Menjaga Tauhid, Memberantas Syirik
Menjaga Tauhid, Memberantas Syirik
Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah
-hafizhahullah-
@abu.faizah03
“Tauhid”
adalah mengesakan Allah dan mengkhususkan-Nya dalam ibadah.
Seorang
yang men-tauhid-kan Allah bila ia hanya mempersembahkan semua bentuk ibadahnya
kepada Allah, baik itu berupa ibadah qolbiyyah (yang berkaitan
dengan amalan hati), maupun fi’liyyah (yang berhubungan dengan
amalan anggota badan).
Diantara
bentuk kesempurnaan tauhid, seorang hamba mencegah semua jalan (perbuatan atau
ucapan) yang mengarah kepada lawan tauhid, yaitu syirik.
Lantas
apa itu “syirik”?!
Syirik adalah menyekutukan Allah dalam beribadah, yakni seorang
hamba, selain ia beribadah kepada Allah, ia juga beribadah kepada makhluk,
sehingga ia telah dianggap mengangkat sekutu bagi Allah dalam ibadahnya.
Para
pembaca yang budiman, Allah –azza wa jalla- telah menganugerahkan kepada
kita seorang rasul yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib
bin Hasyim Al-Qurosyi.
Ia
datang untuk membacakan ayat-ayat Allah, membersihkan hati kita dari segala
macam penyakit hati (seperti, syirik, riya’, sum’ah, hasad dan lainnya),
serta mengentaskan kita menuju cahaya ilmu.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو
عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ } [آل عمران: 164]
“Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali Imraan : 164)
Sang
Rasul ketika ia datang, maka ia datang dengan sifat-sifat terpuji. Beliau
adalah manusia yang memiliki martabat yang tinggi dan nasab yang jelas lagi
mulia.
Rasul
ini amat peduli kepada umatnya. Karenanya, beliau membawa syariat yang mudah
dan gampang diamalkan.
Bila
ada yang susah bagi mereka, maka beliau meminta kepada Robb-nya agar diberi
keringanan.
Dia
amat ingin semua orang mendapatkan hidayah dan ia juga menjelaskan jalan-jalan keselamatan yang mendatangkan
kemashlahatan umat dan menjauhkan mereka dari segala madhorot (bahaya dan
kerugian), baik di dunia, maupun di akhirat. [Lihat Tafsir Al-Qur’an
Al-Azhim (4/241-243) oleh Ibnu Katsir -rahimahullah-]
Ketika
Allah mengutusnya, maka Allah berpesan bahwa berdakwah adalah pekerjaan berat
yang membutuhkan kesabaran dan keuletan.
Karenanya,
saat melihat ada diantara umat manusia yang tak mau beriman, maka hendaknya
bersabar dan mengembalikan segala urusan kepada Pemiliknya, yakni Allah.
Allah
-Ta'ala- berfirman,
{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ
مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128) فَإِنْ
تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ
وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129)} [التوبة: 128، 129]
“Sungguh
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka
Katakanlah: "Cukuplah Allah bagi-Ku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya
kepada-Nya Aku bertawakkal dan dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung”. (QS. At-Taubah : 128-129)
Diantara
belas kasih dan sayangnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada
umatnya, beliau melarang mereka dari segala jalan yang merusak tauhid dan iman
mereka kepada Allah, sebagaimana yang akan kami utarakan di sela hadits-hadits
berikut :
ÿ
Dari
Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,
“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَا
تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ
فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
“Janganlah
kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan dan jangan menjadikan kuburku
sebagai ied (tempat kumpul yang selalu dikunjungi untuk ibadah).
Ber-sholawat-lah kalian, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku dimana pun
kalian berada”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/367)
dan Abu Dawud dalam Kitabul Manasik, bab: Ziyaroh Al-Qubur
(2042)]
Di
dalam hadits ini terdapat empat faedah yang harus kita cermati:
(1) Rumah kita hendaknya dihidupkan
dengan ibadah (sholat sunnah, membaca Al-Qur’an dan dzikir) agar kita jangan
termasuk orang lalai dan rumah kita tak mirip dengan kuburan yang kosong dari
ibadah.
(2) Kubur Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam- dan kubur lainnya bukanlah tempat untuk melakukan ritual ibadah,
seperti, membaca Al-Qur’an (Surah Yasin atau lainnya), sholat, i’tikaf
(tirakatan), berdzikir dan lainnya.
Sebab
kubur tidaklah memiliki keistimewaan untuk ibadah yang dikerjakan di dalamnya,
bahkan seorang lebih utama mengerjakan ibadahnya di masjid dan di rumah.
(3) Oleh karenanya, bila ada diantara
kita yang hendak ber-sholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
dan mendoakan kebaikan bagi beliau, maka tak perlu mendatangi kubur beliau.
Sebab,
sholawat dan salam kita bagi beliau akan sampai kepada beliau.
Kebiasaan
mendatangi kubur beliau, bukanlah petunjuk beliau, bahkan beliau melarang hal
itu dalam hadits ini.
Disinilah
letak kesalahan sebagian jama’ah haji kita; saat mereka di Madinah, maka mereka
berulang kali ke kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk
berziarah, bahkan ada yang berdoa dan memohon kepada beliau!!
Subhanallah, ini adalah kesyirikan!!!
(4) Di dalam hadits di atas, juga
terdapat isyarat tentang larangan melakukan safar untuk
mengunjungi kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atau kubur wali
dan lainnya.
Karenanya,
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لاَ
تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلىَ ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وِمَسْجِدِ
الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ومَسْجِدِ اْلأَقْصَى
"Tidak
boleh bersafar, kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul
-Shollallahu 'alaihi wasallam- (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsho". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1189),
dan Muslim dalam Shohih-nya (1397)]
Jika
seseorang ingin bersafar ke Madinah, maka ia niatkan untuk mengunjungi Masjid
Nabawi demi memperbanyak mengerjakan sholat di dalamnya, bukan niatnya pergi ziarah kubur.
Walaupun
sesampainya di Madinah, ia boleh berziarah ke kubur Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam-. Tapi tujuan utama safar kita kesana, bukan ziarah
kubur!!
Jadi,
bersafar dalam rangka beribadah, mencari pahala, dan keutamaan, tidak boleh
dilakukan pada selain tiga tempat itu.
Dari
sini, kita mengetahui kesalahan sebagian kaum muslimin yang melakukan safar
untuk mengunjungi kubur orang yang dianggap wali atau orang sholeh, seperti
yang dilakukan oleh orang-orang jahil di Jawa; mereka melakukan "Tour
Keliling Wali Songo".
Kekeliruan
seperti ini juga mulai menjangkit ke Sulsel, dengan adanya sebagian orang-orang
diantara mereka yang melakukan safar dari tempat lain menuju kubur Syaikh
Yusuf, Gowa.
Ini
jelas adalah kesalahan yang menyelisihi petunjuk Nabi -Shallallahu 'alaihi
wa sallam- yang terdapat di dalam hadits di atas dan hadits berikut !!!
Dari
Ali bin Husain -radhiyallahu anhu-, ia berkata,
أَنَّهُ
رَأَى رَجُلاً يَجِيْءُ إِلَى فُرْجَةٍ كَانَتْ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَيَدْخُلُ فِيْهَا فَيَدْعُوْ ، فَنَهَاهُ ، فَقَالَ : أَلاَ
أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا سَمِعْتُهُ مِنْ أَبِيْ ، عَنْ جَدِّيْ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : « لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا ،
وَلاَ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا ، فَإِنَّ تَسْلِيْمَكُمْ يَبْلُغُنِيْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ »
“Ada
seorang laki-laki yang pernah datang ke sebuah celah (lubang) yang terdapat di
sisi kubur Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Lalu orang itu pun masuk di
dalamnya sambil berdoa. Karenanya Ali bin Husain melarangnya seraya berkata, “Maukah
engkau kukabarkan tentang suatu hadits yang aku dengarkan dari bapakku, dari
kakekku, dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,
“Janganlah engkau menjadikan kuburku sebagai ied (tempat kumpul yang selalu
dikunjungi untuk ibadah), dan jangan pula menjadikan rumahmu sebagai kuburan.
Karena salam kalian akan sampai kepadaku dimana pun kalian berada”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf
(2/268), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (no. 48) dan Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy
dalam Al-Mukhtaaroh (1/154). Hadits ini di-hasan-kan oleh
Syaikh Al-Albaniy dalam Tahdzir As-Sajid (hal. 128), cet.
Maktabah Al-Ma’arif, 1422 H]
Para
pembaca yang budiman, diantara usaha Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
dalam menjaga kemurnian tauhid, larangan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
kepada sebagian sahabat yang berlebihan memuji beliau sebagaimana dalam hadits
berikut :
ÿ
Dari
Anas bin Malik -radhiyallahu anhu-
berkata,
أَنَّ
رَجُلاً قَالَ :
"يَا
مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا، وَخَيْرَنَا، وَابْنَ خَيْرِنَا."
فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ :
"يَا
أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ، وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ،
أَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،
وَاللَّهِ
مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللَّهُ _عَزَّ
وَجَلَّ_".
“Ada
seorang laki-laki pernah berkata, “Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami,
anak pemimpin kami, orang terbaik di antara kami dan anak orang terbaik
diantara kami”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pun bersabda, “Wahai
manusia, lazimilah ketaqwaan kalian dan jangan sekali-kali setan menggoda
kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdillah, hamba dan rasul-Nya. Demi Allah, aku
tak menyenangi kalau kalian mengangkat aku melebihi kedudukanku yang Allah
telah menempatkan aku padanya”.
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/241), Abdur Rozzaq Ash-Shon’aniy
dalam Al-Mushonnaf (11/272) dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab
Al-Mufrod (no. 875). Syaikh Ahmad Syakir men-shohih-kan hadits
ini dalam Syarh Al-Musnad (no. 3904)]
Syaikh
Isma’il Ibn Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy
-rahimahullah- berkata,
"وقد أمر النبي _صلى اللَّه عليه وسلم_ في هذا الحديث
بالاقتصاد والتوسط، وتحري الدقة، في مدح من يعتقد فيهم الفضل، وأن لا يتخطى في ذلك
حدود البشرية فيلحقه بالله، وأن لا يكون كفرس جموح لا يملكه فارس، ولا يضبطه زمام،
فيسيء بذلك الأدب مع اللَّه ويتورط فيما لا يحمد عقباه." اهـ من رسالة
التوحيد المسمى بـ تقوية الإيمان (ص: 170)
“Sungguh
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan dalam hadits ini untuk
bersikap lurus dan pertengahan serta berusaha jeli dalam memuji orang yang ia
yakini padanya ada keutamaan agar di dalam hal itu ia tidak melangkahi batasan
derajat kemanusiaan, lalu menyamakannya dengan Allah dan agar tidak seperti
kuda liar yang tak mampu dikuasai oleh seorang penunggang kuda dan tidak pula
dikendalikan oleh seutas tali. Akhirnya, dengan sebab itu, ia pun melakukan adab
yang buruk kepada Allah dan ia terjun kepada perkara yang tak terpuji
akibatnya”. [Lihat Taqwiyah At-Tauhid
(hlm. 170), karya Isma’il bin Abdil Ghoni Al-Dahlawiy, cet. Dar Wahyil Qolam,
2003 M, Suriah]
Para
pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa kata as-sayyid (السَّيِّدُ) yang bermakna “pemimpin” memiliki
dua makna. Pertama: “as-sayyid” bermakna pemimpin yang menguasai
semua urusan secara mutlak dan ia tak tunduk kepada seorang pun.
“As-sayyid” dengan makna seperti ini, tak boleh disandangkan kepada
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Lafazh seperti ini hanya digunakan
bagi Allah.
Kedua: as-sayyid, maksudnya adalah pemimpin kabilah,
sesepuh kampung dan pemimpin terdepan.
Berdasarkan
makna ini, maka semua nabi adalah sayyid (pemimpin) di kalangan kaumnya;
semua imam adalah terdepan atas pengikutnya; semua mujtahid adalah contoh bagi
orang yang berteladan kepadanya.
Sebab,
mereka melaksanakan perintah-perintah Allah pada diri mereka, lalu
mengajarkannya kepada orang-orang yang ada di bawah mereka.
Jadi,
Nabi kita -Shallallahu alaihi wa sallam- berdasarkan makna ini adalah sayyid.
Namun
beliau membenci gelar-gelar seperti ini disematkan kepadanya. Sebab, penyematan
gelar seperti itu terkadang mengantarkan kepada sikap ghuluw
(berlebihan), sehingga ada diantara manusia yang akan memuji beliau sebagai “sayyid”
dengan makna yang salah bahwa beliau pemimpin yang mengatur alam semesta dan
segala hajat makhluk secara mutlak.
Beliau
tak senang dengan semua ini, sebab itu hanya layaknya disematkan kepada
Allah!!
Beliau
lebih senang disebut dengan “nabi”, “rasul” atau “abdullah”
(hamba Allah).
Beliau
tak senang bila disifati dengan sifat-sifat yang mengarah kepada pengkultusan.
Nah,
dari sinilah kita mengetahui kekeliruan sebagian orang yang mengaku sebagai
ahlul bait, lalu lebih senang menggelari dirinya dengan “sayyid”,
sementara kakek mereka (yaitu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-)
telah melarangnya.
Karena,
hal itu akan mengantarkan kepada ghuluw (sikap berlebihan) dalam memuji
dan menempatkan beliau!!!
Oleh
karenanya, beliau pernah bersabda,
لاَ
تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
"Janganlah
kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani
pada Isa bin Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba. Lantaran itu, katakalah,
"(Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) hamba Allah dan
rasul-Nya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(3445), dan Muslim dalam Shohih-nya (1691)]
Diantara
penyebab kehancuran agama, dunia dan akhirat umat-umat terdahulu, mereka
bersikap ghuluw dalam beragama; sesuatu yang tak pernah digariskan oleh Allah
dan Rasul-Nya, lalu mereka menetapkannya tanpa hujjah.
Allah
menetapkan wajibnya men-tauhid-kan (mengesakan dan menunggalkan) Allah
dalam ibadah.
Hanya
saja banyak diantara manusia malah melakukan amalan-amalan yang mengantarkan
kepada kesyirikan, bahkan melakukan kesyirikan itu sendiri!!
Sungguh
ini adalah kehancuran agama!!!
…………………………………………..
Diedit
ulang 8 Syawwal 1439 H, di rumah kami, Perumahan Tanwirus Sunnah.

Komentar
Posting Komentar