Meluruskan Kesalahpahaman tentang Zuhud

 



Meluruskan Kesalahpahaman tentang Zuhud

 

Penulis:

Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bughisiy

-hafizhahullah-

 

Tidak sedikit orang yang memahami zuhud dengan pemahaman yang kurang tepat. Sebagian orang mengira bahwa zuhud berarti meninggalkan harta, menjauhi berbagai kenikmatan yang halal, atau hidup dalam kemiskinan dan kesempitan.

 

Padahal ukuran yang digunakan oleh syariat bukanlah banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki seseorang, melainkan sejauh mana harta dan urusan dunianya memengaruhi hubungannya dengan Allah -Ta'ala-.

 

Karena itu, kita dapat menjumpai orang yang kaya raya, tetapi hatinya penuh ketundukan dan kedekatan kepada Allah, sementara ada pula orang yang miskin tetapi hatinya dipenuhi ambisi dunia, keluh kesah, dan jauh dari ketaatan.

 

Keadaan ini dapat diibaratkan seperti sebuah kapal yang berlayar di atas lautan. Air laut yang berada di luar kapal tidak akan membahayakannya, bahkan menjadi sarana yang mengantarkannya menuju tujuan.

 

Namun, apabila air itu masuk ke dalam kapal, sedikit demi sedikit ia akan memberatkannya hingga akhirnya menenggelamkannya.

 

Demikian pula dunia. Selama dunia berada di tangan seorang hamba dan digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah -Azza wa jalla-, maka hart aitu akan menjadi nikmat dan bekal bagi pemiliknya menuju akhirat. Akan tetapi, apabila dunia masuk ke dalam hati dan menguasainya, hingga melalaikannya dari Allah dan menyeretnya kepada maksiat, maka pada saat itulah dunia menjadi tercela dan membinasakan.

 

Inilah hakikat yang dijelaskan oleh para ulama, sebagaimana nasihat berharga dari Ibnu Aqil -rahimahullah- berikut ini.

 

Ibnu Aqil Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata dalam kitab “Al-Funun”,

"ما قطع عن الله وحمل النفس على محارم الله، فهو الدنيا المذمومة، وإن كان إملاقا وفقرا وما أوصل إلى طاعة الله فذاك ليس بالدنيا المذمومة وإن كان إكثارا وقال الواجب شكرها من حيث هي نعمة الله وطريق إلى الآخرة وذريعة إلى طاعة الله ، وكل خير يعود بالإفراط فيه شر ، كالسخاء يعود إسرافا ، والتواضع يعود ذلا ، والشجاعة تعود تهورا ." اهـ من "الآداب الشرعية والمنح المرعية" (2/ 243-244) لابن مفلح المقدسي

"Segala sesuatu yang memutuskan hubungan seorang hamba dengan Allah dan menyeret jiwanya kepada perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, maka itulah dunia yang tercela, meskipun yang dimilikinya hanyalah kefakiran dan kemiskinan.

Segala sesuatu yang mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, maka itu bukanlah dunia yang tercela, meskipun berupa harta yang banyak dan kekayaan yang melimpah.

Yang wajib terhadap dunia adalah mensyukurinya, karena ia merupakan nikmat dari Allah, jalan menuju akhirat, dan sarana untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

Setiap kebaikan apabila dilakukan secara berlebihan akan berubah menjadi keburukan. Kedermawanan dapat berubah menjadi pemborosan, tawadhu dapat berubah menjadi kehinaan, dan keberanian dapat berubah menjadi sikap nekat."

Dinukil oleh Ibnu Muflih al-Maqdisiy -rahimahullah- dalam “Al-Adab Asy-Syar‘iyyah wa Al-Minah Al-Mar‘iyyah” (2/243–244).

 

Jadi, seorang muslim yang cerdas, bukanlah orang yang sekadar menghitung berapa banyak harta yang ia miliki atau berapa banyak kenikmatan dunia yang ada di tangannya, tetapi ia senantiasa mengoreksi keadaan hatinya; apakah harta itu semakin mendekatkannya kepada Allah atau justru menjauhkannya? Apakah kesibukan dunianya menjadi sarana untuk menambah amal saleh atau malah mengurangi ketaatan dan mengeraskan hati?

 

Sebab, dunia yang tercela bukanlah dunia yang berada di tangan, melainkan dunia yang menguasai hati. Oleh karena itu, hendaknya setiap nikmat yang Allah karuniakan dijadikan sebagai sarana untuk bersyukur, beribadah, membantu sesama, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.

 

Demikian pula seorang mukmin hendaknya menjaga keseimbangan dalam seluruh urusannya dan menjauhi sikap berlebihan. Sebab, banyak sifat yang pada asalnya terpuji dapat berubah menjadi tercela apabila melampaui batas.

 

Kedermawanan yang tidak terkendali dapat berubah menjadi pemborosan; tawadhu yang tidak pada tempatnya, dapat berubah menjadi kehinaan; dan keberanian yang tidak disertai hikmah dapat berubah menjadi kenekatan.

