Selasa, 17 April 2018

Cara Bersin yang Jitu Menurut Sunnah




Cara Bersin yang Jitu Menurut Sunnah

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-

Bersin adalah sebuah nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepada seorang hamba. Karena, ia merupakan salah satu sebab yang menghilangkan penyakit, khususnya sakit kepala.

Berapa banyak orang yang tertimpa penyakit kepala menginginkan bersin, namun ia tak mampu melakukannya. Semuanya terpulang kepada Allah yang mengaturnya.

Sekalipun bersin adalah perkara biasa kita alami dan kita saksikan, tapi masih banyak diantara kaum muslimin yang tak mengerti cara bersin yang jitu menurut sunnah.

Banyak diantara kita yang jahil tentang sunnah ini dan menyalahgunakan nikmat bersin ini, seperti sebagian orang diantara kita yang bermain-main saat bersin, bukan malah mengikuti petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!

Para pembaca yang budiman, adanya petunjuk dan sunnah dalam bersin merupakan bukti kuat tentang kesempurnaan Islam, keteraturan dan keindahannya, subhaanallah.

Kini kami mengajak pembaca menuai bunga keindahan di balik taman-taman sunnah, khususnya yang berkaitan dengan masalah bersin dalam beberapa noktah berikut ini :


ÿ Bersin adalah Perkara yang Dicintai oleh Allah -Ta'ala-

Bersin adalah hal yang dicintai oleh Allah, karena ia adalah kebaikan yang mendatangkan kemashlahatan dunia dan juga akhirat.

Di dunia seseorang mendapatkan kesehatan, dan di akhirat mendapatkan pahala bila ia menerapkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan bersin.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ. فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ، وَحَمِدَ اللَّهَ : كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ)
وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ : فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ. فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَان
“Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci menguap. Bila seorang diantara kalian bersin dan memuji Allah (yakni, membaca “alhamdulillah”), maka wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk berkata kepadanya, “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu)”. Adapun menguap (yakni, saat ngantuk), maka sesungguhnya ia berasal dari setan. Bila seorang diantara kalian menguap, maka hendaknya ia menahannya sebisa mungkin, karena bila seorang diantara kalian menguap, maka setan akan tertawa karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6223)]

Al-Imam Abu Bakr Ibnul Arabiy Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
"قَدْ بَيَّنَّا أَنَّ كُلَّ فِعْلٍ مَكْرُوهٍ نَسَبَهُ الشَّرْعُ إِلَى الشَّيْطَانِ لِأَنَّهُ وَاسِطَتُهُ وَأَنَّ كُلَّ فِعْلٍ حَسَنٍ نَسَبَهُ الشَّرْعُ إِلَى الْمَلَكِ لِأَنَّهُ وَاسِطَتُهُ.
قَالَ : وَالتَّثَاؤُبُ مِنَ الِامْتِلَاءِ وَيَنْشَأُ عَنْهُ التَّكَاسُلُ وَذَلِكَ بِوَاسِطَةِ الشَّيْطَانِ وَالْعُطَاسُ مِنْ تَقْلِيلِ الْغِذَاءِ وَيَنْشَأُ عَنْهُ النَّشَاطُ وَذَلِكَ بِوَاسِطَةِ الْمَلَكِ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (10/ 612)
“Sungguh kami telah jelaskan bahwa setiap perbuatan buruk yang disandarkan kepada setan oleh syariat, maka karena ia (setan) adalah perantara (sebab)nya; dan setiap perbuatan baik yang disandarkan kepada malaikat, maka karena ia (malaikat) adalah perantara (sebab)nya…Menguap (muncul) karena penuhnya (yakni, kenyangnya) perut, dan akan lahir darinya kemalasan. Sedangkan semua itu dengan sebab setan. Sementara bersin (muncul) dari kurang makan, dan akan lahir darinya semangat, sedang semua itu dengan sebab malaikat”. [Lihat Fathul Bari (10/612)]

Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,
"أُضِيفَ التَّثَاؤُبُ إِلَى الشَّيْطَانِ لِأَنَّهُ يَدْعُو إِلَى الشَّهَوَاتِ إِذْ يَكُونُ عَنْ ثِقَلِ الْبَدَنِ وَاسْتِرْخَائِهِ وَامْتِلَائِهِ وَالْمُرَادُ التَّحْذِيرُ مِنَ السَّبَبِ الَّذِي يَتَوَلَّدُ مِنْهُ وَهُوَ التَّوَسُّعُ فِي الْمَأْكَلِ وَإِكْثَارِ الْأَكْلِ." اهـ من تحفة الأحوذي (8/ 18)
“Menguap disandarkan kepada setan, karena setan mengajak kepada syahwat. Sebab, menguap muncul dari beratnya badan, lemahnya, dan penuh (kenyang)nya. Yang dimaksudkan (dalam hadits ini) adalah memberikan peringatan tentang bahaya sebab tersebut yang lahir darinya (semua perkara buruk), yaitu sepuasnya makan dan memperbanyak makan”. [Lihat Tuhfah Al-Awadziy (8/18)]

Intinya, bersin membawa kebaikan, sedang menguap membawa keburukan sehingga setan pun menyenanginya.

Adapun setan menertawai orang yang menguap, maka karena orang yang menguap akan menjauh dari kebaikan dan berubahnya pemandangan wajahnya, bahkan terkadang ada sebagian orang yang menguap mengeluarkan suaranya bagaikan anjing yang melolong atau sapi yang mengoak.

Khusus perkara menguap, ia merupakan perkara yang amat terlarang dalam sholat. Jika seseorang tidak mampu menghindari menguap dalam sholat, maka hendaknya ia berusaha menahannya dengan tangannya.

Al-Imam Abu Bakr Ibnul ‘Arobiy Al-Mu’afiriy –rahimahullah- berkata,
"يَنْبَغِي كَظْمُ التَّثَاؤُبِ فِي كُلِّ حَالَةٍ وَإِنَّمَا خَصَّ الصَّلَاةَ لِأَنَّهَا أَوْلَى الْأَحْوَالِ بِدَفْعِهِ لِمَا فِيهِ مِنَ الْخُرُوجِ عَنِ اعْتِدَالِ الْهَيْئَةِ وَاعْوِجَاجِ الْخِلْقَةِ." اهـ فتح الباري لابن حجر (10/ 612)
“Sepantas (bagi seseorang yang menguap) untuk menahan kuapannya dalam segala keadaan. Hanyalah Nabi –alaihish sholatu was salam- mengkhususkan sholat, karena sholat itu merupakan kondisi yang paling utama (bagi seseorang) untuk menahan kuapannya, karena adanya sesuatu berupa keluarnya seseorang dari kenormalan penampilannya dan melencengnya penampilan.” [Lihat Fathul Bari (jld. 10/ hlm. 612)]

ÿ Kaifiat Mendoakan Orang yang Bersin

Diantara sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bagi orang yang bersin dan pendengarnya adalah saling mendoakan kebaikan dunia dan akhirat.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Bila seorang diantara kalian bersin, maka hendaklah berkata, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)”, dan hendaknya saudara atau temannya berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”.
Bila ia (temannya) berkata, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”, maka hendaknya ia (yang bersin) berkata lagi, “Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (Semoga Allah menunjuki kalian dan memperbaiki kondisi kalian)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6224)]

Inilah doa yang sepatutnya kita hafal dan baca saat mengalami bersin, bukan mengucapkan kata-kata yang tidak baik atau lucu serta bukan pula berteriak bagaikan orang yang kerasukan!

ÿ Perkara yang Dilakukan saat Bersin

Segala sesuatu, harus didasari dengan ilmu. Bila tidak, maka seseorang yang tak berilmu, kadang berbuat atau berucap bagaikan orang bodoh, anak kecil, bahkan seperti orang gila.

Lihatlah sebagian orang -misalnya- saat ia bersin, ia melompat-lompat dan berteriak bagaikan orang gila yang kerasukan.

Terkadang ia membiarkan udara dan bau mulutnya beterbangan bersama udara, sehingga bisa saja ia menulari saudaranya yang ada di sekitarnya, bila ia berpenyakit.

Inilah hikmahnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengajari kita cara mengatasi bersin dalam hadits ini:

Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_  إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوْتَهُ
“Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bila bersin, maka beliau meletakkan tangannya atau bajunya pada mulutnya dan merendahkan suara dengannya”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 5029) dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2745)]

Semua itu adalah tuntunan yang amat mulia, tuntunan yang menjaga kemaslahatan dan citra diri seorang muslim.

Lantaran itu, sepatutnya seorang muslim mengikuti adab bersin yang terdapat dalam hadits ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkomentar tentang hadits ini,
"وَمِنْ آدَابِ الْعَاطِسِ أَنْ يَخْفِضَ بِالْعَطْسِ صَوْتَهُ وَيَرْفَعَهُ بِالْحَمْدِ وَأَنْ يُغَطِّي وَجْهَهُ لِئَلَّا يَبْدُوَ مِنْ فِيهِ أَوْ أَنْفِهِ مَا يُؤْذِي جَلِيسَهُ وَلَا يَلْوِي عُنُقَهُ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا لِئَلَّا يتَضَرَّر بذلك." اهـ من فتح الباري لابن حجر (10/ 602)
“Diantara adab-adab bersin, seseorang merendahkan suaranya saat bersin dan mengangkatnya saat membaca “alhamdulillah”, menutup wajahnya agar tak muncul dari mulutnya atau hidungnya sesuatu yang menyakiti teman duduknya; ia juga tak membengkokkan (memalingkan) lehernya ke kanan, dan ke kiri agar ia tak ter-mudhoroti dengan hal itu”. [Lihat Fathul Bari (10/738), cet. Darus Salam, 1421 H]

Al-Imam Ibnul Arabiy Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,
"الْحِكْمَةُ فِي خَفْضِ الصَّوْتِ بِالْعُطَاسِ أَنَّ فِي رَفْعِهِ إِزْعَاجًا لِلْأَعْضَاءِ وَفِي تَغْطِيَةِ الْوَجْهِ أَنَّهُ لَوْ بَدَرَ مِنْهُ شَيْءٌ آذَى جَلِيسَهُ وَلَوْ لَوَى عُنُقَهُ صِيَانَةً لِجَلِيسِهِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ الِالْتِوَاءِ وَقَدْ شَاهَدْنَا مَنْ وَقَعَ لَهُ ذَلِكَ." اهـ من تحفة الأحوذي (8/ 16)
“Hikmahnya merendahkan suara saat bersin bahwa dalam mengangkat suara terdapat pengagetan anggota-anggota tubuh; hikmah dalam menutup wajah bahwa andaikan ada sesuatu yang keluar darinya (berupa penyakit, ludah, bau busuk dan lainnya), maka hal itu akan menyakiti teman duduknya. Andaikan ia membengkokkan (memalingkan) lehernya demi menjaga teman duduknya, maka ia pun tak aman dari  (efek) berpaling tersebut. Sungguh kami telah menyaksikan orang yang terjadi pada dirinya hal itu”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (8/19) oleh Al-Imam Al-Mubarokfuriy, Dar Ihyaa’ At-Turots Al-Arobiy & Mu’assasah At-Tarikh Al-Arobiy, 1422 H]

Alangkah indahnya tuntunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bagi orang yang bersin. Sebuah tuntunan yang mengajarkan suatu keindahan, kesehatan, etika, dan kemaslahatan sosial.

