Minggu, 29 April 2018

Nabi Isa dalam Pandangan Islam




Nabi Isa dalam Pandangan Islam

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhohulloh-

Sebuah keyakinan dalam Islam bahwa semua nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah -Azza wa Jalla- merupakan manusia-manusia pilihan yang telah diberi tugas kenabian dan kerasulan, yakni menyampaikan misi Islam kepada umatnya masing-masing.

Hanya saja Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- diberi kelebihan atas para nabi dan rasul lainnya bahwa beliau diutus bukan hanya kepada kaumnya bangsa Arab saja, bahkan kepada seluruh bangsa dan umat manusia hingga akhir zaman.


Para pembaca yang budiman, sering kali ada sebagian orang yang salah sangka bahwa umat Islam saat mengingkari dan membenci kaum Nashoro yang telah berlebihan dalam memuji dan menempatkan Nabi Isa, maka serta-merta mereka mengira bahwa mereka (kaum muslimin) juga membenci Nabi Isa –alaihish sholaatu was salam-.

Padahal tidaklah demikian!! Bahkan kaum muslimin amat menghormati beliau dan memiliki keyakinan tentang beliau dengan keyakinan yang amat mulia.

Kaum muslimin hanyalah membenci kaum Nashroni, karena mereka telah melakukan penyelewengan dalam agama Islam yang pernah dibawa oleh Nabi Isa –alaihis salam-.

Mereka telah melakukan perbuatan kotor terhadap Kitab Injil dengan mengutak-atik dan melakukan perubahan padanya.
Oleh karena itu, antara satu injil dengan injil cetakan lainnya akan berbeda dengan perbedaan yang amat jelas. [Lihat Dirosat fil Adyaan (hal. 195-248) oleh Dr. Su’ud bin Abdil Aziz Al-Kholaf, cet. Adhwaa’ As-Salaf, 1425 H]

Adapun keyakinan kaum muslimin tentang Nabi Isa bin Maryam -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka kami akan paparkan dalam beberapa poin berikut ini:


ÿ Nabi Isa adalah Manusia Biasa

Kaum Nasrani memiliki keyakinan batil tentang Nabi Isa bahwa beliau adalah anak Allah.

Adapun Islam, maka Islam menjelaskan bahwa Nabi Isa adalah manusia biasa seperti kita yang dilahirkan dari manusia.

Hanya saja beliau dilahirkan dari seorang ibu, tanpa bapak sebagaimana Adam dilahirkan tanpa bapak dan ibu.

Allah -Ta'ala- berfirman,
{إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46) قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47)} [آل عمران: 45_47]
“(Ingatlah), ketika malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).  Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh".  Maryam berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, "Jadilah", lalu jadilah sesuatu itu”. (QS. Ali Imraan : 45-47)

Nabi Isa lahir dengan kalimat “kun” (jadilah), karenanya beliau disebut “kalimatullah”, yang artinya sesuatu yang jadi dengan sebab kalimat “kun”. [Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamid (hal. 62) oleh Sulaimain bin Abdillah An-Najdiy, dengan tahqiq Muhammad Aiman As-Salafiy, cet. Alam Al-Kutub, 1419 H]

Diantara perkara yang menunjukkan bahwa Isa dan ibunya (Maryam) adalah manusia biasa, ia dan ibunya juga makan dan minum seperti halnya kita. Andaikan salah satunya adalah tuhan atau anak tuhan, maka ia pasti tak butuh kepada makanan dan minuman yang menguatkan tubuhnya. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

{مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)} [المائدة: 75]
“Al-Masih Putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”. (QS. Al-Maa’idah : 75)

Nabi Isa –alaihis salam- hanyalah manusia biasa, yang membutuhkan makanan, minuman dan lainnya sebagaimana halnya para nabi dan rasul sebelum dan setelah beliau.

Tapi semua ini tak dapat dicerna oleh akal kaum Nashoro yang telah dibutakan mata hatinya.

Kaum Nashoro telah menyatakan sebuah kelancangan bahwa Isa adalah anak Allah.

Karenanya, Allah menyatakan kekafiran kaum Nasrani yang meyakini bahwa Isa adalah satu oknum yang mereka sembah dan kultuskan.

Allah -Ta'ala- berfirman,
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73)} [المائدة: 73]
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. (QS. Al-Maa’idah : 73)

Lebih mungkar dari itu, kaum Nasrani menyatakan bahwa Allah adalah Isa. Mereka meyakini bahwa Allah menjelma sebagai Isa bin Maryam. Keyakinan ini diyakini oleh beberapa sekte dalam Nasrani, seperti Mulkiyyah, Ya’qubiyyah (Jacobite) dan Nasthuriyyah (Nestorianisme). [Lihat Tafsir Ibn Katsir (3/157)] 

Keyakinan mungkar ini telah dibantah langsung Allah Yang Maha Perkasa,
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72)} [المائدة: 72]
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih Putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maa’idah : 72)

Nabi Isa sendiri telah membantah hal ini semasa beliau masih dalam ayunan. Beliau telah jelaskan bahwa dirinya adalah hamba, bukan tuhan yang disembah.

