Penyebab Utama Kerasnya Hati




Penyebab Utama Kerasnya Hati

oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhohulloh_

Hati yang dimiliki setiap insan terkadang ia selembut air, tapi juga terkadang sekeras batu.

Lembutnya hati karena taatnya si pemilik hati kepada Allah -Azza wa Jalla-.

Sebaliknya, kerasnya hati karena kedurhakaan si pemilik hati kepada Allah Sang Pencipta Alam Semesta.


Seorang yang lembut hatinya akan mudah menerima kebenaran yang datang dari Robb-nya, dan mudah menangis saat mengingat kebesaran atau siksaan Allah, dan segera bertobat saat ia melanggar batasan Allah -Subhanahu wa Ta'ala-.

Adapun orang-orang yang keras hatinya, maka hatinya tertutup dan susah dalam menerima kebenaran.

Karena, kekerasan hatinya, ia susah menangis saat diingatkan tentang siksaan Allah dan kebesaran-Nya.

Pemilik hati yang keras terus menerus di atas pembangkangan dan kedurhakaan.

Lisannya amat berat mengucapkan kata tobat dan kalimat istighfar.

Inilah yang disinyalir oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,
{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24)} [محمد: 24]
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad : 24)

Orang yang keras hatinya akan susah menerima kebenaran yang Allah turunkan melalui kitab-kitab-Nya dan lisan para rasu-Nya.

Hatinya bagaikan batu yang yang tidak ditembus oleh air saat hujan turun.

Allah -Ta'ala- berfirman,
{ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74)} [البقرة: 74]
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". (QS. Al-Baqoroh : 74).

Seorang muslim ketika sampai kepadanya perintah dan larangan Allah, maka hendaknya segera melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangannya sebelum hatinya membatu bagaikan batu cadas di pegunungan.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16)} [الحديد: 16]
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik". (QS. Al-Hadid : 16)

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata, "Allah melarang kaum mukminin untuk menyerupai orang-orang yang mengemban Al-Kitab sebelum mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Tatkala telah berlalu masa yang panjang pada mereka (ahli Kitab), maka mereka mengganti Kitab Allah yang ada di tangan mereka, memperjualbelikannya dengan harga murah, membuangnya di balik punggung mereka. Mereka mulai menghadap kepada pemikiran-pemikiran manusia yang bertentangan, dan ucapan-ucapan yang simpang siur, mereka membebek buta kepada tokoh-tokoh (pendeta) dalam urusan agama Allah, dan menjadikan ulama, dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan  dari selain Allah. Ketika itulah, hati mereka membatu. Lantaran itu, mereka tak mau menerima nasihat, serta hati mereka tak mau luluh dengan janji dan ancaman". [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (8/20)]

Pembaca yang budiman, adapun kerasnya hati, maka para ulama kita menyebutkan beberapa sebab yang membuatnya keras bagaikan batu :

1.   Banyak Tertawa

Salah satu diantara sebab membatunya hati seseorang bagaikan mayat yang sudah kehilangan ruh adalah memperbanyak tawa.

Tertawa adalah perkara yang boleh saja sepanjang masih dalam batasan syariat, yaitu tidak keseringan dan bukan menjadi kebiasaan, dan tidak menertawakan kebaikan dan pelakunya, serta menjaga adab atau citra diri saat tertawa (misalnya, tidak terbahak atau tidak memukul orang, dan lainnya). 

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
"Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa akan mematikan hati". [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (), dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/310). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 930)]

Memperbanyak tawa adalah perbuatan tercela yang melahirkan keburukan bagi dunia dan akhirat seorang hamba.

Tidak heran apabila Nabi _shollallohu alaihi wa sallam_ men-tahdzir (memperingatkan) umatnya dari bahaya banyak tertawa.

Mengapa seorang yang banyak tertawa akan mati dan membatu hatinya?

Karena, seorang yang memperbanyak tawa akan sulit menerima nasihat yang berisi kebenaran.

Itulah sebabnya kita sering melihat ada orang yang ketika dibacakan kepadanya Al-Qur'an, maka ia tertawa dan tidak serius mendengarkannya.

Bahkan terkadang ia memperolok-olokkan Al-Qur'an dan orang yang membacakannya kepada dirinya. Semua ini adalah tanda bahwa ia tak mau menerima nasihat dari Allah dan Rasul-Nya.

Selain itu, banyak tawa adalah tanda hilangnya khosy-yah (takut)nya seorang hamba kepada Allah.

Seorang yang takut kepada Allah akan lunak hatinya dan mudah menerima nasihat dan kebenaran dari Allah -Azza wa Jalla-.

Itulah hikmahnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan kepada kita agar sedikit tawanya, dan banyak menangis karena takut kepada Allah sebagaimana dalam sabdanya,
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
"Andai kalian tahu sesuatu yang aku tahu, maka kalian akan sedikit tertawa, dan banyak menangis". [HR. At-Tirmidziy (). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Fiqh As-Siroh (479)]

Orang yang banyak tertawa akan susah menangis saat ia diingatkan tentang neraka, dan siksa Allah -Azza wa Jalla-, baik di dunia, maupun di akhirat. Dia lebih senang terbawa dalam canda melampaui batas.

Banyak tertawa bukanlah ciri dan tanda orang-orang sholih dari kalangan nabi dan rasul serta pengikut mereka yang setia.

Banyak tawa adalah tanda orang-orang yang lalai dari Allah dan akhirat. Karenanya, kami amat sedih saat melihat tersebarnya kebiasaan banyak tertawa di kalangan kaum muslimin, dari anak kecil sampai orang tua beruban.

Parahnya lagi, ada diantara mereka yang menjadikannya sebagai profesi sebagai seorang pelawak dan tukang banyolan.

Al-Imam Abul Laits Nashr bin Muhammad As-Samarqondiy _rohimahulloh_ berkata,
"إِيَّاكَ وَضَحِكَ الْقَهْقَهَةِ، فَإِنَّ فِيهِ ثَمَانِيَةً مِنَ الْآفَاتِ:
أَوَّلُهَا أَنْ يَذُمَّكَ الْعُلَمَاءُ وَالْعُقَلَاءُ.
وَالثَّانِي أَنْ يَجْتَرِئَ عَلَيْكَ السُّفَهَاءُ وَالْجُهَّالُ.
وَالثَّالِثُ أَنَّكَ لَوْ كُنْتَ جَاهِلًا ازْدَادَ جَهْلُكَ، وَإِنْ كُنْتَ عَالِمًا نَقَصَ عِلْمُكَ، لِأَنَّهُ رُوِيَ فِي الْخَبَرِ أَنَّ الْعَالِمَ إِذَا ضَحِكَ ضَحْكَةً مَجَّ مِنَ الْعِلْمِ مَجَّةً.
يَعْنِي رَمَى مِنَ الْعِلْمِ بَعْضَهُ.
وَالرَّابِعُ أَنَّ فِيهِ نِسْيَانَ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ.
وَالْخَامِسُ فِيهِ أُجْرَةٌ عَلَى الذُّنُوبِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، لِأَنَّكَ إِذَا ضَحِكْتَ يَقْسُو قَلْبُكَ.
وَالسَّادِسُ أَنَّ فِيهِ نِسْيَانَ الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ.
وَالسَّابِعُ أَنَّ عَلَيْكَ وِزْرَ مَنْ ضَحِكَ بِضَحِكِكَ.
وَالثَّامِنُ أَنَّهُ يَجِبُ لَهُ بِالضَّحِكِ بُكَاءٌ كَثِيرٌ فِي الْآخِرَةِ." اهـ من تنبيه الغافلين بأحاديث سيد الأنبياء والمرسلين للسمرقندي (ص: 201_202)
“Waspadalah dari tertawa terbahak-bahak. Karena, di dalamnya terdapat 8 penyakit :
Pertama, para ulama dan orang-orang yang berakal akan menertawakanmu.
Kedua, kaum pandir dan bodoh akan lancang kepadamu.
Ketiga, andaikan engkau jahil, maka kejahilanmu akan bertambah. Jika engkau berilmu, maka ilmumu akan berkurang. Karena, telah diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa orang yang berilmu bila ia tertawa satu kali, maka ia telah memuntahkan sebuah ilmunya.”
Maksudnya, ia membuang sebagian ilmunya.
Keempat, di dalam tawa, seseorang melupakan dosa-dosanya yang berlalu.
Kelima, di dalamnya terdapat balasan atas dosa-dosanya di masa akan datang. Karena, bila ia tertawa, maka hatinya akan keras.
Keenam,  saat tertawa, seseorang akan melupakan kematian dan perkara yang ada setelahnya berupa urusan akhirat.
Ketujuh, atas dirimu dosa orang yang tertawa karena tawamu.
Kedelapan, harus baginya -disebabkan tawanya- untuk menangis banyak di negeri akhirat.” [Lihat Tanbihul Ghofilin (hlm. 201-202), cet. Darul Basya’ir, 1434 H]

2.   Banyak Makan

Banyak makan adalah salah satu sebab hati seseorang akan membatu, sebab banyak makan akan membuat orang akan malas berbuat.

Tak ada yang dipikirkan oleh orang yang banyak makan, kecuali makanan, cara mendapatkannya, metode memasaknya, dan aneka ragamnya, sehingga waktunya akan habis hanya dalam memikirkan perutnya.

Adapun memperbanyak sedekah dan infaq, maka hal itu jauh dari pikiran dan catatan hidupnya.

Tangannya lebih ringan membeli makanan dibanding berinfaq di jalan Allah _tabaroka wa ta’ala_.

Orang yang seperti ini akan rakus, dan kikir, serta malas beramal sholih atau mengejar kebaikan di sisi Allah.

Orang yang banyak makan, akan malas mencari ilmu dan mempelajarinya di majelis-majelis taklim. Sebaliknya, ia akan banyak bicara dan sok pintar.

Inilah yang pernah disyaratkan oleh Nabiyyullah Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya, saat beliau mengingatkan bahayanya kaum pengingkar sunnah yang mau berpegang dengan Al-Qur'an, tapi meninggalkan sunnah,
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ
"Ingatlah sungguh aku telah diberi Al-Kitab, dan semisalnya bersamanya. Ingatlah, hampir-hampir akan ada seseorang yang kenyang di atas ranjangnya seraya berkata, "Berpeganglah saja dengan Al-Qur'an ini. Karenanya, apa saja yang kalian temukan di dalamnya berupa sesuatu yang halal, maka halalkan, dan apasaja yang kalian temukan di dalamnya beruapa sesuatu yang haram, maka haramkanlah". [HR. Abu Dawud (no.4604), At-Tirmidziy (no. 2664), dan Ibnu Majah (no. 12). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (163)]

Di dalam hadits ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan orang yang kenyang.

Ahli Hadits Negeri India, Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abaadi -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan maknanya,
"هو كناية عن البلادة وسوء الفهم الناشىء عَنِ الشِّبَعِ أَوْ عَنِ الْحَمَاقَةِ اللَّازِمَةِ لِلتَّنَعُّمِ وَالْغُرُورِ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ." اهـ من عون المعبود وحاشية ابن القيم (12/ 232)
"Ia adalah kinayah tentang kepandiran, dan pemahaman buruk yang timbul dari kenyangnya seseorang atau timbul dari kebodohan yang menyertai gaya hidup mewah, dan ketertipuan dengan harta dan kedudukan". [Lihat Aunul Ma'bud (10/124)]

Itulah akibat banyak makan; ia akan membuat pelakunya malas dan tak mau menerima kebenaran sebagai tanda kerasnya hati.

Seorang ulama salaf, Bisyr bin Al-Harits -rahimahullah- berkata,
خَصْلَتَانِ تُقْسِيَانِ الْقَلْبَ: كَثْرَةُ الْكَلاَمِ، وَكَثْرَةُ اْلأَكْلِ
"Dua perkara yang akan mengeraskan hati: Banyak bicara, dan banyak makan". [Lihat Al-Hilyah (4/22) oleh Abu Nu'aim]

Al-Imam Abu Bakr Al-Marrudziy -rahimahullah- berkata kepada Al-Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-,
"Apakah seseorang dapat merasakan kehalusan hatinya dalam keadaan kenyang?"
Al-Imam Ahmad -rahimahullah- berkata, "Saya pandang tidak?"
[Lihat Kitab Al-Waro' (hal. 98/no. 323) karya Al-Marrudziy, dengan tahqiq Samir bin Amin Az-Zuhairiy, cet. Maktabah Al-Ma'arif]

Jadi, tak mungkin akan berkumpul antara kelembutan hati dengan banyak makan.

Sebab, banyak makan akan mewariskan kelalaian dan perasaan malas dalam melakukan kebaikan dan amal sholih.

Selain itu, banyak makan akan membuat nafsu hewani seseorang bergejolak. Sedang nafsu hewani tersebut akan mendorong dirinya berbuat keji dan mesum.

3.   Banyak Melakukan Dosa

Para pembaca yang budiman, satu lagi diantara perkara yang akan membuat hati seseorang membatu adalah banyak melakukan dosa.

Dosa yang dilakukan oleh seseorang (apalagi jika ia dosa besar) akan menyebabkan hati kita akan tertutupi oleh noda-noda maksiat dan dosa tersebut.

Inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya,
{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (14)} [المطففين: 14]
"Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka". (QS. Al-Muthoffifin:14 ).

Ayat ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa dosa-dosa dan maksiat yang diperbuat oleh hamba, akan mengotori hatinya, lalu membuatnya sakit, bahkan mungkin mengeras dan mati. Na’udzu billahi min dzalik.

Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةً سَوْدَاءَ, فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ
"Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam itupun bertambah hingga memenuhi hatinya." [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Ketahuilah bahwa dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia, amat memberikan pengaruh dan dampak buruk bagi manusia itu sendiri dana lam sekitarnya.

Rasulullah _shollallohu alaihi wa sallam_ bersabda,
"نَزَلَ الحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الجَنَّةِ، وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ.
“Hajar Aswad turun dari surga, sedang ia lebih putih daripada salju, lalu dosa-dosa anak cucu Adam yang membuatnya jadi hitam”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (877). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 2618), dan Takhrij Al-Misykah (no. 2577)]

Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy _rahimahulloh_ berkata,
"فإذا أثرت_الخطايا في الحجر، ففي جسد فاعلها أولى." اهـ من قوت المغتذي على جامع الترمذي (1/ 32_33)
“Jika dosa-dosa mampu memberikan pengaruh terhadap batu (yakni, Hajar Aswad), maka pada jasad pelakunya lebih utama.”  [Lihat Quutul Mughtadzi ala Jami’ At-Tirmidziy (1/32_33)]

Hati yang ada pada diri setiap orang, ibarat tubuh seseorang. Tubuh itu kalau tidak terbebani oleh sesuatu, maka akan terasa ringan.

Demikian pula hati, kalau sedikit kesalahan dan dosanya, maka ia mudah tersentuh, sehingga mudah meneteskan air mata.

Dosa yang dikerjakan oleh seseorang akan mematikan hati, sedang ketagihan dengannya akan membuat diri seorang hamba menjadi hina dina.

Jika anda menginginkan hati ini hidup, maka hendaknya menjauhi atau meninggalkan dosa, sebab itulah kehidupan hati.

Oleh karena itu, setiap orang menginginkan hatinya hidup hendaknya ia menjauhi maksiat dengan sejauh-jauhnya.

Karena, maksiat dan dosa itu seperti api yang akan membakar hati dan membinasakannya. Sebaliknya, ketaatan kepada Allah -Azza wa Jalla- ibarat air hujan yang akan menyegarkan tanaman yang ia basahi. [Lihat Jurnal AKHWAT (vol.1/hal.3)]

4.   Melanggar Perjanjian dengan Allah

Melanggar perjanjian dengan Allah merupakan sebab kerasnya hati seseorang.

Dahulu Bani Isra'il (Yahudi) pernah berjanji kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul (termasuk, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-), menolong mereka, dan berkorban di jalan Allah.

Namun mereka menyalahi janji itu sebagaimana dalam firman-Nya,
{فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (13)} [المائدة: 13]
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, kami laknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. Dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat). Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (QS. Al-Maa'idah : 13)

Al-Imam Abu Hayyan Al-Andalusiy _rohimahulloh_ berkata,
"وَقَسْوَةُ الْقَلْبِ غِلَظُهُ وَصَلَابَتُهُ حَتَّى لَا يَنْفَعِلَ لِخَيْرٍ." اهـ من البحر المحيط في التفسير (4/ 204)
“Kerasnya hati adalah tebal dan kasarnya hati sampai ia tidak memiliki reaksi terhadap kebaikan.” [Lihat Al-Bahr Al-Muhith fit Tafsir (4/204)]

Demikianlah penyakit kerasnya hati melanda kaum Yahudi yang akibat pelanggaran demi pelanggaran mereka lakukan.

Mereka diperintahkan untuk mengimani semua rasul, menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan berinfaq di jalan Allah. Namun semua itu mereka tinggalkan dan acuhkan!

Inilah yang menjadi sebab hati mereka keras sehingga kebenaran yang datang setelahnya mereka tolak, dan tidak memberikan dampak positif pada akhlak, ibadah dan keimanan mereka.

Hal yang serupa banyak terjadi pada kaum muslimin. Mereka bersyahadat setiap hari, namun masih saja ada diantara mereka yang melakukan kesyirikan dan bid'ah.

Padahal dua kalimat syahadat tersebut, yang diucapkannya setiap hari, melarangnya dari perbuatan syirik dan bid'ah (mengada-adakan suatu ajaran).

Tak heran jika banyak diantara mereka yang berani menolak kebenaran, karena kerasnya hati mereka.

Bahkan banyak diantara mereka yang lancang meninggal sholat, dan enggan menunaikan zakat.

Demikian karena hatinya tertutup dari kebaikan. Kalaupun ia melakukan kebaikan, ia lakukan bukan karena mencari wajah Allah, tapi karena terpaksa atau ingin mencari perhatian dan popularitas. Nas'alullahal afiyah was salamah min qoswatil quluub.

………………………………….

Selesai diedit ulang, 26 Muharrom 1440 H = 7 Oktober 2018 M










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama