Selasa, 03 April 2018

Laknat Allah atas Wanita yang Berkonde




Laknat Allah atas Wanita yang Berkonde

Oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
–hafizhahullah-

Dua hari terakhir ini, di tengah kaum muslimin nusantara muncul dan viral puisi 'Ibu Indonesia' yang dibuat dan dibacakan oleh Sukmawati Sukarno Putri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018.

Pasalnya, di dalam puisi itu, Sukmawati Sukarno Putri menyinggung masalah “konde”, dengan lirik puisinya :
“Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu”

Terlihat jelas dan gamblang bahwa ia lebih menjunjung tinggi konde dan melebihkannya atas syariat Allah –azza wa jalla- yang bernama “cadar”.

Disini kami tidak akan menyinggung masalah pelecehannya tersebut pada tulisan kali ini. Insya Allah, suatu saat kami akan bahas. Sebab, pelecehan terhadap agama jelas dalil dan hukumnya.

Namun yang kami akan bahas adalah sisi terlaknatnya wanita sial yang menggunakan konde, dan sejarah keterkaitan konde dengan kebiasaan wanita jahiliah, sehingga dari sini para wanita kita –termasuk Ibu Sukmawati- bisa mengerti kedudukan atau hukum konde, dan pada gilirannya beliau dan para wanita muslimah (yang belum berhijab), tidak lagi berbangga dengan gulungan kondenya, tapi diharapkan mereka sadar untuk menutupi kepalanya dengan jilbab, atau bila perlu dengan cadar, sebagai ciri wanita muslimah!


Para pembaca yang budiman, berhias bagi wanita adalah perkara yang dibolehkan dalam agama, sepanjang dalam batasan yang dibolehkan oleh syariat.

Namun perlu diketahui bahwa disana ada jenis-jenis berhias yang terlarang bagi wanita, bahkan pelakunya dilaknat oleh Allah –azza wa jalla-. Diantaranya wanita berkonde! Mereka ini terlaknat.

Lalu apakah yang dimaksud dengan “konde” ?

Disebutkan dalam sebagian sumber bahwa “konde” alias “sanggul” adalah rambut tambahan yang diberi dasar berbentuk bulat seperti tatakan gelas agak kecil, yang dibuat dari kain gaas, kadang-kadang berbentuk oval atau bulat kecil.

Rambut tambahan (palsu) tersebut bisa dibentuk bermacam-macam sanggul yang dikenal oleh semua ibu-ibu sebagai sanggul tempel.

Selain sanggul tempel ada juga rambut tambahan yang biasa untuk dipasang lepas, dapat berbentuk full sanggul dan half sanggul.

Half sanggul adalah rambut palsu dengan bentuk setengah kepala jadi dasar (kopnya). Biasanya half-sanggul dipakai oleh wanita-wanita untuk menambah rambutnya yang kelihatan tipis,

Selain itu juga, konde untuk menutup kebotakan dan mengikuti mode. Sedangkan full sanggul adalah rambut palsu dengan tatakan dasar satu kepala sehingga bila dipakai, rambut aslinya tidak terlihat.

Seiring dengan hal di atas maka istilah sanggul adalah berasal dari kata perisanggul, yaitu rambut buatan yang digunakan sebagai penutup sekaligus penghias kepala.

Sejak dahulu kala, sanggul juga digunakan untuk keperluan seremonial, sebagai identitas profesi, untuk keperluan panggung, untuk penyamaran diri dan untuk meningkatkan penampilan. Sebagai pelindung kepala dari sengatan terik matahari, sebagai penghias dan lambang status sosial.

Sanggul sudah digunakan sejak zaman Mesir Purba sekitar 4000 tahun lalu. Hal tersebut di atas disebabkan oleh keperluan keagamaan, panasnya udara, dan pertimbangan kebersihan, pria dan wanita Mesir Purba memiliki kebiasaan mencukur bersih rambut kepalanya.

Dari sini, anda bisa mengerti bahwa penggunaan konde telah dikenal sejak masa jahiliah dan menjadi hiasan wanita jahiliah yang suka memamerkan kecantikan rambut, dan kemolekan tubuhnya, agar kecantikannya dinikmati semua orang (pria atau wanita).