Beliau bukan anak tuhan yang dilahirkan dari tuhan dan istrinya; beliau juga bukan jelmaan tuhan.

Ingat saat Nabi Isa –alaihis salam- berkata dalam ayunan,
{قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32) وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33)} [مريم: 30 - 33]
“Berkata Isa: "Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang nabi.  Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;  Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia (Allah) tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.  Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (QS. Maryam : 30-33)

Jika kita memperhatikan ayat ini, maka jelas sekali bahwa Nabi Isa –alaihis salam- adalah manusia :
Pertama, bahwa beliau memiliki ibu dari kalangan manusia, yaitu Maryam bintu Imraan.
Kedua, ia menyatakan bahwa dirinya hidup dan akan mati. Adakah tuhan atau anak tuhan yang mati??!

Adapun kondisinya lahir tanpa bapak, maka bukan berarti bahwa Isa lahir dari perkawinan ibunya dengan Allah.

Subhanallah!! Bahkan kelahiran beliau tanpa bapak, tidak terlalu mengherankan jika Allah menghendaki.

Yang lebih mengherankan daripada itu kelahiran Nabi Adam tanpa bapak dan ibu.

Apakah dengan kelahiran Adam tanpa bapak dan ibu mengharuskan kita untuk menyatakan bahwa ia lahir dari Allah.

Subhanallah, sama sekali tidak!!! Sama perumpamaannya dengan Nabi Isa –alaihis salam- yang lahir tanpa bapak.

Inilah hikmahnya Allah menciptakan Nabi Adam –alaihis salam- tanpa bapak dan ibu, agar menjadi perumpamaan yang dapat diketahui dan dipikirkan bahwa Nabi Isa sama dengan Nabi Adam, bukan tuhan dan pula anak Tuhan.

Sebab, kedua nabi ini (Adam dan Isa) hanya tercipta dengan kata “kun” (jadilah!!), lalu keduanya pun jadi dan tercipta.

Bagaimana mungkin Isa menyatakan dirinya sebagai anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, sementara beliau sendiri mengajak kepada Islam yang berasaskan tauhidullah (pengesaan Allah).

Karenanya, Isa membantah kesyirikan kaum Nashoro sebagaimana dalam firman Allah,
{وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117)} [المائدة: 116، 117]
“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: ["Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu"]”. (QS. Al-Maa’idah : 116-117)

ÿ Isa Diutus sebagai Rasul Khusus untuk Bani Isra’il

Nabi Isa –alaihis salam- saat hidup, ia diutus sebagai rasul di kalangan Bani Isra’il secara khusus, bukan kepada kaum lainnya.

Nabi Isa mengikuti syariat Nabi Musa -Shallallahu alaihima wa sallam-.

Allah -Ta'ala- menjelaskannya,
{وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ (48) وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيل} [آل عمران: 48_49]
“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil”. (QS. Ali Imraan : 48-49)

Adapun Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka beliau diutus kepada seluruh umat manusia, tanpa terkecuali.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman memerintahkan Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-,
{قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158)} [الأعراف: 158]
“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A’raaf : 158)

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsiri ayat ini,
"وَهَذَا مِنْ شَرَفِهِ وَعَظَمَتِهِ أَنَّهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَأَنَّهُ مَبْعُوثٌ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً،
كَمَا قَالَ تَعَالَى: {قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ} [الْأَنْعَامِ:19]
وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ} [هُودٍ:17]
وَقَالَ تَعَالَى: {وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالأمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ} [آلِ عِمْرَانَ:20]
وَالْآيَاتُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ، كَمَا أَنَّ الْأَحَادِيثَ فِي هَذَا أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ، وَهُوَ مَعْلُومٌ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ ضَرُورَةً أَنَّهُ، صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، رَسُولُ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ كُلِّهِمْ." اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 489)
“Ini merupakan kemuliaan dan keagungan beliau (yakni, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) bahwa beliau adalah penutup para nabi dan diutus kepada seluruh manusia…Ayat-ayat tentang perkara ini banyak jumlahnya sebagaimana halnya hadits-hadits dalam perkara ini banyak jika mau dihitung. Perkara ini sudah dimaklumi dari agama Islam secara pasti bahwa beliau –sholawatullahi wa salamuhu alaihi- adalah rasul Allah kepada seluruh umat manusia”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/489)]

Jadi, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah rasul Allah kepada semua bangsa dan umat, serta syariat beliau menjadi pelengkap dan penghapus bagi semua syariat nabi-nabi sebelumnya, termasuk syariat Isa –alaihis salam-.

Karenanya, Nabi Isa di akhir zaman saat ia turun ke bumi, maka beliau berhukum dengan syariat Islam dan menjadi salah satu umat Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. [Lihat Asyraah As-Saa’ah (hal. 358) oleh Yusuf bin Abdillah Al-Wabil, cet. Dar Ibn al-Jauziy, 1424 H]

ÿ Nabi Isa belum Meninggal dan Diangkat ke Langit

Ketika kaum Yahudi berbuat makar ingin membunuh Nabi Isa –alaihis salam- dengan menghasut pihak Kerajaan Romawi yang kala itu masih beragama paganisme ‘penyembah berhala’, maka Allah –azza wa jalla- menyelamatkan Nabi Isa –alaihis salam- dari kejaran mereka, dengan mengangkat roh dan jasadnya ke langit dalam keadaan hidup, sejak saat itu sampai sekarang masih hidup, bahkan beliau akan turun ke bumi untuk mengokohkan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad –shollallohu alaihi wa sallam-.

Allah –azza wa jalla- berfirman,
{إِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (55)} [آل عمران: 55]
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembali kalian, lalu Aku memutuskan diantara kalian tentang hal-hal yang selalu kalian berselisih padanya”. (QS. Ali Imraan : 55)

Usaha pembunuhan terhadap Nabi Isa, gagal total. Sebab, Allah telah mengubah wajah seseorang yang hadir saat peristiwa itu dan wajahnya menyerupai wajah Nabi Isa. Orang inilah yang mereka salib dan mereka bunuh, lalu mereka mengira orang itu adalah Nabi Isa.

Ketika mereka telah membunuh orang yang serupa dengan Nabi Isa –alaihis salam- tersebut, muncul dalam benak kaum Yahudi rasa ragu tentang sosok yang mereka bunuh di tiang salib!

Allah terangkan hal ini dalam firman-Nya,
{وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158)} [النساء: 156 - 158]
“Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah."
Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS. An-Nisaa’ : 156-158)

Ala’uddin Ali bin Muhammad Al-Khozin (wafat 741 H) –rahimahulloh- berkata,
"ادعت اليهود أنهم قتلوا عيسى عليه السلام وصدقتهم النصارى على ذلك فكذبهم الله عز وجل جميعا وردّ عليهم بقوله: وَما قَتَلُوهُ وَما صَلَبُوهُ." اهـ من لباب التأويل في معاني التنزيل (1/ 444)
“Kaum Yauhdi mengakui bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa –alaihis salam-, lalu kaum Nashoro (Kristen) membenarkan kaum Yahudi atas perkara itu.
Kemudian Allah –azza wa jalla- mendustakan mereka semuanya (yakni, kaum Yahudi dan Nashoro), dan Allah sanggah mereka dengan firman-Nya,
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya.”[1] [Lihat Lubab At-Ta’wil (jld. 1/hlm. 444), 1415 H]

Inilah gambaran Nabi Isa dalam Al-Qur’an dan Sunnah, gambaran yang haqq : yang tidak ada padanya sikap ghuluw (ektrim) dalam menyikapi beliau, sampai mengangkatnya pada tingkatan ketuhanan, sebagaimana yang diklaim oleh kaum Nashoro, serta tidak pula menyepelekan dan meremehkan Nabi Isa –alaihis salam- dengan menuduhnya sebagai anak zina, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi yang amat dengki kepada Nabi Isa!

Bahkan seorang muslim wajib memuliakan Nabi Isa, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ‘Muhammad’ –shollallohu alaihi wa sallam-.


Nabi Isa –alaihis salam- dalam pandangan Islam adalah salah satu mata rantai para nabi dan rasul yang telah membawa Islam dengan syariat yang sesuai dengan zaman beliau, dan misi Islam yang beliau bawa kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad –shollallohu alaihi wa sallam-, dengan syariat yang merevisi, dan memperbaiki syariat Islam yang telah dirusak oleh tangan-tangan para pendeta, dan juga syariat Nabi Muhammad –shollallohu alaihi wa sallam- datang untuk menyempurnakan syariat-syariat para nabi yang mendahului beliau.

======================================================
Tulisan ini rampung dari proses editing pada Hari Ahad, 11 Sya’ban 1439 H, di Ma’had As-Sunnah, Makassar. –Jazallohul qo’imina alaih khoirol jaza’-.
======================================================







[1] QS. An-Nisaa’ : 157

Tidak ada komentar:

Posting Komentar