai sholat ied. Seakan Nabi r hendak menepis persangkaan
itu". [Lihat Fath Al-Bari (2/447)]
Diantara hikmahnya agar
masih ada waktu mengeluarkan shodaqoh di waktu-waktu yang cocok dan sangat
dibutuhkannya oleh para faqir-miskin.
Ibnul Munayyir –Rahimahullah- berkata: "Nabi r makan
di dua hari ied pada waktu yang masyru' (disyari'atkan) agar bisa mengeluarkan
shodaqoh khusus bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri
sebelum berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah
disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang
lain.". [Lihat Fath Al-Bari (2/448)]
q Bertakbir
Menuju Lapangan
Mengumandangkan takbiran saat menuju musholla merupakan sunnah
yang dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan
Cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan suara keras sampai
tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir sampai imam datang
memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya !
Ada suatu riwayat dari Nabi r : "Bahwa
beliau keluar di hari iedul Fithri seraya bertakbir sampai tiba di musholla dan
sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau hentikan takbir". [HR.Ibnu
Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165) dan Al-Firyabi
dalam Ahkam Al-Iedain (95).Lihat juga Silsilah
Ahadits Ash-Shohihah (171)]
Dalam riwayat lain, Ibnu Umar -radhiyallahu
anhu- berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ
الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ
وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ
رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ
"Nabi r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl
bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja'far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin
Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya
bertahlil dan bertakbir".[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan
Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa' (3/123)
Jadi, disyari'atkan di hari ied saat hendak keluar ke lapangan
untuk mengumandangkan takbir dengan suara keras berdasarkan kesepakatan empat
Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara berjama'ah.[Lihat Majmu'
Al-Fatawa 24/220]
Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin
Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/281) ketika mengomentari hadits pertama
di atas,"
وفي الحديث دليلٌ على
مشروعيّةِ ما جرى عليه عملُ المسلمين من التكبير جهراً في الطريق إلى المصلى، وإنْ
كان كثير منهم بدؤوا يتساهلون بهذه السنَّة حتى كادت تصبح في خبر كان..
Dalam hadits ini terdapat dalil disyari'atkannya sesuatu yang
telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya takbir dengan suara keras di
jalan-jalan menuju musholla. Sekalipun kebanyakan di antara mereka sudah mulai
meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi tinggal cerita belaka. Itu
disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta canggungnya mereka menampakkan
sunnah".
Faidah :
Tentang lafazh takbir, tak ada yang shohih datangnya dari Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-. Akan tetapi disana ada beberapa atsar yang shohih
datangnya dari para sahabat Radhiyallahu anhum ajma'in.
· Dari sahabat Ibnu Mas'ud, beliau
mengucapkan:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
[HR. Ibnu Abi
Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad
yang shohih
· Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhu-, beliau
mengucapkan:
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ
أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ، اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى
مَا هَدَانَا
[HR.Al-Baihaqy
dalam As-Sunan AlKubro (3/315) dengan sanad yang
shohih.]
· Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan, "Bertakbirlah :
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ
أَكْبَرُ كَبِيْرًا
[HR.Al-Baihaqy
dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316) dengan sanad yang
shohih.]
Adapun tambahan yang diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada
lafazh takbir, maka semua itu merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada
dasarnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi'i -rahimahullah-berkata
dalam Al-Fath (2/536), "Di zaman ini telah
diciptakan semacam tambahan pada masalah (lafazh takbir), itu yang tak ada
dasarnya".
Faedah Lain :
Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu fajar
hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai akhir
hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).
Inilah madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat
dan lainnya. [Lihat Majmu' Al-Fatawa (24/220)]
Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini
tak ada dalilnya. Yang benar, seseorang disunnahkan bertakbir dalam semua waktu
dari hari-hari tersebut (mulai Hari Arofah sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq).
Ini dikuatkan dengan sebuah atsar :"Ibnu Umar bertakbir di
Mina pada hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur,
dalam tenda, majlis, dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut ".
[HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (1/330)]
Adapun di hari raya Idul Fithri, maka disunnahkan bertakbir pada
hari raya sampai imam selesai sholat.
q Disyari'atkan
Wanita dan Anak Kecil Ikut ke Lapangan
Di hari ied wanita -walaupun ia haid- dan anak-anak kecil
disyari'atkan untuk keluar menyaksikan sholat dan doanya kaum muslimin.
Ummu Athiyyah -radhiyallahu anha- berkata,
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ
وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ
الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ قُلْتُ
يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا
أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
"Rasulullah r memerintahkan kami mengeluarkan para
wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi
sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata:
" Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab".
Beliau menjawab: "Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya
kepada saudaranya". [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971)
dan Muslim dalam Ash-Shohih (890)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi'i -rahimahullah-
berkata dalam Fath Al-Bari (2/470), "Di
dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk menyaksikan dua hari
raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan ataupun
bukan".
Bahkan sebagian ulama mewajibkan membawa serta para wanita dan
anak-anak kecil ke lapangan ied.
q Mencari
Jalan lain Ketika Pulang ke Rumah
Disunnahkan mencari jalan lain ketika selesai melaksanakan sholat
ied. Artinya ketika ia pergi ke musholla mengambil suatu jalan, dan ketika
pulang ke rumah di mencari jalan lain dalam rangka mencontoh Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- .
Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا خَرَجَ إِلىَ الْعِيْدِ رَجَعَ فِيْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ
فِيْهِ
"Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- jika keluar ied, beliau
kembali pada selain jalan yang beliau tempati keluar".[HR.Ibnu
Majah dalam As-Sunan (1301). Lihat Shohih
Ibnu Majah (1076) karya Al-Albaniy]
q Berjalan
Menuju dan Kembali dari Musholla
Pada hari ied di sunnahkan berjalan menuju musholla untuk
melaksanakan sholat ied. Demikian pula ketika kembali ke rumah. Tapi ini jika
mushollanya dekat sehingga orang tak berat jalan menuju musholla. Adapun jika
jauh atau perlu sekali, maka tak masalah.
Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu
anhu- berkata,
مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ
مَاشِيًا
"Diantara sunnah, kamu keluar menuju ied sambil jalan". [HR.At-Tirmidzy
dalam As-Sunan (2/410) ; di-hasan-kan
Al-Albany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy (530)]
Abu 'Isa At-Tirmidzy -rahimahullah- berkata
dalam Sunan At-Tirmidzy (2/410),
"Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka
menganjurkan seseorang keluar menuju ied sambil jalan".
q Bersegera
& Cepat Berangkat Melaksanakan Sholat Ied
Demikian pula bersegera berangkat menuju musholla untuk menunaikan
sholat ied. Perkara ini dianjurkan agar setiap orang mengambil tempat dan
banyak mengumandangkan takbir sampai keluarnya memimpin sholat ied.
Faedah :
Setelah tiba di musholla (lapangan), seseorang
tidak dianjurkan sholat sebelum dan setelah sholat ied; juga tidak
disunnahkan melakukan adzan dan iqomat, karena Nabi -Shollallahu
'alaihi wasallam- kita tak pernah melakukan hal itu, kecuali jika
sholat iednya di masjid (karena hujan atau udzur lain), maka ia harus
sholat dua raka'at tahiyyatul masjid.
Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaksanakan sholat
iedul fithri sebanyak dua raka'at, namun beliau tidak sholat sebelum dan
sesudahnya". [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (989)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah-
berkata,
"Walhasil, sholat ied tidak terbukti memiliki sholat sunnah
sebelum dan setelahnya, berbeda dengan orang yang meng-qiyas-kannya dengan
sholat jum'at". [Lihat Fath Al-Bari (2/476)]
Jabir bin Samurah -radhiyallahu
'anhu- berkata,
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ
أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ
“Aku telah melaksanakan sholat bersama Rasulullah –shollalahu
alaihi wa sallam-, bukan Cuma sekali dua kali saja- tanpa adzan dan iqomat”. [HR.
Muslim dalam Shohih-nya (no. 887)]
Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah-
berkata, "Nabi –shollalahu alaihi wa sallam- jika tiba
di musholla, beliau memulai sholat, tanpa ada adzan dan iqomah; tidak pula
ucapan, "Ash-Sholatu jami'ah". Sunnahnya, tidak dilakukan
semua itu". [Lihat Zaadul Ma'ad (1/441)]
-SELESAI-
INFO PENTING
===============================
Dukung Kami
Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.
“ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “
"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]
# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
BRI. Unit Borong Loe
(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN
Kontak Person :
0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
0852-4154-8039 (Saudara Bahriadi, SE.)
0821-8831-3323 (Saudara Muhammad Sabir)
Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.




Komentar
Posting Komentar