 

Ketahuilah bahwa kebahagiaan dan keselamatan terletak pada sikap pertengahan yang dibimbing oleh ilmu dan syariat.

 

Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan di hati kita; agar Dia menjadikan seluruh nikmat yang diberikan-Nya sebagai penolong untuk taat kepada-Nya; dan agar Dia menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terpaut kepada-Nya hingga kita berjumpa dengan-Nya dalam keadaan diridhai. Aamiin.

 

Faedah dan Pelajaran Penting dari Nasihat Ibnu Aqil -rahimahullah-:

 

Berikut beberapa petikan faedah yang dapat dipetik dari nasihat Ibnu Aqil -rahimahullah-:

1/ Hakikat dunia yang tercela. Dunia yang tercela bukanlah banyaknya harta, tetapi segala sesuatu yang memutus hubungan seorang hamba dengan Allah dan menyeretnya kepada maksiat.

Boleh jadi seseorang miskin, tetapi hatinya dipenuhi kecintaan kepada dunia dan jauh dari Allah. Sebaliknya, boleh jadi seseorang kaya, namun hartanya menjadi sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

 

2. Harta bukan ukuran kemuliaan. Kekayaan tidak selalu tercela, sebagaimana kemiskinan tidak selalu terpuji. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana seseorang memanfaatkan keadaan yang Allah takdirkan baginya untuk selalu menghamba dan mendekatkan diri kepada Allah dengan segala sesuatu yang ia miliki.

 

3. Dunia dapat menjadi jalan menuju surga. Segala sesuatu yang membantu ketaatan kepada Allah, bukanlah dunia yang tercela, meskipun berupa kekayaan yang melimpah.

Rumah, kendaraan, pekerjaan, perdagangan, dan harta dapat berubah menjadi ibadah apabila digunakan untuk meraih ridha Allah.

 

4. Nikmat dunia wajib disyukuri. Seorang mukmin memandang dunia sebagai nikmat Allah yang harus disyukuri, bukan sebagai musuh yang harus dibenci secara mutlak.

Karena dunia adalah ladang amal dan tempat mempersiapkan bekal menuju akhirat. Dunia adalah sarana yang mendekatkan hamba kepada Allah melalui infak dan sedekah yang ulurkan dalam kebaikan.

 

5. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Orang yang bijaksana menjadikan dunia di tangannya, bukan di hatinya.

Ia memanfaatkan dunia untuk mencapai kebahagiaan akhirat, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir hidupnya.

 

6. Bahaya sikap berlebihan. Setiap sifat terpuji dapat berubah menjadi sifat tercela apabila melampaui batas. Karena itu, Islam adalah agama pertengahan dan keseimbangan.

 

7. Kedermawanan memiliki batas syar'i. Kedermawanan yang melampaui batas dapat berubah menjadi pemborosan. Seorang muslim diperintahkan untuk dermawan, namun tetap menjaga hak dirinya, keluarganya, dan kewajiban-kewajibannya.

 

8. Tawadhu berbeda dengan kehinaan. Tawadhu yang benar adalah merendahkan diri karena Allah, bukan menghinakan diri di hadapan manusia.

Seorang mukmin bersikap rendah hati, tetapi tetap menjaga kehormatan dan kemuliaan agamanya.

 

9. Keberanian berbeda dengan kenekatan. Keberanian yang tidak disertai ilmu dan hikmah dapat berubah menjadi ketergesa-gesaan dan kebinasaan. Karena, keberanian yang terpuji adalah keberanian yang dibimbing oleh syariat.

 

10. Islam mengajarkan keseimbangan. Jalan keselamatan terletak pada sikap pertengahan antara sikap meremehkan dan berlebihan.

Inilah manhaj Islam dalam ibadah, muamalah, akhlak, dan seluruh urusan kehidupan.

 

11. Ukuran zuhud yang benar. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat bagi diri hamba di akhirat. Dunia yang membuat kita jauh dari Allah, wajib kita jauhi dan relakan. Namun, jika dunia itu mendekatkan kita kepada ketaatan, lalu kita gunakan untuk ketaatan, maka itulah hakikat zuhud yang terpuji.

Oleh sebab itu, seseorang dapat menjadi zahid (orang zuhud), meskipun memiliki banyak harta, selama hatinya tidak bergantung kepadanya dan tidak menguasainya atau menjauhkannya dari kebaikan dan ketaatan.

 

12. Hati adalah tolok ukur utama. Rusaknya hati karena dunia amat berbahaya. Karena, inti persoalannya bukan pada sesuatu yang ada di tangan, tetapi pada sesuatu yang bersemayam di dalam hati.

Para salaf sering mengatakan bahwa dunia yang tercela adalah dunia yang melalaikan dari Allah, sedangkan dunia yang membantu dalam ketaatan adalah nikmat yang patut disyukuri.

 

 

Komentar