Adapun wanita muslimah didikan Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam-, maka mereka tidak menggunaka konde dan mereka juga menutupi diri mereka dengan jilbab dan cadar, agar kecantikan mereka dan kesuciannya tetap terjaga!

Wanita muslimah tidak boleh menyerupai wanita jahiliah dalam penggunaan konde. Siapa yang menyerupai mereka dalam hal itu, maka ia akan mendapatkan dosa seperti yang didapatkan oleh wanita jahiliah, dan boleh jadi hal itu menjadi sebab ia mencintai kekafiran dan orang kafir itu sendiri.

Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka“. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4031). Hadits ini dinyatakan hasan-shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kitabnya Irwa’ Al-Gholil (no. 1269)]

Para pembaca yang budiman, menggunakan konde adalah perbuatan tercela yang tidak boleh kita puji dan banggakan, sebab pelakunya dilaknat oleh Allah –azza wa jalla-.

Dari A’isyah –radhiyallahu anha-, beliau berkata,
“Ada seorang wanita dari kalangan Anshor yang menikah, dan ia telah sakit , sehingga rambutnya rontok. Mereka pun ingin menyambung rambut si wanita itu. Akhirnya, mereka bertanya kepada Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-.
Beliau bersabda,
«لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ»
“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya, dan wanita yang meminta agar rambutnya disambung.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5933 & 5934) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2122)]

Hadits ini menunjukkan bahwa menyambung rambut dengan rambut atau sesuatu yang menyerupai rambut adalah perkara yang terlarang dan pelakunya dilaknat, yakni dijauhkan dari rahmat Allah.

Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy rahimahullah- berkata,
"وإنما نهى عن ذلك لمِا فيه من الغش الخداع ولو رخَّص في ذلك لاتخذ وسيلة إلى أنواع من الغش والفساد، وإنما عَظُمَ الوعيد في هذا باللعن وفي النامصة والواشرة والواشمة ونحوها مما تقدم ذكره ومضى تفسيره قبل من___جهة أن هذه الأمور تغيير/ للخِلقة وتَعاطٍ لإلحاق الصنعة من الآدمي بالخِلقة من الله عز وجل، وحكم الجُزء في ذلك حكم الكُل، ولَعلّه قد يدخل في هذا المعنى صنعة الكيمياء فإن من تعاطاها إنما يروم أن يُلحق الصَّنعة بالخِلقة وكذلك هو في كل مصنوع يشبَّه بمطبوع وهو بابٌ من الفساد عظيم." اهـ من أعلام الحديث (شرح صحيح البخاري) (3/ 2162_2163)
“Hanyalah beliau melarang dari hal itu karena di dalamnya terdapat sesuatu kecohan dan tipuan. Andaikan diberi keringanan dalam hal itu, maka hal itu (penggunaan rambut palsu atau konde) akan menjadi “wasilah” sarana pengantar kepada berbagai jenis tipuan dan kerusakan.
Hanyalah menjadi besar ancaman dalam perkara ini dengan adanya laknat, dan juga dalam hal wanita yang mencukur alisnya, mengikir giginya, melakukan tato dan semisalnya diantara perkara yang telah berlalu penyebutan dan penjelasannya sebelum ini, dari sisi bahwa perkara-perkara ini merupakan pengubahan bentuk asli dan melakukan penambahan ciptaan manusia pada bentuk ciptaan Allah –azza wa jalla-.”
[Lihat A’lamul Hadits (jld. 3, hlm. 2162-2163), karya Al-Khoththobiy]

Penyambungan rambut, seperti konde alias sanggul, dan biasa juga disebut dengan “wig” (rambut palsu) adalah perkara yang tercela dan terlarang.

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ali Al-Maziriy –rahimahullah- berkata,
"وصل الشعر عندنا ممنوع للحديث.
“Menyambung rambut menurut kami adalah perkara yang terlarang, berdasarkan hadits ini.” [Lihat Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim (6/651), karya Al-Qodhi Iyadh Al-Yahshobiy]

Ketahuilah bahwa menyambut rambut adalah pelanggaran besar. Tidak heran bila para ulama menggolongkannya ke dalam kategori dosa-dosa besar.

Al-Imam AL-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabiy –rahimahullah- menggolongkan perkara menyambung rambut ke dalam golongan dosa-dosa besar di dalam kitabnya yang berjudul “Al-Kaba’ir”, pada dosa besar yang ke-60 [Lihat Al-Kaba’ir, (hlm. 421)]

Dari hadits yang kami sebutkan dan yang semakna dengannya, para ulama menetapkan haramnya para wanita muslimah menggunakan konde sebagai hiasan!

Al-Imam Ibnu Baththol Al-Bakriy Al-Qurthubiy –rahimahullah- berkata setelah membawakan hadits di atas dan yang lainnya,
"فى هذه الأحاديث من الفقه أنه لا يجوز لامرأة أن تصل شعرها بشىء يتجمل به ويظن من يراه أنه شعرها، كما لا يجوز أن تشم خلقها تتزين بذلك." اهـ من شرح صحيح البخارى لابن بطال (9/ 172)
Di dalam hadits-hadits ini, terdapat fiqh (pelajaran) bahwa tidak boleh bagi seorang wanita untuk menyambung rambutnya dengan sesuatu yang ia gunakan untuk berhias, dan orang yang melihatnya mengira bahwa ia (konde) adalah rambutnya (yang asli), sebagaimana halnya tidak boleh mentato tubuhnya demi berhias dengannya.” [Lihat Syarh Shohih Al-Bukhoriy (9/172)]

Pernyataan yang serupa juga pernah disampaikan oleh seorang ulama pen-syarah hadits, Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy –rahimahullah-  usai membawakan hadits di atas dan yang semakna dengannya,
"الأحاديث صريحة في تحريم الوصل مطلقاً وهذا هو الظاهر المختار." اهـ من الكاشف عن حقائق السنن (9/ 2927)
“Hadits-hadits itu adalah tegas dalam mengharamkan penyambungan rambut secara muthlaq. Inilah pendapat kuat dan terpilih.” [Lihat Al-Kasyif ‘an Haqo’iq As-Sunan (9/2927)]

Kesimpulan :
1.    Menggunakan konde bukanlah ajaran Islam. Jadi, tidak perlu dibanggakan! Bahkan ia adalah kebiasaan yang melanggar batasan agama Islam.

2.    Berhias dengan “konde” adalah adat dan kebiasaan wanita jahiliah yang hidup jauh dari petunjuk Allah.

3.    Jika ia adalah jalan hidup wanita jahiliah, nah bagaimana mungkin ia lebih baik dibandingkan dengan cadar yang merupakan bagian dari syariat Allah?! Bagaimana mungkin konde melebihi cadar dan hijab?!!

4.    Wanita muslimah wajib baginya untuk menutupi aurat dengan jilbab dan cadar, tanpa memperlihatkan auratnya (termasuk auratnya adalah rambut).

5.    Wanita muslimah harus menjauhi kebiasaan dan adat masyarakat jahiliah yang jauh dari kebaikan dan wahyu, seperti menggunakan konde!

6.    Laknat Allah bagi para wanita (baik muslimah atau kafiroh) yang menyambung rambut dengan konde dan semisalnya!

7.    Dalam berhias, seorang wanita muslimah tidak boleh lepas dari batasan dan kontrol syariat, sehingga ketika syariat melarangnya menampakkan kepala atau rambut, maka mereka (para wanita muslimah) harus meninggalkan berhias dengan “konde” (sanggul) atau “wig”, lalu menutupinya dengan hijab.



===================================================
وآخر دعوانا أن الحمد لله بر العالمين وصلى الله على نبيينا وآله وأصحابه أجمعين،
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
===================================================

 DUKUNG KAMI


Dalam membantu pembangunan 
MASJID DAR AL-FALAH
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291

atau 

Rekening BANK MANDIRI SYARIAH 
atas nama
Yayasan Dar Al Falah

No. Rekening : 7115_1587_18

Kontak Person :

PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.



NB :

Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar