Penyebab Utama Kerasnya Hati
Penyebab Utama Kerasnya Hati
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhohulloh_
Hati
yang dimiliki setiap insan terkadang ia selembut air, tapi juga terkadang
sekeras batu.
Lembutnya
hati karena taatnya si pemilik hati kepada Allah -Azza wa Jalla-.
Sebaliknya,
kerasnya hati karena kedurhakaan si pemilik hati kepada Allah Sang Pencipta Alam
Semesta.
Seorang
yang lembut hatinya akan mudah menerima kebenaran yang datang dari Robb-nya,
dan mudah menangis saat mengingat kebesaran atau siksaan Allah, dan segera
bertobat saat ia melanggar batasan Allah -Subhanahu wa Ta'ala-.
Adapun
orang-orang yang keras hatinya, maka hatinya tertutup dan susah dalam menerima
kebenaran.
Karena,
kekerasan hatinya, ia susah menangis saat diingatkan tentang siksaan Allah dan
kebesaran-Nya.
Pemilik
hati yang keras terus menerus di atas pembangkangan dan kedurhakaan.
Lisannya
amat berat mengucapkan kata tobat dan kalimat istighfar.
Inilah
yang disinyalir oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,
{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24)} [محمد: 24]
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad : 24)
Orang
yang keras hatinya akan susah menerima kebenaran yang Allah turunkan melalui
kitab-kitab-Nya dan lisan para rasu-Nya.
Hatinya
bagaikan batu yang yang tidak ditembus oleh air saat hujan turun.
Allah
-Ta'ala- berfirman,
{ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ
كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا
يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ
مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا
اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74)} [البقرة: 74]
"Kemudian
setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal
diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan
diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya
sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. Dan Allah
sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". (QS. Al-Baqoroh : 74).
Seorang
muslim ketika sampai kepadanya perintah dan larangan Allah, maka hendaknya
segera melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangannya sebelum hatinya
membatu bagaikan batu cadas di pegunungan.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ
لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ
وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16)} [الحديد: 16]
"Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab
kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik". (QS. Al-Hadid : 16)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam
tafsirnya berkata, "Allah melarang kaum mukminin untuk menyerupai
orang-orang yang mengemban Al-Kitab sebelum mereka dari kalangan Yahudi dan
Nasrani. Tatkala telah berlalu masa yang panjang pada mereka (ahli Kitab), maka
mereka mengganti Kitab Allah yang ada di tangan mereka, memperjualbelikannya
dengan harga murah, membuangnya di balik punggung mereka. Mereka mulai
menghadap kepada pemikiran-pemikiran manusia yang bertentangan, dan
ucapan-ucapan yang simpang siur, mereka membebek buta kepada tokoh-tokoh
(pendeta) dalam urusan agama Allah, dan menjadikan ulama, dan pendeta mereka
sebagai tuhan-tuhan dari selain Allah.
Ketika itulah, hati mereka membatu. Lantaran itu, mereka tak mau menerima
nasihat, serta hati mereka tak mau luluh dengan janji dan ancaman".
[Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (8/20)]
Pembaca
yang budiman, adapun kerasnya hati, maka para ulama kita menyebutkan beberapa sebab
yang membuatnya keras bagaikan batu :
1.
Banyak Tertawa
Salah
satu diantara sebab membatunya hati seseorang bagaikan mayat yang sudah
kehilangan ruh adalah memperbanyak tawa.
Tertawa
adalah perkara yang boleh saja sepanjang masih dalam batasan syariat, yaitu
tidak keseringan dan bukan menjadi kebiasaan, dan tidak menertawakan kebaikan
dan pelakunya, serta menjaga adab atau citra diri saat tertawa (misalnya, tidak
terbahak atau tidak memukul orang, dan lainnya).
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ
الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
"Janganlah
engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati". [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (), dan
Ahmad dalam Al-Musnad (2/310). Hadits ini di-hasan-kan
oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 930)]
Memperbanyak
tawa adalah perbuatan tercela yang melahirkan keburukan bagi dunia dan akhirat
seorang hamba.
Tidak
heran apabila Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_ men-tahdzir (memperingatkan) umatnya
dari bahaya banyak tertawa.
Mengapa
seorang yang banyak tertawa akan mati dan membatu hatinya?
Karena,
seorang yang memperbanyak tawa akan sulit menerima nasihat yang berisi
kebenaran.
Itulah
sebabnya kita sering melihat ada orang yang ketika dibacakan kepadanya
Al-Qur'an, maka ia tertawa dan tidak serius mendengarkannya.
Bahkan
terkadang ia memperolok-olokkan Al-Qur'an dan orang yang membacakannya kepada
dirinya. Semua ini adalah tanda bahwa ia tak mau menerima nasihat dari Allah
dan Rasul-Nya.
Selain
itu, banyak tawa adalah tanda hilangnya khosy-yah (takut)nya seorang
hamba kepada Allah.
Seorang
yang takut kepada Allah akan lunak hatinya dan mudah menerima nasihat dan
kebenaran dari Allah -Azza wa Jalla-.
Itulah
hikmahnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan kepada kita
agar sedikit tawanya, dan banyak menangis karena takut kepada Allah sebagaimana
dalam sabdanya,
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ
قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
"Andai
kalian tahu sesuatu yang aku tahu, maka kalian akan sedikit tertawa, dan banyak
menangis". [HR. At-Tirmidziy (). Di-shohih-kan
oleh Al-Albaniy dalam Shohih Fiqh As-Siroh (479)]
Orang
yang banyak tertawa akan susah menangis saat ia diingatkan tentang neraka, dan
siksa Allah -Azza wa Jalla-, baik di dunia, maupun di akhirat. Dia lebih
senang terbawa dalam canda melampaui batas.
Banyak
tertawa bukanlah ciri dan tanda orang-orang sholih dari kalangan nabi dan rasul
serta pengikut mereka yang setia.
Banyak
tawa adalah tanda orang-orang yang lalai dari Allah dan akhirat. Karenanya,
kami amat sedih saat melihat tersebarnya kebiasaan banyak tertawa di kalangan
kaum muslimin, dari anak kecil sampai orang tua beruban.
Parahnya
lagi, ada diantara mereka yang menjadikannya sebagai profesi sebagai seorang
pelawak dan tukang banyolan.
Al-Imam
Abul Laits Nashr bin Muhammad As-Samarqondiy _rohimahulloh_
berkata,
"إِيَّاكَ
وَضَحِكَ الْقَهْقَهَةِ، فَإِنَّ فِيهِ ثَمَانِيَةً مِنَ الْآفَاتِ:
أَوَّلُهَا
أَنْ يَذُمَّكَ الْعُلَمَاءُ وَالْعُقَلَاءُ.
وَالثَّانِي
أَنْ يَجْتَرِئَ عَلَيْكَ السُّفَهَاءُ وَالْجُهَّالُ.
وَالثَّالِثُ
أَنَّكَ لَوْ كُنْتَ جَاهِلًا ازْدَادَ جَهْلُكَ، وَإِنْ كُنْتَ عَالِمًا نَقَصَ
عِلْمُكَ، لِأَنَّهُ رُوِيَ فِي الْخَبَرِ أَنَّ الْعَالِمَ إِذَا ضَحِكَ ضَحْكَةً
مَجَّ مِنَ الْعِلْمِ مَجَّةً.
يَعْنِي
رَمَى مِنَ الْعِلْمِ بَعْضَهُ.
وَالرَّابِعُ
أَنَّ فِيهِ نِسْيَانَ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ.
وَالْخَامِسُ
فِيهِ أُجْرَةٌ عَلَى الذُّنُوبِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، لِأَنَّكَ إِذَا ضَحِكْتَ
يَقْسُو قَلْبُكَ.
وَالسَّادِسُ
أَنَّ فِيهِ نِسْيَانَ الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ.
وَالسَّابِعُ
أَنَّ عَلَيْكَ وِزْرَ مَنْ ضَحِكَ بِضَحِكِكَ.
وَالثَّامِنُ
أَنَّهُ يَجِبُ لَهُ بِالضَّحِكِ بُكَاءٌ كَثِيرٌ فِي الْآخِرَةِ." اهـ من تنبيه
الغافلين بأحاديث سيد الأنبياء والمرسلين للسمرقندي (ص: 201_202)
“Waspadalah
dari tertawa terbahak-bahak. Karena, di dalamnya terdapat 8 penyakit :
Pertama,
para ulama dan orang-orang yang berakal akan menertawakanmu.
Kedua,
kaum pandir dan bodoh akan lancang kepadamu.
Ketiga,
andaikan engkau jahil, maka kejahilanmu akan bertambah. Jika engkau berilmu,
maka ilmumu akan berkurang. Karena, telah diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa
orang yang berilmu bila ia tertawa satu kali, maka ia telah memuntahkan sebuah
ilmunya.”
Maksudnya,
ia membuang sebagian ilmunya.
Keempat,
di dalam tawa, seseorang melupakan dosa-dosanya yang berlalu.
Kelima,
di dalamnya terdapat balasan atas dosa-dosanya di masa akan datang. Karena,
bila ia tertawa, maka hatinya akan keras.
Keenam,
saat tertawa, seseorang akan melupakan
kematian dan perkara yang ada setelahnya berupa urusan akhirat.
Ketujuh,
atas dirimu dosa orang yang tertawa karena tawamu.
Kedelapan,
harus baginya -disebabkan tawanya- untuk menangis banyak di negeri akhirat.” [Lihat Tanbihul Ghofilin (hlm. 201-202), cet.
Darul Basya’ir, 1434 H]
2.
Banyak Makan
Banyak
makan adalah salah satu sebab hati seseorang akan membatu, sebab banyak makan
akan membuat orang akan malas berbuat.
Tak
ada yang dipikirkan oleh orang yang banyak makan, kecuali makanan, cara
mendapatkannya, metode memasaknya, dan aneka ragamnya, sehingga waktunya akan
habis hanya dalam memikirkan perutnya.
Adapun
memperbanyak sedekah dan infaq, maka hal itu jauh dari pikiran dan catatan
hidupnya.
Tangannya
lebih ringan membeli makanan dibanding berinfaq di jalan Allah _tabaroka wa
ta’ala_.
Orang
yang seperti ini akan rakus, dan kikir, serta malas beramal sholih atau
mengejar kebaikan di sisi Allah.
Orang
yang banyak makan, akan malas mencari ilmu dan mempelajarinya di
majelis-majelis taklim. Sebaliknya, ia akan banyak bicara dan sok pintar.
Inilah
yang pernah disyaratkan oleh Nabiyyullah Muhammad -Shallallahu alaihi wa
sallam- dalam sabdanya, saat beliau mengingatkan bahayanya kaum pengingkar
sunnah yang mau berpegang dengan Al-Qur'an, tapi meninggalkan sunnah,
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ
مَعَهُ أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا
الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ
مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ
"Ingatlah
sungguh aku telah diberi Al-Kitab, dan semisalnya bersamanya. Ingatlah,
hampir-hampir akan ada seseorang yang kenyang di atas ranjangnya seraya
berkata, "Berpeganglah saja dengan Al-Qur'an ini. Karenanya, apa saja yang
kalian temukan di dalamnya berupa sesuatu yang halal, maka halalkan, dan
apasaja yang kalian temukan di dalamnya beruapa sesuatu yang haram, maka
haramkanlah". [HR. Abu Dawud (no.4604), At-Tirmidziy
(no. 2664), dan Ibnu Majah (no. 12). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy
dalam Takhrij Al-Misykah (163)]
Di
dalam hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan orang
yang kenyang.
Ahli
Hadits Negeri India, Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abaadi -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan maknanya,
"هو كناية عن البلادة وسوء الفهم الناشىء عَنِ الشِّبَعِ أَوْ
عَنِ الْحَمَاقَةِ اللَّازِمَةِ لِلتَّنَعُّمِ وَالْغُرُورِ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ."
اهـ من عون المعبود وحاشية ابن القيم (12/ 232)
"Ia
adalah kinayah tentang kepandiran, dan pemahaman buruk yang timbul dari kenyangnya
seseorang atau timbul dari kebodohan yang menyertai gaya hidup mewah, dan
ketertipuan dengan harta dan kedudukan".
[Lihat Aunul Ma'bud (10/124)]
Itulah
akibat banyak makan; ia akan membuat pelakunya malas dan tak mau menerima
kebenaran sebagai tanda kerasnya hati.
Seorang
ulama salaf, Bisyr bin Al-Harits -rahimahullah- berkata,
خَصْلَتَانِ تُقْسِيَانِ الْقَلْبَ: كَثْرَةُ
الْكَلاَمِ، وَكَثْرَةُ اْلأَكْلِ
"Dua
perkara yang akan mengeraskan hati: Banyak bicara, dan banyak makan". [Lihat Al-Hilyah (4/22) oleh Abu Nu'aim]
Al-Imam
Abu Bakr Al-Marrudziy -rahimahullah- berkata
kepada Al-Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-,
"Apakah
seseorang dapat merasakan kehalusan hatinya dalam keadaan kenyang?"
Al-Imam
Ahmad -rahimahullah- berkata, "Saya pandang tidak?"
[Lihat
Kitab Al-Waro' (hal. 98/no. 323) karya Al-Marrudziy, dengan tahqiq
Samir bin Amin Az-Zuhairiy, cet. Maktabah Al-Ma'arif]
Jadi,
tak mungkin akan berkumpul antara kelembutan hati dengan banyak makan.
Sebab,
banyak makan akan mewariskan kelalaian dan perasaan malas dalam melakukan
kebaikan dan amal sholih.
Selain
itu, banyak makan akan membuat nafsu hewani seseorang bergejolak. Sedang nafsu
hewani tersebut akan mendorong dirinya berbuat keji dan mesum.
3.
Banyak Melakukan Dosa
Para
pembaca yang budiman, satu lagi diantara perkara yang akan membuat hati
seseorang membatu adalah banyak melakukan dosa.
Dosa
yang dilakukan oleh seseorang (apalagi jika ia dosa besar) akan menyebabkan
hati kita akan tertutupi oleh noda-noda maksiat dan dosa tersebut.
Inilah
yang dimaksudkan oleh
Allah dalam firman-Nya,
{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
(14)} [المطففين: 14]
"Sekali-kali tidak (demikian),
Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka". (QS. Al-Muthoffifin:14
).
Ayat ini adalah dalil yang
menunjukkan bahwa dosa-dosa dan maksiat yang diperbuat oleh hamba, akan
mengotori hatinya, lalu membuatnya sakit, bahkan mungkin mengeras dan mati. Na’udzu
billahi min dzalik.
Nabi -Shallallahu 'alaihi
wasallam-,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا
أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةً سَوْدَاءَ, فَإِذَا هُوَ نَزَعَ
وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ
قَلْبَهُ
"Sesungguhnya orang yang
beriman jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam
hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya)
maka mengkilaplah hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam itupun bertambah
hingga memenuhi hatinya." [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya
(no. 3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]
Ketahuilah bahwa dosa-dosa yang
diperbuat oleh manusia, amat memberikan pengaruh dan dampak buruk bagi manusia
itu sendiri dana lam sekitarnya.
Rasulullah _shollallohu alaihi wa
sallam_ bersabda,
"نَزَلَ الحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ
الجَنَّةِ، وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي
آدَمَ.
“Hajar Aswad turun dari surga, sedang ia
lebih putih daripada salju, lalu dosa-dosa anak cucu Adam yang membuatnya jadi
hitam”. [HR.
Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(877). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(no. 2618), dan Takhrij Al-Misykah (no. 2577)]
Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy _rahimahulloh_ berkata,
"فإذا أثرت_الخطايا في الحجر، ففي جسد فاعلها أولى."
اهـ من قوت المغتذي على جامع الترمذي (1/ 32_33)
“Jika dosa-dosa mampu memberikan pengaruh
terhadap batu (yakni, Hajar Aswad), maka pada jasad pelakunya lebih utama.” [Lihat Quutul
Mughtadzi ala Jami’ At-Tirmidziy (1/32_33)]
Hati yang ada pada diri setiap
orang, ibarat tubuh seseorang. Tubuh itu kalau tidak terbebani oleh sesuatu,
maka akan terasa ringan.
Demikian pula hati, kalau sedikit
kesalahan dan dosanya, maka ia mudah tersentuh, sehingga mudah meneteskan air
mata.
Dosa yang dikerjakan oleh seseorang
akan mematikan hati, sedang ketagihan dengannya akan membuat diri seorang hamba
menjadi hina dina.
Jika anda menginginkan hati ini
hidup, maka hendaknya menjauhi atau meninggalkan dosa, sebab itulah kehidupan
hati.
Oleh karena itu, setiap orang
menginginkan hatinya hidup hendaknya
ia menjauhi maksiat dengan sejauh-jauhnya.
Karena,
maksiat dan dosa itu seperti api yang akan membakar hati dan membinasakannya.
Sebaliknya, ketaatan kepada Allah -Azza wa Jalla- ibarat air hujan yang
akan menyegarkan tanaman yang ia basahi. [Lihat Jurnal AKHWAT
(vol.1/hal.3)]
4.
Melanggar Perjanjian dengan Allah
Melanggar
perjanjian dengan Allah merupakan sebab kerasnya hati seseorang.
Dahulu
Bani Isra'il (Yahudi) pernah berjanji kepada Allah dan Rasul-Nya untuk
menegakkan sholat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul (termasuk, Nabi
Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-), menolong mereka, dan berkorban
di jalan Allah.
Namun
mereka menyalahi janji itu sebagaimana dalam firman-Nya,
{فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا
قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا
مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا
قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(13)} [المائدة: 13]
"(Tetapi)
karena mereka melanggar janjinya, kami laknat mereka, dan kami jadikan hati
mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari
tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah
diperingatkan dengannya. Dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat
kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak
berkhianat). Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik".
(QS. Al-Maa'idah : 13)
Al-Imam Abu Hayyan Al-Andalusiy _rohimahulloh_ berkata,
"وَقَسْوَةُ
الْقَلْبِ غِلَظُهُ وَصَلَابَتُهُ حَتَّى لَا يَنْفَعِلَ لِخَيْرٍ." اهـ من البحر
المحيط في التفسير (4/ 204)
“Kerasnya
hati adalah tebal dan kasarnya hati sampai ia tidak memiliki reaksi terhadap kebaikan.”
[Lihat Al-Bahr
Al-Muhith fit Tafsir (4/204)]
Demikianlah
penyakit kerasnya hati melanda kaum
Yahudi yang akibat pelanggaran demi pelanggaran mereka lakukan.
Mereka
diperintahkan untuk mengimani semua rasul, menegakkan sholat, menunaikan zakat,
dan berinfaq di jalan Allah. Namun semua itu mereka tinggalkan dan acuhkan!
Inilah
yang menjadi sebab hati mereka keras sehingga kebenaran yang datang setelahnya
mereka tolak, dan tidak memberikan dampak positif pada akhlak, ibadah dan
keimanan mereka.
Hal
yang serupa banyak terjadi pada kaum muslimin. Mereka bersyahadat setiap hari,
namun masih saja ada diantara mereka yang melakukan kesyirikan dan bid'ah.
Padahal
dua kalimat syahadat tersebut, yang diucapkannya setiap hari, melarangnya dari
perbuatan syirik dan bid'ah (mengada-adakan suatu ajaran).
Tak
heran jika banyak diantara mereka yang berani menolak kebenaran, karena
kerasnya hati mereka.
Bahkan
banyak diantara mereka yang lancang meninggal sholat, dan enggan menunaikan
zakat.
Demikian
karena hatinya tertutup dari kebaikan. Kalaupun ia melakukan kebaikan, ia
lakukan bukan karena mencari wajah Allah, tapi karena terpaksa atau ingin
mencari perhatian dan popularitas. Nas'alullahal afiyah was salamah min
qoswatil quluub.
………………………………….
Selesai diedit ulang, 26 Muharrom
1440 H = 7 Oktober 2018 M

Komentar
Posting Komentar