Nasihat bukan Ghibah
Nasihat bukan Ghibah
Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-
Ghibah adalah perkara yang
haram berdasarkan nash-nash syariat, baik dari Al-Qur’an, maupun Sunnah.
Haramnya ghibah telah
disepakati oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka berdasarkan dalil-dalil
itu.
Diantara dalil haramnya
ghibah, firman Allah -Azza wa Jalla-,
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا
يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ
مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ }
[الحجرات: 12]
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk
sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Hujuraat:
12)
Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah menyamakan
seseorang yang menggibahi orang lain dengan orang yang memakan daging
saudaranya yang sudah mati.
Hal itu menunjukkan kepada kita betapa kejinya dan
menjijikkannya ghibah ini, sehingga menjadi sesuatu yang diharamkan oleh
Allah –'Azza wa Jalla-.
Tentunya kalau kita mempunyai akal yang sehat, kita pasti
tidak ingin memakan bangkai apalagi bangkai saudara kita.
Al-Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy -rahimahullah-
berkata dalam Adhwa' Al-Bayan (5/168),
"فَيَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَبَاعَدَ كُلَّ
التَّبَاعُدِ مِنَ الْوُقُوعِ فِي عِرْضِ أَخِيهِ." اهـ من أضواء البيان في
إيضاح القرآن بالقرآن (7/ 413)
"Karena itu, wajib bagi seorang muslim untuk jauh dari mencela
kehormatan saudaranya dengan sungguh-sungguh".
Di dalam sebuah hadits,
Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- berkata bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ
قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ
أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ
فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
"Apakah kalian
tahu apa itu ghibah?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih
tahu". Beliau bersabda, "Engkau menyebutkan saudaramu dengan
sesuatu yang ia benci". Ada yang bertanya, "Bagaimana pendapat
anda, jika apa yang aku katakan ada pada saudaraku?" Beliau menjawab,
"Jika apa yang kamu katakan ada padanya, maka sungguh engkau telah
meng-ghibahnya. Jika tidak ada, maka engkau telah menfitnahnya". [HR. Muslim dalam Kitab
Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, bab: Tahrim Al-Ghibah (no.
6536).]
Dari Sa'id bin Zaid -radhiyallahu
anhu- bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا
الِاسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ
"Sesungguhnya
diantara riba yang paling besar adalah mencela kehormatan seorang, tanpa
haq".
[HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Adab, bab: fil Ghibah (no.
4876), cet. Dar Ibn Hazm, 1419 H. Hadits di-shohih-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 5045), dan Ash-Shohihah
(no. 1433 & 1871)]
Mencela kehormatan
muslim tanpa hak adalah terlarang. Namun jika ia melakukan suatu kekeliruan,
maka boleh kita sebutkan jika ada kemaslahatan yang menuntut hal itu.
Al-Imam Syamsul Haqq
Al-Azhim Abadi
-rahimahullah- berkata saat menjelaskan sebuah faedah dari hadits ini,
"فِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى أَنَّ
الْعِرْضَ رُبَّمَا تَجُوزُ اسْتِبَاحَتُهُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَذَلِكَ
مِثْلُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ
عِرْضَهُ فَيَجُوزُ لِصَاحِبِ الْحَقِّ أَنْ يَقُولَ فِيهِ إِنَّهُ ظَالِمٌ
وَإِنَّهُ مُتَعَدٍّ وَنَحْوَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ ذِكْرُ مَسَاوِي الْخَاطِبِ
وَالْمُبْتَدِعَةِ وَالْفَسَقَةِ عَلَى قَصْدِ التَّحْذِيرِ." اهـ من عون
المعبود وحاشية ابن القيم (13/ 152)
"Di dalamnya terdapat suatu peringatan bahwa kehormatan
terkadang boleh dihalalkan dalam sebagian kondisi. Demikian itu, seperti sabda
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, "Penangguhan (bayar utang) oleh orang
yang mampu adalah menghalalkan kehormatannya. Lantaran itu, boleh bagi pemilik
hak untuk berkata tentang orang itu, "Sesungguhnya ia zhalim",
"Sesungguhnya ia melampaui batas", dan sejenisnya. Semisal perkara
ini, penyebutan keburukan-keburukan seorang pelamar, ahli bid'ah, orang fasiq
dengan maksud men-tahdzir (mengingatkan keburukannya)". [Lihat Aunul
Ma'bud (13/183) karya Al-Azhim Abadi, tahqiq Shidqi Muhammad
Jamil Al-Aththor, cet. Dar Al-Fikr, 1415 H]
Menyebutkan aib seorang muslim adalah haram bila tak ada
kemaslahatan atau tujuan syariat yang mengharuskan hal tersebut.
Nah, kapankah kemaslahatan atau tujuan syariat menuntut untuk
menyebut aib seorang muslim?
Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh Al-Imam Abu Zakariyya
An-Nawawiy -rahimahullah- saat ia berkata,
تُبَاح
الْغِيبَة لِغَرَضٍ شَرْعِيّ ، وَذَلِكَ لِسِتَّةِ أَسْبَاب :
أَحَدهَا : التَّظَلُّم ؛ فَيَجُوز لِلْمَظْلُومِ أَنْ يَتَظَلَّم
إِلَى السُّلْطَان وَالْقَاضِي وَغَيْرهمَا مِمَّنْ لَهُ وِلَايَة أَوْ قُدْرَة عَلَى
إِنْصَافه مِنْ ظَالِمه ، فَيَقُول : ظَلَمَنِي فُلَان ، أَوْ فَعَلَ بِي كَذَا .
الثَّانِي : الِاسْتِغَاثَة عَلَى تَغْيِير الْمُنْكَر ، وَرَدّ
الْعَاصِي إِلَى الصَّوَاب ، فَيَقُول لِمَنْ يَرْجُو قُدْرَته : فُلَان يَعْمَل كَذَا
فَازْجُرْهُ عَنْهُ وَنَحْو ذَلِكَ.
الثَّالِث : الِاسْتِفْتَاء بِأَنْ يَقُول لِلْمُفْتِي : ظَلَمَنِي
فُلَان أَوْ أَبِي أَوْ أَخِي أَوْ زَوْجِي بِكَذَا فَهَلْ لَهُ ذَلِكَ ؟ وَمَا طَرِيقِي
فِي الْخَلَاص مِنْهُ وَدَفْع ظُلْمه عَنِّي ؟ وَنَحْو ذَلِكَ ، فَهَذَا جَائِز لِلْحَاجَةِ
، وَالْأَجْوَد أَنْ يَقُول فِي رَجُل أَوْ زَوْج أَوْ وَالِد وَوَلَد : كَانَ مِنْ
أَمْره كَذَا ، وَمَعَ ذَلِكَ فَالتَّعْيِين جَائِز لِحَدِيثِ هِنْد وَقَوْلهَا : إِنَّ
أَبَا سُفْيَان رَجُل شَحِيح .
الرَّابِع : تَحْذِير الْمُسْلِمِينَ مِنْ الشَّرّ ،
وَذَلِكَ
مِنْ وُجُوه :
*
مِنْهَا : جَرْح الْمَجْرُوحِينَ مِنْ الرُّوَاة ، وَالشُّهُود ، وَالْمُصَنِّفِينَ
، وَذَلِكَ جَائِز بِالْإِجْمَاعِ ، بَلْ وَاجِب صَوْنًا لِلشَّرِيعَةِ ،
*
وَمِنْهَا : الْإِخْبَار بِعَيْبِهِ عِنْد الْمُشَاوَرَة فِي مُوَاصَلَته ،
*
وَمِنْهَا : إِذَا رَأَيْت مَنْ يَشْتَرِي شَيْئًا مَعِيبًا أَوْ عَبْدًا سَارِقًا
أَوْ زَانِيًا أَوْ شَارِبًا أَوْ نَحْو ذَلِكَ تَذْكُرهُ لِلْمُشْتَرِي إِذَا لَمْ
يَعْلَمهُ نَصِيحَة ، لَا بِقَصْدِ الْإِيذَاء وَالْإِفْسَاد ،
*
وَمِنْهَا : إِذَا رَأَيْت مُتَفَقِّهًا يَتَرَدَّد إِلَى فَاسِق أَوْ مُبْتَدِع يَأْخُذ
عَنْهُ عِلْمًا ، وَخِفْت عَلَيْهِ ضَرَره ، فَعَلَيْك نَصِيحَته بِبَيَانِ حَاله قَاصِدًا
النَّصِيحَة ،
*
وَمِنْهَا : أَنْ يَكُون لَهُ وِلَايَة لَا يَقُوم بِهَا عَلَى وَجْههَا لِعَدَمِ أَهْلِيَّته
أَوْ لِفِسْقِهِ ، فَيَذْكُرهُ لِمَنْ لَهُ عَلَيْهِ وِلَايَة لِيُسْتَدَلّ بِهِ عَلَى
حَاله ، فَلَا يَغْتَرّ بِهِ ، وَيَلْزَم الِاسْتِقَامَة .
الْخَامِس : أَنْ يَكُون مُجَاهِرًا بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَته
كَالْخَمْرِ وَمُصَادَرَة النَّاس وَجِبَايَة الْمُكُوس وَتَوَلِّي الْأُمُور الْبَاطِلَة
فَيَجُوز ذِكْره بِمَا يُجَاهِر بِهِ ، وَلَا يَجُوز بِغَيْرِهِ إِلَّا بِسَبَبٍ آخَر
. السَّادِس : التَّعْرِيف فَإِذَا كَانَ مَعْرُوفًا
بِلَقَبٍ كَالْأَعْمَشِ وَالْأَعْرَج وَالْأَزْرَق وَالْقَصِير وَالْأَعْمَى وَالْأَقْطَع
وَنَحْوهَا جَازَ تَعْرِيفه بِهِ ،
وَيَحْرُم
ذِكْره بِهِ تَنَقُّصًا وَلَوْ أَمْكَنَ التَّعْرِيف بِغَيْرِهِ كَانَ أَوْلَى . وَاَللَّه
أَعْلَم .
"Ghibah dibolehkan untuk tujuan
syar'i. Demikian itu untuk enam sebab.
o Pertama:
Mengadukan kezhaliman. Lantaran itu, boleh bagi yang terzhalimi untuk
mengadukan kezhaliman seseorang kepada penguasa dan hakim, serta yang lainnya
dari kalangan orang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memberikannya
keadilan dari yang menzhaliminya, seraya berkata, "Si fulan telah
menzhalimi aku", atau "Dia telah melakukan demikian pada
diriku".
o Kedua:
meminta pertolongan dalam mengubah kemungkaran, dan mengembalikan si pelaku
maksiat kepada kebenaran. Maka dia (yang meminta pertolongan) berkata kepada
orang yang ia harapkan kemampuannya, "Si fulan akan melakukan demikian,
maka cegahlah ia darinya", dan semisalnya.
o Ketiga:
Meminta fatwa, dengan cara ia berkata kepada si mufti, "Si fulan telah
menzhalimi aku, bapakku, saudaraku, suamiku dengan perbuatan demikian. Boleh
baginya hal itu? Apa solusi bagiku agar selamat darinya, dan mencegah
kezhalimannya dariku?", dan semisal itu. Ini boleh jika diperlukan.
Yang terbaik, ia katakan tentang seorang lelaki, suami, atau orang tua dan
anak, "Diantara permasalahanya demikian". Di samping itu, menjelaskan
orangnya adalah boleh berdasarkan hadits Hindun dan ucapannya,
"Sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang kikir".[ HR.
Al-Bukhoriy dalam dalam Kitab Al-Buyu', bab; Man Ajraa Amrol
Amshor…(2211), dan Muslim dalam Kitab Al-Aqdhiyah, bab: Qishshoh
Hindin (no. 4452) dari jalur lain dari Hisyam.]
o Keempat:
Men-tahdzir (mengingatkan) kaum muslimin tentang suatu keburukan. Hal
seperti ini ada beberapa bentuknya. Diantaranya, men-jarh (mencacat)
orang-orang yang cacat dari kalangan para rawi, saksi, dan penulis. Hal itu
boleh berdasarkan ijma' (kesepakatan). Bahkan itu wajib demi menjaga syari'at.
Diantaranya juga, mengabarkan aibnya ketika bermusyawarah dalam meneruskannya.
Termasuk juga dalam hal ini, jika anda melihat seorang yang akan membeli
sesuatu yang cacat atau hamba yang suka mencuri atau tukang zina atau pemabuk
dan sejenisnya. Anda menyebutkan aibnya kepada si pembeli itu, jika ia belum
mengetahui hal itu sebagai nasihat baginya, bukan untuk tujuan menyakiti dan
merusak. Diantaranya juga, jika anda melihat seorang pelajar yang
berbolak-balik kepada seorang yang fasiq, atau ahli bid'ah, sedang ia
mengambil ilmu darinya, dan anda khawatirkan madhorot akan menimpa dirinya,
maka wajib bagi anda menasihatinya dengan menjelaskan kepadanya tentang kondisi
si fasiq/ahli bid'ah itu dalam keadaan menginginkan nasihat. Termasuk pula,
jika seseorang memiliki tugas yang ia tak akan kerjakan sebagaimana mestinya,
karena tidak adanya keahlian padanya atau karena kefasiqannya. Maka ia
(penasihat) menyebutkan aibnya bagi orang yang memiliki kekuasaan atasnya, agar
dijadikan petunjuk tentang kondisinya. Sehingga ia (yang dinasihati) tak
tertipu dengan orang itu, dan ia tetap istiqomah".
o Kelima:
jika seseorang menampakkan kefasiqan atau bid'ahnya, seperti minum khomer,
menyita harta manusia, memungut pajak, melakukan perkara-perkara batil. Boleh
menyebutkannya dengan dosa yang ia tampakkan, dan tak boleh yang lain, tanpa
ada sebab lain.
o Keenam:
memperkenalkan seseorang. Jika ia terkenal dengan suatu gelar, seperti: Al-A'masy
(si juling), Al-A'rooj (si pincang), Al-Azroq (sejenis burung
elang), Al-Qoshir (si pendek), Al-A'maa (si buta), Al-Aqtho'
(yang putus tangannya), dan sejenisnya, maka boleh memperkenalkannya dengan hal
itu. Namun haram menyebutnya dengan hal itu demi merendahkannya. Jika mungkin
memperkenalkannya dengan selain hal itu, maka itulah yang lebih utama, wallahu
a'lam".[ Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih
Muslim Ibn Al-Hajjaj (16/358-359), cet. Dar Al-Ma'rifah, 1421 H, dan Riyadhush
Sholihin, bab: (256) Bayan maa Yubaah minal Ghibah, (hal.
508-510), tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1421
H]
Enam sebab dan kondisi
tersebut merupakan bentuk nasihat yang syar’iy, bukan celaan atau ghibah yang
diharamkan dalam agama, bahkan ia adalah perkara yang dituntut dari orang yang
berilmu tentang masalah ini.
Jika seseorang menampakkan
maksiatnya, atau bid'ahnya, maka tak ada salahnya kita menyebutkan kondisi
dirinya kepada orang lain agar orang lain waspada dari pelanggaran dan
penyimpangannya sebagai bentuk nasihat kepada saudara muslim.
Apalagi pada hari ini
banyak sekali ustadz-ustadz suu’ (buruk) yang memiliki akhlak buruk atau
aqidah yang batil.
Oleh karena itu, ketika Abdullah
bin Ahmad bertanya kepada ayahnya (Imam ahmad bin Hambal) tentang seorang
ahli hadits yang mendatangi seorang yang dianggap ahli bid'ah atau menyelisihi
sunnah, apa seorang diam, ataukah men-tahdzirnya (mengingatkan penyimpangannya),
maka Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- berkata,
"إِنْ
كَانَ يَدْعُو إِلَى بِدْعَةٍ وَهُوَ إِمَامٌ فِيهَا وَيَدْعُو إِلَيْهَا , قَالَ :
نَعَمْ تُحَذِّرُ عَنْهُ". اهـ الكفاية في علم الرواية للخطيب البغدادي (ص:
46)
"Jika Syaikh itu mengajak kepada
bid'ah, sedang ia adalah pemimpin di dalamnya, dan mengajak kepada bid'ah itu,
ya engkau boleh men-tahdzir (mengingatkan bahaya)nya".[Lihat Al-Kifayah
(hlm. 46)]
Ali bin
Salamah Al-Labaqiy -rahimahullah- berkata,
" ثَلَاثَةٌ لَيْسَتْ لَهُمْ غِيبَةٌ : ...وَالْفَاسِقُ
الْمُعْلِنُ بِفِسْقِهِ، وَالْمُبْتَدِعُ الَّذِي يَدْعُو النَّاسَ إِلَى
بِدْعَتِهِ ". شعب الإيمان (9/ 127)
"Aku mendengarkan Sufyan bin Uyainah
berkata, "Ada tiga orang yang tidak ada ghibah bagi mereka -diantaranya-:
Orang fasiq yang menampakkan kefasiqannya, dan ahli bid'ah yang mengajak kepada
bid'ahnya…" [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu'ab Al-Iman (jld.
9/ hlm. 127/ no. 6374)]
Al-Allamah
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- berkata,
"Jika seseorang menampakkan bid'ahnya atau maksiatnya, maka tak ada
ghibah bagi orang yang menampakkannya, dan minum khomer, disebut
"fajir", atau ia merokok, cukur jenggot; tak ada ghibah baginya. Dia
sendiri telah membuka aib dirinya. Demikian pula orang yang menampakkan
bid'ahnya, seperti orang-orang yang melakukan bid'ah perayaan maulid atau malam
ke- 27 Sya'ban, malam Isra' Mi'raj sebagaimana mereka sangka; atau mereka
melakukan bid'ah dengan membangun sesuatu di atas kubur, mengecatnya, dan
membangun kubah-kubah di atasnya; mereka ini harus diingkari dan dinyatakan
bahwa ini tidak boleh, ini bid'ah. Maksudnya di sini, barang siapa yang
menampakkan bid'ah dan maksiatnya, maka tak ada ghibah baginya dalam perkara
yang ia tampakkan. Engkau berkata ketika melihat si fulan menampakkan bid'ah
begini, sedang ia mengajak kepadanya," Waspadailah dia!". [Lihat Lammud
Durril Mantsur (hlm. 183-184)]
Inilah sekelumit
permasalahan ghibah. Ghibah tidaklah diharamkan secara mutlak, bahkan ia
dibolehkan dalam beberapa kondisi tersebut, karena adanya maslahat yang
menuntut adanya.
Jika ghibah tidak
dilakukan padanya, maka sebaliknya kerusakan yang akan muncul.
Oleh karenanya, tidak
boleh seseorang dengan serta-merta mengharamkan ghibah secara mutlak.
Ia hendaknya mengetahui
bahwa ghibah memang haram secara global. Adapun perinciannya, maka disana ada
enam kondisi, ghibah boleh di dalamnya.
Tulisan ini sengaja kami
munculkan demi menepis sangkaan sebagian pembaca bahwa kami telah berbuat ghibah
yang haram saat menjelaskan penyimpangan Mbah Marijan, atau orang yang
menyimpang dari selainnya.
Memang itu ghibah, tapi
ghibah yang boleh. Bahkan mungkin wajib, sebab ia merupakan nasihat, bukan
celaan semata demi menyelamatkan manusia dari kesesatan Mbah Marijan yang
ditokohkan, atau dari kesesatan para ahli bid’ah dan orang sesat lainnya.

Komentar
Posting Komentar