Al-Imam Fadhlullah bin Hasan At-Turibisytiy -rahimahullah- berkata,
"هذا نوع من الأدب بين يدي الجلساء فإن العطاس يكره الناس سماعه ويراه الراؤون من فضلات الدماغ." اهـ من فيض القدير (5/ 149)
“Ini sebuah etika di depan para teman duduk. Sebab bersin, manusia benci mendengarkannya, dan dipandang oleh orang-orang berasal dari kotoran-kotoran otak”. [Lihat Faidhul Qodir Syarh Al-Jami’ Ash-Shogier (5/190)]

Jadi, hendaknya seorang muslim memiliki adab dan etika dalam setiap kondisinya, sebab itu merupakan konsekuensi keimanan dan keislamannya.

ÿ Kapan Men-tasymit (mendoakan) orang Bersin

Men-tasymit (تَشْمِيْتٌ) orang bersin adalah mendoakan rahmat bagi orang yang bersin saat ia mengucapkan “alhamdulillah”.

Ini juga merupakan sebuah keindahan Islam yang mengajarkan kepada pengikutnya agar saling mendoakan, bukan saling mencela dan menyakiti atau mengganggu orang lain.

Pembaca yang budiman, ketika bersin, maka yang bersin dianjurkan :
* mengucapkan doa dan pujian “alhamdulillah”,
* dan bagi orang yang mendengarkan pujian itu wajib baginya men-tasymit (mengucapkan doa) bagi yang bersin dengan mengucapkan, “Yarhamukallah” (Semoga Allah merahmatimu).

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : (الْحَمْدُ لِلَّهِ)، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ).
فَإِذَا قَالَ لَهُ : (يَرْحَمُكَ اللَّهُ)، فَلْيَقُلْ : (يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ)
“Bila seorang diantara kalian bersin,maka hendaklah berkata, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)”, dan hendaknya saudara atau temannya berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”. Bila ia (temannya) berkata, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”, maka hendaknya ia (yang bersin) berkata lagi, “Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (Semoga Allah menunjuki kalian dan memperbaiki kondisi kalian)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 6224)]

Di dalam riwayat yang lain dari Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ رَجُلَيْنِ عَطَسَا عِنْدَ النَّبِيِّ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_، فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا، وَلَمْ يُشَمِّتْ الْآخَرَ، فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَمَّتَّ هَذَا، وَلَمْ تُشَمِّتْنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ : إِنَّهُ حَمِدَ اللَّهَ، وَإِنَّكَ لَمْ تَحْمَدْ اللَّهَ
“Ada dua orang pernah bersin di sisi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Kemudian beliau men-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”) kepada salah satu diantaranya, dan tidak men-tasymit yang lainnya”. Orang yang tidak di-tasymit oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berkata, “Wahai Rasulullah, anda men-tasymit ini, dan tidak men-tasymit aku”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguh ia memuji Allah (dengan membaca “alhamdulillah”), sedang engkau tidak memuji Allah (dengan membaca “alhamdulillah”)”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 6221), Muslim (no. 2991) Abu Dawud (no. 5039), At-Tirmidziy (no. 2742) dan Ibnu Majah (no. 1223)]

Al-Imam Abu Isa At-Tirmidziy menarik sebuah kesimpulan dari hadits ini dalam Kitab Al-Adab, bab “Maa Jaa’a fi Iijaab At-Tasymit bi Hamdil Aatis” bahwa wajib men-tasymit (membaca “yarhamukallah”) saat mendengarkan ucapan “alhamdulillah” dari orang bersin. [Lihat Sunan At-Tirmidziy (8/15) yang dicetak bersama Tuhfah Al-Ahwadziy]

ÿ Berapa Kali Mendoakan Orang Bersin

Terkadang seseorang bersin lebih dari sekali. Nah, apakah ia di-tasymit setiap kali ia bersin?

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menjawab hal ini,
يُشَمَّتُ الْعَاطِسُ ثَلَاثًا فَمَا زَادَ فَهُوَ مَزْكُوم
“Orang yang bersin di-tasymit sebanyak tiga kali. Apa saja yang lebih dari itu, maka berarti ia (yang bersin) sedang flu”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3714). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 4743)]

Hadits ini menerangkan bahwa disyariatkan men-tasymit orang bersin sebanyak tiga.

Adapun selebihnya, maka tak perlu men-tasymit, sebab bersin yang ia alami hanyalah timbul karena penyakit.

Hanya saja perlu kita doakan untuknya dengan doa kesembuhan dan keselamatan dari penyakit dan bahaya.

Abdur Ra’uf Al-Munawiy –rahimahullah-  berkata dalam menjelaskan makna hadits ini,
"أي : لا يدعى له بالدعاء المشروع للعاطس. بل بدعاء يناسبه من جنس دعاء المسلم للمسلم بنحو شفاء وعافية." اهـ من فيض القدير (1/ 404)
“Maksudnya, orang yang bersin tidak didoakan lagi dengan doa yang disyariatkan bagi orang yang bersin (yakni, ucapan “alhamdulillah”), bahkan dengan doa yang sesuai dengan dirinya berupa jenis doa kebaikan seorang muslim bagi muslim lainnya, misalnya : doa kesembuhan dan keselamatan.” [Lihat Faidhul Qodir (1/404)]

ÿ Ketika Orang Kafir Bersin

Alangkah indahnya Islam dengan adanya syariat saling mendoakan antara seorang muslim dengan saudaranya sampai kaum Yahudi pun mengharapkan hal itu terjadi bagi mereka.

Perkara itu diceritakan oleh Sahabat yang mulia, Abu Musa Al-Asy’ariy -radhiyallahu anhu-,
كَانَتْ الْيَهُودُ تَعَاطَسُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَاءَ أَنْ يَقُولَ لَهَا : (يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ)، فَكَانَ يَقُولُ : (يَهْدِيكُمُ اللَّهُ، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ)
“Dahulu orang-orang Yahudi berusaha bersin di sisi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, karena mengharapkan agar beliau mengucapkan bagi mereka, “Yarhamukumullah (Semoga Allah merahmati kalian)”. Tapi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- malah berdoa, “Yahdiikumullahu wa Yuslihu baalakum (Semoga Allah menunjuki kalian dan memperbaiki keadaan kalian)”. [HR. Abu Dawud (no. 5038) dan At-Tirmidziy (no. 2895). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan At-Tirmidziy (no. 2895)]

Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata,
"أَيْ : وَلَا يَقُولُ لَهُمْ يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ لِأَنَّ الرَّحْمَةَ مُخْتَصَّةٌ بِالْمُؤْمِنِينَ بَلْ يَدْعُو لَهُمْ بِمَا يُصْلِحُ بَالَهُمْ مِنَ الْهِدَايَةِ وَالتَّوْفِيقِ لِلْإِيمَانِ." اهـ من عون المعبود وحاشية ابن القيم (13/ 257)
“Maksudnya, beliau tidak berdoa bagi mereka (yakni, kaum Yahudi), “Yarhamukumullah” (Semoga Allah merahmati kalian), karena rahmat hanya khusus bagi orang-orang beriman. Bahkan beliau hanya mendoakan mereka dengan sesuatu yang memperbaiki keadaan mereka berupa hidayah dan taufiq menuju iman”. [Lihat Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (13/257)]

Para pembaca budiman, inilah sebagian tuntunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan perkara bersin, semoga kita semua sudah dapat mengetahui cara jitu dalam bersin.



===================================================
وآخر دعوانا أن الحمد لله بر العالمين وصلى الله على نبيينا وآله وأصحابه أجمعين،
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
===================================================

 DUKUNG KAMI


Dalam membantu pembangunan 
MASJID DAR AL-FALAH
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291

atau 

Rekening BANK MANDIRI SYARIAH 
atas nama
Yayasan Dar Al Falah

No. Rekening : 7115_1587_18

Kontak Person :

PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.



NB :

Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar