Hukuman di Dunia bagi Penghina Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- (Nasihat bagi Muhammad Kece)
Hukuman di Dunia
bagi Penghina Nabi Muhammad –shallallahu
alaihi wa sallam-
Sebuah artikel dimuat dalam sebuah koran portal
melansir berita Irjen Napoleon Bonaparte memukuli dan menganiaya penista agama
yang bernama “Muhammad Kece” di dalam ruang tahanan.
Motif penganiayaan karena Napoleon mengaku tidak
terima agama Islam dan Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- dihina oleh
Kece.
"Siapapun bisa menghina saya, tapi tidak
terhadap Allah-ku, Al Quran, Rasulullah SAW dan akidah Islamku, karenanya saya
bersumpah akan melakukan tindakan terukur apapun kepada siapa saja yang berani
melakukannya," kata Napoleon dalam suratnya, Minggu (19/9/2021).
Bapak Napoleon saat
itu marah dan terbawa emosi karena Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-
dilecehkan oleh si Kece yang tidak bersikap kece melalui beberapa ocehannya di
youtube. Akhirnya, Bapak Napoleon dengan terpaksa dan tersulut emosi memberi
pelajaran kepada si Kece alias Kace agar ke depan tidak lagi lancang melecehkan
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.
Kejadian ini mengingatkan kami dengan sebuah
peristiwa yang serupa pernah terjadi pada masa Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam-. Ada seorang tokoh Yahudi (Ka’ab bin Al-Asyrof) yang menghina Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam-, lalu bangkitlah seorang sahabat mulia bernama Muhammad bin
Maslamah bersama Abu Na’ilah dan Abbad bin Bisyr dalam memberi pelajaran kepada
si Yahudi tersebut atas perintah dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.
Mereka berhasil memberinya pelajaran dan mengerjai
Ka’ab bin Al-Asyrof sampai ia terbunuh saat itu, karena melakukan perlawanan.
Kisah terbunuhnya si penghina Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- itu
dituliskan oleh seorang ulama negeri India, Shofiyyur Rahman Al-Mubarakfuriy (wafat
1424 H) –rahimahullah- berdasarkan riwayat-riwayat para ahli sejarah di dalam
kitabnya yang berjudul “Ar-Rohiq Al-Makhtum” (hlm 219-221), cet. Darul Hilal,
Beirut, Lebanon.
Sebuah kesyukuran dan hidayah dari Allah, kaum
muslimin saat menjelaskan kekeliruan sebuah agama, maka para ulama Islam
tidaklah menghina dan mencaci maki nabi yang diagungkan oleh pengikut agama
tersebut, tapi para ulama hanya memnjelaskan sisi kebatilan dan kekeliruan agama yang dibuat oleh pengikut agama tersebut.
Lain halnya dengan si Kece atau Kace ini, ia malah
menghina Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Jelas kaum muslimin marah.
Siapapun di antara para nabi, apakah itu Nabi Adam, Ibrahim, Musa, atau Isa,
apalagi Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, maka haram hukumnya menghina dan
merendahkan mereka. Karena, mereka adalah manusia-manusia pilihan di sisi
Allah.
Kalau si Kece alias Kace mau membantah Al-Qur’an,
maka bantah saja dengan ilmiah, tapi jangan menghina Al-Qur’an, Sunnah, Allah, atau
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.
Setelah itu, si Kece jangan puas dulu. Sebab, para
ulama dan dai-dai Islam akan menghancurkan semua hujjah rapuh si Kece dengan
dalil-dalil dan hujjah yang kokoh dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Siapa yang menghina Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam-, maka tidak ada yang ia dapatkan, selain kehinaan dan kerendahan di
dunia dan di akhirat.
Di dalam sebuah hadits yang shohih, Rasulullah –shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
"وَجُعِلَ
الذِّلَّةُ ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي"
“Telah ditetapkan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang
menyelisishi urusan agamaku.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/50/
no. 5114). Hadits ini shohi sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Al-Albaniy
dalam “Takhrij Musykilah Al-Faqr (hlm. 25/ no. 24)]
Al-Imam Adz-Dzahabiy –rahimahullah- menceritakan sebuah kisah menarik
tentang seorang pendeta yang melecehkan Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa
sallam- beserta nasib tragis yang menimpanya.
Kisah tersebut beliau bawakan dalam biografi seorang ulama yang
bernama “Abul Hasan Ali bin Marzuq Ar-Rob’iy As-Salamiy Al-Maushiliy” yang
lahir pada tahun 650 H.
Beliau adalah seorang ulama sekaligus pedagang yang andal. Ia telah
melintasi lautan untuk melakukan misi perdagangan, dan telah menyaksikan
berbagai keajaiban. Ia dikenal dengan pandangan yang brilian, kecerdikan,
keberanian dan kekokohan agamanya. Ia hidup sampai 70 tahun lamanya.
Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabiy (wafat 748 H)
–rahimahullah- berkata dalam menceritakan kisah menarik itu, seraya
berkata,
“Telah menceritakan kepada kami Az-Zain Ali bin Marzuq di depan guru kami,
Taqiyyuddin Al-Minshotiy :
“Aku telah mendengarkan Syaikh Jamaluddin Ibrohim bin Muhammad Ath-Thoibiy
Al-Maushiliy berkata di depan sekumpulan manusia,
حَضَرْتُ عِنْدَ سونجق خزندار هُولاكُو
وَأَبَغَا، وَكَانَ مِمَّنْ تَنَصَّرَ مِنَ الْمَغُولِ، وَذَلِكَ فِي دَوْلَةِ
أَبَغَا فِي أَوَّلِهَا، وَكُنَّا فِي مُخَيَّمِهِ،
وَعِنْدَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أُمَرَاءِ
الْمَغُولِ، وَجَمَاعَةٌ مِنْ كِبَارِ النَّصَارَى فِي يَوْمِ ثَلْجٍ،
فَقَالَ نَصْرَانِيٌّ كَبِيرٌ لَعِينٌ :
"أَيُّ شَيْءٍ كَانَ مُحَمَّدٌ؟
-يَعْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَاعِيًا-،
وَقَامَ فِي نَاسٍ عَرَبٍ جِيَاعٍ فَبَقِيَ يُعْطِيهِمُ الْمَالَ وَيَزْهَدُ فِيهِ
فَيَرْبُطُهُمْ"،
وَأَخَذَ يُبَالِغُ فِي تَنَقُّصِ
الرَّسُولِ،
وَهُنَاكَ كَلْبُ صَيْدٍ عَزِيزٌ عَلَى
سونجق فِي سِلْسِلَةِ ذَهَبٍ فَنَهَضَ الْكَلْبُ، وَقَلَعَ السِّلْسِلَةَ وَوَثَبَ
عَلَى ذَاكَ النَّصْرَانِيِّ فَخَمَشَهُ وَأَدْمَاهُ،
فَقَامُوا إِلَيْهِ فَقَامُوا إِلَيْهِ،
وَكَفُّوهُ عَنْهُ وَسَلْسَلُوهُ، فَقَالَ بَعْضُ الْحَاضِرِينَ: هَذَا لِكَلامِكَ
فِي مُحَمَّدٍ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_، فَقَالَ :
"أَتَظُنُّونَ أَنَّ هَذَا مِنْ
أَجْلِ كَلامِي فِي مُحَمَّدٍ؟ لا، وَلَكِنَّ هَذَا كَلْبٌ عَزِيزُ النَّفْسِ
رَآنِي أُشِيرُ بِيَدِي فَظَنَّ أَنِّي أُرِيدُ ضَرْبَهُ فَوَثَبَ".
ثُمَّ أَخَذَ أَيْضًا يَتَنَقَّصُ
النَّبِيَّ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ وَيَزِيدُ فِي ذَلِكَ فَوَثَبَ
إِلَيْهِ الْكَلْبُ ثَانِيًا، وَقَطَعَ السِّلْسِلَةَ وَافْتَرَسَهُ، وَاللَّهِ
الْعَظِيمِ، وَأَنَا أَنْظُرُ ثُمَّ عَضَّ عَلَى زَرْدَمَتِهِ فَاقْتَلَعَهَا
فَمَاتَ الْمَلْعُونُ.___
وَأَسْلَمَ بِسَبَبِ هَذِهِ الْوَاقِعَةِ
الْعَظِيمَةِ مِنَ الْمَغُولِ نَحْوٌ مِنْ أَرْبَعِينَ أَلْفًا وَاشْتَهَرَتِ
الْوَاقِعَةُ." اهـ من معجم الشيوخ الكبير للذهبي (2/ 55_56)
“Aku hadir di sisi Sunjaq, bendahara Hulagu Khan dan Abaqa Khan.
Sunjaq ini termasuk orang yang masuk agama Nasrani (Kristen) dari kalangan
bangsa Mongol, dan demikian itu terjadi di awal pemerintahan Abaqa Khan.
Kami –waktu itu- berada di perkemahan Abaqa, dan di sisinya ada sekelompok
pembesar Nasrani di musim salju.
Kemudian seorang Nasrani senior yang terlaknat berkata,
“Bagaimana sih dahulu si Muhammad itu? (maksudnya, Rasulullah –shallallahu
alaihi wa sallam- dulu adalah seorang pengembala). Dia berada di tengah bangsa
Arab yang kelaparan. Dia terus memberi mereka harta benda, dan ia tidak butuh
kepada harta itu, lalu mengikat mereka (dengan harta itu).”
Si Nasrani itu mulai berlebihan dalam melecehkan Rasul, sedang disana ada
seekor anjing pemburu yang amat berharga bagi Sunjaq dalam (keadaan
terbelenggu) dengan rantai emas.
Si anjing itu pun bangkit, dan melepaskan rantai itu serta menerkam si
Nasrani itu. Lalu si anjing itu mencakar-cakarnya dan melukainya.
Kemudian mereka bangkit menuju anjing itu, dan menahan anjing itu dari si
Nasrani, serta membelenggu anjing itu dengan rantai tersebut.
Lalu berkatalah sebagian hadirin,
“Ini disebabkan oleh komentarmu tentang Muhammad –shallallahu alaihi wa
sallam-.”
Si Nasrani itu menimpali,
“Apakah kalian mengira bahwa hal ini terjadi karena komentarku tentang
Muhammad? Bukan (karena itu)! Akan tetapi ini adalah anjing yang berjiwa mulia.
Si anjing ini melihatku memberi isyarat dengan tanganku, lalu si anjing ini pun
mengira bahwa aku ingin memukulnya. Karenanya, ia melompat.”
Kemudian si Nasrani ini mulai lagi dalam melecehkan Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam- dan ia semakin menjadi-jadi dalam pelecehannya. Akhirnya,
anjing itu pun melompat kepadanya untuk kedua kalinya, dan anjing itu
memutuskan rantai tersebut dan menerkam si Nasrani itu.
Demi Allah Yang Maha Agung, aku menyaksikan hal itu. Kemudian si anjing itu
menggigit pangkal tenggorokan si Nasrani itu, dan si anjing itu berhasil
mencabutnya.
Akhirnya, tewaslah di Nasrani terlaknat itu, dan masuk Islamlah orang-orang
Mongol dengan sebab peristiwa besar ini dengan jumlah sekitar 40.000 orang dan
kisah itu pun menjadi viral.”
[Sumber Kisah : Mu’jam Asy-Syuyukh Al-Kabir (2/55-56), karya
Adz-Dzahabiy]
Viralnya kisah ini pun terus berlanjut sampai ke zamannya Al-Hafizh Ibnu Hajar
Al-Asqolaniy (wafat 852 H) –rahimahullah-.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy –rahimahullah- berkata,
"ذكر عَن
جمال الدّين___إِبْرَاهِيم بن مُحَمَّد الطَّيِّبِيّ أَن بعض أُمَرَاء الْمغل تنصر
فَحَضَرَ عِنْده جمَاعَة من كبار النَّصَارَى والمغل فَجعل وَاحِد مِنْهُم ينتقص
النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَهُنَاكَ كلب صيد مربوط فَلَمَّا أَكثر من
ذَلِك وثب عَلَيْهِ الْكَلْب فخمشه فخلصوه مِنْهُ وَقَالَ بعض من حضر هَذَا بكلامك
فِي مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَقَالَ كلا بل هَذَا الْكَلْب عَزِيز
النَّفس وَآل أُشير بيَدي فَظن أَنِّي أُرِيد أَن أضربه ثمَّ عَاد إِلَى مَا كَانَ
فِيهِ فَأطَال فَوَثَبَ الْكَلْب مرّة أُخْرَى فَقبض على زردمته فقلعها فَمَاتَ من
حِينه فَأسلم بِسَبَب ذَلِك نَحْو أَرْبَعِينَ ألفا من الْمغل". اهـ
من الدرر الكامنة في أعيان المائة الثامنة (4/ 152_153)
“Dia (Ali bin Marzuq) menyebutkan dari Jamaluddin Ibrohim bin
Muhammad Ath-Thoibiy bahwa sebagian pemerintah Mongol masuk dalam agama Nasrani
(Kristen).
Kemudian hadir di sisinya sekelompok pembesar kaum Nasrani dan Bangsa
Mongol. Salah seorang di antara mereka (pembesar Nasrani) mulai melecehkan Nabi
–shallallahu alaihi wa sallam-, dan disana terdapat seekor anjing pemburu yang
terikat.
Tatkala si pembesar Nasrani itu memperbanyak pelecehannya, maka si anjing
itu pun melompat kepadanya, seraya mencakar-cakarnya.
Orang-orang pun menyelamatkannya dari anjing itu, dan sebagian yang hadir
berkata,
“Ini terjadi akibat komentarmu tentang Muhammad –shallallahu alaihi wa
sallam-.”
Si Nasrani ini menimpali,
“Tidak, sama sekali tidak demikian! Bahkan anjing ini berjiwa mulia. Anjing
ini melihatku berisyarat dengan tanganku, lalu ia menyangka bahwa aku hendak
memukulnya.”
Kemudian si Nasrani ini kembali kepada apa ia lakukan (berupa pelecehan
tehadap Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-). Ia pun bertele-tele (dalam
pelecehannya).
Si anjing itu pun melompatinya untuk kedua kalinya, seraya anjing itu
menggigit pangkal tenggorokannya sampai ia mencabutnya.
Akhirnya, tewaslah si pembesar Nasrani itu pada saat itu juga. Lalu
berislamlah dengan sebab hal itu sekitar 40.000 jiwa dari kalangan Bangsa
Mongol.”
[Lihat Ad-Duror Al-Kaminah fi A’yan Al-Mi’ah Ats-Tsaminah (4/152-153),
karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]
Ibrah dan Pelajaran dari Kisah ini :
1. Melecehkan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- adalah
dosa besar dan perkara yang amat mengerikan, bahkan ia dalah kekafiran!
2. Siapa yang melecehkan Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam-, maka ia juga akan dilecehkan.
3. Bila Allah hendak memberikan hidayah kepada sebagian
hamba-Nya, maka Allah akan memperlihatkan kepada mereka tentang kebenaran agama
ini, melalui kejadian yang menyadarkan mereka tentang kebenaran Islam.
4. Para pelaku kesombongan akan menerima akibat buruk dari
kesombongannya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
5. Segala yang ada di alam ini adalah tentara Allah,
termasuk hewan-hewan yang tidak berakal.
6. Pemuliaan Allah dan pembelaan-Nya bagi Nabi Muhammad
–shallallahu alaihi wa sallam- dengan menggerakkan seekor anjing untuk
membinasakan si peleceh dan penghina tersebut.
7. Terkadang Islam muncul dan mendapatkan simpati di kala
ia ditekan dan dilecehkan.
Komentar
Posting Komentar